
Dia cukup berpikir sebentar untuk mengetahui bahwa dirinya telah dijebak oleh ayahnya. Alamat Tante Adnan? Jelas-jelas dia juga ingin datang, namun tidak memiliki alasan sehingga membiarkannya datang terlebih dulu. Dengan begitu, dia punya alasan untuk ke sini.
Bakpao kecil marah. Apakah hati semua orang dewasa sejahat ini!
Karen mempersilakan Gabriel untuk duduk, kemudian pergi menyeduh teh. Tak lama setelah masuk ke dapur, dia keluar membawa segelas teh dan segelas susu anak-anak.
Dia meletakkan teh di depan Gabriel sambil berkata dengan tidak enak hati. “Maaf, tidak ada teh bagus di rumah.”
“Tidak apa-apa, aku hanya seorang pengusaha, tidak punya waktu untuk mempelajari teh. Jadi, aku juga tidak bisa membedakan teh,” ucap Gabriel dengan suara rendah.
Bakpao kecil memutar bola mata begitu mendengarnya. Apakah kamu yang merupakan seorang pakar teh mengatakan ini tidak merasa bersalah terhadap sertifikat yang dipajang di ruang kerjamu?
Karen tentu tidak mengetahui pikiran bakpao kecil. Mendengar kata-kata Gabriel, dia justru merasa bahwa raja neraka hidup yang dilegendakan itu, sepertinya tidak terlalu sulit untuk bergaul seperti yang diisukan.
Dia mengangguk, kemudian meletakkan susu anak-anak di depan bakpao kecil, bersama sepiring biskuit berbentuk hewan yang imut.
Dia mengelus kepala bakpao kecil dan berpikir bahwa anak ini terlalu menggemaskan, kemudian tersenyum sambil berkata, “Coba cicipi biskuit buatan Tante.”
Bakpao kecil tersenyum seketika. Dia melirik Gabriel dengan penuh kemenangan, maksudnya sangat jelas: lihat, punyaku satu jenis lebih banyak darimu.
Ekspresi Gabriel tidak berubah, masih tersenyum elegan dan sopan. Dia menyesap teh dan mengernyit pelan ketika teh masuk ke mulutnya, kemudian berkata dengan suara datar, “Nona Adnan, lupa kuberitahu. Kerusakan gigi anakku sedikit parah belakangan ini, dokter berpesan untuk tidak makan makanan manis.”
“Begitukah? Aku ceroboh.” Karen menatap bakpao kecil dengan tatapan minta maaf. “Maaf.”
Sombong kurang dari tiga detik, bakpao kecil melihat cemilan tambahannya ditarik kembali….
Dia memelototi Gabriel dengan marah. Dasar orang dewasa yang menyebalkan.
Gabriel minum seteguk teh lagi. Tatapannya datar, namun maksudnya sangat jelas: ayahmu tetap ayahmu. Putraku yang baik, jangan sombong.
Karena mereka datang menjelang siang, tak lama kemudian sudah hampir waktunya makan siang.
__ADS_1
Melihat kedua lelaki yang tidak berniat untuk angkat kaki, Karen bertanya, “Pak Hamzah, maukah kalian makan siang di sini?”
Gabriel terkejut, kemudian berkata dengan nada minta maaf, “Begitukah? Boleh kalau begitu.”
Tidak tahu malu! Bakpao kecil benar-benar mengenali tingkat tidak tahu malu ayahnya untuk pertama kali. Benar-benar tidak kurang dari dirinya! Jelas-jelas ingin makan siang di sini, tapi harus ditanya dulu. Sangat dibuat-dibuat!
Karen tidak menyadari permusuhan diam-diam antara kedua ayah dan anak. Ia berpikir, kebetulan ia masih memusingkan sayur yang tak bisa habis. Ada dua orang yang membantu, ia pun bisa lebih santai.
Jadi, ia bertanya kepada Gabriel. “Apakah kalian punya alergi kalau begitu?”
“Tidak,” jawab Gabriel dengan suara rendah, kemudian dia mengangkat tatapannya untuk menatap Karen sekilas. “Selama itu buatan Nona Adnan, kurasa semuanya adalah makanan kesukaanku.”
Karen tersenyum simpul, tidak menyangka Pak Hamzah yang terhormat akan mengucapkan kata-kata sebaik itu. Ini membuatnya meragukan rumor di internet.
Dia tersenyum sambil mengangguk dan berkata, “Semoga nanti Pak Hamzah tidak kecewa.”
Selesai berbicara, dia baru menoleh ke arah bakpao kecil. “Bayi Kecil, apakah kamu alergi terhadap sesuatu?”
Mata Karen berbinar mendengar itu. “Sungguh? Kebetulan sekali, Pak Hamzah, aku juga suka makanan pedas.”
Kata-kata di ujung lidah Gabriel langsung berubah. “Benar-benar kebetulan, ini menunjukkan bahwa aku dan Nona Adnan berjodoh, bukan?”
Bakpao kecil terkejut oleh kemampuan berbohong ayahnya. Meskipun mereka adalah ayah dan anak, tetapi ia menyukai makanan pedas, ayahnya sama sekali tidak menyukainya. Tidak sangka dia bisa menahannya demi membuat Tante Adnan senang!
Bakpao kecil merasa dirinya masih terlalu muda, sama sekali bukan lawan Gabriel yang berpengalaman!
Karen menyadari ekspresi sedih bakpao kecil, lantas tersenyum padanya sambil berkata, “Bayi Kecil, tenang saja, Tante akan membuat hidangan khusus untukmu sebagai ganti biskuit tadi.”
“Kamu baik sekali, Tante!” Bakpao kecil kembali bersemangat dan tersenyum manis kepada Karen.
Gabriel tersenyum tipis menerima tatapan sombong bakpao kecil. Ia tidak menyangka jika suatu hari dirinya akan cemburu dengan putra sendiri.
__ADS_1
Ia menatap bakpao kecil. “Oh ya, pagi ini Kakek dan Nenek menelepon, katanya ingin kamu pergi menemani mereka. Bagaimana jika pergi besok?”
Ekspresi bangga bakpao kecil sontak menjadi kaku. Bisakah ayahnya lebih tidak tahu malu lagi? Demi berduaan dengan Tante Adnan, bisa-bisanya dia melakukan hal sebejat itu!
Ia menatap Gabriel dengan geram, tatapannya benar-benar menyedihkan.
Namun, Gabriel kebal dan tidak terpengaruh.
Di samping, Karen merasa hangat melihat interaksi penuh kasih sayang ayah dan anak itu. “Pak Hamzah, hubungan kalian baik sekali.”
Mendengar pujian Karen, keduanya saling memandang sekilas. Tatapan masing-masing penuh dengan ketidaksukaan terhadap satu sama lain.
Tapi, kata-kata yang diucapkan malah luar biasa kompak.
“Aku sangat menyukainya.”
“Aku menyukai Papi.”
Selesai berbicara, keduanya saling menatap lagi dengan tatapan jijik, menunjukkan maksud ingin muntah. Mungkin seperti inilah ayah dan anak dari penampilan luar….
Senyum Karen semakin lebar karena terhibur oleh interaksi mereka. Dia berkata kepada Gabriel, “Pak Hamzah, kamu tdak perlu begitu sungkan padaku. Langsung panggil aku ‘Karen’ saja.”
“Karen.” Gabriel bergumam. Suaranya agak serak sehingga namanya terdengar memiliki pesona yang unik ketika dipanggil.
Karen tiba-tiba merasa hatinya gatal sehingga wajahnya memanas. Suaranya sangat bagus. Pria ini benar-benar luar biasa. Jika ia bertemu dengannya lebih awal, pasti tidak akan tertarik pada pria bajingan itu, kan.
Namun, sebelum ia memikirkan hal lain, suara pria tersebut terdengar lagi.
“Kalau begitu, bukankah kamu juga tidak perlu memanggilku ‘Pak Hamzah’ lagi? Bagaimanapun, kita akan segera tinggal bersama.” Kata-kata Gabriel membuat Karen yang berbalik dan hendak masuk ke dapur, hampir terpeleset.
Apa-apaan tinggal bersama? Itu untuk meneliti lapangan kesukaan majikan, oke!
__ADS_1