
Aish, di mana anak tahu membalas budi seperti dirinya bisa dicari?
Karen menggandeng bakpao kecil turun, kemudian membawanya duduk di jok belakang.
Pria tersebut berpesan pada mereka untuk memakai sabuk pengaman, lalu menyalakan mobil.
Mobil melaju dengan stabil sepanjang jalan. Mobil mewah memang berbeda. Karen tidak merasakan gundukan sama sekali sepanjang jalan.
Mobil tiba di kompleks tempat tinggal Gabriel tanpa halangan. Rose Square - kompleks ini pada dasarnya adalah vila tunggal. Orang yang bisa tinggal di sini adalah para pejabat Indonesia.
Dan jika ia tidak salah ingat, ketika ia pergi kemarin, vila Gabriel itu adalah raja vila di kompleks ini - menempati tempat terbaik.
Keamanan kompleks pun sangat terjamin. Setelah melihat mobil Gabriel, mereka membuka dengan hormat, namun Gabriel menghentikan mobil di sini.
Karen tengah bingung, lalu terlihat Gabriel membuka jendela mereka, kemudian berkata dengan nada biasa, “Ini adalah Nona Adnan yang akan tinggal di sini. Nanti antarkan kartu akses ke vila nomor satu.”
Kenapa kata-katanya terdengar ambigu?
Benar saja satpam salah paham. Dia segera mengiyakan lalu menatap Karen sambil tersenyum. “Halo, Nyonya Hamzah. Silakan cari kami jika ada masalah apa pun di Rose Square lain kali.”
“Aku bukan….” Karen merasa canggung dengan panggilan satpam, dan hendak menjelaskan.
Tapi Gabriel tidak memberinya kesempatan untuk menyelesaikan kata-katanya, langsung menutup jendela mobil.
Karen melihat ke arah Gabriel dengan sedikit canggung. “Tuan Hamzah, tidak mau menjelaskannya?”
“Tidak perlu jelaskan. Tak lama kemudian, mereka akan mengetahui hubungan antara kita.” Mengetahui bahwa dia memang Nyonya Hamzah, batin Gabriel. Namun, ia mengemudi dengan fokus, nada bicaranya pun sangat biasa.
Karen pun merasa ada benarnya. Tak lama kemudian, seharusnya mereka akan tahu bahwa ia hanyalah desainer interior yang datang untuk memeriksa.
__ADS_1
Ia dibawa ke vila nomor satu oleh Gabriel. Meskipun kemarin sudah datang, tetapi ia tidak melihat desain interior dengan teliti. Sekarang ia punya waktu untuk melihatnya. Ia dapat menyimpulkan bahwa desain interior ini pasti karya desainer profersional. Saat ini ia agak khawatir jika desainnya tidak seluar biasa ini.
Gabriel mulai memperhatikan Karen begitu masuk. Jadi, ia kira-kira bisa menebak pikirannya setelah melihat ekspresinya.
Dalam perjalanan membawanya ke kamarnya, ia berkata dengan santai, “Meskipun desain di sini luar biasa, tetapi terlalu mewah. Ada rasa berlebihan, dan bukan yang aku inginkan.”
Mendengar kata-katanya yang mendadak, Karen tercenung. Apakah dia sedang menghiburnyaa?
Tatapannya menjadi aneh ketika melihat Gabriel. Tidak sangka pria yang terlihat sulit didekati, begitu teliti.
Kehidupan Karen di kediaman Hamzah telah dimulai.
Dia sibuk sepanjang sore - mencatat detail desain vila ini di catatan, kemudian menuliskan pendapatnya. Hingga menjelang jam makan malam, ia menemukan bahwa tidak ada orang yang menyiapkan makan malam.
Ia bertanya, dan ternyata asisten rumah tangga mengambil cuti.
Jadi, ketika Gabriel menyarankan untuk makan di luar, ia mengatakan bahwa ia bisa masak.
Seseorang masuk, sementara Gabriel baru saja naik ke lantai atas. Jadi, siapakah yang masuk?
Ia membersihkan tangan sebelum melihat ke luar, kemudian mendapati Gavin berderap masuk dengan wajah ditekuk.
“Tua Muda Kedua? Kamu cari Tuan Hamzah? Dia di lantai atas.” Karen menghela nafas lega saat melihat orang yang dikenal, kemudian menunjuk di mana Gabriel berada.
“Kenapa kamu di sini!” Gavin langsung menyingkirkan rasa tidak enak di tubuhnya, dan bersikap akan bertarung kepada Karen.
Karen merasa tak berdaya dengan sikap Gavin yang seolah menghadapi musuh besar. Memangnya apa yang bisa ia lakukan? Reaksinya terlalu berlebihan.
Seolah ia akan merebut kesayangannya….
__ADS_1
Meskipun berpikir demikian, ia tetap menjelaskan alasan ia di sini. Ia tersenyum sambil berkata, “Aku datang untuk mencari tahu kesukaan Tuan Hamzah, agar membuat desain yang memuaskannya.”
Gavin mendengus, membuat desain yang memuaskan kakaknya? Bercanda! Dengan levelnya yang bahkan kurang dari level anak usia tiga tahun? Ia merasa ia sudah mengenali wajah aslinya. Itu adalah alasannya untuk masuk ke rumah!
Sepertinya ia telah meremehkannya. Tidak sangka dia sudah masuk ke rumah dalam waktu sesingkat ini. Tampaknya ia harus mempercepat langkahnya, segera menunjukkan wajah aslinya di depan kakaknya, agar kakaknya sadar dan tidak lagi tergoda oleh wanita ini!
Dia memutuskan dalam hati, kemudian menatap Karen dengan angkuh dan mendengus.
Karen tahu apa yang Gavin pikirkan. Bagaimanapun, ia sendiri pun tidak percaya jika mengatakan bahwa ia tidak memiliki niat apa pun, bisa tinggal di kediaman Hamzah. Tapi tujuannya benar-benar hanya satu, yaitu mendesain karya yang bagus lalu menjadi terkenal melalui popularitas keluarga Hamzah. Ini termasuk memanfaatkan, kan?
Jadi, Karen menerima ekspresi Gavin dengan baik. Dia melihat Gavin yang berbalik dan hendak naik tangga. “Tuan Muda Kedua, apa kamu akan makan malam di sini? Aku sedang masak. Jika kamu tinggal, aku bisa membuatkan satu porsi untukmu.”
Apakah wanita ini ingin menyanjungnya? Gavin merasa dirinya telah mengetahui triknya, tatapannya pun berubah. Tapi, apakah ia begitu mudah disogok? Huh, ia akan membuatnya gagal hari ini!
Ia tersenyum lalu mengatakan hal yang berlawanan dengan hatinya. “Tolong kalau begitu.”
Karen merinding karena senyum Gavin. Setelah melihat Gavin naik ke lantai atas, ia baru menggosok bulu kuduk di lengan yang berdiri, lalu masuk ke dapur dan mulai menyiapkan makan malam.
Di sisi lain, Gavin sudah naik ke lantai atas dan langsung memasuki ruang kerja. Begitu membuka pintu, ia berteriak sebelum orangnya terlihat, “Kak, kenapa kamu membiarkan wanita itu tinggal di sini?”
“Ada masalah?” Gabriel bahkan tidak mengangkat kelopak matanya, suaranya pun datar.
Gavin dibekukan oleh suara dingin itu, dan hampir kehilangan keberaniannya - berlutut dan berkata ‘tidak masalah’. Tapi dia tidak melakukannya. Jika dia pun mengalah, bukankah wanita itu akan berhasil?
Meskipun begitu, suaranya menjadi lebih kecil. “Tentu saja ada masalah, Kak. Apa kamu tidak memiliki pikiran apa pun setelah melihat sampel desain itu?”
“Tentu saja ada.” Gabriel melihat bakpao kecil yang duduk di seberangnya sekilas, lalu berkata padanya, “Kembali ke kamar.”
Gavin baru kemudian menyadari bahwa bakpao kecil juga di sana. Karena dia duduk di pojokan dengan tenang sambil membaca sebuah dokumen, sehingga ia tidak langsung memperhatikannya.
__ADS_1
Mendengar kata-kata ayah, bakpao kecil menutup kontrak, mendengus pada Gavin, kemudian membawa dokumen tersebut meninggalkan ruang kerja.