
Menjelang malam, Gabriel mengakhiri rapat jarak jauh di ruang kerja.
Di ruang tamu, wanita dan anak kecil sedang duduk bersila di lantai kayu dan memasang blok mainan. Model blok agak rumit. Karen menemani bakpao kecil bermain, namun dia juga merasa bahwa blok dengan tingkat kesulitan seperti ini sangat menguras otak.
“Tante Adnan, bagaimana cara memasang dua blok terakhir?” Masing-masing tangan bakpao kecil memegang sebuah blok. Alisnya yang berkerut tampak terluka juga.
Karen mencoba setiap sudut, akhirnya pun kepalanya terkulai dan hendak menerima pukulan. “Tante Adnan juga tidak bisa.”
Gabriel yang baru keluar dari ruang kerja, kebetulan melihat adegan ini. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak terkekeh.
Bakpao kecil menjadi bersemangat. Dia menoleh dan melihat ayah, dengan cepat mengajak, “Ayah, cepat datang ke sini dan bantu.”
Mendengar itu, Gabriel pun berjalan ke sana dan duduk di lantai. Melihat blok yang sudah hampir jadi, jarinya yang ramping terulur ke arah Karen. Karen tertegun beberapa detik sebelum mengambil sebuah blok lalu memberinya kepada Gabriel.
Gabriel tidak menerima, melainkan memegang tangan Karen, lalu menekannya. ‘Krek’, blok terpasang.
Bakpao kecil tiba-tiba tercerahkan. Dia menemukan celah kecil terakhir, kemudian memasang blok terakhir.
Karen belum bereaksi. Meskipun Gabriel telah melepaskan tangannya, tetapi suhu telapak tangannya seolah masih membakar punggung tangannya sekarang.
Namun, sepertinya Gabriel tidak memikirkan hal ini. Dia mengetuk dahi bakpao kecil. “Bodoh. Jangan katakan bahwa kamu adalah putraku, memalukan,” ucap Gabriel.
“Ini karena aku terlalu kecil. Setelah dewasa, aku pasti lebih hebat darimu dalam segala hal.” Bakpao kecil tidak mau mengalah.
Rasa malu Karen pun tergantikan. Bakpao kecil baru berusia 5 tahun dan sudah bisa memasang blok serumit ini. Dirinya sudah berusia 24 tahun, memasang blok yang sama dengan bakpao kecil. Selain itu, kebanyakan bakpao kecil yang memikirkannya.
Seolah menyadari ketidaknyaman Karen, Gabriel mengubah topik pembicaraan. “Karen, bagaimana perkembangan desain vila?”
“Hm?” Karen tertegun lalu segera menjawab, “Jika Tuan Hamzah terburu-buru, aku bisa mempercepat prosesnya - selesai dalam satu bulan.”
__ADS_1
Mendengar kata-kata itu, Gabriel mengerutkan alis kemudian berkata, “Tidak, kerja pelan-pelan baru bisa menghasilan karya yang bagus. Aku rasa mengontrol waktu menjadi sekitar enam bulan cukup baik.”
“Kalau begitu maksud Anda…?” Karen tidak mengerti.
“Aku sedang berpikir, kenapa kamu tidak pernah masuk ke kamarku dan bakpao untuk meneliti?” Gabriel barulah menunjukkan niat aslinya.
Di samping, bakpao kecil yang memasang blok, menghina perilaku ayahnya. Tetapi untuk menjamin keuntungannya, dia segera menyahut, “Benar, Tante Adnan, kamu bahkan sudah tidur di kamar Bayi Kecil.
Karen tidak mengindahkan kata-kata bakpao kecil, hanya menjawab, “Jangan cemas, sudah ada ide untuk kamar bakpao kecil.”
Ketika berbicara, Gabriel sudah membuka pintu kamar tidurnya dan mengundang, “Karen, silakan masuk.”
Mengangguk kecil, Karen lalu mengikuti Gabriel memasuki kamarnya.
Sebenarnya jika Gabriel tidak membiarkannya masuk kali ini, ia benar-benar tidak tahu kapan ia bisa mulai mendesain kamar Gabriel. Meskipun sudah tinggal di rumahnya, tapi bagaimana ia boleh memasuki kamar orang lain sembarangan tanpa seizin pemiliknya. Memikirkan bahwa Gabriel mempertimbangkan kesulitannya dalam desain, Karen merasa hangat.
Bel pintu berdering saat ini, Gabriel menyuruh bakpao kecil untuk membuka pintu.
Gavin yang berada di depan pintu, melihat celah pintu dengan waspada. Begitu melihat bakpao kecil yang membuka pintu, dia langsung tersenyum, mengelus wajah bakpao kecil dan berkata dengan gembira, “Bakpao kecil, apa kamu merindukan Paman Kedua?”
Bakpao kecil meronta dan berkata, “Bukankah kita baru bertemu? Lepaskan aku, Paman Kedua.”
Gavin sedikit terkejut ketika memandang ruang tamu dan tidak mendapati Gabriel. Malam hari begini, jika bakpao kecil di rumah, Gabriel pasti di rumah. Gavin melangkah selangkah demi selangkah ke depan dengan waspada.
Bakpao kecil melirik paman keduanya. Ia tidak ingin tertular IQ rendah sehingga melempar diri ke sofa dan menonton drama.
Anjing kecil menggonggong kepada Gavin ketika dia tiba di depan pintu kamar Gabriel. Karen masih melamun. Begitu mendengar gonggongan anjing kecil, dia tiba-tiba terkejut dan ingin menopang tepi kasur, namun tersandung kaki ranjang sehingga berlutut di ranjang dengan satu kaki.
Kebetulan Gavin berjalan ke sana dan melihat itu.
__ADS_1
“Kamu!” Gavin menunjuk Karen, dengan mata terbelalak tidak percaya.
Karen baru berdiri stabil ketika mendengar suara di belakang. Ia segera berbalik dan menyapa Gavin meskipun kurang sopan.
Gabriel melihat tangannya yang menunjuk Karen, lantas mendorongnya ke luar kamar sebelum berkata dengan santai, “Ada apa datang ke sini?”
Bakpao kecil yang duduk di sofa, berkata, “Paman Kedua, jika kamu datang untuk makan, maka kamu terlambat. Kami sudah makan hari ini - masakan Tante Adnan.”
Gavin terdiam, seperti menahan lama, akhirnya dia menarik Gabriel ke ruang kerja.
Karen tahu bahwa dirinya memang akan memanfaatkan Gabriel untuk mendesain karya bagus. Jadi, ia masih bisa memahami permusuhan Gavin terhadap dirinya. Dirinya tidak terkenal, tapi langsung menerima proyek Gabriel. Karen memutuskan untuk lanjut mengamati kamar Gabriel. Ia harus melakukannya dengan baik agar bisa menghilangkan permusuhan Gavin terhadap dirinya.
Di ruang kerja, Gavin mengunci lalu menempelkan telinga di pintu untuk memastikan tidak ada orang yang bisa mendengar percakapan mereka, kemudian berkata dengan marah, “Kak, kenapa kamu tidak percaya padaku! Karen punya niat terselubung padamu, kamu tidak boleh membiarkannya tinggal di rumah!”
“Jika dia punya niat terselubung padaku, ambil saja.” Gabriel membuka kedua tangannya, tampak siap diambil.
“Kak, kamu sudah dibutakan olehnya. Apa kamu tahu apa yang sedang kamu lakukan?” Gavin merasa sedih melihat kakaknya terperangkap.
Gabriel tidak menunjukkan pernyataan apa pun.
“Kamu biasanya tidak membiarkanku masuk ke kamarmu. Terakhir kali dia tenggelam, kamu membiarkannya tidur di kamarmu, dan mengizinkanku masuk agar mudah merawatnya. Sekarang dia masih boleh duduk di ranjangmu. Kak, coba kamu pikirkan sendiri. Bukankah ini seperti dia menggunakan sihir, lalu kamu jatuh dalam sekejap?” Gavin menganalis dengan sabar untuk kakaknya.
Tanpa menjawab pertanyaan tersebut, Gabriel menatap Gavin dengan dingin lalu berkata, “Aku tidak peduli dari mana kamu memperoleh desas-desus seperti itu. Lain kali jangan mencoba untuk menghentikanku lagi. Aku akan mendapatkan wanita itu.”
Selesai berbicara, Gabriel bangkit lalu keluar, meninggalkan Gavin di ruang kerja sendirian.
Memikirkan sikap bakpao kecil terhadap Karen, lalu sikap bebas Gabriel terhadap wanita itu, Gavin meninju dinding kemudian merasa sakit dan segera mengibaskan tangan. Awalnya ia mengira bahwa dia hanya wanita tidak benar, tidak sangka memabukkan kakaknya dan bakpao kecil.
Menggertakkan gigi, ia harus memberi Karen pelajaran, memberitahunya bahwa menjadi kakak iparnya tidaklah mudah.
__ADS_1