
Sudah hampir bulan Juni, cuaca pun perlahan menjadi panas. Aktivitas bakpao kecil pun semakin mendekati tempat-tempat dingin seperti dinding, kaca, dan lantai.
Gabriel sedang menelepon di ruang kerja, bakpao kecil telungkup di jendela dan menggambar tanpa berbicara.
“Aku akan memperhatikan, Anda jangan cemas.” Gabriel memijat pelipisnya dengan dengan jengkel. “Hm, aku tahu.” Menutup telepon dan melempar ponsel ke atas meja kerja, ia menghirup nafas dalam-dalam.
Bakpao kecil menoleh, seakan sudah terbiasa. “Menyuruhmu pergi bertemu dengan nona-nona dari keluarga kaya lagi?” ucap bakpao kecil tidak heran.
Gabriel tidak menjawab, jelas tidak ingin meneruskan topik tersebut.
“Seharusnya kamu berterima kasih padaku saat ini,” ucap bakpao kecil sombong. “Kalau bukan karena aku yang menggagalkannya, mereka pasti menerkam seperti serigala sekarang.”
“Kamu gagalkan sekalipun, bukankah mereka masih menerkam seperti serigala?” Gabriel menatap putranya dengan tatapan menghina. Maksud tatapannya jelas mengeluhkan bahwa bakpao kecil tidak berguna.
“Aku rasa Tante Sajan cukup bagus. Sudah begitu lama masih bertahan.” Bakpao kecil mengangguk kagum, lalu teringat sesuatu. “Oh ya, Papa. Terakhir kali aku dan Tante Adnan bertemu dengannya.”
Gabriel mengangkat alis. “Kemudian?”
“Kemudian, Tante Sajan seperti mengenal Tante Adnan, namun Tante Adnan tidak mengenal Tante Sajan.” Bakpao kecil merasa dirinya hampir pusing, lantas mengganti kata-katanya. “Dengan kata lain, Tante Sajan sepertinya takut dengan Tante Adnan.”
“Apa maksudnya?” tanya Gabriel lagi.
“Ketika melihat Tante Adnan, ekspresi Tante Sajan seperti aku melihat anjing kecil untuk pertama kali.” Bakpao kecil mengingat kembali, lalu berusaha memberitahu Gabriel dengan kata-kata yang mudah dimengerti.
Anjing kecil baru dibawa pulang oleh Gabriel tahun lalu, karena bakpao kecil sangat menyukai seekor anjing dalam film animasi. Ketika Gabriel membawanya pulang, bakpao kecil memang sangat gembira. Tapi begitu meletakkan anjing kecil di lantai, bakpao kecil tidak berani mendekatinya. Namun, anjing kecil menyukai bakpao kecil sehingga mengejarnya. Akhirnya, bakpao kecil naik ke ranjang dan menangis ketakutan.
Gabriel berpikir sejenak, lalu mengangguk dan bertanya lebih lanjut, “Kapan?”
__ADS_1
“Terakhir kali aku dan Tante Adnan pergi ke Danau Temala di pinggiran kota. Aku lupa setelah pulang. Tadi membicarakan Tante Sajan baru teringat.”
Bakpao kecil lanjut menggambar di jendela, tak lama kemudian ia merasakan keheningan yang aneh. Menoleh, ia melihat ayahnya sedang menatapnya dengan tidak puas.
Belum sempat bertanya, Gabriel berbalik.
Bakpao kecil yang polos tidak tahu bahwa IQ-nya yang sudah termasuk tinggi dibandingkan anak-anak sebayanya, tampak kurang di mata ayahnya. Sekarang ayahnya menambahkan ‘ingatan buruk’ padanya. Gabriel merasa sedih, ia begitu cerdas, kenapa bisa melahirkan anak sebodoh ini? Pasti karena ibu bakpao kecil terlalu bodoh. Sekarang bakpao kecil tidak memiliki kegunaan lain, selain membantunya menghalangi para wanita.
Karen yang baru beli susu dari supermarket, bersin.
Ponselnya bergetar, Karen mengeluarkan ponsel dan melihat sebuah pesan dari lelaki tua yang ia janjikan untuk mendesain.
Isinya beberapa foto. Karen melihat sekilas dan yakin bahwa inilah rumah tua yang dia maksud. Tampaknya harga rumah ini memang sangat tinggi, namun tata letaknya sudah agak tua, termasuk perabotan dan dekorasinya. Semua terlihat sangat kuno.
Dari sudut pandang seorang desainer, rumah ini memang perlu didesain ulang; tapi dari sudut pandang Karen pribadi, rumah ini tidak seperti rumah tua yang perlu didekorasi ulang, lebih seperti rumah yang ditempati dua orang tua seumur hidup. Setiap detail penuh dengan kenangan dan kehangatan.
Karen merasa sedikit bingung sehingga mengirim pesan untuk memastikan. Apa Anda yakin ini rumahnya?
Karen membalas lagi: Tidak, tolong kirimkan alamat dan permintaan rumah. Aku akan pergi untuk melihat-lihat sore ini.
Orang itu segera mengirim alamat dan permintaan, tetapi alis Karen bertaut ketika melihat permintaannya.
Pertahankan nuansa kuno, tetapi juga masukkan elemen modern. Agak modern, menunjukkan kekayaan dan kemuliaan dalam detail. Jangan terlalu asal, sebaiknya sedikit serius, tetapi jangan terlalu menekan.
Karen tahu bahwa segala hal harus seimbang, tetapi permintaan ini seperti sengaja mempersulitnya.
Melihat permintaannya sebentar, meskipun tidak tahu sama sekali, tetapi sudut bibir Karen terangkat. Permintaan ini kebetulan membangkitkan keinginannya untuk menang. Karen sudah lama tidak menemukan kesulitan seperti ini. Hatinya tidak dapat dipungkiri sedikit mendidih. Kalau begitu coba saja. Apakah aku bisa memenuhi permintaanmu, atau kamu bisa menyangkal kemampuanku.
__ADS_1
Karen tiba di rumah tersebut tepat waktu di sore hari. Hanya ada satu orang di rumah itu, dan bukan lelaki tua tersebut.
“Halo, aku adalah desainer, Karen.” Karen memperkenalkan diri. “Kalau boleh tahu, siapa Anda?”
“Tidak salah, Nona Adnan, aku adalah orang yang datang untuk menunggumu,” ujar orang itu antusias.
Melihat penampilan orang ini, Karen teringat sebuah kata; pelayan. Ia pun berkata dengan bingung, “Maaf, Tuan, kalau boleh tahu, apa pekerjaan Anda di rumah ini?”
Meskipun sangat lancang, tetapi Karen merasa ada yang aneh.
“Hah? Oh, hm… aku adalah pengurus rumah. Ya, pengurus rumah,” ucap orang itu gagap.
“Kalau begitu tolong tunjukkan jalan.” Karen tersenyum tipis. Meskipun tidak mengerti mengapa sikap pengurus rumah agak antusias, tetapi itu tidak ada hubungannya dengan tujuan kedatangannya. Karen pun tidak memikirkannya lagi.
Model rumah sama seperti yang di foto, dan tak jauh berbeda dengan bayangan Karen. Hanya saja beberapa barang kecil sudah hilang, mungkin baru saja memindahkannya. Namun, perabotan rumah belum sempat dipindahkan.
Seluruh rumah kosong melompong, sudah tidak ada tanda-tanda bahwa pemilik rumah tinggal di sini. Kurang hangat jika dibandingkan dengan foto yang dikirim.
Ponsel di saku tiba-tiba bergetar. Ada pemberitahuan dari bank bahwa rekeningnya bertambah dua miliar.
Karen mengernyit, lalu menerima pesan dari lelaki tua: Nona Adnan tidak perlu meragukan ketulusanku. Ini adalah biaya desain untukmu. Jika hasil desain memuaskan, kelak aku akan mencari Nona Adnan lagi untuk mendesain rumah.
Tidak mengerti jalan pikiran lelaki tua itu, Karen membalas pesan lagi: Tolong kirimkan nomor rekening Anda, aku akan mentransfernya kembali. Setelah kita sama-sama puas baru bahas biayanya.
Orang itu hanya membalas: Kamu cukup mendesain rumah, lakukan pekerjaanmu dengan baik.
Setelah melihat pesan tersebut, Karen tersenyum marah. Ia menelepon namun tidak diangkat. Tadi masih mengirim pesan dengannya, sekarang malah tidak mengangkat telepon.
__ADS_1
Pengurus rumah memanggil. “Nona Adnan, apakah perlu melihat kamar tidur di sini?”
Karen menekan emosinya dan memaksakan seulas senyum. “Tolong tunjukkan jalan.”