
Walaupun seimbang Pratama terus menyerang Rojer dengan pedang kegelapannya dan lubang hitam miliknya, setiap Pratama masuk ke lubang hitamnya Renji dan Ayato menyerang Rojer dengan kombinasi mereka, Renji panah es dan Ayato meriam api.
"Hahahaha untuk sampah kalian lumayan juga!
Tapi harusnya sekarang kalian sudah berada diambang batas. kalau salah satu dari kalian membuat kesalahan sedikit saja.
Kau akan mati, seberapa lama kalian mampu bertahan dalam kondisi seekstrim ini?!" ucap Rojer.
"Kau berisik pak tua, tentu saja kami akan bertarung sampai kau kalah!" ucap Pratama.
"Begitu yah, tingkat konsentrasi kalian memang luar biasa, tapi bagaimana dengan kalian berdua!
Sebentar lagi kekuatan kalian pasti sudah mencapai batasnya, jumlah kekuatan yang kita miliki, ada perbedaan besar antara kekuatan milikku dan kekuatan kalian, para sampah!" ucap Rojer.
"Dia pintar membuat kita putus asa,ya.
Apiku semakin berkurang."ucap Ayato.
"Es ku semakin sulit digunakan tubuhku semakin kaku" ucap Renji.
"Memangnya kenapa ?!
Kami akan memenangkan pertarungan ini!"
Dengan menyatukan kekuatan bersama teman-temannya Pratama melanjutkan pertarungannya melawan Rojer.
Tapi Rojer masih sanggup mengatasi mereka.
"Untuk bocah, kalian lumayan juga!" ucap Rojer.
Di dalam situasi antara hidup dan mati ini dengan keyakinannya akan teman-temannya mengincar kemenangan, Pratama terus mengayunkan pedang kegelapannya.
"Cepatlah kalian mati!" ucap Rojer yang mulai terpojok.
"Mati?! Kami tak punya waktu untuk omong kosong itu!"
dengan menyerang Rojer sekuat dan secepat mungkin akhirnya Pratama berhasil mengenainya dengan sangat dalam.
"Berhasil! Akhirnya berhasil!" ucap Yuni.
"Itukah yang kalian kira?
Apa kalian kira kekuatan kerjasama kalian itu mempan padaku?!
Hei! Apa kalian kira begitu?!
Untuk menyerangmu aku sengaja membiarkanmu mengenai area yang bukan organ vital ku." ucap Rojer.
Rojer berhasil menangkap Pratama dengan memeras kedua tangannya.
"Ti..Tidak mungkin" ucap Yuni yang khawatir dengan kondisi Pratama.
"Aku sangat mengetahuinya loh.
__ADS_1
Saat semua harapan sirna keputus-asaan sejati itu akan tercipta!
Jatuhlah dalam kegelapan keputus-asaan dan penderitaan!"
Pratama terus menjerit kesakitan karna tangannya terus diremas dengan sangat kuat.
"Aaaaaa!" ucap Pratama yang kesakitan.
"Benar suara jeritan inilah yang ingin kudengar dari kalian para manusia!
Nah jatuhlah dalam keputus-asaan!
Mati,mati,mati,mati,mati!" ucap Rojer yang semakin menggila dan menyiksa Pratama.
"Aaaaaa!" jeritan Pratama semakin keras karna kesakitan.
"Hahahaha bagaimana rasanya bocah?!"
Pratama pun tumbang dihadapan Rojer dan ia melepas tangan Pratama.
"Cobalah untuk berdiri sekali lagi!"
"Belum..masih belum!
Aku masih belum menyerah!" ucap Pratama yang bangkit kembali.
"Pratama kamu benar-benar.." ucap Ayato yang kagum dengan Pratama.
"Benar, kami masih belum menyerah!" ucap Renji dan Ayato.
"Kurang ajar!
Takkan kubiarkan lolos!" ucap Rojer yang mengejar Pratama.
Pratama terus mundur dan menggunakan lubang hitamnya untuk berpindah tempat dan Ayato bersama Renji terus menyerang Rojer dengan kombinasi api dan es mereka.
"Hah..hah..hah..hah" Pratama yang mulai kelelahan.
"Pratama kamu baik-baik saja?" ucap Ayato.
"Ayo kita lakukan sekali lagi!" ucap Pratama yang menahan rasa sakit tangannya yang hampir remuk.
"Kenapa kau belum menyerah juga?! ucap Rojer.
"Aku tak punya waktu untuk berputus-asa!
Aku tak ingin kalah!
Kau dan keputus-asaanmu dan juga kebencianmu akan kuhabisi!" ucapa pratama yang langsung menyerang dari depan.
"Jangan bercanda!
kau itu cuma bocah yang bisa kuremukkan kapan saja!
__ADS_1
Pergerakanmu masih bisa kulihat!" ucap Rojer.
Tapi Pratama bergerak dengan sangat cepat hingga Rojer kesulitan melihat pergerakannya.
"Eh mataku tak bisa mengikuti pergerakannya?
Sial gara-gara aku terkena serangan pedang kegelapannya, kekuatan yang kugunakan untuk meningkatkan kekuatan fisikku melemah?
Kupikir aku sudah melemahkan kekuatannya.
Tapi kau fikir justru kekuatanku yang sudah kau renggut?!" ucap Rojer yang terus terpojok dengan serangan Pratama secara bertubi-tubi.
"Aku tidak mungkin kalah, terutama dari bocah seperti kalian!" ucap Rojer.
"Kau tidak menang melawan siapa pun!
Apa ada temanku yang menyerah saat menghadapimu?!
Tak ada satu pun yang putus asa!" ucap Pratama.
"Tutup mulutmu!" ucap Rojer.
Rojer terus menyerang Pratama secara membabi buta dan berhasil mengenainya.
"Pratama!" ucap Yuni yang khawatir.
"Kekuatanku kali ini kau pasti akan ku habisi!"
Secara tidak sadar Pratama sudah kehabisan kekuatannya, tapi ia terus memaksa dan sesuatu yang lebih mengerikan dari pada kegelapan bangkit di dalam tubuhnya dan aura yang dikeluarkan Pratama sangat besar.
"Hah akhirnya kekuatan kegelapanku mulai menunjukkan wujud aslinya" ucap Pratama yang sangat marah dan sangat serius.
Rojer pun terlihat takut akan aura yang dikeluarkan Pratama.
"Masih..Masih belum!
Aku masih belum menyerah!" ucap Pratama yang perlahan mendekati Rojer.
"Hah? Dia sama sepertiku?
Tidak dia bukan monster" ucap Rojer yang semakin tertekan.
Setiap kekuatan memiliki sifatnya masing-masing, Api yaitu amarah yang dapat meledak-ledak.
Es yaitu dingin yang dapat memiliki sedikit kebencian.
Air yaitu tenang selalu tenang dalam hal apapun.
Angin yaitu lembut halus tapi bisa menyakiti.
Tapi kegelapan..
"Dia..iblis yang menelan keputus-asaan dan kebencian" ucap Rojer yang mengetahui sifat sebenarnya kekuatan kegelapan.
__ADS_1
Pratama maju dengan serangan terkuatnya secepat mungkin lalu menyerang Rojer di berbagai sisi dan pada akhirnya Pratama, berhasil merobohkannya dengan sangat tepat dan membuat Rojer tak sadarkan diri.
Yuk tunggu kelanjutannya.