
Setuju.. (dingin)
May ayok jalan. (berjalan kearah yang ditentukan)
Heiii.... Tunggu... May kan tidak setuju... Tunggu dulu.... (sedikit menjerit)
May... Sudahlah pergi sana... (mendorong imay)
Tiar kamu..... (berasap telinga imay)
Hehe... Dada imay... Sampai bertemu dipuncak... Da.... Hati hati ya..... (pergi menjauh dan melambaikan tangan).
Sudah beres nah.. Kalian tidak perlu segan lagi jika mau berbicara. Pak vian sudah pergi. Hehehe... (menepukkan tangan)
Iya... Hebat kamu ar... (menupuk pundak.)
Yaudah ayok kita cari simbol merpatinya dan menuju kepuncak.. (mengepalkan tangan dengan bersemangat)
Ayok.... (kompak)
Tiar dan rekan yang lain bersemangat melanjutkan perjalanan, sementara imay..? Haaah... Dia seperti berjalan dengan sebatang pohon. Tak bersuara sedikitpun. Imay yang berjalan menunduk dibelakang vian tidak sengaja menabrak vian yang tiba tiba berhenti.
Dub...
Aduh..... Hey...? Kamu kenapa berhenti tiba tiba sih? Hem.. (marah)
Dan kamu berjalan sambil tidur? Tidak lihat orang berhenti apa?
Kamu...! Hemmm.. (memalingkan wajah)
Itu ada simbol merpati. Cepat ambil (memerintah imay)
Kenapa tidak kamu ambil saja sih..? Kenapa harus aku? (menggelengkan kepala)
Aku sudah menemukannya. Sekarang giliran kamu yang mengambilnya. Sana cepat ambil.. (mendorong imay dengan pelan)
He....... Iyaaa may ambil... Sebentar.. (sebal imay)
Karena perjalan mereka sangat jauh dan ternyata ada orang yang menggantikan arah petunjuk jalan rute imay dan vian. Akhirnya mereka tersesat.
Ini untuk kedua kalinya imay menabrak vian yang berhenti tiba tiba...
Haduh.... Hey vin.. Kamu hoby sekali berhenti mendadak ya..? (kesal imay)
Hmm... Dan kamu hoby sekali tidur sambil berjalan ya...?
Kamu...! Siapa yang tidur sambil berjalan haaah.... (dengan suara keras)..
Syuutt.... Diam kamu...!
Kamu yang diam... Dasar sialan. Huft.. (menyilangkan tangan dan beralih pandang)
Hemm... Sepertinya ini bukan rute perjalanan kita. (melihat sekeliling)
__ADS_1
Apa kamu bilang vin..? (terkejut)
Iya.. Ini seperti nya buka rute kita.. Sepertinya kita salah jalan..
Kamu.. Kamu... Kamu.. Bercanda kan vin..? Kamu gimana sih... Kenapa tidak lihat petunjuk jalannya..?
Aku lihat petunjuk jalannya.. Tapi arah yang ditunjukkan mengarah kearah sini.. Dan ini seprtinya bukan arah ke puncak.
Jadi maksud kamu kita.. Kita... Tersesat begitu...? (takut)
Tunggu sebentar... Ayok... Kita balik kesana lagi.. Dan lihat apa benar arahnya atau salah...
Hemm.. Iya..
Mereka berjalan mengelilingi hutan tapi tetap tidak menemukan rute yang benar. Sudah lama mereka berjalan, sampai akhirnya hari semakin gelap.
Vin.... Bagaimana ini...? Apa kita benar benar tersesat..? Apa kita tidak akan bisa kembali..? (khawatir)
Kamu tenang dulu... Biar aku telpon seseorang dulu. (mengeluarkan hp)
Ah... Sial...! Tidak ada jaringan sama sekali....
Jika begini hanya bisa menggunakan yang satu lagi agar bisa dilacak orang orangku.. (dalam hati)
(Memeriksa kantong celana) aih... Kemana alat pelacakku....?
Aduh... Aku lupa. Pasti tertinggal di dalam mobil.. Sial sekali. Hemmm (menepuk jidat)
Vin... Ada masalah apa? Gimana? Bisa menghubungi mereka? ( mendekati vian)
Jadi.. Kita gimana vin.. ? Apa kita tidak bisa ditemukan..? Apa kita akan mati disini? Vin... Gimana ini...? (menangis)
Kamu tenang dulu, sebaiknya kita cari tempat untuk berteduh.. Disini sepertinya juga akan turun hujan. Ayok....!
Vin tunggu aku... (tanpa disadari imay, dia menggandeng tangan vian)
Vin.. Ini sudah semakin gelap. Apa disini banyak binatang buasnya vin... Apa kita mati disini vin...? (gemetar ketakutan)
May... Kamu tenang.. Kita tidak akan mati disini.. Tenang ya.. Kita pasti keluar dari sini.. Kamu jangan nangis lagi.. (menenangkan)
Karena hari semakin gelap. Imay dan vian bergegas mencari tempat untuk mereka bermalam. Namun Tiba tiba imay terpeleset dan jatuh ke jurang.
Vin.. Kamu pelan pelan.. Disini sangat licin..
Iyaa may.. Kamu hati hati...
Hem...
Vian yang tidak melihat jalan pun akhirnya terpeleset. Dan hampir jatuh ke jurang. Tapi imay menarik tangan vian dan mendorongnya kearah yang lain.. Tapi malah imay yang tersandung dan terjatuh...
Vian... Awas.... (menarik dan mendorong vian) aaaaa.....
Imay..... Imay..... (teriak vian sambil mencarinya)
__ADS_1
Vian terus mencari dan memanggil manggil imay... Dia berjalan menyusuri jurang tempat jatuhnya imay.
Imay yang terjatuh.. Masih selamat dan sadar. Namun mengalami lumayan cidera. Dia terus memanggil vian dengan suara pelan dan hampir pingsan.
Vin.. Tolong aku vin... Aku disini... (lemah)
Imaaaay.... Imaaaayy.... Kamu dimana..? Tolong jawab aku imaaaaay.... Kenapa kamu menyelamatkan aku maaaay.... (menjerit merasa bersalah..)
Vin.... Aku disini vin... Aku disini.... (lemah)
Imaaaay........ (menjerit sekuat tenaga)
(Mencari sekeliling dan akhirnya melihat) May... Imaaay... (berlari kearah imay) Akhirnya aku menemukanmu... Kamu..
Vin.. Apa aku akan mati...?
Enggak may... Kamu harus bertahan... Kita pasti keluar dari sini.. Kamu pasti harus selamat.. (menggendong imay)
Vin... (lemah)
Kamu... Jangan bicara lagi.. Kamu akan selamat may.. (menangis)
Kamu nangis..?
Tidak...! Ini keringatku.. (ngeles vian)
Kita mau kemana vin. ..? (dengan suara lemah)
Kita... Kita mau ke..... (melihat sekeliling.)
Tidak jauh dari tempat mereka terdapat sebuah rumah yang telah usang.
Sepertinya dulu pernah ada yang tinggal disini. (dalam hati)
Kita... Akan kerumah tua itu... (berjalan menuju kerumah usang)
Itu rumah siapa vin..? (lemah dan tiba tiba pingsan)
Tidak tahu. Sepertinya sudah lama tidak ditempati..
Tidak apa.. Sekarang kita bermalam disini saja untuk sementara...
May... Imay... (memanggil dan memeriksa denyut nadi ditangan imay)
(membongkar ranselnya) syukur aku selalu mambawa kotak obat obatan dan korek ini...
May kamu tunggu sebentar ya. Vian mau cari kayu bakar untuk penerangan kita. (berkata dengan lembut)
Vian mengumpulkan beberapa ranting kering untuk digunakan sebagai kayu bakar. Dan juga mencari beberapa buah buahan yang bisa dimakan.
.
.
__ADS_1
.
.