
Um..... (imay mulai sadar)
Dengan cepat vian perpura pura tidur.
Aau... (kesakitan kerena luka dipundaknya kemudian melihat vian)
Vin... (memeriksa suhu) huft... Syukurlah demam kamu sudah turun..
Ternyata kamu kalu tidur begini lumayan juga vin. Lebih tampan dari pada kamu bangun dan bersikap dingin. Bikin sebel.. (membelai rambut vian sambil tersenyum)
(memegang tangan imay) jadi kalau vian tidak tidur vian jelek begitu may? (menggoda imay)
Eh... Vin kamu sudah bangun ternyata...? Dasar nyebelin banget kamu.... (menarik tangan imay dan berdiri)
(senyum) jawab dulu....
Iya kamu jelek kalau kamu bangun... Weekk... (mengejek)
Menangkap tangan imay dan mendorongnya hingga jatuh terbaring dengan posisi vian diatas..
Apa kamu bilang may....? (mendesak imay)
Ka.. Kamu... Jelek kalau bangun (dengan suara pelan dan gugup)
Benarkah...? (melembutkan suara)
Um... Vin... Kamu... Mau ap....
Syuuutt... Jangan bicara lagi... Nanti luka kamu kambuh.. Biarkan vian melihat imay dengan dekat. Jangan bergerak may (lembut)
Dug... Dug... Dug.... (bunyi jantung keduanya)
Viin.... Kita... (gugup)
Syuuutt.. Sebentar lagi (berbisik)
(mencium kening imay cukup lama)..................
Vin...? (mencoba mendorong)
Tenang may... Vian hanya ingin mencium kening imay... (lembut)
.
.
.
(Beranjak)...
__ADS_1
(diam sesaat)........
May..... Ada yang ingin vian sampaikan dengan imay...
Hm... Apa itu vin...?
May.... Sebenarnya aku ini sejak pertama kita bertemu sudah tertarik dengan imay... (memberanikan diri)
Um... Vin... Sebaiknya jangan.. Karena imay hanya seorang mahasiswa magang diperusahaan kalsib. Lagian imay yakin kalau pak direktur tidak mengizinkan orang terpercayanya mendekati anak magang.
Imay tidak ingin kalau vian terkena masalah karena imay... Jadi sebaiknya jangan ada perasaan seperti itu vin..
Tapi kenapa may...? Apa karena vian ini hanya seorang kaki tangannya bos yang memiliki gaji sedikit..?
Bukan vin bukan... Imay tidak melihat seseorang dari materi atau jabatannya. Justru imay merasa imay tidak pantas untuk vian. Imay hanyalah orang biasa vin. Dan kamu punya banyak wawasan. Vian pasti akan mendapatkan wanita yang lebih baik lagi. (senyum)
(senyum) memang kamu orang yang aku cari may (dalam hati)
Kalau begitu biar vian resign dari perusahaan. Gimana may...? (menguji imay)
Jangan vin... Kenapa kamu harus resign? Kamukan masih punya keluarga..? Mereka lebih penting vin. Jangan mengambil keputusan sepihak begitu vin.. Tidak baik.. (mencegah vian)
(senyum)... May.. Kamu memang baik.. Aku buktikan kamu pantas untuk ku may.. (mengusap kepala imay)
Maksud kamu apa vin..?
Iya sebentar.... (pincang)
.
.
.
.
Hore...... Akhirnya kita berhasil sampai ke puncak... (gembira nining dan rekan yang lainnya)
Eh... Itu bukannya tim B ya? Tapi kok hanya bertiga...? (putra dan fery melihat kejauhan)
Iya Itu tim B. Nah itu tiar.. Tapi imay dan pak vian kemana..? (fery bertanya tanya)
Vid. Betul bukan sih itu mereka..? (tanya nining penasaran)
Iya sepertinya itu benar tim B. Tapi sepertinya ada sesuatu yang terjadi.. (Vidy berfikir)
.
.
__ADS_1
.
Hey.... (melambaikan tangan.) kemari cepat.... (nining berteriak)
Ning kamu tenang.. Mereka juga akan kemari kok (ujar vidy)
Hem... Iya maaf. Pulaknya senang sih. (gembira)
.
.
.
Nah itu sepertinya imay sudah tiba dipuncak.. Ayok kita percepat langkah kita... (semangat tiar)
Ar... Pelan pelan... Ini jalannya licin habis hujan tadi malam. (ujar rangga)
Hm... Iya iya ini juga hati hati....
.
.
.
.
Yey... Akhirnya sampai juga dipuncak.... (mengangkat tangan karena gembira)
Imay... May... Imay... (mencari imay)
Loh imaynya kemana ning, vid..?
Lah.. Imaykan satu tim dengan kamu ar.. Kok malah tanyak kami (sela fery)
Iya... Bukannya tadi imay berangkat bareng kalian...? Itu pak viannya kemana? (tambah vidy)
Jadi imay belum tiba juga...?
(menggeleng kompak) belum..
Haisss.. Jadi mereka kemana..? Kemaren memang imay dan pak vian berangkat bareng kami. Terus ar suruh pencar agar cepat mendapat simbol dan janji bertemu dipuncak. Tapi... Mereka belum sampai juga.... Apa jangan jangan mereka kenapa kenapa ya...? (gelisah seperti biasa)
Kamu tenang dulu dong ar. Jangan langsung berasumsi buruk. (rangga dengan suara besarnya)
Iya ar. Mungkin mereka masih diperjalanan menuju kemari. Kita tunggu saja. Ini kan habis hujan. Mungkin mereka akan sedikit terlambat. (tambah rekannya yang lain)
Iya.. Kita tunggu saja beberapa saat disini kalau begitu. (tambah vidy)
__ADS_1