Menanti Membuktikan Janji

Menanti Membuktikan Janji
Eps 17


__ADS_3

Hem... Iya terimakasih.. (mencoba meraih)


Hisss... (kesakitan)


Hemm... Sini biar vian suapin ya... Tangan kamu masih cedera jadi jangan banyak gerak.


Hem... Makasih vin..


Kamu tidak apa apa basah begitu vin? (sedikit cemas)


Tidak... Vian bawa baju ganti kok. Nanti vian ganti.. (sambil menambahkan ranting ke dalam tumpukan api)


Hem... Makasih udah menyelamatkan may ya vin.. Maaf kalau tadi may buat vian marah.. (menunduk)


(berdiri) tidak apa apa... Seharusnya vian yang bilang makasih. Karena imay sudah menolong vian. Seharusnya imay tidak mendorong vian, jadi imay tidak terjatuh. Seharusnya vian yang jatuh may. Bukan imay... (menyesal)


Tidak apa apa vin.. Lagian sekarang imay masih selamat berkat bantuan vian kan...


Imay masih belum sadar kalau dia telah berganti pakaian...


(sambil memegang perut imay) ini. Siapa yang balut..?


Itu.. Vian tadi yang balut. Sebaiknya jangan dipegang dulu may.. Masih basah.


Kamu...? Kamu yang balut luka imay..? (kaget)


(memeriksa) ini bukan baju imay.. Vin....?


Emmm.. Itu tadi pakaian imay sudah rusak parah.. Jadi tadi vian ganti dengan kaos vian. (tidak detail)


Vin.....?


Iya.. Serius may.. Vian tadi yang menggantikan pakaian imay... ( mengangkat tangan)


Kamu yang mengganti vin...? (menekankan suara walaupun lemah)


Iya... Uppsss... Maksudnya... Maksudnya vian, vian menggantikan pakaian imay dengan menutup mata. Vian bersumpah vian menutup mata vian. Vian tidak melihat apa pun.. (menjelaskan)


Sungguh...? (merasa lega)


Iya... (wajahnya memerah karena ingat hal itu. Tapi karena gelap jadi tidak terlihat oleh imay)


Huft... Syukurlah... (menghela nafas lega.)


Kretakk.... (suara ranting patah)


Huuh.... Hujannya deres sekali.. Anginnya juga kencang sekali.... Dingin... (rintih imay)


Kamu kedinginan may..?


(mengangguk)


Sini dekat penyapi. Agar lebih hangat.


Iya... (berjalan sedikit pincang)

__ADS_1


(membantu imay) sini duduk disini (memapah imay)


Terimah kasih vin.


Tidak masalah... (mengupas buah)


Nih buka mulutnya. Makan buah ini... (menyodorkan)


Iya makasih.. (menyuapin)


Vian yang memperhatikan imay. Kini mulai menyadari kalau dia jatuh cinta dengan imay. Dan imay juga yang tidak pernah diperhatikan seperti itu, juga akhirnya jatuh cinta dengan vian.


Tanpa disadari mereka sudah lama saling bertatapan. Sampai akhirnya suara petir menyadarkan keduanya.


Duuaaarr.....


Ehem... Kamu tidak apa apa kan.? (memaling wajah)


Iya... Tidak apa apa.... (salah tingkah)


yasudah sebaiknya kamu tidur. Besok kita cari cara gimana keluar dari tempat ini. (Ujar vian)


Iya.. Kamu juga... Emm.. Kamu tidur disini saja. Biar may pindah kesebelah sana. (menunjukkan)


Tidak perlu.. May disini saja. Biar vian yang kesana.


Tapi... (memegang tangan vian yang dingin dan terluka)


Vin... Tangan kamu kenapa? (memeriksa)


Tunggu sebentar....


Hm... Tolong ambilkan kotak obat itu vin.


Sudah may.. Tidak perlu.. (menolak)


Vin...?


Hemm... Baiklah (mengambil)


Ini harus segera diobati. Jika tidak nanti bakalan infeksi dan bertambah parah. (membalut luka)


Hemmm.... Ternyata begini rasanya diperhatikan orang lain. May.. Kamu sungguh manis (dalam hati)


Jadi jangan sampai terluka lagi ya vin..?


(melamun).....


Vin..? (menyenggol bahu vian)


Eh... Iya may iya... Makasih ya may.. Muah (Tanpa sadar vian mencium Kening imay)


(Terdiam..) ....


Eh... Umm... Maaf may.. Vian spontan saja... Maaf sekali.. (gugup)

__ADS_1


(wajah imay memerah karena tersipu malu) ....... (diam tanpa kata)


Um... Sebaiknya kamu tidur vin (gugup)


SeLamat malam vin... (berpaling dan berbaring)


I... Iya may... Selamat malam (gugup)


Haduuhh... Bodohnya aku.... Kenapa tanpa sadar mencium imay...? Jadi canggung begini akhirnya.. (vian Bergumam)


.


.


.


(guling sana guling sini) vian yang kedinginan tidur dengan gelisah. Badannya yang mendadak menjadi demam akibat kehujanan. Imay yang juga tidak bisa tidur. Memperhatikan vian dan berjalan mendekati vian.


Uhm... Ctak.... Ma... Ma.... (ngelindur dan meringkih)


Vin... Vin... Vian... (menyenggol tangan vian)


Yaampun vin... Kamu demam..!


Imay bergegaa mengkompres kepala vian dengan membasahkan koyakan bajunya kemudian dihangatkan nya ke penyapi. Berulang ulang imay melakukan itu.


Hm... Sudah vin... Makan dulu ya.. Tadi imay mencari sesuatu diransel vian. May lihat ada roti. Vian makan dulu rotinya ya...? Setelah itu minum obat ini.


(setengah sadar) mengangguk pelan.


Nih... Aaa.....


(mengunyah)


Uhuk... Uhuk... (vidy terbatuk)


Nih vin minum air mineral ini...


Glek... Glek....


Sudah.... Kamu tidur ya. Imay kembali kesana.. Perlu apa apa. Panggil imay saja vin. (menutup botol mineral dan bergegas pergi)


May... (memegang tangan imay)


Jangan pergi... Temani aku.... (rintih vian setengah sadar)


Tenang vin... Imay tidak pergi kok. Imay disini temani vian..


Imay pun tertidur bersandar disamping vian dengan tangannya yang digenggam erat oleh vian hingga pagi.


Vian yang terbangun terkejut dan mengingat kejadian malam tadi.


.....kepalaku sakit sekali.. (sambil memijat kepala kemudian menoleh kesampingnya)


Eh... Imay... (tersenyum sambil membelai rambut imay yang tertutup wajahnya) hmmm... Ternyata kamu cantik kalau lagi tidur begini may ( bersuara pelan)

__ADS_1


(mengangkat tangan yang menggenggam imay)... Andai kita bisa seperti ini kedepannya may... (senyum)


__ADS_2