Mencintai Vampir Dingin

Mencintai Vampir Dingin
Bicara


__ADS_3

Axel pun memilih untuk membicarakan semua ini dengan Aluna karena dia juga tau bahwa Alina juga mulai terbiasa dengan dirinya yang ternyata seorang vampir.


Awalnya Aluna memang takut pada Axel yang seorang vampir dingin. Namun hak itu berangsur-angsur menghilang karena dia bisa melihat sisi lain dari Axel yang ternyata sosok yang lembut.


Namun, Tepat saat Axel hendak menyatakan perasaannya, Aluna berteriak histeris karena dia kembali mendapatkan bayangan yang sangat menyeramkan di mana ayah dan ibunya berlumuran darah.


Mendengar suara teriakan Aluna yang begitu histeris membuat Axel langsung pergi menghampirinya.


Dia melihat ternyata Aluna sudah duduk di lantai sambil terus menjambak rambutnya lagi.


Entahlah, Axel tidak mengerti lagi bagaimana cara membuat Aluna mengerti untuk tidak terus berada di dalam ketakutannya.


" Aluna, Tenang oke tenang. " Axel mencoba menenangkan Aluna yang terus saja menjerit histeris.


Mengambil apa yang ada di pikiran Aluna juga tidak bisa di lakukan Axel karena ini siang hari.


Kenapa dia tidak bisa membantu Aluna sama sekali ?


Melihat Aluna yang kesakitan seperti itu Axel juga merasa kesakitan.

__ADS_1


Dia tidak bisa mengambil apa yang ada di pikiran Aluna saat ini hingga menyebabkan wanita itu terus saja menjerit histeris.


" Aluna, Hey lihat aku Aluna, Lihat aku. " Perlahan Axel menurunkan tangan Aluna hingga wanita itu melihat ke arahnya dan langsung memeluk tubuh Axel.


Axel sendiri yang di peluk seperti itu oleh Aluna membuat kerja jantung dan darahnya bekerja dua kali lipat lebih cepat dari biasanya.


Jangankan bersentuhan seperti ini bersama Aluna, Berada di dekatnya saja Axel seperti mendapatkan kekuatan lagi.


Namun selalu seperti ini, Saat Axel merasa baik-baik saja maka Aluna lah yang akan kalah.


Dia akan pingsan setelah mereka bersentuhan seperti ini. Aluna bisa tak sadarkan diri selama dua hari jika juga begini dan itu sering terjadi pada Aluna.


" Aluna..." Panggil Axel lagi dan ternyata wanita yang mulai mencuri hatinya kembali pingsan dan tidak sadarkan diri.


Di lihat Axel dari dekat dan di perhatikannya benar-benar garis wajah Aluna hingga Axel memberanikan diri untuk menyentuh pipinya.


Dan pertama kali yang di rasakan Axel adalah kedamaian yang menghampirinya.


" Aahhkk..." Dada Axel terasa sakit dan berdenyut saat dia benar-benar menyentuh Aluna dan mendalami perasaannya.

__ADS_1


Dia tidak berani memikirkan hal itu lagi. Jika dia menjadikan Aluna pengantinnya maka Aluna akan merasakan kesakitan.


Apalagi jika sampai Aluna mengandung nanti, Axel tidak bisa membayangkan apakah Aluna akan kuat atau tidak menghadapi semua itu.


" Bagaimana jika aku menjadikan mu pengantin ku Aluna ? Kau tidak akan bisa merasakan lagi dunia mu yang seperti ini. Tapi waktunya tidak lama lagi Aluna. Aku harus segera pulih untuk mempertahankan semuanya. Hanya memiliki mu lah jalan satu-satunya untuk ku Aluna. Bukan hanya karena mu saja, Tapi karena aku juga memiliki rasa berlebih pada mu. " Axel mengungkapkan perasaannya terhadap Aluna yang begitu besar.


Bukan hanya karena Aluna yang bisa menyembuhkannya, Tapi karena Axel juga mencintai Aluna.


" Bisa kah kau bertahan bersama ku Aluna ? Bertahan di samping ku dan menjadi ratu ku ? " Gumam Axel lagi.


Dia kembali memberanikan diri untuk menyentuh pipi Aluna, Entah apa yang mempengaruhinya hingga Axel berani mencium bibir Aluna yang memang sangat menarik perhatiannya.


Saat Axel mengecup bibir Aluna, Di sana lah dia mendapatkan bayangan tentang apa yang membuat Aluna histeris tadi.


" Kau harus menjadi milik ku Aluna. Harus. " Axel sudah membulatkan tekadnya untuk memiliki Aluna seutuhnya dan menjadikannya ratu dalam castilnya.


Ya, Axel akan menjadikan Aluna miliknya saja. Walau Axel tau konsekuensinya sangat berat yang akan di hadapi Aluna kelak.


Tapi Axel berjanji bahwa dia tidak akan membiarkan siapa pun mendekati Aluna dan membahayakan dirinya.

__ADS_1


Tidak akan pernah ada yang berani menyakiti Aluna !


...🧛‍♂️🧛‍♂️🧛‍♂️...


__ADS_2