Mendadak Bulan Madu

Mendadak Bulan Madu
11. Analisis


__ADS_3

Meskipun masih ada tuan besar Handoko Kusuma, namun CEO perusahaan itu diserahkan pada pewaris tunggalnya, Reza Kusuma.


Tuan besar Kusuma, cukup menjadi komisaris pemilik utama perusahaan. Rezalah yang menjalankan dan membuat kebijakan dalam perusahaan.


Di usianya yang masih muda, Reza menjadi CEO yang cukup kompeten. Perusahaan papanya itu semakin maju dan berkembang. Tuan Besar Kusuma merasa bangga dan tenang dengan kelangsungan perusahaannya.


***


Reza tengah duduk di ruangannya. Setelah menyelesaikan berbagai urusan pekerjaannya yang menumpuk, menandatangani berbagai dokumen, dia mengamati perkembangan ekonomi dan bisnis dunia.


Resesi global melanda dunia akhir akhir ini. Resesi ini mengiringi terjadi lonjakan inflasi. Meningkatnya harga sejumlah barang.


Inflasi di luar negeri berpengaruh terhadap produksi barang dalam negeri karena harga barang impor akan cenderung naik. Itulah rantai yang akan terjadi selanjutnya.


Meskipun belum diberitakan resmi di publik, Reza mendapatkan berita terkini itu dari koneksi koneksinya di luar negeri.


Dilihatnya beberapa chat dan berita dari gawai kantornya. Deni sekretarisnya mendampinginya.


"Tampaknya akan ada isu perang antara negara adidaya disertai pula terjadinya pandemi virus dunia " analisis Reza.


"Virus yang melanda negara maju ini akan secara cepat menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia Den, lihat ini, sekelas negara maju saja korban semakin banyak dan tidak terkendali" lanjutnya serius.


"Benar boss, Hmm, isu perang ini mungkin bisa kita kesampingkan terlebih dahulu, negara akan berpikir ulang untuk berperang karena biaya dan kerugian kerusakan perang " kata Deni memberikan masukan.


Reza benar benar harus membuat keputusan yang tepat menyangkut masa depan perusahaannya.


"Menurut prediksi ahli ini, WHO akan mengumumkan kondisi epidemi itu menjadi pandemi sekitar satu bulan lagi. Ya Tuhan ini sangat cepat sekali " Kata Reza sambil memegang kepalanya.


"Umumkan rapat malam ini juga, kita akan membuat kebijakan kritis berkaitan hal ini" titah Reza.


" Siapkan manager manager kita" lanjutnya


" Siap Boss " kata Deni


Deni memang cekatan, tidak salah Reza memilihnya sebagai tangan kanan.


Pada malam harinya rapat akhirnya dilaksanakan.


***


Waktu hampir menunjukkan tengah malam, terdengar pintu gerbang di buka dan sebuah mobil masuk ke rumah.


Seorang penjaga memberi hormat pada sang majikan, kemudian kembali ke pos jaganya.


***


Reza masuk ke dalam rumahnya, meeting hari ini benar benar melelahkan jiwanya.


Betapa tidak keputusan besar harus dibuatnya.


Mengurangi atau menutup beberapa mallnya secara bertahap kemudian mengalihkan karyawannya ke sektor pemasaran yang berbeda.


Merubah konsep pembelian offline yang mengharuskan orang untuk datang ke pusat perbelanjaan menjadi sistem online.


Stok bahan makanan pokok, peralatan kesehatan, obat obatan dan suplemen kesehatan menjadi target utama barang dagangannya yang harus di tingkatkan.


Setelah perencanaan dan perdebatan antar managernya, rapat itu membuahkan hasil.


Di waktu dekat, Reza mengagendakan meeting lagi karena situasi kondisi yang cepat berubah. Reza ingin melindungi kelangsungan hidup perusahaan dan berikut karyawannya. Jikalau bisa, meminimalisasi atau sama sekali tidak memPhK kan karyawan.


" Sudah pulang mas, " Yanti muncul dari balik pintu kamar dengan gaun tidurnya.


Yanti kemudian mencium tangan suaminya , mengambil tas dan membantu melepaskan jas kerjanya.


Yanti ke kamar kerja mas Reza untuk meletakkan tas kerjanya, kemudian kembali ke lantai bawah.


Reza melepas sepatunya berganti selop rumah, kemudian duduk santai di ruang keluarga dengan masih mengenakan kemeja dan celana panjangnya.

__ADS_1


Dua sampai tiga kancing kemejanya dia biarkan terbuka menampilkan sisi kemaskulinannya.


Rumah yang nyaman merupakan healing sempurna setelah penat bekerja, batin Reza.


Hmmnfff


Reza meregangkan tubuhnya yang kaku setelah seharian duduk di kursi CEO nya. Ada sedikit kecemasan akan analisis pasar yang dia ambil hari ini.


Bagaimanapun juga bisnis adalah tentang keberanian mengambil resiko.


Dan dia memilih resiko yang paling sedikit kerugiannya dan banyak mendatangkan keuntungan.


Semoga analisis dan prediksinya kali ini tepat.


"Kamu belum tidur " serunya pada Yanti yang menuju dapur.


"Yanti sudah tidur tadi, terus bangun lagi deh,


mendengar mas datang" kata Yanti sambil membuatkan teh hangat.


'Kamu tidak tahu mas aku tidak bisa tidur nyenyak tanpamu di sisiku mas. Setelah tidur bersama, aku jadi terbiasa denganmu. Semakin lama aroma tubuhmu bagaikan candu bagiku. Menenangkan' batin Yanti.


Yanti kemudian membawa tehnya ke ruang keluarga. Kemudian duduk disamping suaminya itu.


Yanti melihat suaminya memijit mijit kepalanya.


" Sini Yanti pijitin" katanya


Reza menyeruput teh hangatnya.


" Emang bisa mijitin" goda Reza.


"Gini gini, embah Yanti dulu tukang pijit kampung loh mas, Yanti sedikit belajar darinya." Kata Yanti.


"Ya udah, pijitin mas nggih, penat semua" kata Reza sambil melepas ikat pinggangnya.


Reza lalu berbaring menelungkup di sofa besar itu.


" Baik mas Bosss " gerutu Yanti.


'Depan belakang boleh mas, lumayanlah bisa pegang pegang tubuh kamu' otak Yanti konslet.


Yanti pun memijit tubuh suaminya itu dari ujung kepala sampai ujung kakinya.


Sampai beberapa waktu kemudian.


"Sini gantian mas mijitin kamu" kata Reza.


'Tumben nih mas Reza, jarang jarang nih ada CEO pekerjaan sampingannya tukang pijat' batin Yanti


"Wah, boleh nih" kata Yanti kemudian berganti posisi.


" Mas Reza, CEO tukang pijat" celetuk yanti.


Tanpa disadari dibelakangnya senyum Reza tersungging.


Jari jemarinya mulai menjamah tubuh Yanti hingga ke area area sensitifnya.


Membuat mau tak mau Yanti mengerang.


"Eh"


Yanti mulai menyadari pijatan suaminya berbeda dengan pijatannya.


"Ini adalah pijatan ala CEO, Yantii" bisik mas Reza sambil menghembuskan napasnya ke telinga Yanti. Yanti semakin membuat suara seperti alat musik yang sedang dimainkan.


"Jangan... jangan... disini" kata Yanti.

__ADS_1


" Kalo tidak disini... boleh.." goda Reza.


" Hmmm" Yanti menahan suaranya.


" Dimana... dimana tempat yang kamu pilih yanti..."


Yanti menunjuk kamar utama.


" Ayo jalan sendiri, katanya tidak mau di gendong" kata Reza tanpa menghentikan permainannya.


Yanti dengan susah payah bersama Reza yang memeluknya dari belakang menuju ruang tidur utama.


Yanti merasa frustasi. Tersiksa namun juga terasa nikmat.


'Ah, mass, reza' batin Yanti.


Setelah masuk kamar mereka berdua, Reza kemudian melepaskan hasratnya pada Yanti.


Di ujung malam itu mereka menyelesaikan melodi cinta bersama.


***


Catatan author


Silahkan menghalu karakter dalam novel ini sesuai karakter atau BIAS menurut anda masing masing yaaa.


Berikut gambaran karakter tokoh novel menurut author .


❤️💖💖💖


Sebelumnya mohon maaf, namanya juga menghalu .



CEO Tampan kita, Reza Handoko Kusuma.



Reza sedang sibuk menandatangani dokumen perusahaan.


Mas rambutnya, jangan jangan kelilipan, saya bantu rapikan ya.😘😘



"Siapkan meeting, hari ini juga!!" kata boss CEO arogan.



"mas, ada apa, ada yang salah dengan penampilan Yanti, mas ,mas, jangan melamun dong mas" kata Yanti polos.



Yanti Angelita Suparman



Sekretaris Deni.



Charlote Kiehl


😁😁😁


Author tunggu like dan komennya yaaa


tambahkan cerita ku sebagai favorit anda.

__ADS_1


❤️❤️❤️


Terimakasih.


__ADS_2