Mendadak Bulan Madu

Mendadak Bulan Madu
07. Pindah ke rumah kita


__ADS_3

Reza memandangi wajah perempuan yang kini telah menjadi istrinya itu.


Gadis lugu yang selama ini dikenalnya itu kini tertidur damai dalam pelukannya setelah saling mengimbangi dalam permainan cinta malam ini. Reza tidak menyangka gadis yang lugu seperti dia mampu membangkitkan hasratnya untuk lepas kendali kembali.


Mungkin....


Reza tertegun sesaat.


Mungkin dia adalah jodoh yang memang tercipta untuknya.


Reza menyadari bahwa jodoh adalah suatu misteri. Meskipun sudah direncanakan matang, di perjuangkan hingga akhir, namun jika belum ditakdirkan berjodoh, manusia tidak bisa melawan takdir Tuhan. Bukankah manusia hanya bisa menjalani apa yang sudah ditakdirkan.


Dalam pelukannya Yanti beringsut dan tersenyum manis dalam tidurnya.


Merasa geli dengan tingkahnya, Reza mencubit pelan hidung kecil Yanti.


" Bocah nakal, puas sekarang heh, kamu membuatku dewasa begini" ucapnya pelan, kemudian mendaratkan ciuman di kening Yanti.


" Hmmm....., u..u.. dah m mas, Yanti dah. nga..ngkuat" racaunya dalam tidur.


Pfffft... ha ha ha


Reza menahan tawanya, bisa bisanya dia meracaukannya dalam tidur seperti itu.


Mungkin ada asiknya mengerjainya dalam tidur, sesaat pikiran liar Reza menghampiri, namun kemudian dia menahan dirinya.


Yanti tidak akan berpikir untuk tidur bersama Reza jika mengetahui apa yang ada dipikiran pria itu sekarang.


Reza diam diam bersyukur dengan kehadiran Yanti dalam hidupnya.


Bulu matanya yang lentik mengatup cantik dalam bingkai alis hitam alaminya, kulitnya yang cerah halus dan rambut hitamnya yang tergerai di bahu. Reza mulai menyadari jika Yanti sebenarnya cantik, tidak kalah cantik dengan model model fashionist yang dia kenal.


Ketika mereka menikmati acara kencan mendadak siang tadi, dia tidak bisa melepaskan pandangannya dari Yanti yang di dandani elegan dan cantik oleh para stafnya.


'Kamu cantik Yanti, beruntung sekali pria yang mendapatkan hatimu' batin Reza.


Reza merasa bersalah telah memaksa Yanti ke dalam hidupnya, tanpa sempat mengarungi lika liku percintaan terlebih dahulu.


Untuk saat ini biarlah waktu, yang menyemai benih benih cinta mereka. Mungkin suatu saat nanti kita benar benar saling mencintai. Pikir Reza.


Pelan pelan Reza melepaskan pelukannya pada Yanti dan menuju ke balkon kamarnya.


Reza memutuskan menunda kepulangan dari Bali. Dia membutuhkan waktu untuk berpikir jernih kembali, waktu untuk merencanakan kehidupan baru yang ia sandang sebagai seorang suami.


Tentunya , kini dia tidak bisa bersama dengan keluarganya lagi. Dia sekarang adalah seorang kepala keluarga.


Lagipula di rumah ada pak Parman dan mak Ros yang kini statusnya menjadi mertuanya. Meskipun mereka pembantu keluarga, namun Reza diajarkan untuk tetap menghormati orang lain, terlebih mereka adalah orangtua istrinya.


Akan terasa canggung jika harus serumah bersama mereka.


Reza mengontak sekretarisnya, Deni, untuk mengurus kepindahan ke rumah barunya.


"Oya Den, aku minta tolong selidiki pula apa yang terjadi pada keluarga Kiehl " Titah Reza lagi.

__ADS_1


'Kenapa pula aku harus tahu' sesal Reza kemudian.


Namun dia merasa untuk mencari tahu agar, melegakan perasaannya. Atau sekedar membalaskan sakit hatinya pada keluarga itu. Keluaga Kusuma tidak untuk dipermainkan, tekad Reza.


"Baik Boss" Kata Deni.


Setelah dirasa cukup, Reza kembali merebahkan dirinya di samping Yanti.


Udara yang sejuk membuat gadis itu secara naluri mencari kehangatan. Tubuh Yanti berguling dan memeluknya.


Reza tersenyum kemudian menarik tubuhnya kedalam selimut dan memeluk Yanti kembali. Dia heran, mengapa dia merasa tidurnya lebih lelap kini dengan adanya Yanti di sampingnya.


***


Yanti POV


Keputusan mas Reza untuk memperpanjang bulan madu kita di Bali aku rasa sudah tepat. Kita membutuhkan waktu untuk meredakan situasi canggung ini.


Mempersiapkan fisik dan mental untuk status kita yang sudah berubah di hadapan orang juga status hubungan ku sendiri dengan mas Reza.


Kita berbicara santai setelah sarapan pagi ini.


" Tentang hubungan kita, aku minta kamu bersikap normal, seperti tidak terjadi apa apa diantara kita di hadapan mama dan papa" kata mas Reza.


" Bersikap normal bagaimana mas " tanyaku, ada rasa pedih ketika mendengar dia mengatakan hal itu.


"Aku takut mereka salah faham, dan membuat keputusan yang menyulitan hubungan kita kedepannya Yan "


"Jangan takut, aku akan menjadi suami yang bertanggungjawab untukmu Yan" tuturnya


Baiklah mas, apapun yang kamu inginkan, asalkan kita tetap bisa bersama.


"Baik mas, Yanti mengerti" kataku


"Deni sedang dalam proses memindahkan barang barang mu ke rumah baru kita " katanya lagi.


"Rumah itu tidak jauh dari rumah utama keluarga "


Rumah baru.


Istanaku bersama pangeranku mas Reza. Pekik batinku.


Aku membayangkan jika kelak kita menua bersama di rumah itu, dikelilingi oleh Reza Reza juniormu mas. Alangkah bahagia dan lengkapnya kehidupanku.


Tak terasa pipiku menghangat.


"Terimakasih mas " kataku


Mas Reza memandangku, mungkin wajahku tampak memerah.


Ya Tuhan, aku lemah pada pria ini.


Kusentuh kedua pipiku dengan tangan untuk meredakan kehangatan.

__ADS_1


"Terimakasih untuk kesempatan yang sudah mas Reza berikan untuk Yanti " lanjutku.


Mas Reza Tersenyum.


"Kesempatan untuk kita Yan " kata mas Reza mengakhiri pembicaraan kita.


Aku ingin membicarakan tentang perceraian yang dia sebut dalam pernikahan kita. Namun sepertinya itu hanya akan memutar balikkan suasana yang tercipta kini. Mungkin aku tidak perlu membicarakannya lagi.


Jangan tamak Yanti, pelan pelan namun pasti mas Reza akan benar benar mencintaimu. Kata batinku.


Setelah menikmati sore romantis dengan jalan jalan di pantai dan ditutup dengan menikmati kelapa muda berdua, akhirnya kami kembali pulang dari Bali di malam harinya.


Kami mengucapkan terimakasih pada pak Nengah dan istrinya. Mas Reza memberikan tips untuk peyanan mereka, sewaktu kami di private Villa ini.


***


Mobil yang kami kendarai menuju suatu rumah berlantai tiga berarsitektur milenial khas konglomerat muda. Rumah itu menpunyai halaman dan taman yang asri.


Ketika mobil masuk tampak penjaga keamanan membuka gerbang. Mobil kemudian menuju garasi.


Di garasi tampak ruangan cozy ala ala kafe, yang tampaknya dapat digunakan untuk acara party mas Reza dan rekannya.


Di suatu sudut terparkir rapi beberapa kendaraan lain. Aku tidak begitu mengerti mobil. Tapi dari tampilannya, aku bisa menduga jika itu tidak murah.


Seorang pria tampak tergesa gesa turun menyambut mas Reza.


" Hallo boss, selamat datang" serunya ramah.


"Hai Den, suruh orang mengangkut koper koper ke dalam kamarku " katanya.


"Oke boss, joko ...jono..., ambil barang barang tuan dan nyonya" perintah Deni pada beberapa pekerja.


Pekerja itu datang kemudian membawa barang kami ke atas.


" Oya, kenalkan ini Yanti, istriku, mungkin kamu pernah melihatnya di rumah utama" kata mas Reza mengenalkanku pada Deni.


"Saya Deni, ya saya pernah liat nyonya muda di rumah utama sebelumnya " katanya sambil mengulurkan tangan.


" Yanti" jawabku pendek sambil membalas jabatan tangannya.


"Udah udah jangan lama lama" seru Mas Reza.


" He he he,Nyonya muda Cantik, tuan muda, dulu ada kepikiran untuk melamar nyonya, eh ngga taunya malah sudah keduluan tuan " celetuknya.


"Huss, kamu mau dipotong gajimu" kata mas Reza.


" ha ha ha, bercanda tuan." kata Deni sambil mengusap bagian belakang kepalanya.


Aku tersenyum.


Meskipun Deni seperti itu, tapi aku tahu dia adalah orang kepercayaan mas Reza.


Akhirnya kami menempati rumah ini.

__ADS_1


***


__ADS_2