Mendadak Bulan Madu

Mendadak Bulan Madu
15. Berkunjung


__ADS_3

Yanti POV.


Aku duduk di samping orang yang kini sudah menjadi suamiku, mas Reza.


"Aku duduk dimana mas" tanyaku pada mas Reza.


Ini pertama kali kami tampil formal bersama di keluarga.


"Ada ada saja kamu, kalo kamu duduk dibelakang, orang akan menyangka kalo aku supir...


Itu mau kamu heh.." Kata mas Reza menyunggingkan senyumnya.


Aku tersipu, bukan begitu maksudku.


"Sini duduk di depan, di sampingku" Kata mas Reza.


Aku nyengir kemudian menuruti perintahnya.


Aku ingat mas Reza menyuruhku bersikap biasa. Aku tahu perubahan status ini membuat kecanggungan. Tapi aku juga bingung, biasa seperti bagaimana. Menurutku bersikap biasa itu selama mas Reza bisa menerimanya. Yah itu dia.


Kami sampai di rumah utama, penjaga membuka gerbang masuk.


Datang ke rumah ini seperti de javu lima tahun yang lalu, sewaktu aku pertama kali datang kesini.


Pohon filisium yang berderet rapi di pinggir jalan masuknya masih setia menyambut sesiapa yang datang.


Dulu aku suka bersembunyi di balik pohon itu untuk melihat mas Reza pulang dan pergi ke kampusnya.


Statusku waktu itu hanya sebagai upik abunya, dan kini aku kembali ke rumah yang sama.


Namun statusku kini sudah berubah, sebagai istri. Istri sah pewaris keluarga ini.


Mas Reza melangkahkan kaki keluar. Tangannya memberikan tanda untuk seorang pekerja mendekat.


Orang yang bekerja menata kebun. Pakde Juri.


Pria paruh baya itu mendekat.


"Ya tuan muda"


"Pak tolong barang di bagasi di bawa masuk ya. Ajak yang lain kalo keberatan." Perintah mas Reza.


Mas Reza membeli patung replika Garuda Wisnu untuk Mama, dan berbagai sovenir lainnya.


"Ayo Yan."


Ajak mas Reza masuk.


Aku mengikutinya masuk.


"Ah Reza sayangku " mama menyeruak kaluar dari rumah dan langsung memeluk dan mencium pipi mas Reza.


"Mama" Reza balas memeluk dan mencium pipi mama.


"Yanti, kamu makin cantik, udah terlihat kan perawatan kemarin" kata mama.


"Kapan kapan kita harus kesana lagi, ya Yan" ajak mama.


" Ya ma" jawabku singkat sambil mencium tangan mama.


Aku dan mas Reza masuk rumah.


Tuan Kusuma sedang selesai fitness, tampak dari bajunya yang basah oleh peluh. Pria sepuh itu masih tampak gagah dan terlihat tampan. Sangat mirip dengan mas Reza, hanya lebih tua saja.


"Papa ! masih semangat pa!" katanya sambil mendekat dan memasang kuda kuda tinjunya, dan menyerang


Tuan kusuma dengan sigap menangkis pukulan mas Reza.


"Tidak semudah itu Za! Ha ha ha!"


Pergulatan itu akhirnya dia akhiri dengan pelukan hangat dan tawa gembira keduanya.

__ADS_1


Aku datang dan mencium tangan tuan kusuma.


" Oh, yanti...


Terimakasih telah manjaga Reza" kata Tuan Kusuma sambil menepuk pundakku.


"Sudah kewajiban Yanti untuk menjaganya pa" jawabku.


Tuan Kusuma mengangguk angguk.


Kedua pria itu kemudian berlalu sambil mengobrolkan beberapa hal. Dari kesehatan, urusan bisnis, hingga souvenir yang dibawa.


Mama tampak suka dengan patung yang dibeli. Patung itu kemudian dipajang di sudut ruang tamu.


Souvenir yang lain di bagi bagi penghuni rumah. Mama tampak sibuk membagi bagi.


Aku melangkahkan kaki ke dapur. Mencari ibuku, mak Ros.


"Mak, " kataku


Rupanya dia sedang membersihkan dapur.


"Yanti, anakku" matanya berkaca kaca.


Mak, aku datang. Jangan menangis. Namun aku juga merasakan syahdu yang sama.Tidak terasa sudut mataku menghangat dan bulir bulir itu tak terasa jatuh ke pipi.


Rasa yang tidak terungkapkan.


Kemarin aku masih dalam tanggungjawabnya, dan kini karena ikatan suci, karena ijab dan qabul tanggungjawab itu beralih ke pundak suamiku.


Aku dan mak berpelukan lama melepas kerinduan.


Mak kemudian mengajakku masuk ke kamarnya.


Kami kemudian duduk berhadapan.


" Bagaimana kamu nduk? Tuan Reza baik ngga sama kamu?"


Mak tidak tahu apa apa tentang apa yang sudah terjadi di antara kami. Suatu ketika nanti aku akan membawakan kejutan cucu buatmu mak. Aku berjanji.


"mas Reza baik mak, jangan khawatir" kataku menenangkan emak.


" Syukurlah, emak lega, kamu tahu kan posisi kita disini.


Meskipun begitu kamu bersama dengan pria yang kamu cintai.


Mak turut bahagia nduk. Mak selalu ada untukmu dan mendukung semua keputusanmu " kata mak sambil menggenggam tanganku.


Mak adalah support mental terbesarku. Orang yang juga kucintai.


Mak aku mengerti perasaanmu.


Aku mengangguk anggukkan kepalaku.


Aku mengeluarkan map dari tasku.


"mak , ini ada hadiah dari mas Reza, dari kami " kataku sambil menyerahkan sertifikat dan kunci ruko dalam sebuah map.


" Apa ini Yan" tanya mak.


Dia lalu membuka map itu.


Mak menutup mukanya dan menangis terharu.


" mak kan pernah punya mimpi, pingin usaha sendiri, sekarang mak bisa mewujudkan itu " kataku.


" Kalo mas Reza di sini dan dilayani mak dan bapak pasti mas Reza sungkan " lanjutku.


Bagimanapun, kedudukan mama dan emak , sama sama orangtua kita.


Meskipun yang membedakan hanyalah banyaknya harta.

__ADS_1


" Iya Yan, mak tidak ingin membebani Tuan Reza, dia sangat baik..


Oya mak panggilkan bapak dulu, dia dibelakang membersihkan halaman belakang. " Kata mak.


" Sekalian mak buatkan minum ya " tawar mak.


" Ngga usah mak, seperti siapa saja, nanti Yanti bikin sendiri" kataku.


"Baiklah kalo begitu "


Mak menuju belakang untuk memanggil bapak.


Aku ke dapur sekedar membuat minuman. Sekalian untuk mas Reza dan Papa di ruang tamu.


Mas Reza sedang berdiskusi tentang strategi bisnis yang akan di laksanakan perusahaan dengan papa.


"Minumannya mas, papa" kataku.


"Ya " kata papa. mas Reza mengangguk.


Kemudian mereka asik kembali dengan rencana mereka.


Aku tidak ingin mengganggu, dan kembali ke dapur.


Ayahku, Pak suparman, muncul dari balik pintu.


"Yanti anakku " katanya.


Aku segera mencium tangannya.


Ayahku memelukku dan mengelus elus rambutku.


"Ibumu sudah mengatakan tentang ruko itu.


Mungkin ini saatnya kita untuk usaha mandiri mak e.


Sudah banyak jasa dari keluarga kusuma untuk keluarga kita. " Kata bapak.


Kami kemudian mengobrol kesana kemari menertawakan masa kecilku.


***


Mas Reza tampaknya sudah selesai bercakap dengan papa.


Dia menuju dapur kemudian mencium tangan mak dan bapak.


Kedua orang tuaku kikuk menerima perlakuan itu. Mereka saling berpandangan canggung.


" Mak dan bapak juga adalah orang tua kita " kata mas Reza.


" Saya akan menjaga dan bertanggungjawab terhadap Yanti Mak, pak " kata mas Reza


" Terimakasih Tu.. em nak Reza" kata Bapak.


Kami pun meneruskan percakapan, mas Reza memberikan gambaran tentang bisnis di ruko baru. Dia bersedia membantu untuk urusan supplier rukonya mak.


***


Tidak terasa hari menjelang siang, mas Reza mengajakku untuk mengunjungi pusat perbelanjaan seperti rencana semula.


Kami berpamitan untuk berangkat.


Kulambaikan tanganku pada ke empat orang tua kami.


" Reza berangkat dulu "


Kata mas Reza.


Kami pun berangkat pergi.


***

__ADS_1


__ADS_2