Mendadak Bulan Madu

Mendadak Bulan Madu
06. Satu tempat di hatimu


__ADS_3

Yanti POV


" Yan..." panggil mas Reza, sambil menyapukan sapu tangan lembut ke pipiku.


"Kok jadi nangis sih.." candanya.


Tidak terasa air mataku mengalir keluar.


"Oh m.. ma mas, apa apa an sih, aku... aku.." aku mengambil sapu tangan itu lalu menghapus air mataku.


Aku takut mengatakan hal yang salah. Aku terharu, bahagia, namun juga takut. Takut jika aku harus kehilanganmu.


Apa maksud semua ini. Apakah mas Reza benar benar akan menjadikanku istri. Aku terbuai impian layaknya dilamar oleh pangeran pujaan hatiku.


"Sini, mas pasangkan di jarimu" katanya kemudian.


Mas Reza memasangkan cincin ke jari manisku. Kemudian menautkan jemarinya ke dalam jemariku.


" Yan, aku tahu mungkin keadaan ini sulit bagimu, mendadak menerima hadirnya seseorang dalam hidupmu. Aku pun seperti itu "


Aku tidak berani menatapnya, hatiku sudah meleleh, tidak sanggup lagi menyangkal apapun yang akan dia katakan. Aku iyakan saja apapun itu. Hatiku lumpuh untukmu mas.


Ku angguk kan kepalaku.


" Kita akan memulainya, mengenal satu dengan yang lain, mungkin dalam perjalanan ada sifatku yang tidak kamu sukai. Cinta tidak datang begitu saja bukan" katanya.


Kamu salah mas, aku sudah sangat lama mencintaimu. Sungguh aku sangat mencintaimu.


"Ya, Yanti mengerti mas, Yanti sadar, sebelumnya yanti bukan siapa siapa. " kataku.


Aku cukup sadar diri. Charlote yang notabene seorang model cantik pun, awalnya, mama dan papa menolaknya. Apalagi diriku yang hanyalah seorang upik abu.


" Bukan begitu Yan. Kamu tahu, cinta tidak semudah itu untuk datang dan pergi. Beri aku waktu untuk memulihkan lukaku. Aku takut jika, jika kamu hanya sebagai pelarianku saja. Kamu mengerti Yan. Yakinlah ada tempat di hatiku untukmu" lanjutnya.


Haruskah aku meyakini itu. Paling tidak aku masih punya kesempatan. Ada tempat di hati mas Reza untuk ku.


Aku jadi merasa bahwa diriku sendiri lah ketakutan terbesarku dan bukan Charlote, bahwa apakah aku bisa mempertahankan dirimu untuk tetap bersamaku.


Mas Reza sampai saat ini belum mengetahui, bahwa mama lah dalang dibalik obat haram itu. Artinya diam diam mama mendukungku.


Semoga apa yang dikatakan mas Reza benar adanya.


Aku menganggukkan kepala lagi. Mas Reza tersenyum.


Sejurus kemudian terdengar nada ponsel.


Bling bling bling bling bling bling.


Ponsel mas Reza berbunyi, terlihat ada video call yang masuk.


" Dari mama" katanya, kemudian dia menekan tombol menerima panggilan.

__ADS_1


"Halo sayang, Reza, Yanti, bagaimana keadaan kalian " kata mama Arwinda di layar ponsel.


" Hallo ma, kami baik baik saja, kami sedang makan siang di Mall kita di Bali" kata mas Reza.


Penampilannya sudah kembali ceria, jauh lebih baik dari pertama kali ia datang ke sini.


" Syukurlah, mama lihat kamu sudah kembali normal, mama sayang kamu Reza. Makasih ya Yanti , sudah menjaga Reza" kata Mama.


Mama melihatku bersama mas Reza di restoran ini. Dalam hati aku pun besyukur keadaan mas Reza mulai pulih kembali. Mama, anak kesayangan mama dapat kujaga dengan baik seperti pesan mama.


"Iya nyo.. .. em mama" kataku gugup.


"Untung ada Yanti ma, yanti benar benar penyelamat bagi Reza ma" sanjung mas Reza.


"Mama lega, kamu baik baik saja, dan kalian bisa bersama sama, baiklah, selamat menikmati liburannya ya sayang, cium jauh dari mama yah, muah" mama mengakhiri video callnya.


" Ah mama, pakai cium segala, dadah mama" mas Reza melambaikan tangannya. Menyudahi video call.


" Mama mungkin tidak tahu apa yang sudah terjadi diantara kita. Aku pun akan memperjuangkanmu Yan " kata mas Reza sambil mencium keningku.


"Untuk selanjutnya kita akan tinggal serumah bersama, bukan di tempat mama, di rumah ku sendiri, di rumah kita "lanjutnya.


" Terimakasih mas" kataku.


Para staf bawahan mas Reza mengantar kepergian kami dari Mall itu.


***


Dari siang sampai petang hari kemudian kami menikmati beraneka tujuan wisata di Bali. Banyak tempat yang belum pernah aku kunjungi. Mas Reza membantuku membeli berbagai sovenir untuk sekedar oleh oleh.


Aku benar benar bahagia. Ini layaknya seperti kencan bagiku.


Di malam hari kami pulang ke villa kembali.


Karena besok pagi adalah hari terakhir kami di Bali, aku membereskan baju baju dan perlengkapan lain ke koper.


Untuk pertama kalinya Mas Reza mengijinkanku untuk sekalian merapikan kopernya.


Ku buka kopernya, disitu kudapati dua tiket ke Cappadocia, Turki dan pasport mas Reza. Aku tertegun sejenak, kemudian otakku memerintahkan untuk mengambilnya .


"Apa yan " katanya mendekatiku.


" Oh maaf mas ini, akan Yanti kembalikan" kataku.


"Oh itu, buang saja" katanya pendek, sambil mengambil tiket itu dan membuangnya ke tempat sampah.


Pasportnya kumasukkan lagi karena memuat informasi pribadi yang penting bagi seseorang.


" Ha ha ha, miris ya. " Tawanya sinis.


"Tadinya kami sudah merencanakan ke Turki, tapi semua berakhir seperti ini" kata mas Reza.

__ADS_1


Aku memandangnya tanpa mengatakan sepatah kata pun. Tadi siang dia sudah ceria, kini kembali seperti itu.


" Kamu jangan seperti dia ya Yan " kata mas Reza kemudian menyentuh kepalaku.


Tangannya kemudian bergerak menelusuri rambutku dan di mencium keningku.


Dia terdiam sejenak.


"Mungkin waktu itu aku tidak benar benar sadar melakukannya, namun kini aku benar benar sadar, Yanti bolehkah kini aku melakukannya lagi " godanya sambil merapatkan tubuhnya ke tubuhku.


" Tapi mas, besok pagi kita harus segera pulang" cegahku.


"Kan masih besok pagi, hmmm" katanya sambil mendekatkan wajahnya.


Aku yang di dekat ranjang jatuh terduduk.


"Ha ha ha hm hm hm"


Dia tertawa terkekeh. Sialan.


" Tetaplah seperti ini Yan, tetaplah membuatku bahagia seperti ini "


Kemudian dia ******* bibirku. Malam itu kami kembali berbulan madu.


***


Esok paginya aku terbangun dengan kagetnya.


Ya Tuhan, kita kesiangan. Kita bisa ketinggalan pesawat hari ini.


Kemudian aku merasakan bahwa aku tidak bisa bangun, rupa nya mas Reza memelukku erat dari belakang. Aku berusaha bergerak melepaskan pelukan.


" mas, mas bangun, kita kesiangan, kita harus check in, kita bisa ketinggalan pesawat." Kataku tergesa gesa.


" Penerbangannya di tunda, cuaca buruk " katanya malas dan berbalik kemudian tidur lagi.


Aku bangun dari tempat tidur dan membuka jendela. Cuacanya cerah begini masa dikatakan cuaca buruk sih.


"Mas, cuacanya cerah begini, mas, mas bangun mas" kataku sambil menghadap ke depannya.


Dia membuka matanya.


"Tadi malam waktu kamu tidur aku membatalkan kepulangan hari ini" katanya serak, khas orang bangun tidur.


" jadi" kejarku.


" kita pulang dua hari lagi " katanya sambil menarikku ke dalam selimut dan menjebakku di bawah tubuhnya. Aku jadi tidak bisa bergerak.


" Karena kamu sudah membangunkanku, maka tanggung jawabmu untuk menidurkanku kembali " senyumnya menyeringai.


"gak bisa gitu dong, mas.. mas.. mas"

__ADS_1


Kemudian suaraku menghilang......


***


__ADS_2