Mendadak Bulan Madu

Mendadak Bulan Madu
04.Salah faham


__ADS_3

Mas Reza dan aku menikmati efek dari kepuasan yang baru kami reguk bersama. Diam diam aku bersyukur atas ketidakhadiran Charlote, atas kesempatan yang telah dia lewatkan sehingga kudapatkan sebenar benar bulan madu. Kuharap dia tidak pernah datang menghantui dalam kehidupan mas Reza kembali.


Kurapikan baju dan kurebahkan kembali tubuhku di bantal gazebo ini.Kulihat mas Reza membuka kembali tirai lembut yang sedari tadi melindungi permainan melodi cinta kita.


Dia tersenyum, kemudian merebahkan diri didekatku. Kami menikmati suasana petang ini.


Bulan purnama muncul perlahan dari arah timur, membuat pantulan keemasan yang indah dalam riak gelombang laut. Deburnya bergemuruh teratur membuat rasa tenteram dan nyaman.


Kondisi mas Reza sudah membaik, pasti Nyonya Arwinda merasa tenang jika mengetahuinya. Haruskah aku melaporkan kepada Nyonya Arwinda akan hal itu.


"Mas..., akankah mas tetap bersikap seperti ini?" Aku membuka pembicaraan.


"Bersikap bagaimana?" tanyanya balik padaku


"Bersikap baik pada Yanti seperti ini.Apa sikap mas pada Yanti akan sama ketika nanti kita sudah di rumah?" tanyaku memberanikan diri.


Aku mulai berani berbicara. Mencoba mengamankan posisiku dalam hatinya.


Sejurus kemudian tidak ada jawaban yang kudengar meluncur dari mulutnya. Dia tidak menjawab. Mungkin benar dugaanku dia masih mengharap Charlote dalam kehidupannya.


"Apa karena Charlote?" tanyaku pelan lagi.


Dia memandangku tajam. Dan diam beberapa saat.


Benar mas Reza masih menyimpan cinta untuk Charlote.


"Bisa ngga sih, jangan menyebut nama dia ketika kita bersama" katanya ketus.


Ah, rupanya dia marah.


"Yan, saat ini aku hanya ingin menikmati hal hal yang indah saja, yang senang aja. Cukup aku saja yang merasakan penderitaan ini, menanggung rasa sakit karena orang yang kucintai pergi meninggalkanku."


Nah sekarang dia malah yang mulai mengungkit ungkit lagi.


"Rasanya aku bisa bunuh diri, jika tidak karena ada kamu. Kita baru memulai membuka lembaran baru, memulai menerima hadirnya orang lain dalam kehidupan kita, oleh karena itu kemarin aku bertanya padamu, apa kamu memiliki pacar, aku akan merasa sangat bersalah ketika ternyata ada yang juga engkau cintai" katanya.


Ah, aku yang terlalu cepat mengambil kesimpulan bahwa mas Reza telah melupakan Charlote.Benar cinta mas Reza begitu dalam, begitu pun luka yang ditimbulkan. Sabar Yanti, sabar semua perlu waktu.


Aku mendongakkan wajah, ternyata dia juga menatapku dalam dalam.


Kami terdiam.


Dia mendekatkan wajahnya padaku, aku menutup mata karena kupikir dia akan menciumku.


"Duh pasrah banget" katanya.


"Iih, apa apaan sih mas" aku membuka mata dan membalik badanku, malu sekaligus marah ternyata dia mengerjaiku.


Tapi dia malah memelukku.Aku berontak namun pelukannya justru makin erat.


"Kalo tidak mau bilang saja, hmmm" godanya.


Aku memilih untuk diam saja.

__ADS_1


"Kemarin ketika kita melakukannya pertama kali aku seperti kerasukan setan, tapi kali ini aku benar benar menginginkannya" katanya kemudian.


"Besok kita jalan jalan ya " lanjutnya.


Malam itu setelah membersihkan diri kami tidur dalam satu tempat tidur bersama.


****


Di pagi hari aku terbangun dengan suara ponsel, aku melihat ternyata ponsel mas Reza. Mas Reza tampaknya sedang mandi.


Deg! kulihat disana nama Charlote.


Langsung aku matikan. Buat apa dia telepon. Bukankah dia sudah meninggalkan acara pernikahannya sendiri dan membuat patah hati orang yang kucintai.


Kamu tidak seharus membuat masalah lagi. Blip.


Kutekan penolakan panggilan.


-Kenapa tidak diangkat sayang ✓


-Aku tahu kamu marah, maafkan aku sayang.✓


-Beri aku kesempatan untuk menjelaskan, kita ketemu di XX ya. Seminggu dari sekarang.✓


Buat apa. Langsung aku hapus pesannya. Dan kublokir namanya dari kontak mas Reza.


Duh, maafkan aku mas, otak ku mulai konsleting kembali.Kemudian kutaruh kembali ponsel mas Reza. Semoga dengan begitu dia tidak kembali bersama dengan Charlote.


Mas Reza keluar dari kamar mandi.


" Ya, gantian kamu, kutunggu, kita akan jalan jalan hari ini." jawabnya.


Aku kemudian mandi, menggunakan pakaian casual dan mengenakan make up natural seadanya. Aku pikir mungkin kita akan jalan jalan ke pantai.


Namun mas Reza mengajakku ke Mall yang sangat besar di kota. Ketika kami turun dari mobil tampak beberapa pegawai turun dan menemui kami.


Aku melihat terpampang tulisan Mall Kusuma. Oh jadi ini adalah bagian dari kerajaan bisnis keluarga Kusuma. Benar benar mereka sangat kaya.


"Selamat pagi tuan muda, selamat datang, saya mendengar anda berbulan madu ke Bali" sambut seorang manager yang terlihat masih muda.


"Pagi Alan, ya terimakasih" Kata mas Reza.


Aku turun dan mengikuti mas Reza masuk ke dalam Mall.


" Dimana nona Charlote tuan muda ? " tanya Alan.


Mas Reza berhenti sejenak. Mungkin dia pernah mengajak Charlote ke tempat ini juga. Ah, mengapa tiba tiba hatiku sakit.


Mas Reza menggandengku ke sampingnya.


" Ini istriku, Yanti" katanya.


"Oh, maafkan saya nyonya muda" kata Alan.

__ADS_1


"Bawa Yanti untuk memilih baju kesukaannya dan layani apapun yang dia inginkan" Perintahnya.


Aku menatap mas Reza. Mataku melebar, mengisyaratkan banyak pertanyaan.


Dia tertawa melihatku.


"Aku ingin dia tampil cantik dan menawan. Aku tunggu di restoran ya." katanya.


Beberapa pegawai perempuan segera mengajakku pergi. Memilihkan aneka baju dan outfit yang sesuai. Aku sendiri bukan orang yang fashionable, bagiku baju yang nyaman itu sudah cukup bagiku.


Kalau dipikir, benar juga, aku tidak membawa banyak baju. Aku tidak menyangka mendapat bonus honeymoon mendadak seperti ini.


Setelah mendapat baju yang kurasa cukup, kemudian mereka membawaku ke bagian make up dan hair style. Rasanya seperti upik abu yang di make over saja.


Mereka memakaikan aku gaun elegan yang cantik, dengan hair do dan make up natural.


"Nyonya memiliki kulit dan wajah yang cantik orisinil, pantas tuan Reza memilih Nyonya." puji para pegawai.


"Anda sangat serasi Nyonya, selamat ya atas pernikahan anda" lanjutnya.


"Terimakasih" kataku.


Kemudian mereka membawaku ke restoran, ke tempat khusus dimana biasanya untuk jamuan pribadi.


Aku membuka pintu yang menuju ke bilik itu. Mas Reza berdiri menyambutku. Beraneka jamuan sudah tersedia di meja.


"Kamu cantik sekali Yanti" katanya.


Kemudian membawaku untuk duduk. Hatiku berdebar debar, ini seperti kencan pertama bagiku.


"Aku tidak tahu apa selaramu, jadi kupesankan saja semua" katanya.


"Yanti tidak pilih pilih makanan kok mas" kataku.


Kemudian aku diajak mas Reza menikmati aneka makanan yang beberapa belum pernah aku makan sama sekali. Dia kelihatan bahagia menunjukkan cara dan etiket makan padaku. Dia tertawa berkali kali melihatku salah menggunakan garpu. Wajahku pasti sudah semerah tomat.


"Maaf, maaf, lain kali aku akan banyak mengajakmu untuk dinner diluar bersama" kata Mas Reza.


"Ini pertama kali kamu kencan ya, keliatan kok" katanya lagi


Sialan.


Dia terkekeh.


Tidak apa apa lah, selama itu membuat kamu bahagia seperti ini mas.


" Ehm, ehm, "


Mas Reza berdehem, kemudian dia mengulurkan satu kotak merah yang di dalamnya berisi.


Cincin berlian yang sangat indah.


Aku terhenyak, dan menutup mulut, tidak terasa sudut mataku menghangat.

__ADS_1


****


__ADS_2