Mendadak Bulan Madu

Mendadak Bulan Madu
02. Obat haram


__ADS_3

Yanti POV


Mas Reza memutuskan untuk 'berbulan madu' seminggu ke Bali, alasannya dia butuh waktu untuk healing dari lukanya. Butuh waktu untuk menenangkan diri.


Aku tidak bisa menyalahkannya, kehilangan orang yang dicintai pasti meninggalkan trauma di hatinya.


Meskipun di sebut bulan madu, tapi hari hari kami tidak seperti pengantin baru lainnya. Malam malam yang dirindukan, penuh cinta dan gairah bagiku hanyalah hayalan. Bahkan pemandangan pantai yang indah pun tidak jua kami nikmati.


Dan disinilah aku, berdua saja di tengah rumah Villa yang luas ini.


Aku habiskan waktu selama ini sambil melihat televisi saja.


"Yan, kalo kamu ingin jalan jalan di pantai, pergi saja" kata Mas Reza.


"Nggak mas, Yanti disini saja" sahutku


"Ya sudah" katanya pendek


Apa enaknya melihat pantai sendirian, sementara suamiku ada disini, patah hati. Jalan jalan di pantai bagi pengantin baru umumnya akan menjadi hal yang berkesan dan romantis. Tapi bagi kami. Entahlah aku tidak ingin berharap yang lebih. Untuk saat ini menemaninya pulih dari lukanya saja, itu sudah cukup bagiku. Aku ingin melihat senyuman dan gurauan Mas Reza kembali dapat kunikmati.


Sudah dua malam tiga hari tepat kami di villa ini, dengan tidak banyak kegiatan, hanya berdiam di villa, pada malam hari pun aku tidak mengetahui suamiku itu tidur dimana. Lucu juga menyedihkan ya.


Mas Reza yang kukenal periang dan ramah sekarang menjadi sosok pendiam, dan berkata seperlunya. Ia lebih suka menghabiskan waktu dengan merokok di beranda. Dia tampak kusut dan tidak begitu peduli dengan penampilannya.


Menghadapi seorang pria yang sedang patah hati memang membutuhkan hati yang super extra sabar. Kalo tidak karena aku mencintainya, mungkin aku tidak bisa bersabar sampai seperti ini.


Aku mengenal mas Reza lebih dahulu dan menurutku bahkan lebih lama dari Nona Charlote. Waktu itu Ibu mengajakku untuk tinggal di rumah Nyonya Arwinda saat aku menginjak sekolah menengah atas. Kemudian aku melihat Mas Reza.


Seiring waktu bertemu mas Reza, kekagumanku semakin berkembang. Kuncup kuncup cintaku bermekaran.


Namun aku sadar, siapalah diriku yang hanya anak seorang pembantu. Semakin aku menekan gejolak rasa ini, semakin kuat rasa sesak di dadaku. Seiring aku masuk kampus pun, semakin besar rasa kagumku.


Mas Reza kadang bercanda dan membantuku mengerjakan tugas kampus. Seperti ini saja sudah cukup bagiku. Aku menikmati saat saat itu.


Hingga dia berkata bahwa dia jatuh cinta pada seorang wanita. Hatiku sakit, sakit sekali. Wanita itu Charlote, seorang model dengan tampilan fashion yang tidak ketinggalan jaman dan berdandan cantik.


Jadi Mas Reza lebih memilih wanita seperti dia.


Aku hapal betul tabiat, kebiasaan, dan perilaku mas Reza. Dia suka teh buatanku, dan di malam hari, dia minta dibuatkan teh hangat.


Seperti di malam ini. Apakah ini kebetulan, atau tangan takdir sedang mendekatkan jodoh kita berdua.


" Yan, buatin teh hangat" serunya dari beranda.


Sedikit demi sedikit dia mulai kembali ke kebiasaannya.

__ADS_1


"Ya mas" sahutku


Entah karena apa, apa otakku ini sudah konslet, aku teringat pada botol obat yang diselipkan Nyonya. Deg.


Aku segera mengambil botol itu.


Aku teringat kata mas Reza yang akan menceraikan aku.


Tidak mas. Tidak akan ada perceraian. Aku sangat mencintaimu mas. Tidak akan terjadi suatu pernikahan jika hal itu tidak ditakdirkan pada kita. Aku akan menciptakan peluangku sendiri. Akan ada Reza reza junior di dalam taman pernikahan kita.


Langsung aku ambil botol itu dan ku teteskan pada teh yang akan ku berikan pada mas Reza.


Aku melangkah keluar dapur dengan yakin.


"Ini teh nya mas"kataku sambil menyerahkan teh hangat.


"Ya" sahutnya tanpa melihatku.


Aku masuk ke dalam villa dan entah kenapa yang seperti minum obat malah aku, rasanya berdebar debar panas dingin. Apakah obat itu akan bekerja, atau takdir berkata lain. Mungkin sekarang obat itu mulai meresap ke dalam tubuhnya.


Beberapa saat kemudian.


Mas Reza tiba tiba masuk ke dalam villa, napasnya memburu, bibirnya bergetar, tampak bulir bulir peluh di dahinya.


" Yan, kenapa tubuhku terasa seperti ini.."


kataku sambil menyentuh dahinya.


Mas Reza menangkap tanganku dan memelukku.


"M mas, a aku ambilkan obat ya.."


Terdengar suara detak jantungnya keras. Aku merasa sedikit gugup pada pria yang kesadarannya mulai terkikis di dalam pengaruh obat ini.


"Tidak usah Yan, aku tidak mengerti kenapa aku seperti ini."


Dia melepaskan pelukannya dan menatapku lama, kemudian menyentuh pipi dan bibirku.


Tiba tiba, mas Reza mencium bibirku dan tangannya memelukku erat. Ciuman itu semakin dalam, hingga aku tidak bisa bernapas. Kemudian dia melepaskanku.


"Yanti, aku menginginkanmu"


Katanya serak sambil membopongku menuju ke kamarnya.


Akankah malam ini menjadi malam bulan madu dalam arti sebenarnya, seperti para pengantin baru yang lain.

__ADS_1


***


Setelah kejadian semalam, rupanya aku tertidur. Aku terbangun, oleh suara debur pantai yang samar terdengar.


Ku kerjap kerjapkan mata, dan kucubit lenganku, barangkali kejadian tadi malam hanya mimpi. Kulihat tubuhku dalam selimut yang tidak tertutup sehelai benangpun. Ini Nyata.


Ku ingat betapa mas Reza berpeluh sangat gagah tadi malam dan aku harus kehilangan hal yang sangat berharga bagi seorang gadis. Tidak terasa air mataku menetes ke pipi.


Kucoba memiringkan tubuhku dan beranjak bangun, namun kurasakan sakit pada bagian bawahku yang membuatku menjerit kecil.


Mas Reza keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggangnya.


Ia segera menghampiriku. Aku menunduk menyembunyikan muka meringisku, namun itu sia sia, mas Reza mengetahuinya.


"Sakit ya?" tanyanya sambil mengusap pipiku yang basah.


Pertanyaan macam apa seperti itu. Aku malu.


Ternyata bulan madu sesungguhnya tidak seindah dan senyaman yang digambarkan film dan novel. Bulan madu sebenarnya lebih ke, menyakitkan. Atau apakah itu karena dalam pengaruh obat sehingga dia kasar melakukannya, namun aku yakin Mas Reza menyadari apa yang dilakukannya.


Aku mengangguk pelan.


"Mau mandi" tanyanya kemudian.


"Iya" aku masih malu, dan merasa tubuhku terasa lengket lengket oleh peluh dan keringat kering, aku belum beradaptasi dengan keadaan.


Ku coba untuk bangun dan berdiri sambil menutupi tubuhku dengan selimut. Namun kaki kaki ini tidak bisa diajak bekerja sama, sehingga aku terhuyung.


Mas Reza dengan cekatan menangkapku. Aku merasa ada yang mengalir keluar dari bagian bawahku, membuatku semakin merona.


"Aku bantu ya" katanya.


"Maafkan aku Yan" katanya merasa beesalah, sambil membopongku ke kamar mandi.


Aku pasrah dalam rengkuhan suamiku itu. Hal ini yang bisa kulakukan saat ini.


Setelah membantuku mandi dan berganti pakaian. Mas Reza memesan makanan, dan menyiapkan di meja makan. Kami menyantap makanan pagi itu dengan sedikit canggung.


***


*Terimakasih sudah membaca.


Author sedang mencoba membuat karya yang dapat dinikmati di Noveltoon.


Author juga sedang dalam tahap belajar mohon maaf jika ada kurang lebihnya.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya*.


__ADS_2