
Mas Reza menuju kasir.
Dia baru saja akan mengeluarkan blackcardnya, kemudian aku menyentuh tangannya.
Aku kedipkan mataku.
'Mas kita kan lagi dalam mode menyamar , masa pakai blackcard kamu, auto terbongkar nanti'
Dalam sekian detik, mas Reza berdehem, kemudian memasukkan kembali kartunya.
" Biar...Yanti saja yang bayar "
Lagipula ini tidak seberapa, kapan lagi bisa traktir CEO.
Setelah agak jauh. Mas Reza membuka suara.
" jangan khawatir, aku transfer ke rekeningmu "
" Aku kan lagi jadi mode istrinya mas Reza, kalo mas yang bayar, nanti aku dikira sugar baby ... " Kataku sambil melet dan menyentuh kantong mataku kebawah.
Membuat muka konyol.
Mas Reza membelalakan mata.
Sudah mulai ancang ancang mau menjitak.
Eits ngga kena ngga kena, kataku menjauh menghindar.
"Hei.... tunggu"
Hingga tiba tiba seorang wanita muncul dari suatu tenant brand tas ternama dengan kesal dan menabrakku.
"Ouch !! "
" He , dasar gembel mata ngga liat liat, baju mahalku jadi kucel nih iiihh, pergi menjauh sama belanjaan baumu itu.. " kata perempuan itu, berkacak pinggang dan mendorong ku terjatuh dan belanjaanku berserakan.
Yang ternyata adalah
Charlotte.
Aku berdiri.
" maaf , aku tidak menabrak nona, justru nona yang menabrak aku"
"Dasar gembel kamu, udah jelas yah, kamu yang salah , atau mau ku panggilkan security, tau diri lah gembel..
Bajuku ini lebih mahal dari diri kamu tau..."
Katanya angkuh.
Aku tidak mau memperpanjang masalah, kemudian memunguti belanjaan dan memasukkan nya ke tas belanjaan.
Mas Reza datang melihat adegan itu, kemudian akan melabrak Charlotte.
Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya.
Aku tahan lengannya.
" Mas.. " kataku sambil menggelengkan kepala.
Seorang pria tampan bersetelan rapi muncul dari dalam tenant sambil menenteng kantong belanjaan yang sepertinya berisi tas mahal.
Dan menunjukkan di hadapan Charlotte.
" Apa sih yang tidak untukmu " kata pria itu.
Charlotte menggelayut manja di lengan lelaki itu.
"Ada apa honey, kamu berurusan dengan dua kutu ini " kata pria necis itu.
Sambil melempar pandangan jijik pada kita berdua.
" Cih ..
mereka bukan level kita. Biarkan saja.. jangan sampai mengganggu mood kita " kata Charlotte
Buku buku tangan mas Reza mengepal. Ya Tuhan, dia marah.
Aku lekatkan jari jemariku pada jari jemari tangannya. Aku rasakan kepalan tangan mas Reza mengendur.
Kalo dia sampai bersuara Charlotte akan tahu siapa dia. Tahan mas tahan.
Apa yang akan dia lakukan setelah tahu Charlotte sudah datang .
Aku tidak boleh membiarkan dia bertemu kembali.
Pheww.
Untung saja, dua orang itu segera berlalu.
Kami berjalan tanpa suara, hingga aku mencoba mencairkan suasana.
__ADS_1
"Mas kita sekalian makan ya
Kan sudah sampai disini, Yanti lapar "
ajakku.
Kemudian mengajaknya pergi ke bagian food court, aku ajak dia makan di restoran keluarga.
Di restoran keluarga itu cukup ramai, ada beberapa keluarga dengan satu atau dua anak yang di dudukkan ke kursi tinggi.
Sambil bersenda gurau gembira.
Aku ingin memberikan kesan keluarga baginya, dan memang kita adalah keluarga, kita adalah suami istri. Itu yang ingin aku tekankan.
Aku memesan makanan seafood , nasi goreng seafood dan cumi asam pedas.
Untuk minumnya aku pesan lemon tea saja.
Tak berapa lama kemudian pesanan kami datang
Mas Reza tampak menulis sesuatu di ponselnya.
Degh..
Apa dia tahu kalo aku sudah memblokir nomer Charlotte.
Biarkan saja lah, asal dia tidak mengungkit ungkit itu.
Lama dia tidak menyentuh makanan di meja saji kami.
" Ah rasa masakan ini hambar.. " kataku setelah memakan satu sendok nasi goreng.
Kuletakkan sendokku.
Sambil menyorongkan ke depan mas Reza, aku harap dia mencicipinya.
" Masa sih, coba.. " kata mas Reza sambil menyendok nasi gorengku dengan sendokku kemudian memasukkan ke mulutnya.
" Engga kok " katanya.
Aku ambil sendok dari tangannya dan mencoba makan kembali dari bekasnya.
" Ah.. iya ajaib, setelah di sentuh bibir mas Reza, makanan ini jadi lezat tiada tara. "
kataku.
Sudut bibir mas Reza beekedut.
"Tsk ! " decaknya
Aku sudah menutup mataku, menunggu jitakan itu.
Satu dua tiga... aku menghitung dalam hati.
Ternyata yang mendarat adalah sebuah ciuman di keningku...
Aku membuka mata dan menatap nya bingung tapi suka.
" Apa...
Ayo makan " katanya.
Ah dia kembali ceria. Syukurlah.
Aku tersenyum.
Kami pun segera menyantap bersama.
Ku edarkan pandangan ke ruangan.
Aku tidak menyangka ini semua akan berhenti sejenak karena penutupan sementara. Semoga tidak terjadi hal yang lebih buruk lagi.
Harapanku.
Setelah membayar di kasir kami pun keluar.
"mas Yanti ke belakang dulu ya "
" Ya baiklah, aku tunggu " kata mas Reza sambil duduk di tempat tunggu.
Mas Reza mengamat amati beraneka tenant di mall.
Mungkin dia merencanakan sesuatu untuk para staff dan pegawai di mallnya agar mereka tetap mendapatkan pemasukan selama penutupan.
Aku kembali bersama mas Reza.
" Makanan di food court ini sepertinya enak enak mas, kalo kita bisa mudah dan pesan diantar ke rumah " kataku
" pinter kamu.. "
" iya dong..
__ADS_1
Emm..
Emang apa hubungan antara makan dan pintar " tanyaku.
" Idemu tentang food court online itu.. " kata mas Reza.
" Itu bagus, aku akan memasukkan layanan food court online dalam aplikasi perusahaan " lanjutnya.
Aku tidak begitu mengerti bisnis, aku merasa bahagia saja jika ideku diterima mas Reza.
" Oh.. "
Sambil menikmati perjalanan kami melewati tenant bioskop yang sedang memutar film komedi romantis yang sedang diputar.
Aku menarik narik lengannya.
Mumpung ada pasangan, nonton bersama kan romantis, he he he
" Yuk nonton "
" Kita kan bisa nonton di rumah.. " kata mas Reza.
" Tapi kesannya kan berbeda mas.. , kasian kan jika bulan depan di tutup "
Rengekku.
" Benar, mungkin nonton film pun bisa lewat online " celetuknya.
haaaa..
Aku tidak mengerti.
" Yah sudah ayoh ... " Kata mas Reza sambil menarik tanganku.
Eh... Malah dia yang semangat.
Kami pun berakhir nonton drama komedi romantis itu.
Di akhir menonton , mas Reza selalu menggandengku hingga kami masuk mobil.
Seperti ini saja aku merasa bahagia.
***
Hari menjelang malam ketika kami sampai di rumah.
Puri membantu membawa belanjaan ke dapur.
" Malam nyonya , tuan " kata Puri dan Deri
Hari ini capek tapi aku bahagia.
Berendam kayaknya enak nih.
"Deri sudah mempersiapkan jacuzzi untuk nyonya jika ingin mandi " kata Deri
Wah kebetulan.
"Terimakasih deri " kataku sambil tersenyum.
Aku menuju kamarku untuk membersihkan diri dari peluh seharian jalan jalan.
Aku melihat mas Reza menuju ruang kerjanya di lantai atas.
***
" Deni, kirimkan penyelidikanmu tentang keluarga Kiehl " Telpon Reza pada sekretaris Deni.
" Baik tuan " kata suara di ujung telepon itu.
Kling.
Sebuah file muncul dan dibuka Reza di ruang kerjanya.
'Hmmm dasar setan kecil...
Berani beraninya mempermainkan aku... '
Bersambung...
***
Catatan Author.
Mohon maaf, berkaitan dengan ujian semester yang sedang berlangsung. Authornya belum sempat upload.😅
Tapi saya akan menyelesaikan cerita ini.
Mohon maaf baru belajar menulis cerita 🙏🙏🙏
Dukungannya sangat berarti sekali.
__ADS_1
Terimakasih.
❤️❤️❤️