
" Kita berbelanja ya mas " tanyaku
"Ya aku ingin mengetahui kondisi pasar..." kata mas Reza pendek.
" Jadi.....
ini bukan soal berbelanja bersamaku,
ya sudah kita pulang saja"
mendadak aku merasa lebih baik jalan jalan saja ke taman bersama mas Reza.
"Hei...
kenapa..
kalo kamu butuh sesuatu kamu kan bisa menyuruh orang untuk membeli kebutuhanmu " katanya.
'Ah iya, jika supplier pun bisa dia datangkan, apalagi belanja kebutuhan sehari hari'
Aha! Tiba tiba terbersit suatu ide.
" Bagaimana mas mau mengecek kondisi pasar dengan identitas mas sebagai CEO" Kataku memancing reaksinya.
Aku sebenarnya ingin mengajaknya berbelanja untuk menikmati sebagai pasangan suami istri pada umumnya.
Yang berbelanja bersama.
" Maksudmu"
Ah dia menanggapi.
"Kalo mas datang ke mall maka para staf dan pegawai akan mengenalimu sebagai CEO mereka, mas ngga akan tahu bagaimana reaksi asli masyarakat luas kan "
Terangku.
" Bukankah lebih baik kita membaur ke masyarakat untuk mengetahui " kataku lagi
" Kapan terakhir mas belanja ?" tanyaku
" Beberapa hari yang lalu, belanja sovenir dan berlian" katanya datar.
Ah belanja itu. Jadi ini cincin berlian. Aku tersipu.
"Bukan, maksud Yanti belanja kebutuhan sehari hari.."
"Sudah lama... mungkin dulu waktu kecil bersama mama " jawabnya.
" Nah sekarang sama Yanti ya, tapi kita ganti baju dulu, kan ngga nyaman seperti ini " kataku.
Melihat mas Reza yang masih necis dengan setelan nya dan aku sendiri memakai gaun, memenuhi seleranya.
"Pakai baju apa" tanya mas Reza.
"Mas di sini dulu biar Yanti beli baju di toko kaki lima itu " kataku
"Yang bener aja yan "
" Bener serahkan pada Yanti"
Aku kemudian keluar dari mobilnya dan menuju toko kaki lima. Aku membeli kaos couple dan celana jeans .Dua buah buah topi, dan masker.
"Mas, buka pintunya"
Kataku.
Mas Reza membuka pintu dan aku pun masuk ke mobil.
"Ini, kita pakai kaos aja, biar tampak wajar, kayak pasangan lagi jalan jalan " kataku
"Apa ini " mas Reza melihat kaos itu.
"He he he, mau pakai ngga, ya udah ngga jadi nih"
"Ya jadi jadi" katanya.
Akhirnya dia bersedia juga.
Aku mengganti bajuku.
"Mas ngadep sana lah Yanti mau pake baju" kataku.
" Hemmm, sudah ganti aja , bagian mana sih tubuhmu yang belum aku lihat. " Katanya santai.
" Iiih mas Reza, balik balik" kataku sambil menyuruhnya membalik badan.
Secepat kilat ku pakai kaos dan celana jeansku.
"Udah nih" tanya mas Reza.
"Udah udah" kataku.
Mas Reza dengan santainya melepas baju dan berganti didepanku.
Hmmmph.
Orang ini makin hilang urat malunya. Tapi untung aku istri sahnya.
__ADS_1
Kami kemudian keluar mobil bersama.
"Kenapa pula ini sama" kata mas Reza yang menyadari kalo kita memakai baju couple.
"He he he" aku nyengir.
"Menguatkan penyamaran kita"
Kataku sambil menggandengnya masuk ke dalam hypermart di mall Kusuma di kota kami. Tidak lupa kita pakai masker dan topi.
Pemerintah mulai memberitakan bahwa ada wabah virus yang menyebar tidak di terkendali di luar negeri.
Penerbangan mulai di tutup untuk menuju dan pergi dari negara itu.
Mas Reza menahan badanku, karena di depan pusat perbelanjaan itu tampak banyak ibu ibu berebutan troley belanja.
" Mas..." Aku melihat mas Reza
" memang akan seperti ini ketika ada panic buying" katanya.
Sepertinya mas Reza sudah memprediksikan.
Sambil menunggu antrian ibu ibu yang berebutan masuk. Kami berbincang.
"Sebentar lagi kita akan menutup sementara mall ini" katanya.
"Apa mas, ditutup" kataku.
"Iya, karena pemerintah akan segera mengumumkan lockdown, penutupan dan pengurangan akses kerumunan masyarakat, seperti di luar negeri .
Jika itu terjadi biaya untuk mall akan membengkak, kerugian akan besar.
Kita tidak dapat memprediksi kapan berakhirnya penutupan.
Dan ini adalah resiko yang harus aku ambil sebagai pebisnis.
Namun kita akan mengalihkan untuk penjualan online secara bertahap.
Sekretaris Han dan aku sedang mengembangkan tim untuk pembuatan aplikasi online.
kami juga bekerja sama dengan berbagai platform medsos.
Semoga itu dapat membantu ekonomi karyawan yang terpaksa kita phk atau kita alihkan ke sektor lain"
Jelas mas Reza, sambil membantuku mendorong troley. Kita benar benar nampak seperti pasangan pada umumnya.
Ah benar apa yang di katakan mas Reza, mall seperti ini pasti sangat besar biayanya.
Ketika nanti ada penutupan, selain masih membiayai pegawai, pelaku usaha masih terbebani dengan pajak bumi dan bangunan, pajak reklame, hingga royalti dan retribusi lainnya.
"Mas lihat ibu ibu ternyata banyak memborong masker, desinfektan dan obat kesehatan " kataku sambil menunjuk rak yang nampak kosong.
"Masker.... " Kata mas Reza sambil berpikir.
"Mungkin mas bisa bikin pabrik masker mas, banyak dibutuhkan " celetukku.
Sambil ku dorong troley ku ke tempat sembako, sambil aku mengambil barang barang yang aku inginkan.
Kami juga belanja sayur dan buah buahan.
"Mas masyarakat masih banyak yang membutuhkan barang, apa supermarket ini juga akan di tutup" tanyaku.
"Em, tidak...
Untuk masyarakat
Supermarket ini tidak ditutup, mungkin beberapa tenant di lantai atas, untuk mengurangi biaya"
Kata mas Reza.
Oh begitu syukurlah.
Kami menuju kasir dan melihat beberapa perlengkapan bayi yang di pajang.
Seorang SPG melihat kedatangan kami.
"Ibu ini ada stroller bayi baru keluaran terbaru, cocok sekali untuk pasangan muda" kata SPG itu sambil tersenyum dengan kata yang manis sekali.
Ehm. Uhk. Uhk ukh.
Alangkah bahagianya jika kami benar benar berbelanja kebutuhan bayi.
"Oh iya terima kasih, sayang stroller ini cocok tidak" kataku sambil mencolek lengan mas Reza.
Berharap mas Reza juga ikut berakting.
Aku menatapnya
" Mas.. sayang... "
Hi hi hi.... Otakku mulai kumat.
" Ehm, wah wah iya bagus bagus...
Sayang..." Katanya canggung.
Batinku terkekeh melihatnya. Aku rapatkan gandengan lenganku padanya.
__ADS_1
Mba SPG merasa bersemangat, mengira aku benar benar hamil.
" Tapi kami belum mengambil hari ini, kata orang pamali jika bayinya belum lahir" kata mas Reza menolak halus, dan mengajakku berlalu.
Aku tidak bisa menahan geli melihat perubahan muka mas Reza.
Mba SPG hanya bisa tersenyum mematung.
" Baik, kami akan selalu ada disini untuk bapak dan ibu, terimakasih." Ucapnya.
Setelah pergi menjauh, mas Reza menjitak keningku.
Tak.
" Aduuh, kan ... Itu bisa terjadi... Kan..." Kataku sambil mengusap usap dahiku.
Walaupun sebenarnya ngga sakit.
Aku juga kan bisa hamil.
Mas Reza mungkin juga menyadari hal itu.
"Tsk " mas Reza memegang dahinya sendiri.
Kemudian wajahnya merona.
"Bodoh bodoh" umpatnya.
"kenapa mas" kataku polos.
Tanpa banyak kata Mas Reza membawaku ke bagian peralatan KB.
Jederrr..
Jederr
Jederrr
Yang ini..
Yang itu...
Begini...
Begituu..
wajahku merona. Sepanjang hidupku aku belum pernah belanja barang kayak gini. Mana berbagai bentuk dan rasa lagi..
aduuuyy.
" Ayo dipilih mana yang kamu suka" kata mas Reza.
Aku suka yang asli aja. Wzzztt. Kata otak konslet ku.
Aku tertegun. Shock dan malu.
" Aku ngga tau, ini ngga ada ukurannya kah... " Tanyaku polos.
" Wkkk, Yan yan ukur sendiri " mas Reza geli.
" Coba yanti ukur" kataku.
"Emang bisa"
Aku ambil kertas tisu kemudian kubuat segitiga.
Lalu aku ukur dari ujung lancip panjang kuku jempol kakinya mas Reza.
Mas Reza tertawa terkekeh.
Kemudian ku sobek sepanjang kuku jempol tadi, sehingga meninggalkan lubang di kertas tisu.
Wah lubangnya cukup besar juga.
Ku acungkan jari jempolku ke mas Reza.
" aaah... Mantap " candaku sambil nyengir.
"Semprull " ujarnya.
Tak.
Jitakan mendarat ke keningku. Tahu dia kalo kukerjai.
Mas Reza kemudian mengambil beberapa pack dan menaruh ke troleyku.
Aku ngga tahu yang macam apa saja yang dia ambil.
" Harusnya aku mempersiapkan sejak awal " katanya.
Ah, hatiku mengapa terasa pedih.
Aku mau kok mas , hamil dari benihmu.
Semoga kerja keras kami kemarin membuahkan hasil.
Mas Reza mendorong troley kami ke kasir.
__ADS_1