
"Yuk masuk Yan"
Reza menggamit jari jemari Yanti masuk ke ruang utama melalui pintu yang sangat besar.
Ditengah tengah ruangan yang luas itu mereka disambut ruang tamu dan ruang keluarga yang menyatu.
Plafon ruangan itu sangat tinggi hingga mencapai rooftop di sangga oleh pilar pilar dengan tema milineal yang juga begitu besar. Tangga ke lantai atasnya bertema selaras pula.
Di sana sini di rumah itu terdapat banyak dinding dengan cermin hias.
Pembatas pembatas ruang di dominasi kaca kaca tebal yang membuat cahaya bebas menerangi ruang ruang bagian dalam di waktu siang hari, memberikan kesan terang dan lega.
Aneka desain lampu lampu gantung bergaya kekinian menjuntai anggun dengan sinar cemerlang yang memancarkan kilau emas di tepi tepian hiasan logam di rumah itu.
Kesan pertama yang Yanti dapat, seperti memasuki lobby sebuah hotel bintang lima, bahkan lebih mewah dari itu.
Mereka di sambut sofa besar dan panjang berbentuk U empuk diatas permadani yang lembut sebagai ruang keluarga dengan bantal bantal yang besar. Di tengah ruang terdapat televisi yang sangat besar pula. Ruang itu sangat nyaman untuk bercengkerama bersama keluarga.
Di ujung pojok yang lain terdapat beberapa sofa berukuran lebih kecil dengan meja, sepertinya untuk ruang santai atau menerima beberapa tamu.
Di bagian lain terdapat aquarium air laut yang besar dan panjang dan jendela jendela kaca pembatas private pool di seberang ruangan. Beraneka ikan laut, coral laut dan anemon berwarna warni meliak liukkan tubuh gemulai di dalamnya.
Reza melepas tangan Yanti dan memberi isyarat untuk mengikutinya. Yanti sedang mengagumi arsitektur rumah kekinian khas konglomerat muda rumah itu, sejurus kemudian dia mengangguk dan mengikuti Reza.
Kamar utama mereka terletak di lantai satu, kamar itu begitu luas dan lega. Dengan ranjang berukuran king size dilengkapi bantal bantal beludru besar berwarna merah muda senada dengan bed covernya. Di atas ranjang itu terdapat dinding berhiaskan cermin besar berlajur lajur ,membulat. Sinar yang digunakan temaram berwarna ke emasan.
" Di sini ruangan wardrobemu" kata mas Reza sambil membuka ruangan wardrobe.
Di situ terdapat aneka outfit. Dari baju, topi, tas,jam tangan hingga sepatu.
Juga terdapat sudut untuk aneka kosmetik dan skincare dengan cermin dan lampu lampunya.
Di tengah wardrobe terdapat kursi panjang empuk tanpa sandaran untuk duduk dan memilih outfit.
"Aku tidak tahu seleramu, kamu bisa pilih mana yang kamu sukai dan mana yang tidak" kata mas Reza lagi.
Yanti terpana. Yang dia punyai selama ini hanya satu lamari baju, itu pun harus berbagi dengan mak Ros, ibunya. Dibandingkan dengan isi wardrobe ini tentunya bukan tandingannya.
"Yanti malah bingung " kata Yanti polos.
Reza menyentil pelan dahi Yanti.
"Nih anak, malah bingung" canda Reza.
"Yanti ngga pernah punya baju sebanyak ini" kata Yanti sambil mengusap dahinya, sambil menunjukkan ekspresi cemberut.
Seolah mengekspresikan 'apa sih salahnya? aku kan enggak sekaya kamu' .
Ujung ujung bibir Reza melengkung, menyunggingkan senyum yang melelehkan hati Yanti.
"Sekarang kamu harus terbiasa dengan aneka outfit ini. Jika kelak harus mendampingiku di suatu pertemuan" kata mas Reza.
"Ya mas, Yanti mengerti" kata Yanti.
Mas Reza adalah pewaris tunggal kerajaan bisnis Kusuma Global Business, tentunya ketika berada di acara acara formal yang penting membutuhkan outfit yang elegan, begitu pun pendampingnya.
Seperti yang diketahui Yanti. Ketika pertama kali berjumpa, orang akan berkesan dengan suatu penampilan. Penampilan mencerminkan sejauh mana orang menghargai dirinya, dan ini berpengaruh besar terhadap penilaian investor.
Setelah dari wardrobe, Reza mengajak Yanti membuka pintu sebelah ruang utama yang ternyata langsung berhubungan dengan private pool yang luas dan nyaman.
__ADS_1
Private pool inipun sebenarnya bisa terlihat dari ruang keluarga yang dibatasi oleh jendela kaca tinggi yang secara otomatis bisa terbuka dan menutup sendiri.
" Wow, ruangan ini berhubungan langsung ke kolam renang" pekik Yanti.
"He em benar, konsep rumah yang unik kan" kata mas Reza bangga.
"Ada lagi yang unik, lihat ini"
Kemudian Reza menyalakan remote, serta merta private pool tertutupi dengan sebidang rumput sintetis berwarna hijau yang bergeser menutup private pool itu.
Sejenak pemandangan berubah dari private pool menjadi halaman rumput nan hijau.
"Bagus sekali mas " kata Yanti tidak hentinya kagum.
Jangan tanya di kamar mandinya. Kamar mandinya bergaya modern dengan jacuzzi yang lega dan nyaman cukup bahkan untuk empat orang sekaligus.
Reza kemudian mengajak Yanti ke bagian dapur bersih yang juga dapat diakses dari ruang keluarga. Ruangan itu menyatu dengan ruang makan. Dari dapur kita bisa melihat pemandangan taman di luar rumah.
"Kamu bisa memasak masakan kesukaanku disini, kalo tidak mau, mas bisa menyewa koki untuk sekedar memasak di rumah ini" lanjut mas Reza
"Mm ngga perlu mas, gini gini, Yanti bisa masak, apalagi dapurnya cantik dan nyaman begini. Bahkan dari sini Yanti bisa melihat pemandangan di luar rumah "sahut Yanti.
Siapa yang ingin melewatkan memasak untuk orang yang dicintai. Ngga kan. Batin Yanti.
Di dapur seperti ini pasti betah, apalagi di kelilingi Reza Reza junior yang berlarian ke sana sini. Atau berteriak bermain dari private pool di sana. Khayalan Yanti.
Rumah ini benar benar memberikan nuansa nyaman dan betah bagi penghuninya.
" Di lantai atas ada beberapa ruangan, kini difungsikan menjadi ruang kerja. Ada ruang kerja kamu dan ruang kerja aku terpisah. Barang barang mu, buku buku kampusmu juga sudah dibawa. " Tutur Reza.
"Makasih mas" yanti yang sebagai mahasiswa kedokteran mempunyai banyak buku buku tebal. Dan mas Reza telah bersusah payah membawakan kesini.
Di malam itu karena di rasa cukup. Deni dan beberapa staf pembantunya pulang kerumah masing masing.
Kini tinggal Yanti dan Reza seorang diri dirumah sebesar itu.
Dua orang penjaga keamanan berada di bangunan penjagaan di didepan rumah yang cukup jauh. Lingkungan nya aman karena di lengkapi dengan CCTV pemantau pada berbagai tempat. Tentu saja area pribadi di dalam rumah tidak dipasangi.
***
Setelah makan malam singkat, pasangan baru ini mulai disibukkan dengan urusan pribadi masing masing.
Reza dengan berbagai agenda meeting dan proyeknya yang menanti. Yanti dengan praktikum kuliahnya yang terpaksa tertunda karena mendadak honeymoon.
Kini Reza menikmati bersantai di ruang keluarganya menanti teh hangat buatan Yanti di dapur.
Sejurus kemudian terdengar bunyi dering ponsel Reza.
Bling Bling Bling Bling Bling Bling Tralala lala.
Ponsel Reza terdengar menerima panggilan video call dari mamanya.
" Ya ma" tekan Reza menerima vc itu.
" Sayang honey angel, ngga kasih kabar sih kalo sudah sampai,ooo gitu ya sekarang, ngga mampir dulu ke rumah. Rezaa... Mama ingin memeluk kamu..…" cecar Nyonya Arwinda pada anak semata wayangnya itu.
Reza menyeringai memamerkan barisan gigi putih dan rapinya.
" Maaf mama sayang, Reza datangnya malem. Reza khawatir mengganggu mama. "
__ADS_1
Jawab Reza.
" Ya sudah, yang penting mama sudah tahu kalo kamu sudah tiba. Besok mama akan mengunjungi kalian. " kata Nyonya Arwinda.
"Besok, Reza ada meeting pagi di kantor ma, pekerjaan sudah menumpuk dan menunggu untuk diselesaikan " jelas Reza.
" Ngga papa, mama masih bisa bertemu Yanti, sambil melihat suasana rumah barumu" jawab Nyonya Arwinda di seberang vc mereka.
Yanti datang membawakan teh hangat. Melihat Reza sedang vc dengan Nyonya Arwinda dia ingin segera beringsut pergi, hingga lengannya ditarik Reza yang mengakibatkan dia jatuh terduduk di samping suaminya itu.
Yanti membelalakkan matanya, tanda kaget dengan sikap suaminya itu.
Reza menahan tawanya.
"Ahh Yantii" pekik Nyonya Arwinda yang melihat kedatangan Yanti.
"Malam ma" jawabnya.
" Yanti kamu ada di rumah kan besok, mama mau mampir ke rumah" kata Mas Reza.
'Orang ini memutuskan se enaknya sendiri' rutuk batin Yanti.
"Ya ma, Yanti di rumah" jawabnya berat hati.
Padahal rencananya dia ingin mengurus praktikum susulan mata kuliah anatomi manusia yang sudah tertinggal kemarin.
" Ok lah kalo begitu, ya sudah malem ya sayang" Nyonya Arwinda mengakhiri Vc nya.
"Malam ma" jawab mereka.
"Mas, gak bisa gitu dong mas" suara Yanti protes.
" Gak bisa gimana" kata Reza sambil menyeruput tehnya. Berlagak tidak mengerti.
" Yanti mau ke kampus, mengurusi praktikum anatomi Yanti yang tertunda" protes Yanti.
Kuliah di kedokteran memerlukan waktu lama dan biaya yang tidak sedikit menurut Yanti. Dia berpikir untuk serius segera menyelesaikannya tanpa tertunda tunda.
"Kenapa harus ke kampus, kamu kan bisa praktek anatomi di rumah, subjek praktikumnya kan ada disini " kata Reza sambil menyentuhkan paksa tangan Yanti ke bagian vitalnya.
" Ahhh....., mas....mesum...." jerit Yanti merona kemudian beringsut pergi dari ruang keluarga menuju ruang kerjanya di lantai dua.
'kalo diteruskan candanya, praktek anatomiku benar benar tidak akan kelar kelar' batin Yanti
Pffft ha ha ha ha.
Ha ha ha...
Ha ha ha...
Suara tawa Reza menggelegar.
Yanti berpikir entah apakah suara itu sampai hingga di pos pengamanan depan.
Bisa bisa mereka berpikir aneh aneh lagi.
Yanti menepuk nepuk pipinya.
" Malah aku yang tertular jadi mesum, fokus Yanti, fokus Yanti" kata Yanti pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Kemudian melangkahkan kaki masuk ruang kerjanya meninggalkan suara kekeh Reza yang masih terdengar.
***