Mendadak Bulan Madu

Mendadak Bulan Madu
05. Awal yang baru


__ADS_3

Reza POV


Setelah pesta pernikahan ini berakhir, pikiranku hanya satu, aku ingin segera pergi , menyepi seorang diri. Pikiranku kalut, dan dadaku terasa sangat sesak, seakan akan yang kuhirup adalah batu bukannya udara segar.


Bagaimana tidak kalut, orang yang kucintai mencampakkan diriku begitu saja. Sia sia saja perjuanganku selama ini untuk meyakinkan mama dan papa, bahwa kamu bersedia menjadi menantu yang baik, bahwa kamu akan meninggalkan dunia modelmu dan menjadi ratu di istanaku. Aku merasa tidak dihargai sama sekali.


Aku tidak menyangka, jika cinta tulusku, harga diriku tidak ada artinya dimatamu. Betapa liciknya dirimu, memberikan pukulan telak saat hari pernikahan kita. Jika tidak cinta, jika tidak mau, mengapa tidak dari awal kamu katakan.


Mengapa ? Mengapa?


Apa salahku?


Beribu pertanyaan berkecamuk dalam pikiranku, dan dengan mudahnya kamu menonaktifkan nomor teleponmu. Membiarkanku disini diliputi prasangka dan putus asa.


Setelah sejauh ini menjalani, dengan mudahnya, yah, dengan mudahnya kamu melupakan cinta kita. Aku mempunyai harga diri sebagai seorang pria, jika kamu tidak bersedia aku bisa mencari wanita lain. Tapi, tidak seperti ini Charlote. Cinta tidak semudah itu untuk datang dan pergi.


Charlote adalah satu satunya nama yang tidak ingin aku dengar dan kulihat wujudnya. Mengingat namanya saja membuatku serasa lumpuh.


"Sayang, mama sudah menyiapkan Villa kita di Bali, pak Nengah dan istrinya yang mengurus villa, sudah mama kontak untuk mempersiapkan segala keperluanmu disana nanti" ucapan mama membuyarkan lamunanku.


Rupanya telah beberapa waktuku berlalu dengan hanya duduk di balkon ini. Kulihat arlojiku ternyata sudah menunjukkan pukul enam sore.


" Mah, Reza mau pergi sendiri saja" kataku penuh kepastian.


" Tidak Reza, lihat dirimu, sudah seperti orang hilang kesadaran.Mama takut sesuatu terjadi padamu. Biar Yanti ikut denganmu sayang. Di sana mungkin dia bisa menemanimu, apalagi dia anak yang baik. Mama percaya pada Yanti, dia bisa mengurusmu dengan baik." mama bersikeras agar aku membawa Yanti.


Meskipun dia adalah istri sahku dalam pernikahan yang mendadak ini, namun aku merasa bersalah jika harus memaksanya untuk menanggung akibat dari kesalahan orang itu. Aku tidak ingin membawanya dalam masalahku.


"Pokoknya Yanti harus ikut denganmu Reza" Mama bersikeras.


Tampaknya Yanti juga tergesa gesa mempersiapkan kepergian ini. Aku tidak bisa menyalahkannya atas kejadian mendadak ini. Maaf Yan.


"Sudah mas" katanya sambil membawa tas nya.


"Reza sayang, jangan berlama lama dalam kesedihan, ingat, mama dan papa sayang kamu Reza" mama memelukku dengan mata berkaca kaca.


Mama, maafkan Reza ma, Reza sedang kalut saat ini. Aku balas memeluknya dalam diam, memendam rasa hatiku yang remuk redam.


Pak Parman memasukkan koper koper kami ke dalam mobil dan menuju bandara. Aku tidak ingin banyak bicara, aku hanya ingin menyendiri dan menenangkan diri saat ini.


Dunia tampak seperti abu abu, segala sesuatu melintas begitu saja, tanpa kusadari aku sudah berada di private Villa kami di Bali.


Deg! ah aku ingat pernah menghabiskan hari yang indah bersama Charlote disini. Bayangannya berlari lari centil dengan rambut yang mengalun menjuntai mengikuti gerak tubuhnya.


Whoossh...whooossshh...


Angin laut berhembus menghentakkan kesadaranku dan bayangan indah itu tersapu menjadi debu. Bayanganmu pun masih ikut menyiksaku di berbagai tempat seakan tidak cukup memberiku kepedihan yang dalam.

__ADS_1


My dream. Membangun hidup yang indah bersamamu. Impianku hancur, hancur berantakan.


Aku terhuyung. Tidak tahu lagi kemana tubuh ini membawaku.


Tanpa kusadari, diambang batas kelelahan jiwa dan mental kudapati aku tertidur di gazebo rooftop.


"Tidak Charl jangan pergi, jangan pergi... Aahh... Jangan pergi.." aku terbangun karena mimpi buruk, mimpi buruk kehilangan dia yang menghantuiku ditengah malam.


****! Haruskah dalam mimpipun kamu terus menyiksaku.


Suara deburan ombak di kejauhan menyadarkanku. Bulan yang bersinar malam itu membuat pemandangan terlihat sangat indah. Namun aku tidak menikmati pemandangan itu, hatiku berkelana dalam diam.


Aku jarang merokok namun kali ini aku merasa sesak dan membutuhkan pelampiasan. Aku nyalakan dan ku hisap dalam dalam, aku berharap bayangan dia akan terbang bersama kepul asap rokok yang kuhembuskan. Aku tidak bisa tidur malam itu.


Entah berapa saja bungkus rokok yang kuhabiskan, ketika aku mencari cari lagi barang itu, sudah tidak kudapati barang satu pun.


"mas.. mas... Mas Reza.."Suara perempuan memanggil namaku, menyadarkanku.


Aah, iya aku bersama Yanti di sini. Aku turun dari Rooftop.


"Mas?" Yanti membuka mulutnya namun segera menutupnya kembali.


"Hmm" kataku sambil menuju ke dapur.


Yanti mengikutiku ke dapur.


Aku duduk di aisle dapur dan Yanti segera menyajikan sarapan dan minuman tanpa banyak bicara.


Kudengar ketukan dari luar.


Aku keluar kamar, kulihat Yanti berdiri di depan kamar.


"Hmm" aku malas bicara.


"Maaf. Yanti hanya khawatir" katanya sambil menunduk.


Ah, Yanti, maaf kamu harus terjebak disini bersamaku. Baiklah aku di beranda saja agar kamu ngga khawatir.


Kemudian kuhabiskan waktuku di beranda. Merokok lagi. Rasanya aku ingin meneguk minuman haram agar aku bisa sedikit melupakan, mungkin aku bisa tidur dalam damai, atau mungkin mati saja daripada tersiksa seperti ini.


Tanpa kusadari tanganku sudah meneguk sedikit minuman haram yang tersimpan di Villa. Entah apa yang kuminum ini, malah membuat badanku tidak karuan. Aku bukan pemabuk, dan tidak terbiasa minum, minuman itu hanya untuk investor asing papa yang mungkin berkunjung ke Bali.


Aku tidak lagi menyadari konsep waktu. Dunia pun tiada lagi berwarna.


Yanti masih disini, rutin mengurus makananku. Mungkin jikalau tanpa kamu aku sudah mati kelaparan. Ya mati mengenaskan patah hati dan kelaparan, aku berpikir lebih baik aku mati saja. Lalu bayangan mama dan papa menyadarkan aku kembali. Seperti siksaan yang datang dan pergi terus menerus.


"Yan, jika ingin pergi ke pantai pergi saja"

__ADS_1


Aku menatapnya. Kasihan kamu Yanti.


"Nggak mas, Yanti di sini saja" katanya.


Apa kamu terlalu bodoh Yanti, terjebak disini bersama pria patah hati sepertiku. Terserahlah.


"Ya sudah" kataku pendek.


Pikiran dan hatiku semakin kacau ditambah tubuhku tidak mendapat tidur yang cukup. Diantara tidur dan tidak, diantara mimpi mimpi buruk yang membuatku gelisah sepanjang malam.


Bayangan mama dan papa kembali terlintas.


"Kami menyayangimu Reza, kami menyayangimu sayang"


Aah, mama papa. Mungkin aku harus bangkit untuk orang orang yang tulus mencintaiku kesadaranku mulai sedikit pulih.


"Yan, buatkan teh hangat " seruku pada Yanti yang sedang menonton tv di ruang tengah.


"Ya mas" katanya.


Aku tidak tahu, sepertinya dia butuh waktu agak lama untuk sekedar menyiapkan teh. Ah, mungkin karena belum terbiasa dengan dapur villa ini.


"Ini mas tehnya" katanya, kemudian bergegas pergi.


Aku merasa benar benar kacau. Aku hirup dan segera ku reguk. Kehangatan teh mulai mengisi lambungku. Ku tarik napasku dalam dalam dan kuhembuskan lagi.


Aku bisa bangkit dari ini semua, aku bisa.


Kurasakan kehangatan menjalar dari dalam tubuhku. Perlahan namun pelan mulai menghidupkan tubuhku yang dingin. Namun, tunggu, kehangatan ini seperti tidak bisa ku kontrol. Perlahan namun pasti dan bergerak liar. Detak jantungku meningkat dan napasku mulai naik turun. Kehangatan itu menjalar membangkitkan gairahku.


Aah , apakah ini akumulasi kelelahan dan stress yang kurasakan. Aku langkahkan kaki menuju rumah.


"Yan, .. kenapa tubuhku " kataku, pandanganku mulai berkabut.


"Mas ... Mas sakit.." tangannya mengusap dahiku.


Kurasakan seperti terkena aliran listrik, sentuhan Yanti terasa nikmat dan aku menginginkan sentuhan itu lagi. Sentuh aku Yanti, sentuh aku kembali.


Aku menyentuhkan tanganku di wajahnya. Darah mulai mengalir ke bagian bawah tubuhku. Ada apa denganku, aku bereaksi hanya dengan menyentuh wajah Yanti, kusapukan tanganku ku bibir lembut merah mudanya.


Yanti, kenapa kamu begitu imut dan lugu, kamu belum pernah berciuman, aku akan mengajarimu berciuman Yanti.


Entah, seperti kesetanan, aku memaksanya menerima ciuman dalamku, ciuman penuh hasrat membara.


Kehangatan benar benar merasukiku. Aku tidak bisa menahan lagi. Uhhh.


"Yan, aku menginginkanmu".desahku di telinganya.

__ADS_1


Ku bawa Yanti dalam dekapan menuju kamarku, dan malam itu kuluapkan emosi jiwaku padanya hingga aku mendapat pelepasan dan merasa nyaman untuk tidur setelah sekian hari amnesia yang melelahkan.


Maafkan aku Yanti. Maafkan aku.


__ADS_2