
Makanan yang tersaji di meja makan dengan cepat masuk ke lambung karena kami saling diam. Suasana hening, hanya suara detak jam dinding yang terdengar.
Sejurus kemudian mas Reza memecah keheningan di antara kami.
"Yan, kamu marah ya" kata mas Reza.
Aku menggeleng.
"Kamu berhak marah Yan, karena aku tidak bisa menahan hasratku, semua ini terjadi "
"Yanti ngga marah mas" jawabku.
Aku merasa munafik. Maaf kan aku mas, maaf telah menggadaikan harga diri demi mendapatkan cintamu.
"Kalo kamu ingin marah, marah saja Yan, aku merasa berdosa. Kita sama sama tidak mengendaki ini terjadi, mungkin..., Tuhan telah mengatur takdir kita" katanya lagi
Tidak mas, aku menghendakinya, aku sangat menghendakinya. Aku jadi semakin merasa bersalah, takut jika kelakuanku terbongkar olehnya, aku memilih untuk lebih banyak diam.
"Semua ini terjadi, gara gara dia meninggalkan aku, sakit sekali Yan, aku memang naif, maaf Yan, karena kamu malah jadi pelampiasanku. Harusnya, kamu ku jaga, bukan malah kurusak seperti ini, kamu gadis baik baik"
Airmata yang sedari tadi ditahan mas Reza akhirnya jebol juga. Dia menangis tersedu.Tapi entah kenapa aku tidak tergerak sama sekali.
Kami terdiam kembali sampai tangis Mas Reza mereda.
"Tidak apa apa mas, semua toh sudah terjadi, mas berhak melakukannya padaku" jawabku.
"Yan, apa kamu punya pacar?, Siapa pria itu Yan?. Katakan padaku. Kamu wanita yang baik baik, aku tidak mau kamu direndahkan" tanyanya sambil memegang tanganku.
Mas Reza ternyata menyimpan kepedulian padaku, apakah ini berarti dia ada perasaan padaku.
"Aku akan meminta maaf padanya, aku akan bertanggungjawab, jikalau ada yang bisa menebus kesalahanku ini, bagaimana nanti masa depanmu"
Masa depan, masa depanku bersamamu mas, mencintaimu tulus dan membangun rumah tangga kemudian menua bersamamu.
"Ngga mas, Yanti ngga punya pacar" jawabku.
Bagaimana aku punya pacar, kalo tidak ada kriteria sepertimu dalam pria pria lain yang kutemui. Di sekolah ataupun di kampus. Aku hanya mencintaimu seorang mas. Cinta pertama dan terakhirku.
" Yang benar Yan, kalo begitu, nanti kalo kita pulang aku akan meminta maaf sama Mak Ros dan Pak Parman , orangtuamu Yan"
"Semua sudah terjadi mas, Yanti sudah memaafkan Mas Reza" kataku.
"Yanti hanya bingung, dengan hubungan kita kini, kemarin kemarin kita hanya saling bersahabat" aku bingung mengatur kata yang tepat agar semua terlihat normal.
Mas Reza menatapku, kami saling diam dan tangan kami menyatu.
"Syukurlah kalau begitu Yan"
"Kamu baru pertama kali ke Bali, ke Villa ini kan, aku akan mengajakmu menikmati suasana pantai di sekitar sini" kata Mas Reza.
Aku mengangguk. Aku lebih bersyukur Mas, meskipun ini baru permulaan, aku harap Charlote tidak akan pernah hadir kembali diantara kita. Mungkin agak lebay, aku merasa kuncup kuncup bunga cintaku bermekaran di taman hatiku.
__ADS_1
***
Private Villa di Bali ini hampir berdekatan dengan pantai. Villa ini memiliki dua lantai.
Lantai bawah pemandangannya di dominasi oleh private pool dan taman yang asri.
Lantai atas, rooftop, lebih di dominasi oleh gazebo dan taman. Gazebonya luas dan nyaman, dengan alas yang empuk dan dua bantal besar yang nyaman. Dari lantai atas ini tempak pemandangan pantai pasir putih dari kejauhan yang begitu indah.
Pantai dapat dijangkau dengan jalan kaki sekitar lima menit saja.
Setelah kejadian malam itu sikap mas Reza berubah, dia sudah kembali menjadi dirinya yang ku kenal.
Dua hari kemudian dia benar benar mengajakku menikmati indahnya pantai yang awalnya hanya dapat kulihat dari rooftop.
Oya selama dua hari itu, aku menghabiskan waktu mengistirahatkan tubuhku.Aku benar benar menikmati fasilitas villa berdua saja dengan Mas Reza. Menikmati private pool berdua dan di sore hari menikmati sunset di rooftop. Benar benar seperti impianku menikmati honeymoon layaknya pengantin baru.
Mas Reza sangat perhatian kepadaku.
"Kita Renang yuk Yan,sini" kata mas Reza sambil turun diundakan dan langsung dengan lincah meluncur berenang ke tengah kolam.
"Yanti ngga bawa baju renang mas"
Bukannya aku tidak bawa, bahkan punya pun tidak.
Kalo tahu begini aku menggunakan pakaian renang yang menarik, bukankah itu memperbesar peluang. Ah.. otakku mulai konsleting lagi.
Jikalau tampil menarik di hadapan suami sangatlah menyenangkan, aku mau melakukan setiap hari mulai sekarang.
"Hei, melamun lagi..."
Aku terkejut sambil mengulurkan tangan untuk menolong Mas Reza.
Tiba tiba dia menarikku jatuh ke air.
"Ha ha ha ha... jadi basah kan.."
sialan rupanya dia bercanda.
"blb blb, Yanti ngga bisa berenang...mas... tolong... tolong...." kataku pura pura tenggelam. Padahal dikit dikit aku bisa berenang.
Mas Reza tampak panik dan segera merengkuhku mendekat.
"Yan, Yanti.. yanti..." katanya sambil menguncang tubuhku dan membopongku ke tepi kolam renang.
Ketika kurasakan hembusan napasnya mulai mendekat ke mukaku, aku membuka mata.
" Wekkk"
"Sialan kau..." kata mas Reza.
Kami berpandangan lekat, kemudian dia benar benar menciumku tepat di bibir.
__ADS_1
Aku terkejut, mataku membuka lebar.
"Ini hukuman karena kamu berani mempermainkanku" kata mas Reza.
Aku menyeka bibirku dengan punggung tangan.
Romantis mas, mau lagi dong hukumannya.
Wajahku merona. Mungkin dilihatnya aku malu.
Kami pun menikmati berenang bersama.
***
Dapur villa ini sangat lengkap, kami dapat memasak berbagai masakan.
Setelah berenang kita masak bersama, hanya nasi goreng dengan telur saja. Namun rasanya begitu sedap karena kita makan berdua.
Di sore hari kami menikmati sunset dari gazebo di rooftop, dengan aneka camilan dan teh hangat.
Kami duduk sangat dekat, berbagi kehangatan di sore yang sejuk dan berangin.
Lampu lampu yang temaram, bunga bunga di sekitar menambah romantis suasana.
Mas Reza mengelus rambutku dan aku memberanikan diri mendekat di ceruk lehernya. Menikmati kenyamanan dan kehangatan tubuh mas Reza.
"Yan, tetaplah seperti ini, seperti Yanti yang kukenal, yang lincah dan periang, jangan pernah meninggalkan aku" katanya.
Aku membalasnya dengan memeluknya.
"Ya mas" kataku.
Salahkah aku jika aku berharap lebih.
Aku ingin membuka pembicaraan mengenai 'perceraian' yang pernah dia sebut di hari pernikahan kita. Namun hal itu masih tercekat di dada, apakah Mas Reza masih menginginkan aku. Apakah mas Reza mulai mencintaiku.
Bagaimana jika dia tahu aku telah menjebaknya. Akankah dia tetap menjadi mas Reza yang ku kenal.
Berbagai perasaan berkecamuk di dalam hatiku.
Ku elus dada bidang suamiku itu. Mencari cari apakah ada namaku disana dan bukan Charlote.
Mas Reza memandangku menyentuh pipiku hidung dan wajahku.
"Yan, masih sakit tidak" bisiknya halus di telingaku. Aku bisa mendengar nya menelan ludah.
Deg!. Ya Tuhan, apakah aku telah membangunkan ular yang tengah tidur.
"Sudah ngga mas" kata ku malu malu. Heran tempat itu memang di rancang untuk menyembuhkan diri dengan cepat.
"Aku benar benar menginginkanmu Yan, saat ini, disini... boleh Yan" katanya memohon dengan suara beratnya.
__ADS_1
Aku mengangguk. Seketika di tariknya kelambu yang menutupi gazebo dan kami memainkan melodi cinta yang paling indah di dunia kembali.
***