Mendadak Bulan Madu

Mendadak Bulan Madu
12. Dua pria pemarah


__ADS_3

Yanti POV


Alarm ponselku berdering di subuh hari.


Mataku mengerjap ngerjap, berusaha mengumpulkan jiwaku yang masih enggan beranjak dari mimpi manisku.


Kucoba meraba rabakan tanganku, diantara kesadaran yang belum pulih, aku ingat menaruh ponsel itu di meja kecil di samping tempat tidurku.


Ah ya,


aku ingat mengeset alarm itu pagi pagi karena aku ingin menyiapkan sarapan pagi suamiku.


Aku pun tidak terbiasa bangun kesiangan, ibuku mak Ros membiasakanku untuk bangun subuh hari.


"Malaikat pemberi rezeki memberi banyak rezeki pada orang yang bangun pagi Yanti " nasehat emakku.


Demikianlah bangun pagi menjadi suatu kebiasaan bagiku.


Selang beberapa waktu aku meraba raba, meja yang aku ingat letaknya tidak kunjung kudapatkan.


Yang ku raba raba ternyata bukan meja melainkan dada bidang suami.


Degh !


Seketika jiwaku bersatu kembali, dan kubuka mataku lebar lebar.


Inginku sentuhkan tanganku lagi ke dada itu, tapi kutarik kembali, aku takut membangunkan macan tidur.


Bisa bisa rencanaku pagi ini untuk ke kampus berantakan.


Semalam saja aku sudah lupa menghitung berapa kali dia membawaku ke surga.


Pinggang dan kaki ku terasa pegal pegal seperti selesai lomba maraton.


Ku lihat Mas Reza masih tertidur pulas dengan bertelanjang dada di sampingku.


Bodoh nya kamu Yanti, rutukku.


Ranjang sebesar ini bagaimana tanganmu akan sampai ke meja sana.


Tuk !


Aku menepuk dahiku.


Aku lupa ranjang di rumah ini berkali lipat besarnya dari ranjang di kamarku.


Ini kamar tidur utama!!! Yanti !!!


Aku menertawakan kebodohanku. Dan beranjak bangun menuju ke samping meja.


klik.


Kumatikan alarm.


Setelah menyelesaikan aktifitas pagiku, aku bergegas ke dapur.


Kunyalakan remote untuk membuka blackout jendela jendela kaca besar di rumah, membiarkan sinar ke emasan surya pagi menerangi ruangan.


Kulihat kabut tipis perlahan beranjak dari ujung ujung pepohonan di taman yang terlihat di dapur. Burung burung liar tampak berterbangan dan berkicau merdu.


Ku hirup udara pagi yang masuk melalui kisi kisi jendela rumah.


Hmmm, rumah ini terasa homy dan nyaman.


Semoga kita bersama selamanya mas. Doaku.


Mas Reza benar benar memikirkan arsitekturnya untuk memberi rasa tenteram bagi penghuninya.


Diam diam ia adalah pria yang sangat perhatian.


Aku pun membuka kulkas besar di dapur, aku melihat belum semuanya terisi, mungkin karena saking besarnya.


Namun kulihat isinya ini cukup lengkap, setidaknya untuk membuat sarapan pagi.


Mungkin kapan kapan aku bisa meminta tolong mas Reza untuk membantu berbelanja bulanan.


Ahhh.


Kenapa ya , aku jadi makin merasa benar benar berumah tangga dengan mas Reza dalam arti sebenarnya.


Sayangnya aku belum bisa menyelami dalamnya hatimu mas.


Suatu ketika nanti.


Cinta akan tumbuh karena terbiasa.


Dimulai dari hal hal kecil berawal dari kasur hingga ke dapur.


Kusiapkan beberapa bahan untuk sarapan.


Aku terbiasa membantu emak di dapur sehingga aku bisa memasak, meskipun masakanku tidak se enak masakan chef di restoran.

__ADS_1


Untuk sarapan pagi ini aku memilih sarapan ala western breakfast yang bergisi dan simple dengan susu hangat.


Ku beri tambahan madu untuk memberi ekstra energi suamiku yang sedari malam bertempur dengan gagahnya.


He he he


Ada makaroni, sosis, scarmble egg dan berbagai salad sayuran. Bumbu bumbu untuk makanan ala western food pun lengkap tersedia.


Voila. Ini dia sudah selesai. Aku membuat cukup untuk empat porsi. Pak Joko dan Jono pun dapat menikmati sarapan pagi ini.


Sebenarnya di bangunan penjagaan terdapat dapur kecil dan pantry. Namun aku juga suka berbagi dengan orang lain.



" Pak Joko, ada sarapan pak tolong diambil" kataku melalui intercom.


"Wah, terimakasih nyonya" kata pak Joko.


Beberapa saat kemudian, aku melihat pak Joko datang dan segera ku serahkan sarapan untuk mereka.


Mas Reza kulihat muncul dari balik pintu kamar tidur utama kami, dengan bathrobe dan celana kolor, rambutnya sedikit berantakan namun bagiku malah terlihat makin seksi. Butiran air masih menetes ke dahinya.



Ya Tuhan, betapa indahnya ciptaanmu ini. Aku bersyukur bisa menikmati setiap hari.


"Hmmm, harum, kamu buat sarapan Yan" katanya sambil ngeloyor ke aisle dapur.


Sebenarnya ada meja makan, tapi kebiasaan mas Reza untuk menunggui orang memasak di dapur.


Katanya lebih menggugah selera.


He he he, selera yang unik.


Biarlah.


Aku memberinya sarapan dan susu spesialnya.


Kemudian menemaninya sarapan berdua.


Sejurus kemudian, makanan dan minuman sudah berpindah ke lambung kami. Tubuh pun mulai terasa hangat dan siap beraktifitas pagi.


"Hari ini Yanti mau ke kampus" kataku sambil membersihkan peralatan makan.


"Oh, baiklah.


Pakai saja salah satu mobil di garasi yang kamu sukai " kata mas Reza.


"Makasih mas" jawabku.


Hari ini aku berencana menyelesaikan praktik anatomiku yang tertunda.


"Mungkin nanti Yanti pulang malam mas, tapi tidak sampai tengah malam kok.


Praktikumnya kemungkinan berakhir pukul sepuluh malam" kataku, takut jika dia melarangku pulang larut.


Apalagi jika nanti aku ko as. Pasti aku semalaman berjaga di rumah sakit.


Semoga ketika tiba saatnya nanti, dia bisa diajak kerjasama.


Sudahlah untuk apa memikirkan itu, untuk saat ini biarlah waktu mendekatkan hati kita.


***


Mas Reza kemudian bergegas ke kantor, tampaknya akhir akhir ini pun dia terlihat sibuk.


Menjelang siang aku pun segera bersiap untuk berangkat pula.


" Pak, saya mau pakai mobil" kataku pada pak Joko.


"Siap nyonya muda"


Pak Jono lalu membawaku ke garasi.


" Tuan muda menyuruh bapak menyiapkan mobil ini, katanya mobil paling aman di dunia"


kata pak Joko.


Yang ditunjuk adalah mobil Volvo XC 60.


Aku tidak begitu tahu soal mobil. Yang penting bisa dikendarai.


Untungnya bapakku seorang sopir, sehingga di waktu senggangnya dia mengajari aku untuk mengendarai.


Mobil mewah, high end ataupun low end prinsip mengendarinya sama saja bagiku.


"Silahkan nyonya"


"Terimakasih pak joko"


Hmm, kunyalakan mesin mobil. Derunya halus nyaris tidak terdengar.

__ADS_1


Wow.


Begini rasanya naik mobil mewah.


Tapi aku tidak mencintai mas Reza karena hartanya.


Bagiku ini amanah yang harus dijaga.


Seorang istri harus bisa menjaga kehormatan dirinya, harta suaminya juga kehormatan suaminya. Begitu emakku mengajarkan.


Dengan doa pagi itu aku berangkat ke kampus.


***


Aku menuju ruang laboratorium di gedung tersendiri.


Prof Rahardian yang juga seorang dokter harus melayani pasiennya terlebih dahulu, sehingga kami mahasiswanya mau tidak mau harus menunggu praktek beliau selesai. Inilah salah satu hal yang merepotkan menjadi mahasiswa kedokteran, dosen nya adalah dokter, dan umumnya mempunyai pasien juga.


Tak berapa lama kemudian Prof Rahardian muncul.


Prof Rahardian ini masih tergolong muda, menggunakan kacamata, dan kabarnya masih single, di dukung wajahnya yang tampan sehingga dia menjadi primadona kampus.


"Selamat siang" sapa Prof Rahardian dengan suara tegasnya.


"Selamat siang prof"


Prof Rahardian tertegun sejenak melihatku.


oh iya, biasanya aku menggunakan baju kasual saja.


Gara gara menuruti seleranya mas Reza, kini aku menggunakan baju yang lebih feminim.


"Eh, Yanti


kamu semakin cantik saja" ujar Profesor tanpa sungkan.


"Bisa saja prof, saya hanya menggunakan pakaian yang lebih feminim saja" kataku..


"Oya dapat salam dari dokter Arin " lanjutku.


"aaah, ya ya dokter Arin, bagaimana kabarnya, kalo tidak salah dia mengambil spesialis kecantikan " katanya.


"Benar dok" jawabku.


Rupa rupanya ada sekitar lima mahasiswa lain yang terhalang mengikuti praktik pada hari yang sudah dijadwalkan.


Kami kemudian masuk lab dengan jas lab kami.


Setelah profesor memberikan pengarahan dan kegiatan pra praktikum akhirnya kami praktikum inti.


"Yanti, lepaskan cincinmu" kata prof Rahardian.


Aku melihat air mukanya berubah.


Sejak kapan dia memperhatikan cincinku.


Sepertinya dia marah, duh, aku lupa untuk melepaskan perhiasan di laboratorium.


Aku belum terbiasa.


"Maaf prof" Segera ku masukkan cincinku ke dalam tas.


Kami melanjutkan praktikum.


Syukurlah kegiatan praktikum lancar, tidak sampai malam. Petang itu aku segera pulang, rindu suamiku di rumah.


***


Sesampainya di rumah, aku mendapati mas Reza sudah pulang duluan.


Dia sedang memberi makan ikan ikan di Aquariumnya.


"malam mas, mas sudah makan" tanyaku.


Aku khawatir jika dia belum makan.


"Iya nih, ikan saja makan malam, masa aku enggak" rajuknya.


"Kan Yanti dah bilang, akan pulang malam, ya sudah Yanti bikinkan makan malam."


Mas Reza menghampiriku.


Dia menatapku kemudian menelisik jemariku.


"Dimana cincinmu" ujarnya ketus dengan muka yang tidak ramah.


Degh!


waduh dia marah.


***

__ADS_1


__ADS_2