
Reza mencium kening istrinya setelah quick play di pagi hari itu.
Di pagi hari pria cenderung mempunyai hasrat libido yang meningkat.
" makasih Yanti " ucapnya
Yanti melemparkan bantal lembut ke kepala Reza dan pura pura manyun.
Bukh!
Ujung bibir Reza melengkung keatas
Tsk tsk tsk. Decak bibirnya.
Kemudian tangan kekarnya menangkap bantal itu dan meletakkan di samping tubuh mereka.
Jemari Reza menyisir rambut kebelakang menampilkan peluh didahinya memancarkan pesona maskulin, ditambah lagi aroma pekat masih menguar diantara mereka, hati Yanti rasanya meleleh di tempat.
'Jangan...
Jangan...sampai terjerat lagii.. Yanti...
harus waras ... paling tidak untuk saat ini' Batin Yanti.
Yanti membalikkan badan memunggunginya.
Tidak bisa dipungkiri, Yanti pun menikmati permainan Reza hingga memuncak bersama.
Diam diam pun dia menikmati sikap Reza yang cukup agresif.
'Barangkali dengan begitu akan mempercepat kemungkinan hadirnya Reza junior.' pikir Yanti.
Mas Reza pun sudah memberikan ruang untuk Yanti menjadi istrinya.
Namun apa yang di harapkan Yanti sebenarnya adalah pengakuan cinta dari laki laki itu.
Kata itu terlalu sakral untuk diucapkannya.
'Dasar laki laki, bisa bisanya melakukan itu dengan wanita yang katanya belum di cintainya' rutuk batin waras Yanti.
Reza menyandarkan kepala di tangannya sambil menghadap ke punggung Yanti yang polos.
Tanpa sadar tangannya mengelus elus punggung Yanti seolah olah meminta maaf atas apa yang terjadi.
" Kenapa... apa masih kurang hmmm " candanya.
Hmmmff.
Yanti mendengus pelan kemudian menarik selimut menutupi tubuhnya, sadar bahwa pakaiannya belum berada di tubuhnya.
" Jangan marah gitu dong.
Aku yang meminta Deni untuk mencari asisten rumah tangga.
Rumah ini cukup luas.
Aku tidak mau kalo kamu sampai kelelahan apalagi jatuh sakit " Katanya sambil memeluk badan Yanti.
Dia mengira Yanti marah karena hal itu.
Hmmm.
Gumam Yanti pelan.
'Ah apa yang bisa ku katakan kalo mas Reza sudah memelas begitu 'batin Yanti.
Reza membalik tubuh Yanti yang mungil itu ke hadapannya.
Di angkatnya dagu Yanti.
" hm bagaimana" tanyanya.
"Ya mas..
Yanti mengerti " kata Yanti sambil menatap Reza dengan matanya yang bulat dan polos itu.
" Nah gitu dong " mas Reza mendaratkan ciuman ke kening Yanti.
Sejenak mereka terdiam.
" Ehm ehm...
nanti kita akan ke rumah utama terlebih dahulu. Mengunjungi orangtua kita. " Kata Reza mencairkan kecanggungan.
Yanti menganggukkan kepala.
Ya, dia sebenarnya ingin bertemu orangtuanya, namun takut jika mas Reza belum mengijinkan.
Syukurlah mas Reza berinisiatif terlebih dahulu.
__ADS_1
" dan... aku membeli sebuah ruko di sebuah area Bisnis untuk orangtuamu "
Yanti melebarkan matanya, seakan tidak percaya dengan apa yang di katakan mas Reza.
"Mas membelikan orangtuaku ruko ? " Kata Yanti mengulangi apa yang di katakan Reza.
" Iya Yan,
untuk menjaga martabat keluargamu...
Jika sampai pihak luar mengetahui jika kita menikah....
Emmm
Sebenarnya aku tidak pernah memandang status dan harta seseorang Yan.
Tapi untuk kebaikan bersama, dan ini adalah langkah untuk mengantisipasi...
jika situasi itu mungkin dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggungjawab " Jelas Reza.
" Kau tahu kan ada orang yang mencari cari celah untuk menjatuhkan lawan dalam bisnis.Mereka tidak malu malu untuk menyerang ranah pribadi seseorang " katanya lagi.
' Mas Reza sampai memikirkan sejauh itu, aku tidak mengerti bisnis, tapi aku mengerti bagaimana mas Reza ingin menjaga martabat keluargaku' Batin Yanti.
" terimakasih mas, mas telah sangat peduli pada kedua orangtuaku " kata Yanti.
"Besok, kamu berikan kunci dan sertifikat ruko untuk mereka, bilang ini hadiah dari kita " kata mas Reza.
"ya mas " jawab Yanti.
***
Cahaya mentari pagi tampaknya tidak sabar menanti untuk menampilkan diri seiring di sibaknya tirai blackout yang otomatis bergerak perlahan menepi.
Setelah tirai dibuka, dengan lincah dia bergerak, menembus ruang ruang, menambah kehangatan pagi itu dalam rumah keluarga Reza.
Reza dan Yanti sudah berada di meja makan untuk sarapan pagi.
Kini mereka dilayani layaknya tuan dan nyonya di gedongan.
Yanti agak canggung dengan situasi ini.
Melihat mas Reza yang menunjukkan sikap elegan layaknya boss, Yanti jadi meniru sikap tenangnya itu.
" Kita jadi ke rumah utama mas" Yanti memastikan rencana tadi, setelah peralatan makan dan minum mereka di bereskan.
kita juga akan membawakan sovenir buat orang orang di rumah utama.
Aku sudah menghubungi mama jika kita akan berkunjung" Kata Reza.
" Baik mas,
Emm ngomong ngomong dimana Sekretaris Deni? "
Yanti tiba tiba teringat laki laki itu.
" Di kamar atas, mungkin masih tidur "
Kata Reza santai.
Yanti menutup mulut.
"tega kau mas, tidak membiarkan nya pulang" protes Yanti.
" Sudah tugasnya,
lagian tidak ada yang menunggunya di rumah "Jawabnya.
Mas Reza melambaikan tangannya sebagai tanda agar Yanti mendekat.
Di bawah meja, jari telunjuk Reza sudah melengkung ditekuk jempolnya.
Tak.
Sekali jitak mendarat mendarat di jidat Yanti begitu dia dalam jangkauannya.
Jitakan yang tidak begitu keras sebenarnya.
"Yanti...
kamu...
cukup memperhatikan aku saja,
bukan laki laki lain " lanjutnya
"Ah Tsk!" Yanti mengelus dahinya.
'Laki laki ini keluar juga posesifnya' batin Yanti senang.
__ADS_1
" ya mas..." kata Yanti tidak ingin memperpanjang percakapan.
Mereka kemudian bersiap menuju rumah utama.
***
Di lain tempat, seorang profesor muda sedang mengoreksi Laporan praktikum mahasiswanya.
Ada satu laporan yang mengusik konsentrasinya bukan isi dalam laporan itu tapi sebuah nama yang menjadi penulis laporan yang dia perhatikan.
Mahasiswa yang selama ini mengusik mimpinya.
Dalam hati dia ingin mencari waktu yang tepat untuk menyampaikan kegundahannya.
Namun kesibukan dan etika profesi membuatnya selalu urung melakukannya.
Sejak pertama kali bertemu, Yanti sudah mencuri hatinya.
***
Prof Rahardian POV
Yanti....Angelita...
Dia meminta ijin untuk mengikuti praktik susulan.
Anak itu cerdas, tekun juga ceria. Aku menyukai semangatnya yang pantang menyerah.Dari background keluarganya , dia bukan orang kaya. Mahasiswa yang gigih berjuang demi pendidikannya.
Aku terpesona denganmu Yanti.
Hari ini aku merasa sangat cemburu Yanti.
Ah ! hatiku sakit melihatmu menggunakan cincin di jarimu.
Harusnya aku yang memasang ke jari indahmu. Aku akan berlutut dan memperjuangkanmu untuk menjadi satu satunya wanita di hatiku.
Cincin itu. Aku tahu itu bukan cincin murahan.
Brengsek !
Siapa yang sudah mendahuluiku.
Ah!
Setahuku kemarin dia menggunakan mobil. Halaman parkir laboratorium kampus pasti memiliki CCTV.
Aku akan mengecek plat kendaraan yang digunakan Yanti.
blip blip blip
"Hallo security, ya saya Rahardian,
Minta tolong saya dikirimkan rekaman CCTV parkir lab di gedung D kemarin petang "
"Baik prof...
ada apa ya prof" tanya suara di seberang ponsel.
"Ada barang saya yang kemungkinan terjatuh, saya ingin mengecek "
"Baik Prof"
Blip
Tak berapa lama kemudian sebuah file sudah muncul di layar laptop.
Nah ini dia. Hmmm. Mobil Yanti...
Mencolok, Volvo dengan plat nomor XXXXXXXX
Baiklah mari kita cek siapa pemilik mobil dengan plat ini.
.......
"Apa !!!!
ini milik Reza Kusuma "
Apa hubungan Yanti dengan pria itu, kurasakan kehangatan naik ke ubun ubun kepalaku.
Kukepalkan tangan.
Berani beraninya dia menggoda orang yang kucintai.
Baiklah jika ingin bersaing harta, aku juga bisa.
Bersiaplah Yanti. Reza Kusuma aku tidak akan menyerah darimu. Tekadku.
***
__ADS_1