Mendadak Bulan Madu

Mendadak Bulan Madu
13. Mendapat pekerjaan utama


__ADS_3

Aduh aku lupa memakainya lagi seusai praktikum tadi.


Ah...


Aku senang dia marah.


Apakah ini suatu pertanda bahwa mas Reza mulai cemburu.


"Yanti lepas karena praktikum di laboratorium tadi " kataku sambil melihat reaksinya.


" Di lab banyak bahan kimia, takut kalo korosi, ini juga karena ada aturan untuk melepas barang logam di lab"


Kataku sambil memanis maniskan muka.


Menunggu keajaiban dewa cinta membuka kunci hatimu.


" Kenapa tidak langsung dipakai , kamu kan sudah bersuami" katanya ketus.


Nah.


Itu dia.


" Itu.....


penting ya"


Aku nyengir. Dan menanti reaksinya.


" Tentu saja penting ! Agar orang tahu jika kamu sudah bersuami.


Ehm uhk!


Mas.. em..


Mas cuman khawatir karena kamu di luar pengawasan mas,


yey...


Mas kan janji menjaga kamu " dia tergagap.


Hmmmf.


Kenapa tidak sekalian hatiku yang kamu jaga mas.


" Ya udah deh, nih Yanti pakai"


Aku mengambil cincin itu dan memasukkan ke dalam jari manisku.


Ku tunjukkan jemariku di depan mukaku.


Dia tampak lega.


Mungkin mas Reza butuh kepastian dengan perasaannya.


Bagi mas Reza cinta tidak semudah itu datang dan pergi kan. Baginya semua perlu proses.


Orang ini begitu menikmati.


Prosesnya.


" Nah gitu dong, mas kan jadi tenang" kata mas Reza.


"Baiklah Yanti bersiap dulu untuk masak"


Aku meletakkan barang barangku di ruang kerja, ke ruang utama sekedar mandi dan berganti pakaian, kemudian menuju ke dapur.


"Baiklah kita punya apa untuk makan malam " tanyaku.


Aku pasang apron dan ku ikat rambutku menjadi sanggul cepol dengan jepit rambut.


Kulihat mas Reza menuju dapur dari ruang keluarga, ketika aku melihat berbagai bahan masakan di kulkas


" Aku bantu " katanya singkat sambil memakai apron juga.


Mas Reza kelihatan imut. Seorang CEO maskulin sekarang tampil menggunakan apron warna biru dengan kantong warna putih.


Tampilan yang hanya ku ketahui seorang diri dan tidak ingin kubagi dengan yang lain.


"Jangan melamun dong, kapan masaknya ini " rutuknya.


Ah aku tersadar mendengar suara baritonnya yang khas kalo lagi perintah perintah.


"Habis...


ini pertama kali .. Yanti liat mas di dapur pakai apron kayak gitu "


"Kenapa, tetep kelihatan gagah gitu " katanya sambil melihat tampilannya yang tercermin dari pintu kulkas.


"Yeee, Yanti jadi malah teringat pada satu tokoh kartun " candaku.


" Siapa? " tanya mas Reza.


" Doraemon." Kataku geli.


"Ya....aku doraemon....


dengan kantong ajaib"


katanya menanggapi candaku sambil meniru tokoh itu.


Ha ha ha kami tertawa bersama.


***


Untuk dinner romantis malam ini menu pilihannya jatuh ke Spaggeti Carbonara saja.


Praktis dan mudah dibikin.


Karena di kulkas aku lihat ada bahan itu, dan diberi topping crabstik pasti enak.



" Sini mas sudah jadi, yuk kita makan"


Mas Reza dan aku makan malam bersama. Suasana ruang yang indah dengan adanya hiasan lampu gantung di meja makan, menambah kesan seperti dinner di restoran.


" Kemarin, kata Joko kamu pergi dengan mama" kata mas Reza membuka percakapan setelah makan malam.

__ADS_1


"Iya, mama mengajakku ke klinik perawatan kecantikan langganannya" jawabku.


"Oh.. "


Apa yang dia harap.


Menurutku ini masuk katagori bersikap biasa.


" Yanti menemani mama perawatan "


" Baguslah kalian rukun " kata mas Reza.


"Mama dari dahulu, memang selalu baik pada keluarga Yanti kan mas" kataku mencoba mencari kata yang tepat.


Aku ingin menambahkan.


'Mama juga baik denganku mas'


Tapi aku takut, dia curiga. Aku menunggu reaksinya.


Tampaknya dia puas.


" Akhir akhir ini jangan banyak keluar rumah terlebih dahulu.


Di negara C, di pusat bisnis negara itu sedang berkembang wabah epidemi ganas.


Sebentar lagi televisi lokal pun segera akan memberitakan.


Untuk mencegah penularan mungkin negara lain akan menutup kedatangan dan kepergian ke negara tersebut " lanjutnya.


Ah iya, aku terlalu sibuk akhir akhir ini, hingga jarang lihat berita.


" ya mas" jawabku singkat.


" Mas sudah mempersiapkan stok masker dan hand sanitizer untuk kita "


"Eh, haruskah ? " Tanyaku.


" Untuk tindak pencegahan Yanti ! " Katanya.


"Oya mas, yanti sebenarnya masih ada keperluan.


Kulkas kita masih bisa di isi barang, bagaimana jika kita belanja bareng " ajakku.


" Hmmm, mas juga ingin melihat reaksi di pasar" katanya.


"Baiklah, besok sore mas bisa menemanimu " jawabnya


***


" Tuan muda, tuan Deni sudah datang" Suara pak Jono datang melapor.


Sekretaris Deni, untuk apa malam malam seperti ini datang.


Aku merapikan peralatan makan dan bersiap menuju kamarku.


Mas Reza menemui sekretaris Deni di ruang tamu.


Aku tidak bisa mendengar pembicaraan mereka.


" Aku dan deni masih ada urusan perusahaan yang harus di selesaikan, kami di ruang kerja." Kata mas Reza sambil berjalan mendekatiku


"Malam nyonya muda" sapa Deni.


"Malam Deni" kataku.


Mereka berdua kemudian menuju lantai dua tempat ruang kerja mas Reza.


Ruang itu sama besarnya dengan ruang tidur utama.


Hanya didominasi oleh meja, kursi, lemari dan beberapa kabinet. Ada tempat tidur berikut kamar mandi yang lebih kecil, di ruang terpisah.


Mungkin banyak urusan perusahaan yang perlu mereka selesaikan.


Aku menuju kamar utama, mengaplikasikan produk perawatan tubuh yang tersedia.


Biar kulit kusam selama 21 tahun hidupku ini segera rontok dan aku bisa tampil menawan layaknya Charlote.


Aku teringat pada produk Skincare klinik saffron kemarin.


Dokter Arin dan dokter sinta memberikan penjelasan panjang lebar teknis pemakaiannya.


Aku belajar menggunakan skincare dalam beberapa botol berurutan.


Ternyata skincare itu banyak ya.


Aku dulu hanya tahu pembersih wajah saja.


Aku tersadar kecantikan itu memerlukan perawatan juga ya.


Demi mas Reza aku akan merawat diri.


Nah sudah selesai.


terakhir menggunakan masker mata agar lebih segar dan menghapus mata pandaku.


Kumatikan lampu kamar tidur berganti lampu temaram aku pun membaringkan badan di tempat tidur.


Aku merasa sepi di kamar seluas ini.


Mas Reza,


aku mencari cari aroma tubuh mas reza di bantalnya.


Ah ketemu, kuciumi dan kupeluk bantalnya. Dengan begitu aku baru dapat tertidur.


***


Aku tidak tahu, kapan mas Reza masuk ke kamarku.


Di subuh hari.


Yang aku tahu, dia sudah tertidur lelap di sampingku.


Setelah menyelesaikan aktivitas pagi aku bersiap hendak memasak.


'Apakah sekretaris Deni menginap di sini ?'

__ADS_1


Batinku.


Aku harus membuat paling tidak lima porsi.


Aku membuka pintu dan menuju dapur.


Ketika kulihat..


ada tiga perempuan berpakaian maid di ruangan ini.


" Selamat pagi nyonya muda " kata mereka.


" Saya Puri, Dia Deri dan itu Sari " kata Puri


Aku tertegun sejak kapan.


" Kami datang tadi malam dengan tuan Deni, nyonya" jelasnya.


"Kami bertiga akan mengurus keperluan nyonya dan tuan di dalam rumah.


Kemudian ada marno, tarto dan parto yang mengurus bagian luar rumah" lanjutnya.


"Nyonya silahkan istirahat kembali " kata Puri dan Deri.


Sari sepertinya bertugas di dapur.


Eh...


Apa ini..


Aku kan bisa masak juga.


Karena dapur pun sudah ada yang mengurusi akhirnya mau tidak mau aku ngeloyor kembali ke kamar.


Aku melihat suamiku yang masih menikmati tidurnya.


Hmmmff.


Ku cubit lengannya.


" mas kok banyak orang di rumah sih, Yanti jadi nganggur nihh "


"Emmm." Gumamnya


Ih gemes, ku goyang goyangkan tubuhnya.


" mas.."


Perlahan matanya terbuka.


" Apa ? Hmmm...


kamu horny ya? " Katanya serak.


Ihh dasar laki laki. Pikirannya kesitu mulu.


" itu... Banyak orang... Yanti kan jadi nganggur " kataku manyun.


Mas Reza terbangun dan menggeliat, kemudian ke kamar mandi tanpa melihatku.


Ah orang ini.


Sejurus kemudian dia keluar dan sudah tampak lebih segar.


" Menganggur ya, kalo begitu sini mas beri pekerjaan utama" katanya sambil memberi kode mendekat dengan tangannya.


Aku masih manyun namun mau tidak mau mendekatinya.


" Pekerjaan apa, semua sudah di... Hummpp"


Dia ******* bibirku dalam ciuman dalam, dan baru melepaskan ketika aku sudah hampir kehabisan napas.


Hah hah hah.


Aku terengah . Wajahku pasti sudah semerah tomat.


Mas Reza masih memelukku, aku berontak protes dengan apa yang dilakukan.


"Jangan bergerak...


kamu memprovokasiku" desahnya seksi.


Ups!


Yah aku tidak menyadari sejak kapan benda keras itu menekan nekan perutku.


Degh, seketika aku terdiam tak bergerak.


" Yanti...


Kamu tahu...


Pekerjaan utama seorang istri


Adalah melayani...


Suaminya..."


Dia memboyongku ke tempat tidur.


Tiba tiba saja tubuhku sudah berada di bawahnya.


" tapi ada... Ada orang lain " kataku malu.


" Ruang ini kedap suara Yan, mereka ngga akan dengar...


tapi...


kalo kamu khawatir dengan suaramu....


kamu bisa angkat bajumu dan gigit dengan mulutmu...


He he... He...


Biar mas mengerjakan yang lainnyaa.. "


Ya Tuhan, seringainya menakutkan.

__ADS_1


Aku masuk ke kandang srigala buas...


***


__ADS_2