Mengandung Anak CEO Arogan

Mengandung Anak CEO Arogan
Bab 11 Untung Bukan Aku


__ADS_3

"Kak!" Panggilan itu menyentak Ameera dan Finn beralih pandang. Ada Doni dan dua teman sekolah Sami datang menjenguk.


"Alhamdulillah ada kamu, Don." Kebetulan yang tepat karena Ameera butuh orang menggantikannya menjaga Sami.


"Ruang Tulip bener kamar Sami kan, Kak?"


"Iya. Ayo kakak antar. Kamu baik-baik aja? Nggak ada yang sakit?"


"Gak sih, Kak, lecet ini mah kecil." Doni cuma lecet karena jatuh pas lari. Jauh lebih baik dari keadaan Sami yang terseret.


Mereka kembali ke ruang rawat, sementara Finn menunggu di luar tampak menghubungi seseorang. Ameera memintanya menunggu sebentar karena mau ikut pulang.


"Mas, ke depan masih jauh, apa saya pinjam kursi roda aja?" Beberapa saat setelah pamit pada Sami, Ameera menjajari langkah Finn menuju koridor keluar. Ia tidak tega melihat wajah Finn pucat, dan berkeringat dingin tapi memaksakan diri jalan cepat.


"Ck! Kamu pikir aku lemah!" Reaksi pria itu amat ketus dan dingin.


'Nggak, Mas. Takut aja Mas pingsan sebelum kita sampai parkiran, kan nggak lucu,' jawab Ameera cuma dalam hati.


Sopir gegas menyiapkan mobil begitu melihat mereka berdua.


"Mereka sudah ditangkap. Tas dan laptop adikmu aman." Finn perlihatkan gambar di layar ponselnya saat mobil sudah melaju.


"Hah?" Mata Ameera membulat. "I-ini para pelaku begal itu, Mas?"


"Ya."


"Alhamdulillah. Baguslah mereka sudah ketangkap!" Napas Ameera terlepas lega melihat foto delapan pria muda, kurus-kurus dan bertato tengah berjongkok tanpa baju di depan petugas kepolisian.


"Eh, tapi gimana Mas bisa tau? Saya kan belum cerita kejadian yang nimpa Sami."


Finn berdecak, menarik ponsel, dan mematikan layar. Ameera lupa ataukah tidak tahu, kalau ada uang dan relasi bisa melakukan apa saja secepat angin badai sekalipun. Tanpa ia harus repot turun tangan.


***


"Kamu harus periksa malam ini juga." Sesampai di apartemen Finn berkata demikian.


"Periksa?"


Finn memejam membuang kesal. "Periksa kehamilan." Rupanya Finn mau memastikan benar atau tidak ucapan ibu tadi.


"Ohh, iya Mas." Reaksi Ameera tampak tenang-tenang saja, seolah itu tak berpengaruh mau hamil atau tidak. Sementara perasaan Finn sedikit gelisah, penuh tanya, benarkah ia sedang ngidam?


Sejak beberapa hari lalu perasaannya memang kurang enak. Rindu cepat pulang, dan terkadang merasa sangat ingin mencium wangi rambut Ameera. Walaupun semua itu berhasil ia lawan dengan menghindari rumah.


"Mas baring aja, biar sepatu sama kaus kakinya biar saya lepasin." Finn menurut saja tanpa kata, mendudukkan diri di kasur, dan dibantu istrinya berbaring. Tadi saat menunggu Ameera mengantarkan Doni, pria itu sudah menelan obat mual yang diberi dokter, sekarang hanya tersisa rasa lemas.


"Bangunkan aku satu jam lagi."


"Mas, mungkin lebih baik besok saya periksa sendiri dulu, baru putuskan ke dokter kalau positif."


"Tidak. Untuk memastikannya kamu harus ke dokter." Finn bicara dengan mata sudah terpejam, satu tangan bertumpu di kening hingga Ameera tanpa sengaja jadi fokus pada bibirnya.


Bibir segar kemerahan yang tampak lembut. Selain mata dan hidung, itu salah satu bagian tubuh paling menarik dari seorang Finn. Bagian yang pernah membuat banyak jejak di tubuhnya.


Aih! Ameera mengetuk kening, membuang ingatan tentang itu.

__ADS_1


"Apa yang kau lihat? Sana!"


"Oh, i-iya, Mas." Ameera buru-buru keluar sambil meringis. Ia merasa seperti baru tertangkap basah mengintip orang mandi. Malunya sama berat.


***


Hening menyelimuti mobil Finn selama perjalanan menuju klinik. Ia dan Ameera larut dalam pikiran masing-masing.


Meski mual masih mendera saat masuk kamar mandi, Finn menguatkan diri ingin segera tahu hasil tes kehamilan Ameera.


Finn tipe orang yang teguh memegang kata-kata. Kesepakatan tetaplah kesepakatan, ia pantang menarik keputusan yang dengan tegas sudah dibuatnya.


Tetap sendiri hingga akhir. Tanpa status sebagai suami. Tanpa perempuan yang disebut sebagai istrinya, walau... pasti masih akan ada kekasih di sisi.


Cinta tak harus diikat dalam pernikahan, begitu yang ia inginkan. Finn mau menjadi manusia bebas tanpa ada satu ikatan sakral yang membatasi. Ia mau menghabiskan masa dengan berbagai hal menyenangkan. Sendiri. Tanpa banyak larangan.


"Hallo, Honey-"


"Nanti kutelepon balik." Sedetik menerima telepon Laura langsung Finn matikan. Ia terpaksa angkat setelah panggilan kelima kali tanpa henti, sedikit mengganggu konsentrasinya menyetir.


Dan, ya, selain tak ingin terikat, Finn juga tak yakin ada perempuan yang cocok menjadi teman hidupnya hingga tua, seperti Laura barusan, sosok yang ia nilai hanya cocok dijadikan kekasih saja.


"Hei, Finn, Ameera." Sampai di ruang klinik bersalin, mereka disambut seorang perempuan berjas putih, usia sekitar 45 tahunan.


"Apa kabar, Sayang?" Dokter Vany memeluk dan mengusap punggung pasangan itu bergantian.


"Alhamdulillah baik, Tante," sahut Ameera. Ia bertemu dokter ini beberapa hari sebelum resepsi. Diperkenalkan Jayna sebagai adik sepupu.


"Tante sehat kan?"


Ameera tak tahu kalau Finn sudah pesan via telepon, mungkin saat di rumah sakit tadi. Pantas mereka langsung masuk ruang serba putih ini tanpa antre.


Finn menarik kursi untuk duduk Ameera, sebelum ia juga duduk di sebelahnya. Terlihat manis, seolah mereka pasangan romantis sungguhan.


"Ameera ada keluhan?" Dokter Vany mulai memeriksa.


"Nggak ada, Tante, cuma kadang merasa agak kembung sama sering buang air kecil aja."


"Ke sini mau tes, Tan, apakah istriku sudah isi atau belum."


"Ah, kamu buru-buru amat, Finn. Belum juga bulan madu. Opamu itu lho ribut reward honeymoon darinya kalian tolak terus."


"Kita tidak butuh honeymoon jauh, Tante. Berdua di apartemen saja sudah pasti jadi." Finn tidak mau kemampuannya memproduksi anak diragukan.


Dokter Vany tersenyum lebar melihat pipi Ameera merona. "Tante yakin kok Finn tokcer."


"Ini lihat, alhamdulillah sudah ada malaikat kecilnya nih." Dokter Vany menjelaskan apa yang tergambar di layar USG. Mengenai perkembangan terkini janin, dan perkiraan usia kehamilan Ameera.


***


"Kesepakatan kita berlanjut sampai bayi itu lahir. Jaga dia baik-baik. Aku mau keturunanku ini berkualitas!"


Ameera mengangguk kecil, kembali menatap lurus ke depan. Ia sedang tak bisa banyak bicara saat ini. Tengah sulit mengartikan perasaannya sendiri. Bahagia ataukah sedih.


Padahal sebelumnya Ameera sudah persiapkan diri akan menerima apapun yang ditakdirkan Tuhan. Namun, siapa yang tidak nyeri hati mendengar kalimat lelaki berstatus suami akan tetap menceraikannya setelah bayi mereka lahir, bahkan di saat baru tahu dirinya mengandung seperti sekarang. Miris. Tapi ia tersadar lagi kalau pernikahan ini bukanlah pernikahan sungguhan. Ameera tidak boleh berharap banyak atau setitik pun.

__ADS_1


Ia menoleh dengan tatapan tanya pada Finn yang berhenti di depan swalayan.


"Turun. Beli susu hamil termahal di dalam." Pria itu juga menyodorkan sebuah kartu debit, eh, bukan. Itu kartu warna hitam menyerupai ATM, bertuliskan American Express. Finn berikan Ameera black card?!


"Ini tanpa limit. Kamu bisa pakai belanja apa saja yang terbaik untuk calon bayi kita."


Bibir Ameera ternganga, sampai Finn mengambil tangannya untuk menerima kartu itu dan puluhan lembar merah dari dompetnya. "Belanja di dalam pakai tunai saja."


***


Jam 8 pagi Ameera berangkat kerja setelah dijemput sopir yang dipilih sang suami. Ia tak diperbolehkan kurang tidur atau kelelahan, jadi sejak semalam segala aturan Finn tetapkan untuknya tanpa boleh dilanggar.


"Kalau cukup tidur, makan makanan bergizi, dan nggak kelelahan insyaallah saya bisa lakukan, Mas, tapi kalau dilarang semua saya bisa stress." Begitu alasan Ameera hingga akhirnya diijinkan masih bekerja shift pagi, dan masih bebas ke mana pun asal tidak kelelahan.


"Sudah makan banyak? Sudah minum obatnya? Hm, bagus. Biar cepat sembuh ya harus semangat. Maaf ya kakak belum sempat ke situ." Ameera belum sempat ke rumah sakit, ini hanya bicara via telepon di perjalanan ke restoran. Semalam Finn melarangnya keluar apartemen sama sekali.


"Kak Am memang lebih mentingin kerjaan sih."


"Nggak, Sam, kakak udah janji masuk hari ini. Kemarin kan kakak sudah bolos."


"Hu uh. Betewe selamat ya kak Am hamil. Aku ikut senang. Dia bener kak Am ga boleh capek, tapi kenapa kak Am tetap aja kerja?"


Dua alis Ameera terangkat. Kok, Sami tahu? "K-kamu ada ngobrol sama Mas Finn, Sam? Di mana?" Ia terdorong penasaran.


"Pagi-pagi dia ke sini. Tapi kayak kemarin nahan muntah lagi pas masuk. Untung bawa inhaler."


"Ya ampun, sudah tau nggak kuat cium bau rumah sakit malah datang. Mas Finn ngomong apa aja?"


"Gitu deh." Sami terdengar puas membuat Ameera penasaran. Memang tumben hubungan Sami baik dengan Finn, setelah ia tak setuju Ameera dapat suami seperti lelaki sulit senyum itu.


"Kak Am, aku minta kakak berhenti kerja boleh kan? Kakak langsung minta resign hari ini. Kalo ga, habis keluar dari rumah sakit aku kerja aja, ga usah sekolah lagi!"


"Duh, berani main ancam sekarang, ya, siapa yang ngajarin?"


"Bukan siapa-siapa. Aku ga bisa nahan lagi lihat kak Am terus-terusan kerja. Sedang aku cuma bisa habisin uang kak Am."


"Ya ampun, Sam, kamu tau jadi waitress buat aku bukan pekerjaan baru. Juga bukan cuma pekerjaan, tapi ada kesenangan aku mengerjakannya. Kenapa ngomong gitu sih? Kakak ga suka dengarnya."


"Kak Am akan lebih senang dunia akhirat kalau jadi waitress pribadi suami, di rumah. Pahalanya buesarr!"


Ohh... Ameera mengangguk-angguk meski Sami tak melihat. Sepertinya ia mulai paham kalau kata-kata itu bukan murni dari pemikiran Sami. Apalagi setelah panggilan berakhir, tepat saat mobil sampai di depan restoran, ada pesan masuk dari kontak baru.


[Simpan nomor ayah bayimu.] Bibirnya tersenyum mendapati pesan itu. Memang sampai sekarang ia belum punya kontak Finn.


Belum sempat save, nomor kontak itu memanggil.


"Assalamualaikum-"


"Menyebalkan sekali! Dia buat lidah ini mau rujak buah buatanmu. Cepat kamu buatkan. Aku mau tersedia paling lambat nanti siang. Apapun caranya!" Cuma itu, dan panggilan diakhiri begitu saja.


Hah?!


Sedetik ternganga Ameera menatap layar ponselnya, lantas tidak bisa lagi menahan senyum lebar.


Ya ampun, kok, bisa ya Mas Finn ngidamnya lucu banget. Hee, untung bukan aku!

__ADS_1


...Makasih dukungannya teman-teman. Mengarang cerita itu gak mudah, tapi semoga aku bisa terus lanjutkan cerita ini sampai tamat....


__ADS_2