Mengandung Anak CEO Arogan

Mengandung Anak CEO Arogan
Bab 34 Aku Mencintaimu


__ADS_3

Sesekali jatuh tersungkur tak apa, keadaan itu baik untuk melihat siapa yang setia mau membantu kita bangkit, atau juga siapa yang malah menjauh.


"Kalo Mas mau, sementara pakai handphone saya dulu," tawar Ameera karena Finn mau hubungi Aldi tapi ponselnya masih dinonaktifkan.


Untung beberapa nomor penting di ponsel Finn sudah Ameera catat di note. Seperti mami dan Hazel, Finn mematikan seluruh alat komunikasi usai berita makin memanas, dan beberapa teror masuk menanyakan hal sama. Belum lagi teror kerabat, dan keluarga yang memihak Jonas setelah melihat keadaan sepupunya itu memang sangat meresahkan.


"Nanti Andaru antar handphone dengan SIM card baru. Nomor lama kita istirahatkan semua sementara."


"Ya, Mas, berarti nggak usah saya nyalakan dulu ya ini?" Ameera mengangkat ponselnya yang juga diminta suami matikan.


"Iya. Aku tidak mau perasaanmu tambah resah." Meski ia katakan akan kuat, Finn tetap menjaga telinga dan kata Ameera dari pemberitaan di luar sana.


***


Finn turut akan diperiksa atas laporan balik pihak Jonas atas keke-rasan yang dilakukan. Ia terancam melanggar pasal 351 KUHP, melakukan keke-rasan dan pengani-ayaan hingga mengakibatkan korban luka-luka cukup berat. Ancaman pidana lumayan, penjara paling lama lima tahun.


Meski mendukung suami untuk tetap tenang, dan menjalani mengalir saja apa yang akan terjadi ke depan, Ameera sebenarnya berusaha menetralkan diri sendiri. Ia sesali Finn sulit kendalikan emosi hingga menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.


Apapun alasan, Finn tetap turut salah. Luka-luka Jonas, dan darahnya di ponsel remuk milik Laura menjadi buktinya.


Sambil mengusap perut Ameera teringat Sami. Ia harap adiknya itu bisa menjaga diri dan baik-baik saja. Sudah seharian ini mereka tak kontak. Terakhir kemarin, saat Sami bilang ada wartawan mendatanginya ke rumah.


Masalah rumit, pelik, dan tidak akan selesai dalam waktu sebentar jika masing-masing keluarga sama keras. Ribut berniat saling memenjarakan.


***


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Hazel dengan nada dingin.


Ameera ada di kamar Jayna, usai tadi diberitahu pelayan kalau sang mertua mengeluhkan kedinginan dan mulai flu. Ia tadi minta pelayan dapur buatkan wedang jahe sereh lemon. Ia ingat dulu guru ngajinya kalau sakit jarang minum obat, selain dengan dedaunan dan akar-akaran, juga jamu tradisional dari aneka bumbu dapur itu sebagai obatnya.


Ternyata memang cukup ampuh membantu. Jayna saja merasa jauh lebih nyaman setelah menghabiskan segelas tadi.


"Mami tadi nggak enak badan, Zel. Sekarang sudah terasa nyaman berkat Ameera...," sahut Jayna masih memejamkan mata. Ia baru akan tidur saat Hazel masuk. Tak lupa katakan juga kalau Ameera begitu perhatian sampai mau memijat kakinya.


"Gak heran. Kan cocoknya dia memang melayani orang, Mam." Nada suara Hazel menyindir.


"Kamu itu ngomongnya."


"Ha-chim! Ewh!" Hidung mancung Hazel mengalirkan air. Ameera segera sodorkan tissue untuknya.


"Aku ke sini mau minta obat Mami. Kepalaku berat. Mungkin efek semalem susah tidur."


"Mau coba wedang jahe nggak, Zel? Masih ada sisa Mami, tadi aku minta dibuatkan seteko," tawar Ameera membuat Hazel menjepit mulut masam.


"Jamu? Ish! itu minuman cuman buat orang kampung yang ga percaya medis!"


"Jangan salah, Zel. Jamu istimewa lho. Pertama kali dibuat dan diminum dulu cuma di kalangan istana, orang berdarah biru, baru diperkenalkan ke orang-orang biasa oleh para tabib. Khasiatnya banyak. Jamu juga udah masuk Daftar Warisan Budaya Tak Benda UNESCO," jelas Ameera cepat. Ia mau Hazel belajar menghargai sesuatu yang terlihat remeh dan murah.

__ADS_1


"Harus kamu akui, Dear, kakak iparmu nggak kalah pintar."


"Yeah! Kebetulan aja tau, Mam. Aku yakin sih, sekolahnya pasti cuman sampe SMP ato SMA."


"Sana. Mami mau istirahat malah kamu bikin ribut. Hargai kakak iparmu. Kayak gitu malah kamu yang kelihatan nggak sekolah," gerutu Jayna mengibas tangan mengusir putrinya keluar.


Hazel tetap ngeloyor masuk, menuju kotak obat. Tapi malah makin ngomel karena tidak temukan obat seperti yang ia mau. Gadis ber-setelan piyama lengan panjang bahan sutra itu pun keluar kamar.


Ameera juga keluar usai menyilakan mami mertua untuk tidur. "Mami telpon saya kalau butuh apa-apa," pesannya.


"Ya. Mami akan coba tidur lagi. Berharap cepat segar untuk lihat keadaan Finn di sana."


Ponsel yang dibelikan lewat Aldi hari itu ada 5, setiap anggota keluarga pegang satu dengan kartu baru. Hanya untuk komunikasi pada beberapa orang penting saja. Benda tipis berlogo apel tergigit milik Jayna, Ameera taruh di meja kecil sisi tempat tidur, agar mudah digapai nanti.


"Mbok, tolong bawakan segelas wedang jahe tadi ke kamar Hazel ya. Yang agak panas."


"Baik, Non."


Ameera harap Hazel mau coba minum dan merasakan khasiatnya ramuan tradisional itu. Syukur-syukur kalau suka, biar tak menghina lagi jamu cuma untuk orang kampung.


Meski berperut besar dan sulit bergerak gesit, tak halangan bagi Ameera mendampingi suami dan keluarga Cullen yang masih dalam keadaan tertekan karena Finn resmi ditahan siang kemarin.


Proses hukum memang mungkin bisa dibeli dengan uang, apalagi jika berjumlah fantastis. Namun Richie, Jayna juga Eddie tidak mau melakukannya. Mereka juga mengancam Finn tak berbuat bodoh lagi, yang bisa saja memperberat hukumannya.


Biarkan Finn, Jonas, Laura maupun beberapa orang yang terlibat mengambil pelajaran besar dari kejadian ini.


***


"Tolong, Pak, saya harus mendampingi istri saya."


Pengacara menjamin Finn akan kembali setelah urusan dengan istrinya selesai. Maka izin yang tadinya dipersulit diberikan juga.


Semua tahu di balik ini ada tim pengacara Laura dan tim pengacara Jonas berkomplot memenjarakan Finn jika klien mereka sampai terkurung di jeruji besi akibat laporan Finn sebelumnya.


Jonas dilaporkan atas perbuatan tidak menyenangkan, dan ikut serta mengancam nyawa Ameera. Sementara Laura jauh lebih parah, karena selain dilaporkan sebagai otak dari awal kasus ini, artis itu juga terbukti pelaku penyebar foto bu-g*l mereka di media sosial.


Saat ini hanya Finn dan Laura yang ditahan, karena Jonas masih masa pemulihan usai operasi.


***


Sesampai di klinik, langkah kaki Finn panjang langsung menuju arah yang ditunjuk Andaru.


Ada Asti dan satu pelayan segera berdiri menyambutnya.


Sebelum menemui istrinya Finn diminta Vany membersihkan diri dan berganti pakaian dulu.


Saat masuk ke dalam ruangan, matanya langsung tertuju pada Ameera yang sudah terbaring di ranjang. Infus menancap di tangan kiri. Kata dokter Vany istrinya sudah pembukaan 7, tak akan lama lagi melahirkan.

__ADS_1


"Mas...." Bola mata bening Ameera langsung berkabut melihat penampilan suami dalam jarak dekat. Meski kulit masih bersih, tapi tetap saja Finn tampak kusut dan tak terurus.


Secepat itu perubahan setelah seminggu lebih mereka tak bertemu.


Finn memeluk kepala dan mencium pipinya. "Apa kabarmu, Sayang?" tanyanya dengan suara bergetar. "Maaf... maafkan kebodohanku sampai jauh lagi darimu...."


"Nggak apa, Mas... sekarang kita harus bahagia. Sebentar lagi baby lahir. Saya senang banget Mas ada di sini."


"Kamu tidak ditemani Mami?" Ada rasa bersalah melihat Ameera hanya ditemani Sami yang berdiri kaku di sisi kiri ranjang, menatapnya.


"Tadi dihubungi pengacara Jonas, katanya Tante Janica dan Om Pedro mau ketemu Mami Papi... mereka pergi dari dua jam tadi." Kadang kalimat Ameera terhenti untuk mengatur napas saat rasa sakit datang. Nyeri yang mulai sering dan dalam durasi agak lama.


"Sayang..., kalau kamu kesakitan, pakai jalan operasi saja."


"Nggak, Mas... saya maunya normal...." Finn turut menahan napas melihat Ameera lama-lama makin kesakitan. Tangannya tak lepas menggenggam jemari sang istri, sesekali mengecup pelipis dan membisikkan kata 'kamu kuat, Sayang. Kamu hebat'.


Sami menyentuh pundak Finn saat Ameera akan dipindahkan ke ruang bersalin. Tanpa kata, tapi matanya mengisyaratkan 'tolong semangati kakakku bertahan'.


Pemuda ini juga takut melihat keadaan keluarga tercinta satu-satunya yang seperti kesusahan bernapas.


Sami takut kehilangan, karena itu ia sampai kesulitan mengucapkan apapun saat ini.


Tak sampai dua jam pembukaan semakin cepat, dan perut Ameera semakin sakit hingga tak bisa bicara lagi selain mengatur napas. Tak lama usai pecah ketuban, jalan lahir sudah pembukaan 10, bayi mereka siap dilahirkan


Finn berdiri di sisi kepala sang istri yang sudah berposisi setengah duduk dengan dua kaki ditekuk dan dibuka lebar di atas bed partus. Ia mendoakan dan menyemangati Ameera.


"Aaagg!" Beberapa kali mengejan Ameera tampak mulai kewalahan. Menurut dokter Vany bayi mereka memang agak besar.


Finn turut berkeringat dingin, dalam keadaan tegang ia mengusap bulir keringat di wajah Ameera dengan tisu. Jarinya dingin dan agak menggetar. Bahkan setiap Ameera mengejan ia refleks ikut menahan napas.


'Beginikah sakitnya mengeluarkan anak?' benaknya sangat tak tega.


Nikmat memproduksi anak yang pernah jadi candunya malah membuat Finn merasa bersalah. Setelah ini ia akan belajar menahan diri, memberi jarak, dan pasti minta Ameera pakai kontrasepsi.


Proses mengejan cukup lama, hingga akhirnya tangisan keras bayi yang baru keluar seakan memecahkan ketegangan Finn menjadi haru luar biasa.


Pria ini mendadak terisak, untuk pertama kali dalam hidup melihat bayi merah dengan tali pusar panjang dibaringkan di dada Ameera. Beberapa lama bayi itu belajar, hingga berhasil mendapatkan papilla sang mama, lalu mulai menyesap ASI yang memang sudah keluar berupa cairan bening kekuningan pekat.


Tubuh bayi itu sempurna, tampak berisi, berambut tebal, dan berwajah tampan. Sosok manusia baru yang benar-benar menggetarkan hati Finn dan Ameera.


"Terima kasih, Sayang. Kamu hebat. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu... dan anak kita...," ucap Finn yakin di dekat telinga sang istri.


Keduanya bertatap-tatapan dengan mata berkaca-kaca, tapi juga berbinar bahagia.


Bersambung....


...**Maafkan atas kekurangannya ya teman-teman, saya masih berusaha belajar....

__ADS_1


...🙏❤️**...


__ADS_2