
*Dia... blokir seorang Ghazi Finn Cullen? Hahaa, berani sekali*!
Sementara ia sendiri tak bermaksud begitu awalnya. Cuma menghapus nomor Ameera agar bisa lupa dan tak tergoda menghubungi, lalu, saat kontak bergambar profil perempuan itu ada masuk beberapa hari kemudian, ia reject, dan spontan saja mengubah setting pengaturan ponsel, dengan menolak semua panggilan dari nomor tidak dikenal. Itu saja. Finn tak merasa berniat memblokir.
Bibirnya menarik senyum tipis sambil menekan-nekan kening. "Lucu juga. Ada apa ini?" Finn mau menghapus bayangan Ameera tapi malah kembali terjebak begini.
Ia bergegas keluar ruangan, mendekati kubikel Ardi. "Di, kamu batalkan janji dengan Pak Hartono nanti malam. Saya kurang sehat."
"Baik, Pak. Lalu bagaimana dengan Tim Pak Jonas nanti sore, Pak?"
"Itu biar urusan saya."
"Baik, Pak Finn. Semoga Bapak lekas sembuh."
Finn yang menekan kening dikira sakit kepala. Ardi dengan penuh perhatian mengantarkannya sampai lobi lantai dasar.
"Silakan, Pak." Ia sempat-sempatnya bilang pada Andaru untuk berhati-hati membawa sang bos.
Ardi menggantikan sementara beberapa tugas Aldi. Ia jalani dengan penuh semangat juga penuh harap, siapa tahu diangkat jadi aspri kedua si bos. Bos tampan, dingin nan arogan, tapi kalau muncul sifat baiknya sungguh tak kira-kira. Ardi sangat ngiri, si kembar nama alias Aldi dapat uang saku dollar senilai 40 juta. Whuaww, siapa yang tidak tergiur, coba?
\*\*\*
"Berhenti di depan, Ru!" Finn melihat pada toko bunga di kiri jalan. Ini masih jam 8 pagi, sang pemilik sepertinya baru datang, dan mulai membuka rolling door.
Finn lekas turun, tanpa sempat Andaru mencapai pintu penumpang. Sopir muda bertubuh tinggi kurus itu menyimpan tanya, ada apa dengan bos sepagi ini?
"Beli bunga, Bu," sahut Finn saat ditanya sang wanita berparas cantik walau tak lagi muda.
Hm, Andaru yang mengikuti belakang Finn menahan senyum, hatinya langsung bisa menebak pertanyaannya sendiri barusan.
"Maaf ini belum ditata, Pak, tapi silakan masuk dulu lihat-lihat."
"Ya." Finn dan Andaru membantu dorong daun pintu rolling door yang agak macet.
"Terima kasih, Pak," ucap si penjual merasa sangat terbantu.
"Ibu sendiri buka toko ini tiap pagi?"
"Iya, Pak, kalau bukan saya siapa lagi." Wanita itu bersuara lemah lembut.
Dengan pandangan mata Finn memberi perintah pada sopirnya. "Tukang las atau apa," lanjutnya memperjelas.
Andaru segera tahu. Kontak ponselnya hampir sama lengkap dengan Aldi, menyimpan aneka ahli tukang sampai mata-mata bayaran. Karena si bos ini bisa tak terduga maunya. Tergantung kondisi hati.
Setelah membayar buket bunga ukuran sekursi penumpang, tukang renovasi pintu datang, Finn langsung membayar dimuka dengan catatan pekerjaan mereka sampai beres.
"Siap, Pak, Finn, pasti hasilnya memuaskan." Mereka dibayar tiga kali lipat dari harga normal, dan akan sayang jika tidak dipercaya Finn Cullen lagi.
"Terima kasih banyak atas kebaikannya. Istri bapak sangat beruntung punya suami sebaik Bapak," puji si ibu penjual bunga dengan mata berbinar haru.
Finn tersenyum kecil saat kembali ke mobil.
"Langsung pulang, Pak?"
__ADS_1
"Ya," jawabnya datar.
*Merasa beruntung kah Ameera menjadi istriku? Ah, istri sementaraku*.
\*\*\*
Ameera masih harus di rumah setelah ada flek kemarin. Ia seharusnya bed rest seperti saran dokter, tapi baring terus juga agak bosan. Tadi Sami telepon sebelum masuk pelajaran pertama. Memintanya istirahat di rumah saja kalau tak betah di sini.
Ameera tidak bisa meninggalkan rumah keluarga suami sebelum resmi berpisah, ia sangat menghargai opa, mami, dan papi mertua, meski orang-orang itu sibuk sendiri dan sangat jarang berkumpul.
"Meoow..."
"Tamtam?" Ia segera mengambil kucing gemuk yang masuk dari pintu dapur.
"Ayo di luar. Tamtam tinggalnya di luar ya. Kasian ada yang alergi. Kalau kita sudah pindah baru boleh serumah."
"Ha-ha-chiimm!" Ameera terkejut ada suara bersin Finn di rumah. Ini kan masih pagi, harusnya pria itu di kantor.
"Sini, Non, saya saja." Seorang pelayan setengah baya mengambil alih Tamtam.
"Makasih, Mbok."
"Baju Non kena bulunya, saya bantu buang pakai vacum kecil, ya, kasian nanti Tuan muda bersin-bersin terus." Suara bersin Finn masih terdengar di dalam.
"Saya sendiri bisa kok Mbok, sekalian ganti baju."
\*\*\*
Wangi bunga menyerbak begitu ia mendekati sofa, ternyata berasal dari buket mawar besar di meja, dekat tempat tidurnya.
Ia hanya tertegun sejenak, tanpa menoleh pada lelaki yang juga sudah berganti pakaian rumah. Tak juga bertanya kenapa sepagi ini Finn pulang.
Ameera mengambil headset, pengganti earphone yang dirasa kurang nyaman lama di telinga. Ia bersiap istirahat. Terlalu banyak jalan bawah perutnya terasa agak tertekan dan sedikit nyeri.
Aroma maskulin tapi lembut terasa masuk hidung, ia yang sudah menutup mata jadi agak terganggu.
Terasa ada pergerakan, pasti lelaki itu duduk di tepi sofa atau mungkin berbaring di sebelahnya. Ameera coba tetap fokus pada musik menenangkan yang menyumpal pendengaran.
"Eh!" Ia sontak buka mata merasa sebelah headset terangkat.
"Aku mau bicara," ucap Finn memang sudah baring di sebelahnya.
Ameera mengalah, ia melepas headset setelah mematikan musik klasik di ponsel.
"Ngomong aja."
Hah, dingin sekali. Hati Finn diam-diam ngilu.
"Maaf."
Ameera diam, menatap langit-langit.
__ADS_1
"Maaf kalau... aku ada salah." Suara Finn tercekat.
'kalau ada salah?' artinya dia nggak tau dirinya salah. Hati Ameera menggerutu.
Ia tidak tahu, kalau kata maaf seperti kata keramat terucap dari mulut Finn. Untuk pertama kalinya Finn meminta maaf sungguhan pada perempuan.
"Ameera." Finn masih berebah miring, menatap wajahnya dari sisi. "Kau marah?"
Pertanyaan bodoh, dan memang Finn lagi merasa bodoh. Bodoh entah karena alasan apa. Ia sedang tak bisa memikirkan hal lain.
"Nggak ada yang perlu dimaafkan, dan nggak ada yang harus saya marahi, Mas."
Finn tidak percaya. Nyatanya Ameera tak menoleh sedikitpun padanya.
Beberapa saat hanya detik jam bergeser yang terdengar. Finn terus menatap wajah perempuan itu, dan Ameera juga terus menatap kosong pada langit-langit putih berukir coklat keemasan di atas.
Ameera seperti melihat ada wajah masam Naja. Wajah yang tak lagi semangat makan, juga... wajah yang membuang pandang saat coba ia goda. Naja sangat kecewa.
"Ameera... " Finn menjeda untuk mengungkapkan isi dalam dada. Ia tak terbiasa terbuka pada siapapun. "Maaf, aku sudah sengaja mengabaikan kabar adikmu."
Saat inilah setetes air mata Ameera jatuh.
"Bagaimana caraku menebusnya?"
Ameera menoleh ke sebelah lain, cepat mengusap sudut mata basah. Sekuatnya ia menggigit bibir menahan sesak.
Kembali ada gumpalan rasa bersalah, harusnya sejak awal tak memperlihatkan foto Finn pada Naja. Foto yang membuncah harapan Naja ingin bertemu langsung dengan iparnya itu.
"Kenapa... adikmu mengidolakanku? Padahal kami belum pernah bertemu." Finn belum peka.
Pejamkan mata kuat, Ameera berusaha mengendalikan emosi.
"Naja nggak ngidolain Mas... Naja cuma pernah lihat foto Mas dan mau ketemu...."
"Oh, begitu."
"Bisakah Mas jauh? Saya mau istirahat...," pinta Ameera sembari miring membelakanginya.
Finn tak menyahut, juga tak beranjak. Batinnya berkecamuk rasa bingung harus apa mengembalikan Ameera seperti awal. Ia lebih suka Ameera yang marah dibanding mendiamkannya.
Finn, tak pernah begitu terikat kuat dengan saudara sendiri, ia dan Hazel sudah dibentuk punya ruang privat kuat sejak ditakdirkan bersaudara. Jarak usia 7 tahun dengan adik membuat Finn terbiasa sendiri. Saat Hazel lahir langsung diurus pengasuhnya di area lantai dua. Sementara Finn menyukai lantai bawah ini, dan sibuk dengan dirinya sendiri.
Semakin besar, mereka secara alami tersekat, meski satu rumah tapi punya tempat sendiri-sendiri.
Diberi kamar super luas, apapun bisa dimasukkan di dalamnya sebagai hiburan yang tidak pernah membuat bosan, bahkan tidak keluar kamar berhari-hari pun tetap nyaman. Tanpa teman, tanpa bermain bersama teman seusia, kecuali saat di sekolah.
Tak ayal salah satu akan marah besar jika wilayah pribadinya diusik. Menyebabkan pertengkaran sengit.
Jika begitu, kedua orang tua menyerahkan penyelesaian pada mereka sendiri dan pengasuh, sebab bagi mami papi waktu adalah uang, tidak boleh terbuang hanya untuk hal sepele yang dilakukan anak-anak.
Karena semua itu, Finn jadi sulit mengerti rasa cinta Ameera untuk Naja. Sulit mengukur kedalaman rasa kehilangan Ameera atas kepergian sang adik.
__ADS_1
"Ameera..." Finn kembali membuka suara. "Bisakah kita berteman? Seperti kamu dengan si gondrong itu."
...Bab 23 sebentar lagi ya, belum selesai ngedit. semoga malam segera diupload. terima kasih.....