
Deru napas Finn sudah tidak beraturan. Peluh membasahi tubuh hingga kulit kepala, membuat rambut tebalnya tampak lembab. Meski begitu ia tak berhenti berlari.
Aldi meneguk ludah berkali-kali. Apa sebenarnya penyebab sang bos terlihat kacau malam ini. Tadi tiba-tiba mengetuk rumah, datang cuma untuk numpang olahraga. Sungguh aneh. Padahal di mansion, keluarga Finn punya ruang gym yang peralatannya super lengkap.
"Minum dulu, Pak," saran pria berkacamata ini, mengangsur segelas air mineral. Ia khawatir Finn kehabisan cairan, sebab sudah satu jam ini terus lari di treadmill-nya.
"Baiknya Bapak istirahat dulu." Aldi memandangi alat olahraga tersebut sedikit meringis. Berharap mesinnya tidak tiba-tiba hangus. Treadmill tua ini harusnya perlu jeda, 1 jam dipakai 30 menit harus istirahat.
Ohh, kalau rusak karena terlalu diforsir ia bisa tak selera makan tiga hari. Alat itu penuh kenangan, dibeli dua tahun lalu dan berhasil membantu menurunkan berat badannya demi mendapat cinta sang tunangan.
"Pak Finn... tolong berhentilah. Saya cemas lihat Bapak." Setelah dua kalimatnya tak digubris, Aldi coba memegang tangan berbulu yang sangat basah. Finn berhasil menoleh dengan arti tatapan 'apa?!'
"Sudah dulu, Pak!" tegurnya menaikkan sedikit volume suara. Siapa tahu keringat menyumbat saluran pendengaran pria itu.
Finn menekan tombol pause, kakinya makin memelan hingga berhenti.
Sejenak ia mengatur napas, dua tangan berototnya bertumpu pada pegangan treadmill.
"Minum!"
"Ini, Pak." Finn menyedot minum sampai kering.
"Mana sarung tinjumu?"
Aldi ternganga. "Sudah hampir tengah malam, Pak. Baiknya Bapak-"
"Aku tidak butuh nasehatmu, Al! Berikan!" Finn menekan tombol lagi untuk berjalan pada karpet yang bergerak santai.
'Ya Gusti... Pak Finn kumat lagi!'
Aldi lekas kembali memberikan sarung tinju miliknya. Bekas ia pernah gaya-gayaan latihan otot lengan, biar terlihat lebih jantan oleh Fathia, si tunangan yang akan dihalalkan dua bulan lagi.
Memakai sarung tinju, Finn pindah ke sisi ruangan. Di mana samsak merah tergantung. Dengan penuh tenaga ia melampiaskan emosi yang membakar hati. Emosi ini entah pada siapa.
"Pak Finn tolong sudah." Aldi coba menahan tubuh yang oleng.
Kepala Finn sudah berayun-ayun menempel pada samsak, sebelah tangan memeluk, sebelah lagi meninju-ninju tanpa tenaga. Racauannya tak jelas. Sungguh, siapapun melihat, ia seperti seorang pemabuk yang menjadi bodoh akibat tercemar alkohol.
"A-du-duhh...!!" Keduanya jatuh ke belakang. Aldi tertindih tubuh Finn yang jauh lebih berat.
"Antarkan aku pulang!" Finn menarik diri bangun, langsung jalan ke pintu keluar.
Aldi segera mengikuti bosnya yang terlihat amat kelelahan.
***
"Dia tidak pulang semalam?" Eddie bertanya pada Ameera yang duduk di depannya.
"Ya, Opa, mungkin Mas Finn balik ke apartemen, takut saya mual kalo dekat-dekat." Hanya mereka berdua di meja makan ini, selain dua pelayan yang siap melayani jika butuh sesuatu. Hazel tidak keluar dari kamarnya, sedangkan Daddy dan Mami Finn masih di luar negeri untuk urusan bisnis.
"Huh, tidak seharusnya begitu. Finn bisa tidur di kamar lain." Eddie minta pelayan mengambil handphone-nya segera. Ia belum mulai makan sebelum mengomeli cucu lelakinya yang sulit diatur.
__ADS_1
"Kenapa itu anak? Nomornya tidak aktif." Eddie mengulangi panggilan. Lalu kemudian menghubungi Aldi.
"Satu anak itu juga tidak menjawab!"
'Duh, gara-gara Mas Finn mood Opa jadi nggak baik pagi-pagi.'
"Opa, Opa tenang aja. Habis ini saya ke apartemen. Mungkin Mas Finn masih tidur."
"Sepertinya tidak, Nak. Pasti ada sesuatu. Opa tau dia. Tidur atau lagi rapat sekalipun telepon Finn tidak pernah off, paling-paling suaranya dimatikan...."
'Opa secemas itu pada cucunya yang jelas-jelas sudah tua.'
Sop kacang merah Ameera suap sedikit cepat. Segar, setelah tadi subuh ia ada sedikit mual. Ia menutup sendok dalam mangkuk yang nyaris mengering. "Saya selesai, Opa, ini mau cepat temui Mas Finn. Opa, silakan sarapan."
Eddie menatap haru. "Terima kasih, Cucu opa. Ya, opa lebih tenang kalau kamu mau memastikan apa yang dilakukan anak itu sampai tidak mengaktifkan ponselnya."
"Siap, Opa, segera saya laporkan nanti." Perempuan yang pipinya mulai berisi ini menyalim tangan Eddie sebelum meninggalkan meja makan.
"Ameera!"
"Ya, Opa?" Ia menahan langkah, berbalik dengan dua alis menaik.
"Hati Finn sebenarnya baik. Kamu hanya harus sabar." Bibir tipis berkeriput tersenyum lebar, mata tua itu mencoba meyakinkan kalau ucapannya serius.
***
Begitu masuk apartemen ruang depan sepi, Ameera mematikan lampu yang masih menyala.
Ia memegang handle pintu ragu. Kalau di dalam Finn ternyata bersama wanita lain ia harus siapkan diri agar tidak syok.
Ameera atur napas sesaat sebelum mendorong daun pintu pelan.
Ya ampun! Lelaki itu masih nyenyak di tempat tidur.
Ia segera masuk sambil menggeleng kepala. "Sudah siang, Mas. Mas nggak ke kantor?" katanya seraya menarik tali gorden agar ruangan ini mendapat cahaya dari luar.
"Handphone Mas nggak aktif ya, kasihan tuh Opa khawatir." Ameera pungut satu bantal yang jatuh di sisi kasur. Ia bicara seolah pria itu mendengar.
"Tumben ya bangun siang. Biasanya sudah buru-buru aja ke kantor." Kayaknya capek banget, habis ngapain aja semalam? Pertanyaan itu hanya Ameera sambung dalam hati.
"Mas. Mas Finn." Ia membangunkan tanpa menyentuh, hanya berdiri sekitar satu meter dari ranjang.
Sebentar! Dia hidup atau...?
Ameera menyipit perhatikan perut yang ternyata bergerak tenang. Alhamdulillah, takut aja kalau dia meninggoy, ntar aku malah dikira pelakunya lagi.
Ponsel Ameera berbunyi. Panggilan dari Opa Eddie.
"Assalamualaikum. Ya, Opa?"
"Waalaikumsalam. Aldi sudah terima telepon opa. Si Finn katanya olahraga semalam. Dia baru tidur pagi ini. Kalau belum sampai apartemen mending balik saja. Anak itu paling bangun nanti siang. Biarkan saja dulu."
__ADS_1
"Oh, iya, Opa."
"Ya, ya, kamu paham-paham saja. Dia itu kadang agak aneh kelakuannya." Kalimat opa diakhiri kekehan.
Usai menutup panggilan Ameera menatap pria itu lebih dekat. "Olahraga apa malam-malam, Mas?"
Ia jadi salah fokus pada bekas luka di garis rahang Finn, yang sedikit tertutupi bulu-bulu halus. Jaringan parut itu terlihat memanjang.
"Oo, Mas pernah luka juga rupanya. Pasti kalah berantem. Lemah! Saya kira Mas tahan banting dari orok." Ameera tersenyum kecut akan kalimatnya sendiri. Finn yang tidur seperti orang pingsan membuatnya merasa sedikit bebas bersuara.
"Makanya Mas jangan kasar-kasar jadi orang. Bersikap lembut sedikit napa?" Usai ngoceh sendiri Ameera menuju dapur. Ia merasa tenang pergi kalau ada yang dibuat untuk makan Finn saat bangun nanti.
Tanpa ia tahu di balik punggungnya ada sepasang mata biru mencelik.
***
"Mas, di panci ada sup udang sayur. Dimakan biar badannya segar." Ameera yang sudah kembali ke kamar usai menyelesaikan masak, menulis kalimat itu di buku memo kecil.
Ia taruh dalam posisi terbuka di sebelah tangan Finn. "Kurangi begadangnya, nggak baik buat kesehatan. Kasihan anak kita kalau cepat jadi yatim."
Astaga, kata-kata absurd Ameera membuat kesal seseorang yang tak benar-benar tidur itu.
Setelah Ameera pergi Finn cepat membuka mata. Ia meraih buku kecil tersebut, dan berdecak mendapati tulisan yang menurutnya sangat tidak rapi.
Alih-alih bangun ia malah kembali menutup mata, menelungkupkan memo itu di atas mulut. Hmm, menghirup aroma kertas ternyata menenangkan juga. Finn harap bisa tidur lagi setelah tadi terbangun dengar omelan perempuan cerewet.
Ck-klek!
Deg!
Suara gagang pintu membuat Finn sekejap menahan napas. Ada langkah kaki cepat bersamaan suara Ameera bilang ponselnya ketinggalan.
Finn terlanjur menahan napas, menunggu sebentar sambil berharap Ameera langsung keluar. Eh, tapi... ada suara kaki mendekat.
"Kok, bisa pindah ke muka? Perasaan tadi...."
Finn memaki hebat dalam hati. Ameera mengambil buku itu dari atas bibirnya.
"Masa bisa pindah sendiri?" Ameera tak juga pergi.
Gigi Finn semakin mengetat. Pipinya menggembung dan bibir merapat. Sudah tak tahan lagi membuang napas.
"Mas Finn kenapa?"
"FFYYYUUUHHHHH!!! KAU!!" Pertanyaan polos itu berhasil membuat Finn menyembur udara panjang dari mulut, sekaligus api kemurkaan.
"Aduhh!!" Ia tanpa pikir duduk cepat, tapi dahinya menubruk kening perempuan yang jongkok memerhatikan keanehan wajahnya barusan.
Astagaa... kesialan apalagi dengannya sepagi ini!
...Makasih atas kehadiran dan dukungan teman-teman semua. Sekecil apapun itu sangat berarti buatku....
__ADS_1