Mengandung Anak CEO Arogan

Mengandung Anak CEO Arogan
Bab 33 Inikah Cinta?


__ADS_3

Karena Finn terlihat lelah Ameera menyuruhnya mandi dulu, baru istirahat. Suaminya ternyata juga belum makan, hingga ia meminta pelayan dapur mengantarkan makanan ke kamar.



Semakin sang istri tenang Finn tak bisa lama menahan tekanan yang membuatnya didera rasa bersalah. Ia pun ceritakan apa yang terjadi padanya kemarin dan tadi pagi. Semuanya tanpa ada yang ia tutupi.



"Aku yakin tidak lakukan apa-apa padanya, Ameera. Aku cuma merasa sangat ngantuk. Di kamar itu rasanya langsung tidur. Bangun-bangun sudah...." Finn terputus melanjutkan.



Ia merasa kotor. Entah sudah diapakan saja tubuhnya sama Laura selama ia tak sadar itu.



"Walau takut. Aku siap apapun keputusanmu, Ameera," ungkap Finn di akhir pengakuan.



Ameera hanya bisa menghela napas berat, sembari membalas genggaman lelakinya. Mendengar ini saja ia jadi gamang, sangat tak menyangka suaminya dalam semalam bisa menikahi perempuan lain. Sepertinya kurang masuk akal untuk lelaki arogan seperti Finn. Itu terdengar cocok jika terjadi pada Rayhan yang lembut dan penurut.



*Benarkah Finn menikahi Laura karena terjebak dan terpaksa? Bisakah lelaki yang kedua bola matanya agak basah ini dipercaya*?



Bukankah jelas Finn dan Laura sebelumnya adalah sepasang kekasih. Sudah pasti saling suka.



Entah, Ameera belum bisa menyelami apa tanggapan hatinya menghadapi situasi ini. Tapi yang jelas ia terluka. Kecewa. Suami yang sudah mengisi hati harus berbagi dengan perempuan lain.



Genggaman jemari besar terlepas saat ponsel pria itu bunyi. Suara yang tadi sendu berubah tegas.



"Siapa saja? Mereka masih di sini? Ya, aku ke situ!" Nada suara Finn terdengar geram.



"Ada apa, Mas?"



"Kamu tetap di kamar." Finn segera beranjak keluar, ia sempat meminta Asti menemani Ameera dan tak membiarkan istrinya itu keluar dulu.



Baru sampai di lorong, Finn melihat maminya jalan dengan langkah cepat menuju arah kamar mereka.



"Mam."



"Kamu pulang setelah membuat masalah!Kenapa nggak angkat telpon mami?!" tanya Jayna dengan nada keras.



Finn coba menebak dalam hati, ini maksudnya masalah yang mana. Foto yang dikirim Laura ke Ameera atau....



Plakk!



Ayunan keras telapak tangan Jayna ke pipi kirinya cukup membuat mata Finn sedetik menggelap.



"Sudah dewasa tapi masih kurang akal! Bagaimana tanggungjawabmu sama Jonas! Bukannya dibawa berobat malah kamu tinggal, Finn!"



'Oh, pecundang itu pasti sudah menghebohkan seluruh keluarga!'



"Jonas sepupumu! Bukan orang lain! Tega ya kamu lakukan sampai lukanya parah begitu!"



"Jonas langsung dijadwalkan operasi nanti setelah sampai. Dari foto hasil CT scan ini terlihat tulang hidungnya retak. Jonas juga susah napas." Richie muncul di belakang sang istri. Bicara sambil menatap layar ponsel.



"Dengar apa yang sudah kamu lakukan Finn?!" Jayna memelintir kulit dada putranya itu.



"Gara-gara dia ini Janica buat ribut di galery tadi, Dad. Aku malu jadi tontonan pegawai dan langgananku!"



"Calm down, Sweetheart." Richie mengusap rambut bob Jayna yang selalu diblow rapi melengkung ke dalam.


__ADS_1


"Kapan Jonas sampai di sini?"



"Arnold perkiraan mendarat sekitar 15 menit lagi, lanjut dibawa Helipad ke atap gedung rumah sakit MRC."



"Owh, baiklah. Kita tunggu di rumah sakit saja nanti. Gabung dengan keluarga lain."



"Ya, bagaimanapun kita ikut bertanggungjawab." Richie mengajak Finn turut serta sebagai pertanggungjawabannya.



"Bisakah aku bicara? Ini tidak akan terjadi kalau bukan karena ulah Jonas sendiri, Mam, Dad."



"Memang apa yang dia lakukan sampai membuatmu mau membun\*uhnya!" Suara Jayna kembali meledak. Meremangkan kuduk para pekerja, yang tadi sempat sangat tegang di bawah tekanan tiga lelaki seperti algojo.



"Kita dengar dulu, Sayang. Silakan bela dirimu, Finn," ucap Richie yang cenderung tenang.



Kesempatan ini menerbitkan sedikit hangat dalam hati Finn. Jika dulu, mami daddy tak pernah peduli akan masalah yang ia dan Hazel buat, sepertinya berbeda kali ini. Mungkin karena ia membuat masalah dengan salah satu anggota keluarga Jayna, jadi mau tak mau dua orang tua itu merasa ikut bertanggungjawab.



Finn meminta waktu mereka duduk di ruang keluarga yang tak jauh dari lorong ini. Lantas, ia kemudian menjelaskan semua perbuatan Jonas, dari jebakan dengan Ameera hingga Laura.



Jayna terkejut kalau kejadian Finn dan Ameera ada andil Jonas, putra kakak kandungnya.



"Jonas membuatku disidang warga. Berakhir harus menikahi Laura tadi pagi."



"What do you mean? You-"



"Yeah, Dad. Aku terpaksa."



"Kamu menikahi model yang sering kelihatan nggak berpakaian itu, Finn?! Oh ya Tuhan... apa-apaan kamu!" Jayna menekan kening kuat.




"Aku tidak sekedar menuduh. Mami Daddy bisa lihat buktinya."



Finn menelepon seseorang. "Bawa mereka ke ruang keluarga. Sekarang!" ucapnya cepat.



Ia mau mami dan daddy-nya mendengar sendiri, salah satu alasan Jonas pantas mendapat bogem mentahnya.



Karlah di seret seorang lelaki bertubuh besar. Lalu satu lelaki di belakang juga diseret dua orang berpostur nyaris sama. Tinggi, berotot, kepala plontos, dan kulit gelap mengkilap seperti dioles oli bekas.



"Kenapa? Apa pelayan ini yang menebar minyak di dapur itu?" tanya Jayna.



"Ampun, Nyonya... ampuni saya... saya terpaksa karena dijanjikan uang, Nyonya...," isak tangis Karlah pecah. Kepalanya diturunkan sampai hidung mencium lantai saking takutnya.



"Tidak ada ampun untuk iblis!" berang Finn menatapnya dengan sorot membu\*nuh.



Tak bisa mereka bayangkan andai Ameera yang jatuh, bukan Hasnah. Cerita dalam keluarga ini pasti akan menjadi sejarah mengerikan.



"Ini Jajang, sopir Laura Valleria yang menyuruh Karlah menyingkirkan Nona Ameera dari sisi Tuan Finn," jelas si lelaki plontos yang gigi depannya ompong satu.



Finn sontak berdiri, tapi tangannya ditahan kuat sang daddy. "Jangan samakan dirimu dengan mereka," sungut Richie yang tak suka jika putranya hobi main tangan.



Akhirnya mereka hanya menahan geram mendengar lelaki kurus berjerawat batu itu tertunduk, sambil mengakui perbuatannya.



Sepengetahuan Jajang, majikannya memang ada hubungan dengan Jonas. Ia bahkan pernah dengar pembicaraan Laura dan sepupu Finn itu merancang kejadian di Jogja.

__ADS_1



"Benarkah yang kalian katakan? Ini bukan kambing hitam Finn menutupi kelakuannya?" Jayna menatap mereka satu persatu.



"Aku akan bawa ini ke pihak berwajib, Mam. Mami bisa buktikan sendiri kebenarannya nanti!"



"Daddy dukung Finn. Ini kejahatan besar." Richie mau ada efek jera mereka yang mau bermain dengan nyawa orang lain.



"Bawa mereka ke mobil!" Finn tak akan menunda waktu apalagi atas didukung Richie yang langsung berjanji menyiapkan pengacara terbaik untuk membelanya.



"Oh my...! Look at this!" Hazel terburu-buru turun dari lantai atas. Suaranya yang begitu kencang terdengar menggema, mengundang perhatian mereka di ruang keluarga.



"Keluarga kita bakal masuk gosip nih gara-gara Kak Finn! Ini memalukan, Kak!"



Ia perlihatkan foto Laura dengan lelaki yang jelas berwajah Finn jadi trending di applikasi berlogo Larry Bird, kian membuat geger rumah ini.



\*\*\*



Tekanan bertubi-tubi membuat Finn dan Jayna serentak tak kuat bertahan.



Jayna demam tinggi, gelisah, dan sakit kepala. Sementara Finn muntah-muntah dan belum selera makan.



Tiga hari ini tidak ada yang berani menyalakan handphone ataupun televisi.



Jayna dan Hazel yang biasa aktivitas di galery milik mereka belum kuat mental keluar rumah. Ada banyak wartawan mengerumuni depan pagar sana demi dapat berita.



Hanya Richie dan Finn yang terpaksa pergi, selain ke kantor juga ke kepolisian untuk pembuatan laporan dan pemeriksaan aduan mereka pada Jonas dan Laura, itu pun memakai masker dengan langkah terburu-buru.



Setelah nama Ghazi Finn Cullen yang disingkat GFC, untuk pasangan mes\*um artis dan model Laura Valleria, maka keluarga ini langsung jadi sasaran buruan para kuli tinta.



"Insya Allah semua akan lewat di waktu yang tepat, Mas. Di balik kesulitan ada kemudahan, itu janji-Nya."



Ameera katakan itu sambil mengganti kompres sang suami yang kembali panas malam ini. Finn sulit tidur, kadang terlonjak kaget saat matanya terpejam.



Bukan hanya urusan dengan hukum dan keluarga sepupu sendiri yang menekan jiwa pria itu, tapi keluarga Laura juga menerornya via media.



Finn dihina, dianggap melepas tanggung jawab seperti ban\*ci. Bukan tanpa alasan, Finn memang tidak hanya menuntut Laura dan Jonas diadili, tapi juga menalak perempuan itu melalui pesan. Kata-kata itulah menjadi senjata keluarga sana merendahkan keluarga Cullen.



"Mami memang syok sekarang, tapi insya Allah akan ngerti." Ameera beri kecupan lama di pipi lelaki yang sedang kelihangan semangat.



Mata biru itu menatapnya. "Terima kasih masih ada di sini, Sayang."



"Ini salah satu guna pernikahan, Mas. Kita bisa berbagi suka duka. Beban yang terlihat berat, kalau ditanggung berdua akan terasa ringan."



"Kamu, benar, Sayang... aku merasa tenang ada kamu di sisi."



"Cepat kuat. Cepat sembuh. Saya sayang Mas Finn."



Finn menarik jemari kecil Ameera ke bibir, mengecup punggung dan telapak tangan halus itu, lalu menempelkan di pipinya yang masih panas.



*Inikah cinta? Aku damai dengan kehadirannya*.



***Bersambung***....

__ADS_1


__ADS_2