Mengandung Anak CEO Arogan

Mengandung Anak CEO Arogan
Bab 7 Dianggap Wanita Penjaja Diri


__ADS_3

"Eh?! Diantar siapa tuh?" Silvi ternganga di samping motornya, begitu melihat mobil mewah menurunkan Ameera. Pintu dibukakan sopir makin membuat matanya membulat penuh.



"Siapa itu, Ra?" Ia buru-buru mengikuti langkah Ameera masuk ke ruang karyawan.



"Bukan siapa-siapa."



"Jangan bilang lo nyambi kerja lain, ya?" Kata pada 'kerja lain' terdengar dalam arti negatif dari bibir Silvi.



"Nggak harus tau juga kali, Sil," balas Ameera cuek, bersiap bekerja menggantikan karyawan shift pertama.



"Lo gak bantah berarti bener dong. Hii! Jijik gue! Nggak nyangka ya lo munafik juga! Gue kira lo perawan suci, Ra, ternyata sama aja sama si Linda atau Veli."



Ameera malas menyahut, melewati Silvi yang masih kasak kusuk membahas ia tadi diantar mobil mewah pada karyawan lain.



"Eh, Neng Ameera. Ehem, tambah geulis pisan euy. Jadi makin suka saya teh." Mata Engkus berkedip-kedip, bibir tersenyum lebar menyapa. Ia terpana melihat kesegaran penampilan Ameera hari ini, rambut panjangnya dikepang satu, perlihatkan kulit bersih mulus di sekitar tengkuk dan daun telinga. Bahkan anak-anak rambut Ameera tampak menggoda iman pria melihatnya.



"Ayo kerja, A. Jangan bengong." Ameera gesit ke ruang depan, meninggalkan pemuda berkulit gelap yang masih senyum-senyum sendiri.



"Hihh! Bisanya cuman liat aja kayak Keledai dungu!" Silvi memelintir kulit lengan Engkus hingga pemuda itu meringis sakit. "Kalo lo suka ya kejar dong, kejarr!! Kalo perlu lo pelet biar dia nempel! Dasar gak guna!"



"Boloho pisan sia teh! Saya yang suka Neng Ameera kok situ yang ribut?" Engkus buang muka sembari pergi.



Di sela kesibukan melayani pesanan pelanggan ada saja gosip buruk masuk telinga. Ameera dianggap bekerja plus-plus di luar, makanya sekarang ia cuma masuk satu shift.



"Ya bebas sih badan badannya sendiri. Mau dijual mau diapain suka-sukanya. Cuman ya jijik aja, dia kan sok bersih, sok suci gitu. Padahal... ewwh!"



Ameera jelaskan pun percuma, mereka terlanjur menilainya buruk. Maka ia pilih menutup mata telinga saja.



Mulai hari ini opa tidak perbolehkan ia naik motor lagi. Kemana pun termasuk berangkat dan pulang kerja harus bersama sopir. Sopir opa yang sementara akan menjadi sopirnya. Hal ini terjadi karena tadi motor Ameera sedikit oleng hingga nyaris terserempet di jalan, kebetulan mobil opa sedang melintas.



"Non, ini titipan dari Tuan Besar." Malam ini, sebelum turun Ameera terkejut Adam, sopir opa, menyodorkan tas belanja cukup besar warna cream.



"Dari opa?" tanyanya ragu. "Berat banget. Isinya apa?" Ameera mengintip ada kotak yang kurang jelas apa.



"Tuan tau Non akan nginap di rumah, itu kata beliau adik-adik Non."



"Masyaallah... terima kasih banyak ya, Mas Adam. Saya turun dulu." Ameera menolak lagi jika pintunya dibukakan. Ia merasa sebentar lagi dirinya juga bukanlah siapa-siapa untuk keluarga Cullen.



"Waw, Kak Ameera beneran nginap sini?" Wajah Sami masih segar saat membuka pintu.



"Ya dong. Kan kakak udah janji. Kamu belum tidur Sam?"



"Belum. Mbak Yuni sama Naja juga belum."



Ameera langsung ke kamar Naja. Anak itu duduk bersandar punggung ranjang.



"Aaaa, Kak, Amm!" pekik Naja senang sambil merentangkan tangan. Hari-hari bertemu tapi Naja masih aja bersikap seperti Ameera baru tiba dari jauh.



"Kok nungguin kakak sampai larut gini? Besok pagi kan kita bisa berjemur bareng lagi." Ameera memeluk penuh sayang tubuh ringkih Naja. Badan yang masih sangat kurus meski pengobatan telah Ameera optimalkan sejak punya uang.



"Tadi aku udah tidur kak, tapi minta dibangunin Mbak Yuni." Naja melihat ke pintu. "Yahh... aku kira kak Am datang sama kakak ipar...."



"Jangan ngarep aneh-aneh!" tegur Sami.



"Mas Finn masih sibuk banget, Dek, kalo nggak lembur ya keluar kota."



"Kapan dong ikut ke sini? Naja pengen kenal." Sejak awal Naja selalu ingin bertemu Finn, melihat secara langsung karena cuma pernah ditunjukkan fotonya.



"Orang kaya mana mau ke rumah kita yang kayak gubuk, Dek. Jangan ngarap deh!" tegur Sami lagi.



"Masa sih kakak ipar gitu? Naja lihat wajahnya baik."


__ADS_1


"Muka tuh bisa pake topeng. Pura-pura baik. Ya kan kak Am?"



Ameera sedikit tersentak akan pertanyaan yang Sami tujukan padanya, tapi cepat bibirnya tersenyum manis. "Mas Finn mau datang, Sam, tapi nanti. Kalo udah nggak sibuk."



"Cihuy, beneran ya kak? Ahh, aku jadi nggak sabar." Cahaya cerah di wajah Naja menerbitkan rasa bersalah Ameera akan kebohongannya barusan. Semoga bisa sekali saja ia menghadirkan Finn ke depan Naja. Walau itu untuk pertama atau terakhir kalinya.



"Ini dari kakak buat kita semua." Satu plastik yang Ameera bawa ia serahkan pada Yuni. Isinya buah, roti, dan bahan makanan untuk besok. "Dan ini dari Opa buat dua adekku."



"Apa itu, Kak?"



"Buka aja."



Naja yang antusias mengajak Sami duduk di depannya untuk dibuka bersama.



"Waww...! Makasih banyak kak Am!" Tablet yang sudah diisi game untuk Naja. Sedangkan Sami mendapat laptop. Benda yang diam-diam diinginkan tapi belum pernah sekalipun terucap meminta pada kakaknya.



"Makasih, Kak." Sami tampak terharu saking senangnya.



"Alhamdulillah ini rezeki kamu berdua, Dek. Dijaga baik-baik."



Dua adik Ameera tak bisa sembunyikan bahagia atas hadiah itu. Naja berjanji besok akan menuliskan surat sebagai ucapan terima kasih pada Opa.



\*\*\*



Resepsi sudah di depan mata, Ameera tidak punya pilihan selain meneruskan semua. Banyak pertimbangan hingga ia sulit mengatakan yang sebenarnya. Kalau ia tidak hamil.



Apalagi opa selalu paling antusias menyambutnya saat diundang datang ke rumah keluarga Cullen. Meski hubungannya dengan Finn semakin dingin dan jauh. Sesekali saja mereka bertemu, seperti saat memilih pakaian pengantin atau fitting terakhir kali kemarin, seminggu sebelum pesta.



Finn tampak selalu sibuk dengan pekerjaannya, sampai tak punya waktu santai. Sudah dua Minggu lebih pria itu pulang ke apartemen hanya saat menjelang pagi. Tidur sebentar, lalu bersiap pergi lagi ke kantor. Ameera duga itupun Finn terpaksa pulang atas dorongan kakeknya.



Hujan mulai turun saat Ameera tiba di salah satu gedung pencakar langit Jakarta ini. Ia mandi sebentar sebelum memeluk guling dan segera lelap. Tubuhnya dirasa teramat lelah.




Memikirkan Juna yang masih terus mengejar, dan bertanya siapa lelaki yang sudah menikahinya. Memikirkan kebaikan-kebaikan Opa Eddie, pengorbanan materi dan waktu Mami Jayna, juga... terganggu dengan Hazel, adik Finn yang terang-terangan menghinanya tidak pantas mendampingi lelaki itu.



Bukan cuma itu, dua hari lalu ia melihat Finn memeluk pinggang seorang wanita yang turun dari mobilnya, saat pulang kerja. Mereka memasuki club yang tak jauh dari apartemen ini. Kenyataan itu membenarkan kata Hazel, kalau ia tak secantik kekasih-kekasih Finn.



Tengah malam hujan kian deras. Pintu kamar didorong dengan gerakan pelan. Pria itu bukan takut orang di kasur miliknya terbangun, tapi rasa tak nyaman di kepala ini membuat langkahnya kurang seimbang. Sering tidur larut, lalu bekerja bagai kuda di siang hari ia terlupa menjaga kesehatannya.



Finn duduk di sisi tempat tidur sambil memijit pangkal hidung. Ia merasa kening sedikit berat.



"Hachim! Hachimm! Ha-hachimm!!" Suara bersin yang sudah ditahan itu tetap saja menarik Ameera bangun dari mimpi.



"Oh, M-Mas sudah pulang?" Ameera duduk. Bersin Finn lagi membuatnya beranjak.



"Mas nggak enak badan?" Ameera mendekat, permisi menyentuh kening Finn yang terasa dingin.



Tubuh Finn mendadak kaku. Ia salah fokus pada rambut panjang tergerai licin, wanginya juga terasa sangat lembut sempat merasuk penciuman, meski hidungnya sudah mulai sedikit tersumbat.



"Saya buatkan Mas minuman hangat." Ameera segera kembali dari luar dengan cangkir di tangan.



"Diminum dulu, Mas. Ini teh peppermint bagus buat daya tahan tubuh. Bisa bikin tidur nyenyak juga. Mas pasti kurang istirahat."



Tanpa kata Finn menghirup aroma mint yang seketika mengubah suasana hatinya jadi lebih tenang. Ia menghabisi isi cangkir masih dalam diam.



"Mas istirahat aja, saya udah tidur kok, kalau mas nggak nyaman sekasur saya pindah ke sofa luar." Ameera mengambil gelas dan satu bantal. Ia tahu Finn tidak mau berbagi ranjang dengannya makanya sejak awal lelaki itu selalu menghindar.



"Tunggu!" Langkah Ameera terhenti, ia berbalik pelan dengan wajah penuh tanya.



"Ya, Mas?"



"Duduklah. Ada yang ingin kutanyakan."

__ADS_1



Ameera menaruh cangkir di meja rias, lalu duduk di bangku menghadap pria itu.



"Resepsi seminggu lagi?"



"Iya, Mas." Bukankah Finn sudah tau, kenapa bertanya lagi?



Finn mengusap kening licinnya. "Kau yakin masih mau hamil anak dari hubungan halal?"



Kulit wajah Ameera mendadak pucat. Haruskah ia jujur sekarang?



"Oh, i-tu saya-"



"Oke. Aku sudah setuju permintaanmu saat itu. Seminggu saja."



"M-Mas sa-ya." Ameera tergagap. Otaknya mendadak blank.



Dada Ameera sesak melihat Finn bangun dari duduk, menghampirinya. Lelaki itu menunduk, membaui rambut dan tengkuknya.



"Mas...!" Bulu-bulu halus Ameera merinding tersapu napas mint di dekat hidungnya.



"Kamu yang mau kan?"



Ameera tertunduk, tapi tubuhnya diangkat hingga berdiri.



Jika menolak ia berdosa karena Finn adalah suami sah, tapi jika ia menuruti, apakah ia akan hamil dan bertahan menjadi istri pria itu?



"M-Mas, sa-saya belum siap...." Ameera sedikit menekan dada berotot yang mulai merapat.



"Opa menginginkan keturunan dariku, kau pasti sudah puluhan kali mendengar itu, bukan?"



Hujan di luar memang tak terdengar, tetapi hawa dinginnya seakan menembus kaca dan celah kamar ini. Finn merasa seakan sangat dingin hingga butuh penghangat saat ini juga. Penolakan Ameera tak berarti apa-apa.



"Kita pasangan sah. Aku berhak bersenang-senang padamu. Walau cuma seminggu...," desis Finn di sela menyesapi manis bibir Ameera.



Malam ini entah kenapa ia jadi banyak bicara. Usai mengendus, dan mencicipi permukaan kulit wanita yang gemetar kaku atas kenakalan tangan dan bibirnya, Finn merasa senang.



"Kenapa kau tegang sekali?"



"A-aku...."



"Tenang saja, aku akan membayarmu. Pernikahan ini cuma sementara. Kau pasti mau untung banyak. Anak halal. Uang, dan kenikmatan, hem?"



Mata Ameera membulat. "Apa yang kau katakan, Mas...?"



Senyum tipis Finn terurai. Jawaban atas pertanyaan itu adalah sentakan ke atas pada baby doll Ameera hingga terlepas.



"Mas...!"



"Nikmati saja." Sikap Finn mulai tak terkendali. Bibirnya sudah tak selembut tadi, tapi disertai gigitan kecil yang membuat Ameera memekik sakit.



Ada apa dengan pria itu, setelah beberapa lama menghindar kini malah begitu menginginkannya.



"Pelayananmu sangat buruk." Usai menuntaskan hasrat, Finn berdiri tanpa mengenakan apapun. Dengan begitu tenang menuju meja meraih kertas dari laci, dan menuliskan cek.



"Ini hargamu untuk hari ini." Mata Ameera membola pada kertas cek yang dijatuhkan ke atas selimutnya.



Ia duduk, masih tak berani menatap langsung pria berperut kotak-kotak dan memiliki sesuatu berbelalai besar, yang berdiri di sebelah ranjang.



"Belajarlah memuaskanku lebih baik lagi, maka nilaimu kutambah."



Ulu hati Ameera berdesir perih, ternyata Finn menganggap dirinya hanya wanita penjaja diri.

__ADS_1


...Bantu dukung dengan tap 👍, komentar, ulasan bintang 5, dan dukungan lain-lainnya ya, teman-teman. Biar jari yang lelet ngetik ini bisa makin semangat. terima kasih.....


__ADS_2