Mengandung Anak CEO Arogan

Mengandung Anak CEO Arogan
Bab 13 Ingin Lagi Rasa Manis Ini


__ADS_3

Kepala Ameera serasa dibebani batu. Dada menyesak dan dengan sedikit linglung ia percepat langkah ke arah ke lift.



Sulit digambarkan perasaannya saat ini. Aneka rasa bercampur aduk, bermuara dari kecewa, sedih, marah, dan perih luka. Entah kenapa ia merasa baru saja dilukai. Bukankah seharusnya ia tak apa-apa. Toh, ini cuma pernikahan sementara. Ia tak diinginkan.



"Bu? Bu Ameera kan? I-ibu sejak kapan di sini?" Salah satu dari dua laki-laki yang muncul dari lift terbuka menegurnya.



Otak Ameera belum stabil.



"Ibu sudah bertemu Pak Finn?" tanya pria berkacamata itu lagi, khawatir saat teringat ada Laura di sana tadi. Dan, wajah Ameera yang pucat itu menunjukkan terjadi sesuatu.



"Bu Ameera? Ada yang bisa saya bantu, Bu?"



"Oh, nggak, Pak. Sudah. Mari." Loading otaknya baru terkonek, meski kurang fokus sama siapa sedang bicara, Ameera mengangguk kecil sambil tergesa masuk lift yang akan membawanya turun.



"Kenapa lagi cewek itu?" Ardi pernah jadi saksi bisu keributan Ameera dan Finn saat itu masih mengenalinya.



"Cewek? Ndak sopan kamu, Di. Itu Bu bos!" Logat Jawa Aldi keluar, sambil celingukan ke arah ruang Finn yang tertutup rapat.



Aduh, apa Nona Laura masih di dalam ya?



"Bu bos gimana maksud lu, Al?" tanya Lazuardi alias Ardi, masih penasaran.



Dua orang yang punya nama panggilan nyaris sama ini adalah teman karib sejak kecil. Meski di Artha Graha Realty, Aldi yang lebih beruntung, ia dipilih jadi sekretaris pribadi yang paling dipercayai Finn.



"Owh, kayaknya aku tau. Apa... Pak Finn sudah nikahin dia, Al?"



"Embuh!" Aldi berkelit, pergi ke kubikelnya, seberang ruang kerja Finn.



Ia hampir lupa, kalau di kantor yang tahu Finn sudah menikah baru dirinya. Sebab resepsi saat itu agak tertutup khusus orang terdekat dan rekan bisnis keluarga Cullen saja. Ia juga kebetulan tahu saat dimintai bantuan mengambil pesanan opa Eddie untuk Finn.



\*\*\*



Di dalam mobil usai meninggalkan gedung menjulang itu, Ameera berulang menarik napas panjang, embuskan pelan melalui tiupan. Rongga dada yang menyesak itu harus dilonggarkan. Meski berhak, ia tak mungkin ngamuk karena Finn disentuh orang lain. Siapa dirinya? Bukankah sejak awal ia hanya dianggap semut?



"Makasih, Mang. Saya pulang jam 5." Ameera cuma ambil satu shift hari ini.



"Hi, Mbaak Ameera dari mana?" Ia berpapasan dengan wanita cantik berperut buncit, yang digamit mesra sang suami. Mereka baru keluar dari restoran.



"Hi juga Mbak Angeline, saya habis ngantar pesanan, Mbak." Senyum lebar Ameera merekah, basa-basi sebentar bertanya kabar sebelum pasangan bahagia itu menuju mobil mereka di parkiran.



Angeline dan Mario, pelanggan yang terkenal ramah seantero pelayan Perfecto. Mereka rutin datang paling tidak sebulan sekali, sejak bertahun-tahun lalu, sejak masih pacaran hingga sudah menikah saat ini. Area private di roof top lebih dari puluhan kali mereka booking saat merayakan hari spesial.



"Angeline lagi hamil wajahnya makin bersinar. Apa aku nanti juga gitu?" gumam Ameera dengan tangan menyentuh perut.



'Gimana ya rasanya punya perut membuncit? Capek kah?'



Namun satu yang ia syukuri di antara sesak menjadi istri tak dianggap, masih ada setitik bahagia. Bahagia rahimnya dipercaya menjadi tempat berkembang janin yang tumbuh dari hubungan halal. Entah bagaimana sakitnya jika ia hamil dari perbuatan Finn waktu itu?



'Alhamdulillah, Bi. Di perutku ada ponakanmu...,' ungkap hatinya merindukan Biya. Ingin sekali memeluk Biya saat seperti ini. Saat hati terusik hampa.



"Sakit perut, Neng?" Engkus berhenti melihat wajahnya melamun dengan tangan memegang perut. Engkus lewat saat baru selesai membersihkan kamar kecil.



"Laper yah? Neng Ameera pasti belum makan. Rek tuang naon, Neng geulis? Biar Aa carikan, nya?" Lelaki itu cepat menaruh ember kecil ke sudut lorong, jalan karyawan lalu lalang.



"Nggak A, aku sudah makan, kok."



"Hayo atuh, Neng. Takutnya lambung Eneng perih enggak diisi."



"A-"



Engkus makin cengengesan, malah merentang tangan menghadang jalannya. "Neng Ameera jangan sungkan. Bilang atuh mau makan apa? Aa bisa-"



"Pliss, udah ya A Engkusss." Ameera menangkup dua telapak dengan kalimat penuh penekanan. "Makaasiih banget tawarannya, tapi aku nggak sakit perut, dan juga sudah makan. Ngerti ya, A? Bisa kasih jalan?"



"Hehee... nya, Neng. Aa mah ngerti pake banget. Aa kan lalaki ganteng jeung pengertian." Engkus menyingkir, salah tingkah sendiri, mata kecilnya berbintang bintang. Kendati sedikit kecewa ditolak membantu, tapi cara Ameera yang amat manis begitu tetap saja membuat hatinya berbunga.



\*\*\*

__ADS_1



Pulang kerja sore ini Ameera ke rumah sakit. Namun ia tak perlu khawatir orang-orang suruhan Finn mengurus Sami dengan baik. Pemuda itu bahkan sudah bisa pulang besok.



Usai magrib ia ke rumah untuk melepas rindu pada Naja yang seharian kemarin belum ia temui. Untung Mang Darman sabar jadi sopirnya, siap sedia antar ke mana saja.



Lelaki paruh baya itu sudah Ameera suruh pulang, biar istirahat dulu sebelum ia minta jemput nanti. Rumah Mang Darman tak begitu jauh dari daerah sini.



"Kak Am..."



"Hem?"



"Kakak pulangnya nanti nunggu Naja sudah tidur ya?"



"Boleh."



"Aku nanya, Kak, bukan minta." Ameera memutar badan, baring miring menghadap sang adik.



Tadi keduanya sama-sama terlentang menatap langit-langit kamar. Sambil menunggu mata Naja dihampiri kantuk, Ameera cerita tentang apa saja yang ingin Naja tahu.



"Kak... " Naja menoleh, menatap mata coklat keemasan milik kakak sulungnya.



"Ya?"



"Em-mendingan kakak pulang sekarang, kasihan kakak ipar nunggu... " Mata Naja meredup, kembali menatap atas. "Naja udah biasa cuma ditemani Mbak Yuni...."



Sekejap darah Ameera berdesir nyeri. Apakah ini bahasa protes Naja atas sedikit waktu bersamanya?



"Dek...?"



"Kak Am miliknya kakak ipar sekarang... orang yang nggak suka sama aku... nggak suka sama kak Sami...."



"Aih, kenapa adek jadi menduga begitu?" Ameera mendekap dan mengecup lama pipi tirus yang terasa dingin.



Gadis berkulit pucat itu diam sesaat, lalu bicara sambil memejamkan mata, "Kakak ipar cuma suka kak Am... makanya nggak pernah mau lihat adek kak Am di sini...."




"Dek... Mas Finn nggak gitu orangnya. Dia cuma sibuk kerja. Jam segini aja belum pulang. Sibuk banget sampe Kak Am aja jarang ketemu."



"Sama kayak kak Am ya sibuknya...?"



Ameera tertegun menatap wajah sendu gadis itu dari sisi.



"Aku ngantuk... Kak Am sana aja... nanti dimarahin lama di sini."



"Siapa bilang Mas Finn marah? Mas Finn baik, kok. Bolehin kakak ke sini kapan aja. Opa baik. Orang tuanya Mas Finn juga baik." Tapi Naja bukan lagi anak kecil yang mudah dirayu. Ia tetap saja menyebut Ameera mau membohonginya.



"Kakak masih kangen kamu, Dek. Kakak mau lama di sini. Kalau bisa bobo di sini sama kamu." Ia mengusap tangan yang ototnya terasa rapuh.



Bola mata Ameera seketika memanas, kenapa ia baru menyadari kalau Naja makin kurus.



Ameera menatap wajah yang dengan cepat terlelap damai.



"Dek, maafkan kak Am ya... maaf...." Sepertinya Ameera akan mempertimbangkan tentang resign, seperti yang Sami minta lagi tadi.



Ketukan di pintu kamar menarik kesadaran Ameera yang hampir lelap memeluk tangan Naja. Yuni bilang ada orang mencarinya.



"Siapa ya Mbak?" Baru selesai bertanya ia terkejut ada pria tinggi muncul di belakang Yuni.



"Mas Finn?" Ameera mengusap wajah sembari duduk.



Andai Naja melihat pria itu di sini pastilah senang. Tapi mau membangunkan ia tak tega, Naja mudah drop kalau kurang istirahat.



"Mas. Alhamdulillah ada Mas di sini." Ameera tergesa mengambil tangan pria itu, menyalimnya. "Kita foto sebentar ya, Mas." Ia menarik tangan berbulu halus lebat itu masuk ke kamar.



"Mbak tolong fotokan kami," pintanya pada Yuni.



"Mas sini." Ia menarik Finn lebih dekat pada Naja. "Tolong senyum lebar ya, Mas," bisiknya setengah memohon.

__ADS_1



Naja pasti senang kalau lelaki itu terlihat lebih ramah, bukan menahan mual seperti sekarang. Aroma obat di kamar ini mungkin membuat Finn tampak menahan napas.



"Ini adek saya, Mas, namanya Naja. Dia ngidolain Mas Finn."



"O ya?"



Finn menghirup inhaler, lalu mendekati kepala Naja. "Ayo, foto!" perintahnya pelan, tapi mengejutkan Ameera dan Yuni yang sama melongo melihatnya mengecup kepala anak itu.



"Su-sudah, Mas. Makasih."



Ameera kirim foto-foto di ponselnya ke nomor Naja, disertai kalimat ; 'Ini Mas Finn datang nengok adek. Maafkan kak Am nggak bangunin. Yang penting fotoan dulu, ya, hee. We love you, Dek Naja....'



\*\*\*



"Besok buatkan rujak buah lagi. Antar ke kantor seperti tadi," pinta Finn begitu keluar dari kamar mandi, sudah mengenakan piyama tidur putih.



"Ke kantor Mas lagi?" Ameera urung menata bantal, untuk siap berbaring. Sejak tahu hamil Finn memang memintanya tidur di kasur, beralasan supaya calon bayi mereka juga nyaman istirahat.



"Ya. Naikkan sedikit pedasnya." Finn menyisir rambut menghadap kaca rias.



"Maaf ya, Mas. Saya akan buatkan tapi untuk ngantar bisa saya minta Mang-"



"No! Harus kamu! Kalau tidak, tidak akan kumakan!"



Ameera membuang napas kasar. "Mas mau saya lihat lagi kejadian tadi? Nggak. Saya nggak mau! Gimanapun saya masih status istri Mas. Lihat suami sah saya berbagi liur dengan orang lain dosanya ciprat ke saya juga. Kenapa sih Mas nggak nikahin saja dia? Ingat apa kata Opa?"



Bibir Finn tersenyum samar, ia berbalik, melangkah mendekat hingga Ameera yang sudah duduk kembali berdiri kaku.



"Ini perintah suamimu. Suami yang sedang ngidam." Alis tebalnya menaik sebelah.



"Iya, oke, pasti saya buatkan. Cuma yang ngantarnya tetap orang. Kan cuma ngantar, Mas. Memangnya saya harus ngapain di kantor Mas Finn, habis ngantar juga balik lagi. Nanti yang ada saya kecapean."



"Merasa keberatan mengurus suami ngidam?" Ah, lagi-lagi ngidam dijadikan alasan.



"Mas-" Ameera makin gugup saat pria itu mengulur tangan, menyentuh rambut panjangnya.



Wajah Finn menunduk, menghirup dalam-dalam aroma lembut rambut yang tergerai licin.



"Bau rambutmu lumayan."



Eh! Ameera ikut mengendus rambutnya. Harum, kok.



"Intinya aku mau semua kamu yang lakukan sampai ke hadapanku," desis Finn membuat kuduk Ameera meremang.



Lagi pria itu membaui kepalanya.



Dia pakai sampo apa, perasaan di kamar mandi bau samponya beda.



"Ya, Mas, baiklah. Saya akan telepon dulu sebelum masuk ruangan Mas besok."



"Hum, bagus." Dari rambut tatapan Finn beralih pada mata Ameera yang bulat. Lucu juga melihat perempuan itu mendongak dengan bola mata bergerak-gerak siaga.



"O-oke. Sudah...?" Ameera coba tersenyum tenang meski jantungnya terasa sebentar lagi lepas. "Saya mau istirahat. Mas mau tidur kan? Silakan, Mas-opps!"



Gerak Finn cepat ingin mencuri bibirnya gagal, kalah cepat terhalang telapak tangan Ameera.



Ameera mengatur napas seraya membalas tatapannya. "Kalau kekasih Mas tau, dia pasti akan marah. Karena... saya juga merasa sama kalau orang spesial saya menyentuh perempuan lain," kalimat bernada lembut itu sukses membuat Finn nyaris tersenyum, tapi bukan Ghazi Finn Cullen namanya kalau tidak cepat mengendalikan wajah datarnya.



"Oh ya? Kalau begitu mulai besok jangan jauh dari orang spesialmu." Dengan tatapan tak beralih, perlahan ia menurunkan telapak tangan Ameera.



"Besok tempat kerjamu pindah ke kantorku!"



"Hah?! Maksud Ma-!!" Kesempatan Finn membuka mulut agak lebar, hingga berhasil melahap penuh bibir terkejut yang menguncup.



Finally! Ya, konyol memang, akhir-akhir ini pikiran Finn bisa sangat ingin lagi rasa manis ini. Sangat ingin!


...Makasih dukungannya teman-teman. Moga ide lancar biar bisa lanjut. Dan, semoga kita semua sehat slalu, aamiin....

__ADS_1


__ADS_2