
"Yakin nih Kak Am sudah berenti?"
"Hu um. Makanya kakak udah bebas kemana-mana seharian ini," sahut Ameera sambil memotong bolu dan ditaruh di piring.
"Sip lah kalo gitu! Kakak memang harus nikmatin waktu santai sekarang. Bumil butuh banyak istirahat, senang-senang." Sami mencomot sepotong bolu cokelat, sekali hap masuk mulutnya.
"Makan sambil duduk, Samii." Ameera menarik kursi makan di sebelah Naja. Ia lega Sami sudah tidak mengungkit tanya, tentang keningnya yang masih ada benjol membulat.
"Jadi... Kak Am benar hamil? Kak Sami gak bo'ong tadi ya?" Naja urung menggigit sisa setengah apel di tangan.
"Ya, Dek, Alhamdulillah kita akan punya keluarga baru." Pipi Naja dikecup sayang. "Doain kak Am sama debay sehat-sehat, ya."
"Aamiin. Aku mau ponakan cowok. Biar cakepnya nurun, hee," sambar Sami sembari mengambil sepotong bolu lagi.
"Hum, maunya. Kalau kakak apa aja dikasih asal sehat." Ameera tawarkan bolu pada Yuni yang sedang mencuci sayuran. Karena tangan wanita itu basah ia menyuapinya.
"Mbak Yuni nggak boleh nahan lapar di rumah ini. Apa yang ada dimakan aja. Jangan pake sungkan."
"Saya selalu kenyang, Mbak Meera. Mana pernah saya lapar. Kerja di sini sangat nyaman. Alhamdulillah."
"Alhamdulillah Mbak Yuni betah. Saya banyak terbantu dengan adanya Mbak bersama kami."
Suara siulan dari seseorang yang masuk rumah mengalihkan pandangan semua orang, kecuali Naja yang tampak murung dan mengabaikan sisa potongan buah di depannya.
"Kamu ada di sini, Ameera. Hohoo, kebetulan sekali aku datang di saat tepat." Setelah bicara Anton menghisap rokok dalam-dalam, asapnya sengaja ditiup membulat.
"Paman tolong jangan merokok di dalam rumah," tegur Ameera tak senang. Ia meminta pria itu duduk di teras samping saja.
"Kamu selalu begitu dengan pamanmu ini! Kasar!" Meski protes, Anton pindah keluar, menuju kursi kayu di teras kecil samping.
"Ada apa Paman?" Ameera menaruh piring berisi dua potong bolu dan segelas teh, lalu duduk di kursi lain depan pamannya.
"Ameera, Ameera, santailah sedikit, baru juga datang sudah ditanya. Kita ini keluarga." Menopang kaki Anton santai mengisap sigaret di sela jari.
Tidak ada hal lain dibahas kalau pria berpakaian belel ini datang. Pastilah masalah uang. Ameera sangat mengenal perangainya sejak lama.
"Aku mau buka usaha."
Nah, dengarkan saja apalagi rencana lelaki pekerja serabutan ini.
"Dananya lumayan. Jadi aku butuh sokongan dana darimu."
Dikiranya aku bisa cetak duit apa?!
Melihat Ameera belum bersuara Anton melanjutkan, "Sedikit. Cuma 500 juta."
Ameera ternganga. "Uang segitu adanya di bank, Paman. Aku bukan bank!"
Sambil menjentik abu rokok ke sisi arah pot tanaman Anton terkekeh. "Suamimu punya lebih dari itu, Ameera. Tinggal kamu ngomong pastilah dikasih. Nggak ada yang sulit."
Darah Ameera terasa baru dipanaskan langsung mendidih.
"Paman salah menilai. Walaupun ada uang, suamiku nggak akan mungkin kasih sebanyak itu, biar aku minta sampai nangis darah."
Kening legam Anton terlipat. "Jangan bohong kamu, Ameera. Aku saja yang tak dikenal, begitu minta 400 juta langsung dikasih. Masa istrinya sendiri tidak? Pembohong besar kami!"
"Ohh, Paman waktu itu minta sebanyak itu?!" Ubun-ubun Ameera mulai berasap. "Lalu, mana uang sebanyak itu sekarang? Kenapa Paman malah mau minta lagi?!" Nada suaranya mengeras mengundang Sami gegas beranjak dari kursi makan, menuju teras samping dengan langkah pincang. Sementara Yuni, melihat Naja menegang segera mendorong kursi roda pindah ke kamar.
"Jangan emosi. Santaii... atau mungkin perlu aku yang langsung minta, biar kamu-"
"Stopp! Paman jangan sekalipun lakukan itu!!"
"Ameera!" Anton berdiri. "Mau uang seberapa besar pun kau dan adik-adikmu tidak bisa membalas jasa kami! Kami yang mengurus kalian saat susah dulu! Jangan jadi kacang lupa kulit kamu ya!!"
"Aku tau, Paman. Aku nggak akan lupa itu..." Makanya sebisa mungkin Ameera tak pernah mau merepotkan keluarga walau kondisi sulit sekalipun, ia tak mau terjebak budi yang kemudian dituntut dibalas seperti ini.
__ADS_1
Suaranya merendah, "asal Paman tau, pernikahanku bukan seperti yang Paman kira. Aku cuma... sementara di keluarga itu. Setelah anak ini lahir aku juga akan dibuang. Jadi, tolong... Paman jangan membuatku dibuang sebelum waktunya."
"A-apa maksud Kak Am...?"
Seketika Ameera terhenyak. Ogh, ia lupa Sami bisa mendengar semuanya.
\*\*\*
Hari ini dirasa sungguh melelahkan. Langkah kaki Ameera berat saat memasuki kamar luas yang amat sepi.
Tadi butuh waktu dua jam menjelaskan banyak hal pada Sami, atas kesalahpahaman ucapannya pada Anton, setelah lelaki paruh baya itu pergi. Belum lagi ia harus meyakinkan Naja, yang menolak bicara karena ia dikira akan lebih menyayangi bayinya nanti dan lupa pada mereka.
Belum lagi Juna, cowok itu sore tadi datang menawarkan usaha baru bersama. Dia tahu saja Ameera baru resign dan terpikir mau usaha.
Semua menumpuk dalam satu hari terjadi cukup membuat berat kepalanya.
Isya sudah di rumah tadi, Ameera hanya berganti pakaian tidur, membersihkan wajah, dan mencuci kaki tangan sebelum membaringkan tubuh pada sofa, tempat santai yang bisa dibuka jadi seperti kasur.
"Alhamdulillah buat hari ini. Semoga kamu semakin kuat, ya, Ameera... jangan sampai nyerah kayak Biya... kamu masih bisa bertahan kan?" Monolognya pada diri sendiri.
Ada setitik air mengalir dari sudut mata. Ia tak suka gambar masa lalu harus muncul di saat hatinya selelah ini.
"*Dasar anak tidak berguna*!"
"*Di mana otakmu! Ngurus rumah saja tidak becuss*!!"
Rambutnya ditarik. Kepala dibenturkan. Jangan ditanya lagi dengan tubuhnya yang nyeri di mana-mana setelah ditendang atau mendapat ayunan tinju laki-laki.
Ayahnya bisa segila itu saat pulang mabuk. Beruntungnya Sami tak pernah merasakan atau melihat. Saat itu Sami sangat nakal. Jarang ada di rumah dan sering bolos sekolah. Sedangkan Naja kecil lebih sering di rumah paman Anton dan istri yang bantu merawatnya dari bayi.
Air mata ia biarkan mengalir, meski tetap menahan diri tak bersuara. Telapak kanannya mengusap perut yang masih rata.
"Semoga anak dari rahim ini kuat. Ya, harus lebih kuat dari mamanya...."
Bagaimana pun ia tak mau berlarut mengasihani diri sendiri. Masa lalu tidak bisa berubah lagi. Pun nasib, jika sudah digariskan harus dijalani, tidak bisa ia ubah alurnya.
Mengambil earphone besar yang ia beli beberapa hari lalu, dipasangkan ke telinga. Murottal sangat baik untuk ketenangan diri dan janin.
\*\*\*
"Honey... look at me! Kurangku apa sampe kamu sama sekali gak tertarik, hah...? Lihat! Aku sempurna! Aku punya bagian tubuh lebih baik dari perempuan itu!"
Finn dengan tenang mengambil lagi pakaian yang Laura buang. Namun perempuan itu terus meracau minta disentuh.
"Kenapa dia hamil? Kenapa bisa kamu hamilin orang lain, Finn! KENAPA?!" Di antara teriaknya ada tangis juga tawa menyedihkan.
"Laura, tenanglah...."
"Touch me, Honey... sentuh aku sekali saja... kalau perlu... kamu nikahi aku kayak \*\*\*\*\*\* pilihan opamu itu!"
Finn masih berusaha membungkus tubuh polos Laura dengan selimut, sebelah tangannya menghubungi asisten perempuan itu.
"Dena ke sini sekarang! Secepatnya!"
Finn tak mau menunggu lama di kamar ini. Sikap Laura sudah di luar batas. Perempuan yang biasa anggun dan tetap menjaga batas tak lebih, meski juga kerap menggoda itu sudah berubah liar.
Ia memang punya komitmen tidak sembarang menyentuh perempuan. Tanggung jawab di balik kenikmatan sesaat itu yang ia hindari. Walau ia tetap seorang pria normal dengan imajinasi tinggi, Finn belum pernah lepas kendali.
Pintu segera terkuak lebar, lelaki bertulang lunak yang sudah bertransformasi layaknya perempuan sungguhan masuk dengan omelan.
"Udah gue bilang, ye, udah gue bilang! Lo bedua kalo ada masalah cepet diselesain! Kalo gak bisa gini, nih. Mabok? Otak error kayak dirasukin Kuntilanakwati!! Gimana besok ngisi acara kalo begindang! Uhhh! Pusiiing!"
"Urus dia!" Finn menyambar jaket bersiap pergi.
__ADS_1
"Hei, lekong! Yey mau ke mana?! Jan kabur dulu! Itu bini lagi h\*rni bukannya dituntasin, Oii! Tuntasin duluuu!!"
"Orang-orang gila!" decak Finn setengah lari pergi.
Gila! Ternyata selama ini aku dekat dengan banyak orang gila!!
Ia sepertinya baru sadar hidup Laura dan Dena seperti itu gilanya.
"Laura, stopp! Udeh! Udeh!! Jangan dikejar!! Kita cari lekong baru! Bukan manusia batu kaku bin patung macam ituhhh!!"
Masih terdengar suara teriakan Dena bersahutan Laura memanggil namanya. Finn menggeleng kepala tak habis pikir. Saat mabuk Laura benar-benar tak tau diri. Mas iya mau ngejar dengan tanpa busana begitu? Huft! Sepertinya kata putus memang sudah tepat ia layangkan!
Kejadian ini bermula dari Finn minta hubungan berakhir. Ia mengaku tidak bisa lagi punya waktu dan perhatian untuk artis itu sekarang. Istrinya hamil, terpaksa ia katakan karena Laura bersikeras menolak, alasan yang kemudian membuat perempuan itu memesan minuman dan memabukkan diri.
Sesampai di basemen apartemen Finn tak langsung turun. Ia membuka ponsel, melihat pada deretan pesan dari seseorang. Ada foto dan video di sana.
Mata Finn menatap satu gambar dengan tak berkedip. "Keluar kerja tidak bilang. Sana-sini ketemu banyak lelaki lain. Perempuan apa!"
Hari ini ada kiriman foto Ameera yang akrab dengan seorang pria di pekuburan, lalu satu lagi foto perempuan itu ngobrol lama dengan lelaki sampai sore di teras rumahnya. Keberadaan lelaki gondrong seakan diterima anggota keluarga Ameera yang ikut berkumpul.
"Benar-benar mau jadi sapi liar dia!"
Menyalakan kembali mesin mobil, ia meninggalkan gedung menjulang tersebut. Menurut info terakhir, Ameera pulang ke mansion.
Rasa kesal sudah menyumpal dada. Ia bersiap meluapkan nanti biar perempuan itu paham dan tahu diri!
Namun, begitu memasuki kamar beraroma lemon pekat batu mengganjal rongga dada Finn sedikit mengecil. Hahh, hawa ini terasa damai.
Melangkah pelan setelah menutup pintu, ia melihat seorang terbaring tenang di sana. Terpaksa urung dulu marah-marahnya. Masih ada kesempatan besok pagi. Ia akan memancing masalah sampai Ameera sadar sudah mengabaikan seorang berharga sepertinya.
Usai membersihkan diri ia akan baring di tempat tidur. Tapi... rasanya ada yang kurang sebelum memastikan apa benjolan kening itu sudah hilang. Pria berpiyama biru tua kembali beranjak.
"Ck!" Meski mendengkus pelan-pelan ia lepas earphone yang masih menempel di telinga Ameera.
"Nghh...." Ameera masih nyenyak, hanya mengubah posisi miring membelakangi.
"Setidaksuka itukah padaku?" Entah kenapa Finn tersinggung dibelakangi begitu. Harga dirinya sebagai lelaki yang banyak diinginkan perempuan terasa melorot.
Ia gegas mengambil bantal, pindah baring di sebelah Ameera.
Beberapa menit diam matanya tak bisa terpejam. Buat apa ya ia ikut tidur di sini? Bukannya...? Argh! Finn tak peduli, ia cuma mengikuti gerak maunya saja.
Ia memiringkan badan melihat wajah polos seperti bayi tanpa dosa.
Penasaran, Finn geser mendekat.
'Hm, pipi tirus kemarin sudah berisi. Lumayan.'
Cuma itu?
Ah, tidak akan. Seorang Finn memang tak akan mau rugi.
Dalam gerak sangat pelan ia terus merapat. Mumpung tidur, Ameera tidak akan bisa menolak, bukan?
Wajahnya semakin tak berjarak.
Gara-gara perempuan ini Finn jadi ketagihan mencicipi bibir. Rasanya lembut, manis, kenyal, memabukkan, dan... ia selalu ingin lagi!
"Uhuk! Uhukk!"
Batuk disertai mata coklat muda membuka membuatnya menghentikan aksinya.
"M-Mas ngapain...?"
__ADS_1
Duhh! Wajah hingga kepala Finn menjadi panas membara. Malunya seperti lagi ketahuan mencuri ayam tetangga!
...Makasih dukungan teman-teman. Aku berusaha bisa percepat ngetik ya, tapi juga ga bisa dipaksa saat ide belum ada. Mudah2an teman2 bisa sabar nunggu update-nya. Makasihh tak terhingga dariku ❤️❤️...