
"Duhh... itu batok kepala apa batu sih...." Ameera terduduk di tepi kasur, pandangannya menggelap sesaat. Ia menunduk, menopang kening yang berdenyut.
"Coba lihat."
Finn yang tak apa-apa lekas bergerak menangkup pipi Ameera, dihadapkan arahnya. Ya ampun, di kening kanan mulus itu dalam sekejap muncul benjolan setengah bola tenis. Sekeras itukah benturan tadi?
"Salah sendiri! Kamu mau apa dekat mukaku! Mau cium!" Finn turun setelah meminta Ameera tetap di tempat.
"Ge er... siapa juga mau cium." Ameera cemberut, mengusap-usap rambut pada benjol untuk mengurangi nyeri.
"Minggir tangannya!" Finn kembali dengan es batu kristal. "Baring!"
"Bisa nggak sih Mas lembut sedikit nyuruhnya?"
"Ba-ring!" Finn menunjuk kasur.
Ameera menurut dengan bibir terkatup.
Beberapa saat kamar ini hening. Ameera cuma memejam mata merasai dingin es yang ampuh kurangi nyeri. Ia biarkan saja pria itu bertanggung jawab mengobatinya.
Merasa ada pergerakan pria itu turun ranjang, ia membuka sebelah mata. Finn mengambil sesuatu dari First Aid Box di dinding sana. Lekas Ameera kembali memejam begitu pria itu kembali.
Finn pelan-pelan mengoleskan sesuatu yang terasa dingin.
'*Sakitnya jadi kurang. Hebat juga, Mas Finn. Dia biasa kejedot kali ya makanya siapin salep itu*,' benak Ameera.
Gerakan jari Finn berhenti, tapi juga tak beranjak. Kalau begini jantung Ameera jadi deg degan.
'*Dia mau ngapain...? Buka mata nggak ya*?'
"Masih sakit?" Waww, demi apa suara Finn sedikit melembut.
Ameera buka mata sambil tak bisa menahan senyum. "Pengobatan Mas sukses. Nggak terasa lagi."
"Jangan sentuh dulu!" Finn menepis tangannya yang akan menyentuh benjolan itu.
"Baik. Ya sudah. Senang lihat Mas mau tanggung jawab tanpa diminta."
"Ck!" Finn beranjak menampakkan raut kembali kesal.
Ameera tersenyum kecil, mengaca sebentar di cermin rias, melihat keningnya.
"Jangan bekerja dengan keadaan seperti itu!"
"Saya memang nggak kerja, Mas."
Tanpa kata Finn menangkap lengannya. "Bagus. Pergilah sekarang. Bukankah kau mual dengan bauku, heh!" Ketiak berbulu lebat ia angkat, kempitkan ke pipi Ameera.
"Lepas, Mas! Lepass!!" teriak Ameera sambil memukul-mukulnya.
Tawa Finn terlepas, sampai semua gigi putihnya terlihat. "Mual, hem? Mau lagi?"
"Nggak! Nggak mau!" Ameera melepaskan diri, lekas keluar kamar.
Finn terbahak menyebalkan! Eh, tapi... dengar tawa itu sepertinya langka, Ameera pun menahan langkah. Ia mundur perlahan. Sampai garis pintu kepalanya memanjang.
"Dasar perempuan aneh!" Finn ngomel tapi bibirnya masih tertarik lebar. Tampak bahagia sekali.
"Kau?!" Seketika ia memelotot garang menemukan Ameera memotret dengan ponsel. "Hei! Sini, berikan!"
"Nggak sempat, Mas. Ini lihat belum ad-!" Ponselnya sudah direbut.
Tak berhasil menemukan fotonya Finn kembalikan sambil menarik sang istri itu ke pintu keluar. "Menjauh dulu! Kau bisa membuat kepalaku meledak!"
Pintu terbuka bertepatan dengan seseorang yang akan menekan bel.
__ADS_1
"Finn! Wah, kebetulan sekali! Aku hubungi teleponmu ga aktif." Lelaki berkulit putih, pemilik mata sipit tersenyum penuh, memamerkan dua lesung pipi menukik dalam.
Ameera terpana. Bukan karena cowok itu mirip Kim Min Kyu, tapi wajahnya seperti tak asing, deh.
"Kenzo! Kapan dari Sangatta?" Dua pria rupawan nyaris sama tinggi itu berjabat erat, lalu saling menubrukkan bahu.
"Begitu datang tadi malam aku kabari kamu, Finn, waktuku ga lama makanya harus ketemu kamu hari ini. Kita ngobrol di kantor atau di sini?"
"Masuk dulu, aku belum siap-siap."
"Oke." Mata Kenzo jatuh pada Ameera, sesaat senyumnya tertahan. Siapa ya? Ga asing.
"Sebentar, ini Ameera Perfecto bukan?"
Kening Finn mengerut, bergantian melihat pada kedua orang itu. Terutama pada Ameera yang tampak berbinar.
"Iya, Pak, saya Ameera yang pernah jaga Bunda Shaquilla."
"Ah, iya, aku ingat. Pastilah ga lupa sama kamu, Amee." Kenzo mengulurkan tangan cepat. "Makin manis aja. Sehat kan, ya?"
"Sehat, Pak. Apa kabar Bu Sha? Terakhir ketemu sekitar tiga tahun lalu kalau nggak salah."
Finn menatap tangan keduanya yang berlama-lama terlepas. Ia berdehem, menyilakan kembali putra pengusaha batu bara itu masuk.
"Baik. Sangat baik. Bunda ada di sini bersamaku. Kalau mau ketemu bisa main ke rumah."
"Uhuk! Ken, istriku sedang hamil muda." Finn merangkul pinggang hingga Ameera terkejut. "Aku tidak mengizinkan pergi kalau tidak penting-penting amat."
'*Wow, bagus sekali aktingnya*,' Ameera sampai mendongak demi menatap wajah Finn lebih jelas. '*Pasti biasa bohong, wajahnya setenang ini*.'
"Istri? Jadi Ameera istrimu, Finn." Kenzo tertawa dengan reaksi tak menyangka.
"Iya. Sorry, aku tidak mungkin kirim undangan sampai ke Sangatta, Ken."
"Tidak perlu repot, Ken. Kami suka kesederhanaan." Finn mengecup puncak kepala Ameera dalam-dalam. "Kau bisa berangkat sekarang, Sayang. Mang Darman menunggumu di bawah." Kalimat manis itu membuat Ameera kembali mendongak.
"I-ya, Mas." Belum selesai rasa terkejutnya, pria itu menatap lembut, menurunkan wajah cepat akan mengecup.
*Nope*!
Ameera refleks melebarkan telapak, menutup arah pandang Kenzo dari bibir mereka. Tak kalah cepat dengan sebelah tangan lain menangkup bingkai Finn.
"Nggak ada ciuman! Apalagi di depan orang," desis Ameera dengan gigi beradu.
Matanya membalas tatapan berkilat mata biru itu.
Finn menarik wajah lambat dengan rahang mengeras.
Apa barusan? Ia ditolak terang-terangan oleh seorang yang tak lebih cantik dari Laura? Di depan Kenzo lagi. Hahaa. Tawa ingin membunuh lalat menggema dalam hati Finn.
"Oke, hati-hati di jalan, Sayang." Finn beralih mengecup pelipisnya sekilas, sebelum membalas senyum kenzo di sana dengan wajah yang sangat panas.
A-M-E-E-R-A! Ejaan nama itu semakin tercatat tebal sebagai pengganggu di otaknya.
\*\*\*
"Masuk."
"Ya, Pak." Ameera menginjakkan kaki di ruang kerja manager restoran.
Usai temani Naja di rumah sakit untuk jadwal cuci darah tadi, ia langsung ke sini, setelah membuat janji dengan Alan.
"Kemarin ya mau temui saya?"
"Ya, Pak. Bapak kelihatan sibuk jadi suratnya saya kirim lewat surel."
__ADS_1
Alan katakan kemarin ada sedikit urusan dengan atasan. "Saya sudah baca, dan memang saya sudah menduga ini cepat atau lambat kamu lakukan."
Pria itu menyayangkan Ameera keluar, tapi juga mensyukuri keadaan ekonomi karyawan lamanya ini sudah membaik.
"Semoga adikmu lekas sehat, keadaan kalian akan lebih baik bersama keluarga Cullen. Mereka tidak mungkin membiarkan kalian kesusahan."
Ah, mendengar itu Ameera tak sependapat. Selama menjadi bagian dari keluarga Cullen ia tak mau bergantung, dan berharap perhatian banyak. Yang ada sekarang juga sangat lebih dari cukup.
"Terima kasih atas semua kebaikan Bapak selama saya di sini. Maafkan saya banyak salah."
Alan menjadi manajer sejak Ameera baru setengah tahun bekerja, jadi mereka bukanlah baru saling kenal. Banyak kejadian pasang surut atas musibah keluarga juga kecelakaan yang saat itu sempat membuat Ameera tak bekerja seminggu demi adiknya.
"Kenapa dengan keningmu, apa lelaki itu bersikap baik? Berhati-hatilah. Jaga diri dan adikmu baik-baik."
"Ya, Pak. Terima kasih perhatiannya."
Ameera menyalami Alan sebelum keluar ruangan.
"Lo serius berhenti kerja, Ra?" Silvi ternyata ada tak jauh dari pintu saat ia keluar.
"Iya, Sil. Sorry ya kalau aku ada salah." Ameera memeluknya tulus.
"Trus, lo kerja apa? Eh, dahi lo kenapa tuh?" Tak menunggu jawaban yang terlihat tak akan disahut Ameera, Silvi kemudian koar-koar memberitahu yang lain kalau Ameera berhenti kerja.
Kasak-kusuk pun mulai terdengar. Entah siapa mengawali, gosip Ameera benar istri simpanan makanya tak butuh duit lagi, terbawa angin ke telinga.
Ameera tetap tersenyum hangat. Tak apa, setelah ini telinganya akan bebas dari suara Silvi dan Dian yang sering mengganggu. Beberapa teman memeluk Ameera, termasuk cleaning servis yang biasa saling sapa, tapi tidak dengan Engkus, pemuda itu menjauh dengan mata berkaca-kaca.
\*\*\*
"Bi, hari ini aku berenti kerja di Perfecto. Sayang sebenarnya, tapi aku nggak tega sama Naja. Dia kadang uring-uringan bilang aku pembohong, itu rasanya sakit, Bi...," curhat Ameera di sisi nisan Biya.
Ia butuh mencurahkan perasaan saat ini. Ngobrol dengan Biya masih sangat nyaman meskipun hanya satu arah. Posisi Biya sebagai sahabat yang sangat dipercaya sampai saat ini belum tergantikan.
"Aku pengen usaha kecil-kecilan buat bekal hidup keponakanku ini, Bi. Tapi usaha apa, ya? Belum kepikiran."
Di sela curhatannya Ameera kadang tersenyum sendiri, kadang mengusap sudut mata, juga kadang termenung dengan pandangan kosong. Seseorang yang sejak beberapa saat tadi memerhatikannya juga ikut tersenyum.
"Mau curhat masih aja ke sini. Aku nggak dianggap nih?"
"Eh, Han? Kamu ada di sini." Ameera lekas berdiri menepuk sisa tanah di telapak tangan dan lututnya.
"Hum. Dari makam Bapak." Rayhan menatap ke arah barat TPU. "Gimana keadaan Sami?"
"Alhamdulillah. Lukanya yang lain udah kering, tinggal di lutut masih gitu."
"Bagian lututnya memang agak lama, Ra."
Ameera pamitan dulu pada makam Biya sebelum melanjutkan obrolan dengan Rayhan.
Lelaki seumuran yang merupakan teman kecilnya juga, selain Biya. Rayhan ini guru SMP, begitu lulus kuliah diterima ngajar di sebuah sekolah negeri.
"Nggak ada kelas, Han?"
"Libur, Ra, lupa ya ini hari Sabtu?"
"Iya, ya. Kayaknya udah mulai pikun aku." Ameera tergelak.
Mereka meninggalkan makam sambil sesekali tertawa. Momen yang diabadikan dalam bidikan kamera dan video seseorang dalam mobil hitam.
\[Lokasi sekarang di TPU Jeruk, Pak\] pesannya setelah kirimkan foto dan video itu.
\[*Terus pantau*!\] balas seorang di sana.
\[Beres, Pak!\]
__ADS_1
... Siapakah itu? Orang ngikutin Ameera apa ngikutin Rayhan, ya? 😁 Ikuti terus ya teman-teman. Makasihh.......