Mengandung Anak CEO Arogan

Mengandung Anak CEO Arogan
Bab 9 Perasaan Tak Nyaman


__ADS_3

Finn memerankan perannya dengan baik. Menjadi suami seutuhnya selama seminggu, selalu pulang cepat untuk mendapat jatah. Rakus. Seakan tidak mau ada kesempatan terbuang.



"Semakin sering disentuh, kemungkinan kamu mengandung juga makin besar, bukan?" Begitulah alibinya setiap Ameera menolak karena takut sakit.



Kesempatan berproduksi Finn optimalkan, agar tak panas telinga lagi mendengar opa dan maminya kebelet dapat keturunan Cullen. Namun, jika tidak berhasil artinya 'ya sudah' mereka tidak akan pernah mendapat cucu atau cicit darinya, biar dari anak Hazel saja.



"Cuma seminggu. Setelahnya kamu silakan tidur sendiri di manapun kamu suka. Aku sangat memegang setiap kata-kataku. Tidak perlu kamu ragukan!"



Benar saja, usai resepsi Finn merealisasikan omongannya sendiri. Pria itu tak menampakkan batang hidung hingga pagi. Entah pergi ataukah ada di salah satu sudut rumah ini. Bangunan nyaris 7000 meter persegi, seolah mau mengalahkan ukuran lapangan bola, pasti sangat bisa membuat penghuninya tak saling bertemu muka.



"Selamat pagi. Mau kerja kamu, Nak?" tanya Richie melihat Ameera sudah berpenampilan rapi.



"Selamat pagi juga. Iya, Pi. Saya mau masuk dua shift hari ini. Siap-siap sekarang karena mau ke rumah dulu jenguk adik-adik." Ameera menduduki salah satu kursi nyaman di sisi meja makan.



Untuk sarapan bersama seperti sekarang mereka baru bisa berkumpul setelah dua puluh menit tadi dikabarkan via telepon, oleh kepala asisten rumah. Semacam undangan untuk agenda sarapan bersama.



Ini hari kedua Ameera tinggal di mansion keluarga Cullen, dari sehari sebelum resepsi tadi malam, jadi sedikit banyak ia paham cara hidup orang kaya.



"Ya, tidak apa. Asal kamu tidak kelelahan saja," tanggap opa. "Opa tidak mau lagi banyak memaksa, sebahagia kamu saja, cucuku."



Hazel memutar bola mata. "Masa istri CEO AGR kerja jadi pelayan restoran, sih? Yang bener aja. Bukannya jelas uang dari kak Finn lebih dari cukup, bahkan bisa dia pake berendam lembarannya."



"Hazel?" Opa menurunkan kacamata, menarik bibir melebar. Interupsi yang terlihat jenaka, tapi cukup membuat Hazel manyun.



"Ini sudah kerjaan saya sejak lama. Saya senang melakukannya." Tujuan Ameera menjawab pertanyaan Hazel lebih pada menjelaskan untuk mami papi mertua, yang juga pasti ingin tahu alasannya.



"Mencintai pekerjaan bagus, tapi juga pikir untung ruginya. Kamu istri, harus tau batas." Di sela menyuap Jayna ikut bicara.



"Biarkan menantu kita pelan-pelan adaptasi, Sweetie. Sementara, biarkan dia lakukan seperti yang terbiasa dia lakukan sebelumnya saja." Richie menatap istri penuh cinta.



"Ya, tak masalah." Jayna mengangkat kedua bahu.



Di sela obrolan ringan, mereka tak permasalahkan Finn yang ternyata belum pulang sejak semalam. Ameera hanya diminta Jayna paham karena Finn sangat menyukai kesendirian, juga butuh waktu adaptasi menerima statusnya saat ini.



\*\*\*



"Ra!" Baru masuk halaman rumah Ameera dipanggil seseorang.



"Juna? Kok ada di sini?"



"Sengaja ikutin kamu." Juna turun dari motor besarnya, menyipit melihat Adam kembali masuk di mobil mewah setelah membantu keluarkan tas bawaan Ameera. "Hebat ya. Anak Richie Cullen...!"


__ADS_1


Ameera mengernyit kening mendapat tatapan dingin Juna, tapi ia tahu arah bicara pria itu.



"Aku bilang nggak usah cari tau, Jun, nggak usah juga bahas lagi. Kita kan sudah sepakat cuma temenan."



"Yang sepakat itu kamu, Beb, bukan aku." Pria mengenakan jaket ber-pin elang di dada kanan menatapnya sayu. "Aku masih anggap kamu bagian dari diri aku."



Dua ibu tetangga sama-sama keluar rumah, mulai berbisik-bisik. Seperti biasa, sambil menunggu tukang sayur, pagi-pagi mereka cari bahan gosip. Sasaran empuk banget melihat Ameera bicara dengan laki-laki gondrong yang dinilai mirip preman jalanan, setelah hampir tiap hari Ameera pulang pergi diantar mobil mewah yang masih terparkir di depan rumahnya.



Pekerjaan Ameera sekarang jadi topik hot obrolan emak-emak julid komplek.



"Kamu lakukan ini karena butuh uang? Butuh berapa, Ra? Aku bisa cari tanpa harus kamu mengorbankan diri."



"Nggak ada yang dikorbankan atau apapun itu, Juna. Tolong pulanglah. Aku-"



"Apa yang bisa kulakuin buat kita, Ra. Aku gak bisa-" Arjuna menyugar rambutnya gelisah. "Aku coba pergi dan lupa kemarin-kemarin, tapi tetap gak bisa. Kebersamaan kita tiga tahun gak mungkin hilang gitu aja dari otakku."



"Lama-lama pasti bisa, Juna."



Juna mencekal tangannya yang akan masuk. "I love you, Ra. Aku sangat cinta kamu... aku salah apa sih sampai kamu buang gini?"



Hubungan tiga tahun lebih sudah membuat Juna dan Ameera tak hanya dekat sebagai kekasih, tapi juga sahabat atau saudara. Dari Juna juga Ameera bisa memasak masakan Jepang.




"Non, apa saya nunggu atau?"



"Saya satu jam di sini, Mas. Mas Adam boleh pulang, kok, saya bisa pakai motor nanti."



"Kalau begitu saya tetap menunggu saja, Non. Tuan besar bisa pecat saya kalau biarkan Non naik motor."



Ameera menghindar tatapan mata Juna yang seakan mengatakan 'hebat sekali kamu diperlukan sebegitu perhatian, Ra!'



"Hm, Mas Adam bisa tunggu di dalam kalau mau." Ia beralih pada Juna. "Maaf ya, Jun, aku masuk dulu."



"Ra!"



Ameera menangkup kedua telapak, minta maaf tak bisa lagi meladeni Juna seperti dulu.



"Mbak, Naja barusan tidur lagi." Di dalam, Yuni menyambut tas bawaan yang Ameera minta taruh di kulkas.



"Pasti tadi Dek Naja bangun kepagian ya, Mbak Yun?" Ameera menyusul ke dapur usai melihat Naja yang lelap.



"Iya. Bangun jam tiga, baru tidur setengah enam tadi, habis Sami berangkat sekolah."

__ADS_1



"Semalam tidurnya gimana?"



"Nyenyak, Mbak, dari jam sembilan ndak gelisah atau bangun. Apalagi habis terapi kayaknya tidur Dek Naja lebih nyenyak."



"Alhamdulillah. Semoga terapinya cocok. Ada perubahan."



"Aamiin. Usaha Mbak Ameera sudah maksimal. Pasti ada jalannya."



Senyum lembut Ameera terkembang. Ia berterima kasih atas bantuan Yuni yang sangat membantunya selama ini.



\*\*\*



"Tidak usah repot melakukan apapun." Finn menolak mengambil kemeja putih yang Ameera siapkan untuknya ke kantor. Pria itu memakai kemeja lain dari lemari di walk in closet ini.



"Saya cuma menjalankan kewajiban, Mas. Nggak enak perasaan saya sebagai istri, kalo Mas lakukan semua sendiri di depan mata saya."



"Ckk!" Finn berbalik membelakanginya, Memakai kemeja lalu jasnya dalam gerak cepat.



Malam tadi mereka berdua terpaksa sekamar lagi. Entah apa yang terjadi sampai Finn mengajaknya ke apartemen, setelah dua bulan Ameera tak menginjakkan kaki di sini.



Benarkah gosip opa marah besar karena Finn kepergok bersama perempuan lain? Entah, Ameera hanya selintas dengar itu dari perbincangan Hazel di telepon kemarin pagi.



Finn menyambar tas, bermaksud akan pergi tanpa mencicipi sedikit pun sarapan buatan Ameera.



Di saat yang sama handphone Ameera berdering.



"Assalamualaikum, Han. Kenapa? Oh, iya aku ke situ sekarang. Tolong jangan ditinggal ya, Han!"



Langkah Finn sudah di luar kamar tampak diperlambat. Suara Ameera dua kali menyebut nama Han, dan terlihat terburu keluar membuat telinganya refleks memerah.



"Ada apa?" Tanpa terpikir lagi pertanyaan itu keluar.



"Mas, saya pergi dulu." Ameera tak sempat menjelaskan panjang. Ia menyalim suami sebelum setengah lari keluar.



"Han, posisi di mana? Iya. Ini aku langsung ke sana-" suara Ameera tertelan lift yang membawanya turun.



Finn yang diam-diam mengikuti langkahnya tadi hanya bisa mengepal tangan.



Perasaannya akhir-akhir ini memang sungguh tak nyaman. Sudah tiga kali ia melihat Ameera kerap dikejar pria gondrong saat pulang kerja. Pria bernama Radika Juna, seorang Chef restoran Jepang.



Sekarang seseorang yang ditemui Ameera terburu-buru dipanggil Han. *Hahh, pria mana lagi itu*?

__ADS_1


...Mohon dukungannya biar aku makin semangat update ya teman-teman. Satu dukungan aja sangat berarti 🙏🙏...


__ADS_2