Mengandung Anak CEO Arogan

Mengandung Anak CEO Arogan
Bab 23 Merasai Sepenuh Hati


__ADS_3

"Ameera. A-ku belum tahu rasanya punya teman baik."



Ameera yang berpura tidur sontak membuka mata, jarinya mengusap jejak bulir air mata.



"Kenapa bisa? Mas punya uang banyak. Nggak perlu capek nyari, teman bakal datang kayak semut mengerubungi gula."



"Aku gula? Lalu, kamu semut?" Bibir Finn tertarik senyum, mencoba bercanda tapi garing.



Ameera kembali memejam kuat, malas meladeni.



"Oya, anak kita sudah berapa bulan?" Finn merasa antusias bertanya hal ini. Ia sampai menopang badan untuk mengintip wajah Ameera.



"Baca aja bukunya di laci sana."



"Oh, oke. Nanti kubaca." Ameera menggedikkan bahu, karena jawaban itu kok ada di dekat telinga.



"Mas pindah sana. Kenapa malah di sini, bukannya ke kantor."



"Bos bebas. Aku libur dulu, mau nengok bayi kita."



"Hah?!"



"Duh!!" Karena terkejut Ameera refleks menyikut dadanya.



"Mas jangan macam-macam!"



Finn masih meringis dadanya cenut-cenut. "Macam-macam apa? Ugh! Mau usap perut saja sampai disikut." Ia kembali terlentang pasrah.



Suasana hening lagi. Ameera masih membelakanginya, tidak bakal percaya bahasa Finn 'nengok bayi' itu diartikan sebagai mengusap perut, ia tak bodoh.



"Izinkan sekali saja usap anakku." Finn belum menyerah. "Aku tasi lihat di google, bayi di dalam perut lumayan lucu. Dia bisa jungkir balik." Ia kembali menopang kepala menghadap Ameera. "Apa bayi kita sama?"



Menghela napas panjang Ameera pelan bangun, memperbaiki posisi bantal agar ia setengah duduk. Kalau terlentang datar perutnya kadang sesak.



Ia dan Finn saling pandang sebentar, sebelum izinkan si ayah bayi mengusap perutnya.



Finn tersenyum kaku, menurunkan kepala melihat perut melar seperti balon besar.



Ia mulai menaruh telapak tangan perlahan, dan agak terkejut merasakan kulit perut Ameera sangat kencang.



"Kamu kesakitan?" tanyanya dengan wajah sedikit tegang. Ameera menggeleng.



"I-ini pasti sesak." Finn bisa bayangkan perutnya membuncit begini, pasti sangat tidak enak.



"Orang hamil ya begitu, Mas. Sudah?"



"Belum. Sebentar." Finn mengumpulkan fokus, ia mau konsentrasi membayangkan wajah bayi di dalam.



"Baby, ini papa...," kata itu terucap dengan lidah sedikit kejang, tapi ada rasa hangat menjalar mengisi rongga dada Finn. "Baby lagi apa? Salto?"



Menghela napas, Ameera menahan gemas. Benar-benar bukan calon ayah yang manis. Kaku sekali.



Perut Ameera bergelombang, lalu membesar di bagian kanan, ada tonjolan kecil tepat di bawah telapak tangan Finn.



"Oh, kenapa? Apa ini?" Gigi putih rapi Finn sampai terlihat saking takjubnya. Bayi di dalam rupanya jadi makin aktif saat diajak bicara sang papa.



"Itu mungkin sikut atau kakinya, Mas."



Finn belum berhenti menganga. Wah, baru sekarang ia merasa setakjub ini.


__ADS_1


Ia terus mengusap sampai bagian menonjol itu hilang dan perut Ameera kembali membulat.



"Sebentar." Finn penasaran ingin melihat langsung kulit perut itu, bukan tertutup baju longgar Ameera yang berbahan tebal.



"Mas mau apa?" Tangannya ditahan.



"Mau lihat."



"Ini sudah lihat. Nggak usah buka."



"Sebentar. Mau lihat langsung."



"Mas, agh!" Ameera mendadak bangun sampai lupa sama perut buncitnya. Ia jadi meringis.



"Mana yang sakit? Kita ke dokter!"



"Huff, huhhh...!" Ameera mengatur napas berulang, seperti yang dokter saran ia lakukan saat lelah atau tegang, agar tak terjadi kontraksi berlebihan sebelum waktunya.



"Kita ke dokter?" Finn memegang tangannya dengan wajah tegang.



Ya ampun, laki-laki ini benar-benar menyebalkan!



"Mas, aku butuh melonggarkan napas... bisa nggak menjauh dulu...?" Ia diusir halus.



"Kalau perlu ke dokter aku antar." Finn masih di tempat, setelah mendapat pelototan baru ia beranjak menjauh.



Ah, ya, ia jadi sadar selama ini belum pernah antar Ameera periksa hamil. Jadi Ameera tiap periksa diantar siapa?



Jangan-jangan si gondrong itu!



\*\*\*




Kenapa juga aku harus repot begini? Karena Ameera kah?



"Huh!" Lekas Finn menepis angin. Tidak mungkin. Ia hanya sedang tak mau membuat ribut.



Ia sedang berusaha membuat hubungan ini lebih baik di detik-detik terakhir, demi kesehatan bayi yang dikandung Ameera. Dan demi kedamaian semua orang.



\*\*\*



"Mau ke mana? Tetap di tempat tidur, Ameera." Kedua bahu Ameera ditahan saat mau bangun.



"Mas ini lagi nggak ada kerjaan ya?"



"Ada. Urus kamu."



"Saya nggak perlu diurus." Ameera tetap mau bangun, tapi Finn kembali menahan, menyuruhnya tetap diam di tempat tidur.



O iya, sekarang Ameera sudah baring di kasur benaran, karena tadi, usai Finn bicara dengan dokter Vany, ia baru tahu kalau kandungan Ameera wajib hati-hati dijaga.



Demi keamanan bayi dan ibunya Finn langsung beraksi, tanpa izin mengangkut tubuh bulat Ameera dari sofa pindah ke kasur. Meski dipelototi dan dicubit, Finn tetap memaksa.



"Mau dibantu apa?" Ia menunduk berusaha mempertahankan tangan di kedua bahu sang istri.



"Kesambet apa Mas jadi aneh hari ini," gerutu Ameera kesal. Ia sudah nahan mau ke kamar kecil.



"Kata Tante Vany kamu harus bed rest."



"Saya mau pipis. Masa di sini?" Kesal Ameera naik setingkat.

__ADS_1



"Ayo!" Astaga... Finn kembali menggendongnya tanpa izin. "Nanti minta pelayan beli pampers saja."



"Nggak usah. Ke wece saya masih bisa, Mas."



"Dilarang dokter!"



"Dilarang kalo lari! Saya bisa jalan pelan."



Ingin Finn gigit bibir perempuan di gendongannya ini, yang manyun dan membantah. "Kamu perlu belajar bahasa Inggris untuk paham arti bed rest."



Ameera mengatup rapat bibir saat didudukkan di kloset, yang sudah Finn buka pakai kaki.



"Bapak mau nonton saya?" sindirnya gemas. Ia sudah kebelet, tapi pria itu malah berdiri di depannya.



"Ogh! Ya!" Finn gegas keluar. "Jangan kunci. Aku-" Ameera sudah memutar anak kunci cepat.



*Jiwa siapa sih yang tersesat masuk ke tubuhnya*?



\*\*\*



Finn benar tak kemana-mana selain di rumah dan kamar ini. Ia memantau Ameera sambil sesekali buka laptop, menerima telepon atau membalas pesan saat Ameera melarangnya mendekat.



Sekarang ia duduk di kursi kerja, letaknya agak di pojok kamar. Sementara perempuan itu sedang tidur siang.



Ketukan pintu membuatnya beranjak cepat.



"Permisi, Tuan, ini makanan selingan untuk Nona dan Tuan."



"Simpan di meja." Satu pelayan melebarkan pintu, satu lagi membawa nampan ke meja dekat sofa, meja selain tempat keberadaan buket bunga yang diabaikan Ameera sejak tadi.



Di atas nampan ada smoothies mix buah dan sayuran, secangkir teh tawar dan cake toping buah. Makanan buatan koki keluarga Cullen, sementara menunya diatur ahli gizi.



Usai pelayan keluar Finn menaruh ponsel di meja, ia mendekati Ameera yang masih nyenyak. Sudah hampir jam tiga, Ameera harus dibangunkan buat kasih makan si calon baby.



Posisi tidur miring ke kanan dengan kaki diganjal guling sepertinya sangat nyaman untuk Ameera. Wajahnya terlihat damai.



"Ameera. Ehm, Ameera." Oh, entah sudah berapa kali ia menyebut nama itu hari ini. Terdengar di telinga sendiri cukup menggelitik perut Finn.



"Ng...." Jari putih sedikit bengkak itu menggaruk pipi.



"Bangun. Ada makanan untukmu."



Ameera perlahan membuka mata, samar-samar menemukan wajah pria berjambang halus, hidung mancung, dan bermata biru.



*Siapa ya*...? Nyawanya belum kumpul sempurna sampai lupa.



Wajah polos bangun tidur Ameera sangat menggemaskan. Kulit bersih bening berbingkai rambut panjang tebal. Indah. Ia seperti bidadari bersinar yang baru jatuh dari langit di depan Finn.



"Kenapa? Ini aku...." Serta merta ia mengecup pucuk hidung lancip yang sebenarnya hendak sekalian ia gigit.



Melihat Ameera masih bengong Finn tak menjauhkan wajah. Mengusap rambut yang ternyata wanginya masih ia sukai. Bibir kemerahan mendarat lembut di kening, tertahan beberapa saat. Ia kemudian tercenung saat menarik wajah mundur, Ameera masih melihatnya dengan sorot mata kosong dan rona datar.



"Tolong Mas jangan mulai permainkan saya lagi...." Kalimat itu dirasa menohok tepat di jantung. Finn terdiam. Turut bertanya dalam hati, benarkah ia berniat mempermainkan Ameera lagi?



Jawabannya bukan kata, ia terdorong ingin membuktikan rasa yang bergejolak di dada saat ini.



Mengusap rambut, menangkup pipi yang halus, sampai ia kembali mendekatkan wajah.



Tak ingin berjarak. Finn kembali menyatukan dua bingkai yang lama terpisah. Rasanya luar biasa. Ini sesuatu yang sangat ia rindukan. Rasa yang pernah dikubur telah kembali meluap ke permukaan. Finn benar-benar menyesap, merasainya sepenuh hati.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2