
"Pagi, Opa. Gimana kabar opa?" Ameera menyapa lelaki tua yang duduk sendiri di ruang santai, dekat aquarium sebagai pembatas ruangan.
Eddie menoleh, lantas tersenyum lebar, senang atas kedatangannya. "Hohoo, Ameera, kemari. Kau lihat, Opa sudah sangat sehat. Berkat wajahmu yang bersinar mengalahkan mentari, sakit laki-laki tua ini terasa berkurang, cucuku."
Setelah tiga minggu di Penang, pemulihan pasca operasi lutut, Eddie kembali ada di rumah ini.
"Hehe, Opa bisa aja. Kaki Opa udah nggak nyeri?"
"Tidak. Ini sangat baik. Rasanya ringan, jalan pun enak."
"Alhamdulillah."
Eddie menyuruhnya duduk menyaksikan puluhan ikan hias air tawar berenang di sepanjang aquarium panjang. Angelfish pink dan koi gemuk merah putih lah yang paling menarik mata Ameera mengikuti gerak lincahnya.
"Kamu sudah aktivitas seperti biasa, Amee? Sudah tidak ada keluhan dengan perutmu?"
"Alhamdulillah sudah jauh lebih segar Opa. Nanti mau diajak Mas Finn belanja skalian jalan-jalan."
"Ohoo, opa akan titip dibelikan sesuatu untuk cicit opa nanti."
Rona wajah Ameera jauh lebih bersinar dan ceria. Ia juga terlihat sangat sehat, lebih bersemangat hingga menularkan ceria pada orang di sekitarnya.
Mungkin ini efek keseriusan janji Finn dua hari lalu.
Tak hanya serius sampai melibatkan pengacara, Finn membuktikan perhatiannya dengan selalu pulang cepat. Mengejutkan lagi kemarin Sami telepon dengan suara yang sangat excited. Katanya, orang suruhan kakak iparnya mengantarkan mobil ke rumah, dan langsung diurus surat atas namanya.
Sangat berlebihan menurut Ameera, karena Sami belum butuh kendaraan itu. Sudah cukup motor yang ia tinggalkan untuk sang adik pakai ke sekolah.
"Anggap sedikit penebus kesalahanku pada Naja. Aku menyesal baru tahu adikmu sangat ingin bertemu waktu itu." Alasan Finn membuatnya tak bisa menolak.
\*\*\*
"*Dia minta kamu berenti karena kalian udah baikan, Ra*?"
Melalui telepon Ameera sampaikan kalau ia akan segera mengundurkan diri dari bisnisnya Juna, suaminya tidak setuju ia bekerja di sana.
"Gitulah, Jun, makanya aku mau putuskan jadi istri full time dulu. Anakku nanti juga nggak bisa ditinggal-tinggal."
"*Kamu bisa kerjain dari rumah. Aku gak minta kamu ke sini hari-hari, Ra. Santai kayak sekarang aja. Via telpon*."
"Sorry ya, Jun, perintah suami tetap harus aku ikutin. Maksudnya baik, kok, Mas Finn nggak nyaman aku terus terus kontak sama kamu.
"*Memang egois tu orang*!"
"Kamu juga kalo jadi dia pasti ngelarang, Jun."
"*Alarm bahaya gitu kalo deket mantan? Aku mantan baik, Ra. Mantan yang penuh sayang tulus*."
"Udah yuk bahas ini. Yang penting sudah aku sampein ya."
"*Ra, kamu jangan tutup tutupi kalau dia nyakitin fisik atau mental kamu? Jangan pasrah jadi perempuan. Kamu berhak bahagia*."
"Insyaallah, Jun, aku juga nggak akan diam. Nauzubillah, jangan sampai terjadi deh."
Juna pun minta ia bertahan dulu sampai dapat admin pengganti yang bisa dipercaya.
"*Please, bantu aku diam-diam dulu lah, Ra, sampe dapat yang klik bertukar pikiran kayak kamu*."
Ameera berpikir sebentar. "Tapi usaha cari ya, Jun, aku nggak bisa lama-lama lagi bantu. Maaf."
"*Ya. Hum, hatiku bingung nih, antara kecewa dan bahagia*."
Ameera tertawa.
"*Tanya dong, kenapa*."
"Kenapa?" tanya Ameera sambil menahan senyum.
"*Kecewa karena pupus sudah harapan harap kita balikan. Tapi bahagia juga karena orang yang aku cinta bahagia*."
"Dihh, bisa aja! Simpan tuh gombalan buat calon istrimu nanti."
"*Oke, semoga ada sisanya yang kayak kamu*."
"Aih, kok panjang ngelanturnya ya, padahal aku telepon bukan buat bahas ini lho." Awalnya tadi Ameera menghubungi Juna buat laporkan pemesanan bahan untuk stok minggu ini.
"*Heheeh, gak apa juga sih, biar harapanku gak digantung*," tawa Juna pecah, meski hambar. "*Ya sudah, Ra, semoga kamu selalu bahagia*."
"Aamiin. Doa terbaikku juga tukmu, Jun."
__ADS_1
Ameera tak menyadari seseorang berdiri kaku tak jauh dari punggungnya. Melipat tangan, dan menyimak percakapan mereka dari tadi sambil merapatkan bibir.
"Udah dulu. Kalau bahan udah sampe tolong cek ya, Jun, kurang apa. Nori aku tambahin dua kali lipat biar nggak kekurangan lagi."
"*Okey, Ra. Thanks. Jaga dirimu*."
Ameera lega Juna tak sekeras kepala dengan saat ia minta putus waktu itu.
"Ehem!"
Ia berbalik, menemukan wajah kaku menatapnya dengan dua alis menaik.
"Mas sudah pulang?" Ia segera hampiri, cium punggung tangan dan sedikit jinjit buat kecup pipi sang suami. Ini masih belum setengah dua, tapi Finn sudah pulang.
"Masih teleponan di belakangku?" sindir Finn dengan sorot mata tajam.
"Maaf ya, Mas, tadi maksud telepon untuk urusan kerjaan, trus nggak sengaja bahas lain." Ameera bantu melepas dasinya.
"Secepatnya kamu berhenti kerja di sana!"
"Iya, Mas. Tadi sudah bilang mau berhenti, tapi baru bisa kalau sudah ada yang gantiin saya pegang admin."
"Apa susahnya dia cari admin? Itu cuma alasan bisa bicara sama kamu."
"Iya, nanti saya pastikan berhenti aja kalo gitu." Kemeja Finn yang sudah dilepas Ameera taruh dalam keranjang tertutup, nanti akan langsung diambil pelayan.
"Mas sudah makan siang belum?"
"Sudah." Finn mendekapnya dari belakang, mengingatkannya untuk pergi belanja keperluan baby nanti sore, tapi sebelumnya ia diajak tidur siang dulu.
"Saya sudah tidur siang tadi Mas, kebangun sebelum Dzuhur."
"Kalau begitu temani aku tidur."
Ameera mengernyit kening melihat Finn menutup semua gorden, hingga cahaya dari arah luar tak ada yang masuk. Pria yang hanya mengenakan kaus dalam dan boxer itu menyetel pendingin ruangan agak rendah.
"Ayo, sini." Finn duduk di tempat tidur sambil membawa ponsel. Ameera diminta duduk di sebelah dan langsung direngkuh merapat.
"Mas lagi kurang sehat ya? Tumben aja minta ditemani tidur siang?"
"Aku pusing," sahut Finn dengan suara agak ragu.
"Hm, boleh. Tapi pusingnya lihat ini." Finn nyalakan layar ponsel.
Ameera serius melihat apa yang dimaksud.
"Hah?! Ya ampun! Apaan sih, Mas??" Mukanya sontak memerah melihat gambar itu.
"Posisi ini katanya aman saat istri hamil."
"Maas... siang-siang lho ini," protes Ameera menggigit bibir, menahan malu. Gambar itu terlalu vulgar di matanya.
"Tak apa. Ayo, kita coba."
\*\*\*
Gara-gara Finn, jadwal belanja keperluan calon bayi jadi mundur. Keduanya baru berangkat dari rumah jam 4. Itupun tujuannya cuma ke satu toko khusus perlengkapan bayi dan anak. Jalan-jalan ditunda dengan alasan takut Ameera capek.
Tak sampai 40 menit, barang-barang yang dibeli asal tunjuk tanpa melihat harga sudah berpindah ke bagasi mobil.
"Sisa yang belum beli lewat online saja. Kamu jangan terlalu lelah di luar rumah," saran Finn saat mereka di perjalanan akan pulang.
"Ya, Mas. O ya, jalan ini kan lewat Moshi Moshi Ramen. Kita skalian dulu ya, Mas?"
"Mau apa?" Finn menoleh, menatap matanya. "Masih mau bertemu orang itu?"
"Pengen beli ramen, skalian bilang berhenti secara langsung sama Juna, Mas."
Finn mendengus tak suka dengar nama itu disebut dari bibir sang istri. "Tidak adakah Ramen di tempat lain?"
"Kan sekalian bilang saya positif berhenti, Mas."
Ameera menggelayut manja di lengan suami. "Saya gabung di sana dimulai baik-baik, maka saya juga harus berhenti baik-baik, Mas. Kurang sopan aja rasanya ninggalin sesuatu cuma ngomong lewat telepon."
Rahang Finn mengetat, sesaat masih diam mempertimbangkan. Sampai akhirnya bilang, "Baik. Sekali ini saja. Terakhir."
"Makasih, Mas." Ameera mengecup kulit lengan berotot padat yang terbuka, karena Finn hanya mengenakan kaus polo tangan pendek.
"Cepat nanti bicaranya. Makan ramen di tempat lain saja," ujar Finn sambil mengecup pangkal hidungnya.
__ADS_1
"Baiklah, My Husband."
Demi Finn, Ameera harus tahan keinginan lidah yang ngiler enaknya ramen buatan Juna.
Sampai di depan kedai, ternyata pelanggan sedang ramai. Andaru memarkirkan mobil agak lewat dari Moshi Moshi Ramen karena parkiran full.
Juna pasti lagi sibuk. Ameera merasa datang tak tepat waktu, tapi sudah terlanjur berhenti.
"Kita turun." Finn mendahuluinya keluar, membuka pintu dan menggamitnya jalan pelan.
"Kita lewat pintu samping, Mas. Langsung ke dapur."
Finn mengikuti saja.
"Ameera!" Seseorang membawa nampan melambai, menyapanya.
"Tari!" Ameera balas dengan senyum lebar dan lambaian tangan.
Teman-teman pekerja lain juga menyapa saat melihatnya. Mereka tampak sibuk dengan berjubelnya pengunjung.
Di dapur yang cukup luas hawa terasa agak panas, semua asisten chef tampak berkeringat dan kulit muka memerah sebab lama berhadapan dengan kompor. Terlihat melelahkan, tapi tangan tetap gesit mengolah pesanan yang sepertinya harus disajikan cepat.
"Ra! Gak bilang ke sini?" Pria dengan rambut diikat satu di belakang hat cook menghampiri.
"Lagi sibuk banget ya, Jun. Sori aku terlanjur minta Mas Finn antar ke sini. Nggak tau pas padat-padatnya."
"Gak apa. Apasih yang gak buat kamu." Juna melirik sekilas suami Ameera yang tampak seperti bodyguard. Berdiri kaku dengan dua tangan di saku celana.
"Yuk, ke ruang samping aja lengang. Di sini panas." Tangannya refleks mau menggamit Ameera tapi cepat didahului Finn.
Secara singkat saja Ameera bilang minta maaf, ia harus berhenti bantu mengembangkan Moshi Moshi Ramen. Ia harap usaha Juna makin berkembang dan sukses ke depannya.
"Gimana lagi kalau itu keputusanmu, Ra. Aku paham, kok," ucap Juna setelah Ameera pamit tepat di menit kelima.
Juna menatap kepergian pasangan itu sebentar, seraya mengusap tetes keringat di kening, juga menenggak habis segelas air dingin.
Sementara itu, saat jalan menuju mobil Ameera dan Finn berpapasan dengan dua orang perempuan yang sepertinya akan menuju kedai.
"A-Ameera?!" Salah satunya syok menunjuk ke arahnya. "L-lo kok ha-hamil?"
Mata nyaris keluar milik Silvi berpindah ke lelaki bermata biru yang merangkul bahu Ameera. "I-ini kan si-"
"Oh my God! Si mata biru, Sil! Si mata biru!!" desis Dian tak kalah syok.
"K-kok bi-sa sih, Di...? Kita gak lagi mimpi kan...?" Wajah cengo Silvi menatap pasangan bergandengan tangan itu tak percaya.
"Hai, Silvi, Dian, lagi libur nih? Lama kita nggak ketemu," sapa Ameera membuat Silvi melemas, bola matanya terbalik dan tubuh segera melorot ke tanah.
"Dia pingsan?" Finn bertanya tenang meski Dian sudah histeris memanggil-manggil nama Silvi.
"Pak, tolong bantu teman saya." Ameera hentikan lelaki berkumis tebal yang kebetulan lewat. Ia menahan tangan Finn yang dimintai tolong Dian mengangkat Silvi ke pinggir.
"Ayo, pulang, Mas." Ia memeluk erat lengan Finn terus jalan menuju mobil.
Sudah duduk di dalam, perkiraannya menjadi kenyataan, Silvi terdengar marah-marah karena akan dipeluk bapak berkumis.
"Iiih! Kok, jadi dia yang mau angkat gue, Di?! Jijayy!!" bentaknya.
"Jadi lo pura-pura?! Astaga, Sil, pita suara gue mau putus gara-gara takut lo mati mendadak!"
Bibir Ameera tersenyum tipis. "Pasti si Silvi ngarep digendong Mas Finn."
"Kenapa? Cemburu?"
"Apa, Mas?" Ameera kaget Finn mendengarnya.
Finn memutar badan ke samping, menatapnya intens. Tak terganggu mobil sedikit bergoyang melewati jalan tak rata.
"Kalau aku yang gendong dia tadi kamu cemburu, Sayang?"
"Hah?" Kali ini bukan kaget pada pertanyaannya, tapi kata sayang itu yang sungguh langka.
"M-Mas bilang apa barusan?"
"Sayang. Mau dengar lagi? Sayang. Sa-yang!" Finn mencuri gigit bibirnya. Gemas melihat reaksi Ameera yang lucu mendengar kata itu darinya.
"Mas, ada-"
"Fokus nyetir, Ru!" hardik Finn begitu menegakkan badan Andaru tercuri melirik spion.
__ADS_1
... Makasih dukungan, teman-teman. Maaf belum bisa update banyak bab, masih bagi-bagi waktu dengan kesibukan lain 🙏🙏...