
Ameera menggeser kepala mundur. "Kok, Mas di sini...?"
"O, itu-" Sial! Finn belum sempat memikirkan alasannya.
"Mas kan tidurnya di kasur sana...." Ameera akan duduk, tapi tertahan karena sebuah tangan memegang lengannya.
"Kamu lupa aku masih ngidam?"
"Hum, ya... Mas pengen apa malam-malam gini?" Sedikit menahan menguap, Ameera menepuk-nepuk mulut dengan telapak tangan.
Jam menunjukkan jam setengah sebelas, ia merasa sudah tidur sangat lama.
"Mau peluk."
"Ha?! Nggak salah, Mas?" Ia terduduk, menarik selimut sampai dada.
Bilang mau peluk, ntar sudah dipeluk mau yang lain. Nggak! Ameera membuat pertahanan, turun dari tempatnya agar tidak dipermainkan lagi.
Finn meringkuk seolah kedinginan. "Rujak di pinggir jalan beda dengan buatanmu. Terpaksa kumakan. Sekarang minta peluk, apa aku harus cari orang di pinggir jalan juga menggantimu?"
Ah, ya, Ameera memang absen membuat rujak buah. Itu karena terlupa, dan juga hubungan mereka pas lagi kurang baik. Finn pun tidak ada mengingatkannya.
"Janji cuma peluk?"
"Hm."
"Beneran rasa dari ngidam apa akal-akalan Mas?"
Finn berdecak. "Siapa bisa bedakan? Pertanyaan tidak berguna!" Di balik kalimat bengis ada wajah terlihat memelas.
"Sini." Akhirnya Ameera pun tak tega, kembali berbaring dengan perasaan aneh, kepalanya sedikit naik ke bantal.
Ia menahan napas pria itu langsung menyuruk kepala di bawah dagunya, tak meninggalkan jarak sama sekali. Ini menciptakan rasa yang sulit Ameera ungkap. Namun jelas ada gugup, gemetar, dan sedikit rasa menggelitik di kulit perut.
"Tenanglah. Suara jantungmu mengganggu," protes Finn mempererat dekapan.
"Mas, sesak!" Ameera sedikit mendorongnya. "Sudah ya. Gimana bisa tidur ntar."
"Sebentar lagi." Finn bagai bayi tak mau terpisah dari sang induk. Ia masih ingin merasakan perasaan hangat ini. Pelukan yang tak sampai hitungan sepuluh jari diberikan mami sepanjang ingatannya.
Kenapa dipeluk Ameera hatinya terasa berbeda? Biasa ia berpelukan dengan Laura juga menenangkan, tapi rasa di momen ini tetap beda.
"Mas!"
Lagi-lagi tanpa sadar tangannya bergerak nakal, hingga sontak mendapat pukulan.
"Mau elus baby."
"Tapi bukan terlalu ke bawah!"
"Ck!"
\*\*\*
"Bubur ayam dan jus jeruk. Silakan dinikmati, Tuan." Ameera bergaya seperti pelayan, menyajikan makanan di depan Finn pagi ini.
__ADS_1
Sang suami bilang badannya sedang kurang sehat. Otot pegal dan kepala berat. Jadi, ia minta makanan dibawa ke kamar. Tidak boleh ART, harus Ameera sendiri yang layani.
"Hm, sepertinya lumayan." Dengan wajah masih tampan walau baru bangun tidur, pria itu menghirup aroma dari mangkuk.
"Bilang lumayan tapi dipandang aja." Ameera duduk di depannya, terhalang meja kayu tempat wadah makanan.
"Apa bayinya juga mau disuapin, Tuan?" Dua alis Ameera menaik penuh. Anggukan Finn menandakan si calon papa ngidamnya makin parah.
"Memang rasanya gimana, Mas?" tanya Ameera usai beri suapan pertama.
"Lumayan."
"Bukan rasa buburnya. Rasa ngidam itu gimana?" Mata Ameera diam-diam menyelidik. Benar ngidam ataukah lelaki ini cuma mengerjainya.
"Mual."
"Trus?"
"Serba salah."
"Apalagi?"
"Gelisah."
"Hum, perasaan saya juga gitu kadang-kadang." Suapan besar ia berikan dan mulut Finn kurang membuka, hingga sudut bibir celemotan.
"Kayak bayi aja joroknya makan. Nih bersihin." Ameera sodorkan tisu.
"Kamu." Tisu kembali diberikan.
Finn akhirnya mengalah, mengusap sendiri bibirnya. "Besok aku pergi jauh," ucapnya datar.
"Ke mana?" Tangan Ameera menyuapi lagi. Kali ini suasana terasa beda. Kembali kaku.
"Jogja. Urus proyek sama Jonas." Nama pria yang disebut itu Ameera tahu, orang yang dulu menyuruhnya masuk kamar apartemen Finn, dan juga yang merekam mereka. Sampai saat ini Ameera tidak menyukai perbuatan luar biasa jahat lelaki itu.
"Kenapa harus sama dia? Mas bisa pergi dengan yang lain." Kalau di sana Finn juga dijebak begitu dengan wanita lain bagaimana? Itu pertama yang dipikirkannya. Tapi... Finn memang sudah biasa berganti wanita, pikirnya lagi.
"Aku akan hati-hati. Kerja sama proyek ini sudah sejak lama, cuma baru jalan sekarang."
Pikirannya seakan terbaca. Ameera menatap wajah pria itu lima detik. Baru ini Finn mengajaknya bicara seperti seorang istri benaran. Dan, pria itu juga sudah beberapa kali menatapnya lama.
"Berapa lama, Mas?" Ya ampun kenapa pertanyaan itu seakan tak rela berjauhan.
"Belum pasti."
Finn mengambil tangannya yang memegang sendok, mengarahkan menyuapinya. "Bayi kita juga harus makan."
Naluri membuat Ameera refleks membuka mulut.
Duhh, jantungnya makin berloncatan. Ah, siapa wanita yang tak senang diperhatikan seorang Finn, tapi... ia harus segera sadar tidak boleh berharap banyak.
"Mas, hati-hati. Jangan kebanyakan main perempuan. Ingat, lebih baik mencegah sebelum mengobati. Penyakit menular s\*ksual banyak yang mengerikan. Mematikan." Ia membuat wajah bergidik untuk menakut-nakuti, terlupa kalau Finn bukan remaja seperti Sami, tapi laki-laki usia 31 tahun.
"Ck! Kau pikir aku sekotor itu?!" Mulailah naik darah.
__ADS_1
"Jadi, Mas nggak gonta-ganti...?" Dua jari Ameera membentuk tanda kutip.
"Minum!" Bukannya menjawab Finn malah melirik gelas jus di depannya.
"Harus diminumkan juga?" Oh, penduduk Bikini Bottom berikan Ameera kesabaran.
"Silakan diminum, Tuan Squilliam Fancyson. Semoga Anda cepat segar lagi yaa, hehehee!" Suara dan tawa Ameera buat persis Spongebob, nyaris membuat Finn tersedak.
Bisa-bisanya ia menyamai Finn dengan tokoh saingan Squidward yang sangat kaya dan sombong itu. Ameera benar-benar menyebalkan sekaligus... menggemaskan! Ingin sekali Finn menggigit lehernya.
\*\*\*
"Ke sini, atau aku mati!" Ancaman Laura membuat Finn datang juga ke apartemen ini. Ia ditemani Aldi, karena cuma akan sebentar dan berjaga kalau ada apa-apa. Tak lupa, Dena juga ia beritahu.
"Finn... maafin aku. Aku memang jadi bodoh karena cinta." Sesampai di dalam ia disambut isak tangis perempuan berpakaian minim itu. Finn pun mengode Aldi menunggu di bawah saja.
"It's okay. Aku tidak mempermasalahkan, Lau." Finn tetap tenang di tempat duduknya. "Kita tetap kembali berteman."
"Tapi aku gak siap, Finn... a-aku gak bisa pisah gitu aja dari kamu," isak Laura makin pecah. "Aku... aku udah kasih hati aku semua ke kamu, Finn. Please... jangan tinggalin aku gitu aja...!"
Pria itu berdiri. "Sudah kutegaskan tidak bisa lagi, Lau. Maaf."
"Finn! FIINNNN!!!" histeris teriakan Laura sembari mengejarnya.
"Oke, Finn, oke! Aku akan terima. Kita teman." Dengan mata berlinang ia berhasil menahan lengan lelaki kaku itu, coba tersenyum meski air mata masih terus mengalir.
"A-aku akan berusaha lupain kamu sebagai kekasih... tapi tolong tetap jadi temanku ya, Finn... please.... " Ia memohon dengan sangat sampai hampir menjatuhkan tubuh, tapi cepat Finn tahan.
"Sudahlah. Kembali masuk sana."
"Finn tolong jangan kaku gini sama aku. Aku bisa mati kalau benar-benar kehilangan kamu... "
"Laura, kamu punya masa depan lebih baik. Jangan rusak karena aku. Lanjutkan hidupmu." Finn mengacak sekilas puncak kepalanya. Laura kekasih paling lama di sisi, tak seperti beberapa perempuan dulu hanya beberapa bulan saja.
Laura tersenyum sambil menggigit bibir. "Yah... a-ku akan coba bangkit lagi." Ia menggenggam erat tangan lelaki itu. "Thanks sudah mau datang. Aku yakin kamu masih sayang. Cuma-"
"Sstt! Masuk sana." Finn meneleng kepala ke arah pintu unit Laura. Tanpa sengaja matanya bertemu seseorang yang sedang memandang mereka.
Laura mencuri kecup pipi kanan Finn yang lengah sebelum gegas meninggalkan tempat.
Seseorang tadi mengejar langkah Finn masuk ke dalam lift. Hanya mereka berdua di situ dan kebetulan saling berhadapan.
"Ada masalah?"
"Lu masalahnya!" sahut pria gondrong yang tak lain adalah Juna, dengan penuh nyali. "Lu laki-laki brengsek yang ganggu hubungan gue dengan Ameera, lupa?"
Finn mengangkat dagu, tetap bernapas tenang, tak ingin meladeni.
"Secepatnya lu lepas pacar gue. Ameera milik gue!"
"O ya? Kamu suaminya? Punya buku nikah?"
"Sekarang memang bukan, tapi gue akan jadi suaminya! Lu harus tau, cinta kami sehidup semati!"
Finn tersenyum dikulum. "Bunuh dulu suaminya ini kalau mau!" Dengan langkah santai ia melewati Juna keluar dari lift yang terbuka.
__ADS_1
Jawabannya sukses membuat Juna mati kutu.
...Udah update 2 bab hari ini yaa, semoga teman-teman cukup puas dan terhibur 🤗...