
Bibir Ameera mati rasa, atau mungkin sudah bengkak akibat ulah Finn yang tanpa jeda. Napasnya tersengal, sesak. Ia berusaha melepaskan diri karena kesulitan mencari udara, tapi pria itu tak mengizinkan sedikitpun.
Mungkinkah Finn rindu, dan ada rasa sudah menginginkannya?
Lantaran prasangka itu Ameera mencoba lebih rileks, membalas gerakan indera perasa sang suami sesuai naluri. Ia sama sekali tidak berpengalaman. Selama pacaran dengan Juna hanya pernah dikecup pipi. Finn lah pria pertama yang mengajarkan hal semacam ini.
Suara ponsel sebentar menghentikan sesapan Finn, jadi kesempatan Ameera menarik diri, meraup udara lebih banyak. Andai ada, ia butuh tabung oksigen saat ini, untuk melonggarkan napas yang seakan terhimpit.
Finn cepat mematikan panggilan, sekaligus menonaktifkan suara ponselnya. Biar, pasti Laura menagih janji pertemuan mereka malam ini. Bukan Finn lupa, hanya pikirannya sedikit terganggu atas reaksi biasa Ameera saat menangkap basah ia dan Laura. Apalagi saat sampai di apartemen Ameera tidak ada. Pergerakan rasa tak nyaman itu yang kemudian membawanya sampai di rumah sederhana, menjemput perempuan mungil ini pulang.
Demi apa, sungguh di luar dugaan seorang Finn menurunkan harga diri menjemput perempuan dibawa pulang. Sangat tidak biasa dan... langka! Apartemen ini saja sangat terlarang untuk dimasuki Laura atau kekasih sebelumnya. Sebab ini area amat pribadi Finn.
"Mas, saya-"
"Sst... kamu cukup diam saja," sela Finn dengan suara serak. Ia sedang sangat ingin, Ameera tidak boleh membantah.
"Mas, perut saya a-gak sakit...."
"Coba kamu rileks lagi, oke...?" Apapun alasan Finn tak mau ada penolakan. Anggap saja ia sedang egois saat ini.
Setengah jam, usai mencapai puncak Finn bagai baru tersadar atas aksinya barusan. Ia tertegun sejenak menatap wajah basah peluh perempuan di bawahnya. Ameera tampak seperti orang yang habis disiksa.
"A-ku akan membayarmu mahal untuk ini...," lirih Finn tercekat, ujung jempolnya mengusap cairan dari sudut mata Ameera yang terpejam.
Air mata Ameera kian deras. Kalimat pria itu terasa sangat menggores hati. Padahal setitik harap sempat muncul atas kehangatan yang sama-sama diinginkan barusan.
"Kau masih... menganggapku menjual diri, Mas...?" Ia membuka mata. Luka tak bisa disembunyikan dari pancarannya. "Padahal aku nggak pernah berniat menjual diri padamu... ya, aku terima uang itu tapi alasannya bukan seperti yang Mas duga...."
Ameera harap lelaki berstatus suami ini mengerti, membuka hati menerimanya. Itu salah satu jalan terbaik untuk perkembangan anak mereka nanti. Pernikahan sekali seumur hidup. Meski belum cinta, tapi ia yakin rasa itu bisa diperjuangkan.
"Sekarang katakan, apa arti sentuhan Mas ini? Apa aku cuma pelampiasan? Apa Mas juga melakukan ini pada banyak wanita?" tanya Ameera lagi.
Bibir Finn kian terkatup rapat, rahangnya menegang, tapi ia juga tak beranjak turun.
"Katakan, Mas... apa ada harapan untuk rumah tangga sungguhan antara kita?" Ameera sangat ingin tahu.
Mata mereka beradu puluhan detik, sebelum Finn melepaskan diri, turun dari atasnya dalam kebisuan.
Jari Ameera gemetar menarik selimut hingga menutupi leher. Hatinya makin pedih melihat pria itu kembali menulis cek dan meletakkan di atas selimut. Finn masih orang sama yang menilai harga dirinya dengan uang.
"Sejak awal aku membayarmu. Maka seterusnya begitu." Ia memang manusia batu, agh! Ingin sekali Ameera tendang sesuatu tak terbungkus di antara kedua paha itu supaya tidak berfungsi lagi!
Ameera duduk sembari tersenyum pahit memegang cek tertulis 200 juta. Bagi Finn nilai ini sangat kecil karena uang keluarganya tak habis-habis mengalir dari berbagai bisnis ke rekening. Sekecil ia memandang seorang Ameera yang mungkin di matanya sangat tak berharga.
"Ambil aja, Mas. Saya gratiskan. Anggap tadi servis gratis pertama dan terakhir untuk Mas, suami saya." Ia membungkus badan dengan selimut, beraniak hati-hati, menahan sedikit nyeri di bawah perut.
Dengan tenang Ameera memasukkan kertas cek itu ke dalam dompet Finn di meja. "Kita memang cuma orang asing. Maaf kalau saya sempat lupa."
__ADS_1
Ia tersenyum kecil menatap lelaki yang kepedean tampil polos di depannya. "Saya nggak tertarik lagi jual diri pada Mas Ghazi Finn Cullen. Kita kembali ke kesepakatan awal. Tanpa \*\*\*\*. Tanpa ciuman. Saya nggak mau jadi salah satu tempat pembuangan sampah Mas."
Finn tersenyum miring. "Sampah bilang sampah!"
"Sudah cukup ya. Mulai sekarang Mas berhenti menghina saya."
"Kau yang menghinakan dirimu sendiri! Menjebak orang sepertiku menikah dengan--" Finn menggeram tak melanjutkan kalimatnya.
"Saya tau... saya sadar diri, kok, Mas. Mohon Mas Finn yang terhormat sabar. Setelah bayi saya lahir Mas bisa bebas, kok, saya nggak akan bermohon-mohon menahan."
"Ya. Karena kamu sudah untung banyak!"
Terhenyak, Ameera mundur, lantas mengambil pakaian dan segera keluar kamar.
Lelaki itu benar-benar suka menghinanya.
\*\*\*
Setelah kejadian semalam, perempuan berambut indah itu masih bisa tersenyum pagi ini. Bahkan menyiapkan sarapan seperti biasa, walau tak berminat Finn sentuh sama sekali.
"Kita bersama cuma sementara, Mas. Capek sendiri kalau gontok-gontokan, ribut. Mending damai. Jadi teman mungkin?" Senyum Ameera makin lebar.
"Ck!" Wajah Finn makin sinis. Melewati mini bar begitu saja akan pergi ke kantor.
"Suka-sukamu, Mas. Yang penting anakku sehat." Ameera mengusap perut sambil menghabiskan sisa susu di gelasnya.
\*\*\*
"Arrg!" geram Finn tiba-tiba. Di atas meja telapak tangannya mengepal kuat hingga urat-urat muncul.
Seharian ini ia sulit berkonsentrasi. Di pikirannya kerap muncul kalimat-kalimat dan wajah Ameera bergantian. Menyebalkan sekali! Inilah yang Finn tidak suka. Punya teman hidup yang bisa merusak moodnya.
Teman hidup?
"Jiahh! Galau nih kayaknya."
Suara itu mengejutkan Finn yang tengan mengurut kening. Ia langsung berdecak malas. "Ngapain ke sini!"
Jonas tertawa bahagia. "Bentar gue tebak. Ini putus sama Laura atau ribut sama ipar? Eits!" Sepupu tengil Finn ini bisa mengelak ponsel yang dilemparkan ke mukanya. Beruntung mendarat di sofa, kalau tidak benda puluhan juta itu pasti akan jadi barang rongsok.
"Santai lah Bro, ntar lu cepat tua kalo jiwa becanda lu krisis."
"Aku lagi tidak suka bercanda. Ada apa? Langsung saja!"
Lagi-lagi Jonas tertawa lepas. Singa keluarga Cullen tampaknya lagi dalam masalah.
__ADS_1
Jonas mengambil ponsel Finn, mengembalikan ke atas meja kerja yang juga tampak berantakan. "Gue kira lu lagi berbahagia. Dengar-dengar ipar gue hamil."
Finn menatapnya dengan tatapan menusuk. "Tidak ada pembahasan lain, Jo. Katakan tujuan lu datang!"
Rona wajah Finn memang terlihat tidak bisa diajak bercanda saat ini. Jika dipaksa bisa gempa lokal.
"Baiklah." Jonas pun duduk di kursi depannya, mulai membicarakan perkembangan kerjasama proyek Artha Graha Realty dengan perusahaannya, PT Bumi Angkasa Property. Dua sepupu ini memang memiliki bidang usaha sama.
\*\*\*
Di ruang keluarga yang luas kekeh Eddie terdengar menggema. Lelaki tua itu masih sangat bahagia atas kabar kehamilan Ameera. Keduanya diminta menginap di rumah malam ini.
"Kalian cuma pergi liburan sebentar, anggap cari angin segar. Tidak baik terkurung terus dalam hawa pengap apartemen." Eddie juga bilang tak mau kecewa lagi hadiahnya ditolak.
Sebuah bungalow di Kampung Sampireun sudah asisten Eddie booking tiga malam untuk Finn dan Ameera. Tidak jauh, hanya Jakarta Garut yang cuma ditempuh tak akan lama dengan jet pribadi.
"Tapi waktuku belum bisa, Opa. Lain kali saja." Finn sedang tidak ingin bersama Ameera dalam waktu lama apalagi kalau harus pergi cuma berdua.
"Tidak ada alasan Finn, cuma tiga hari. Urusan kantor masih bisa diurus yang lain, kalau perlu opa dan Daddy mu yang ambil alih."
"Maaf, Opa, saya yang kayaknya nggak bisa pergi."
"Alasannya?"
"Alasannya banyak, Opa. Saya nggak bisa jabarkan satu-satu. Tapi paling utama saya... sebenarnya ngidam nggak suka bau keringat Mas Finn." Mengabaikan pria yang dimaksud sudah menoleh dengan tatapan melotot, Ameera lanjutkan, "maaf, baunya sering bikin perut saya diaduk-aduk, Opa. Ini aja lagi nahan mual."
Ameera menutup mulut dengan telapak tangan.
"Kamu yakin? Sejak kapan?" Eddie meringis, menahan senyum lihat muka Finn memerah padam. Namun di sisi lain beliau tak bisa percaya begitu saja, meski tadi dua orang itu memang datang sendiri-sendiri.
"Ya, Opa... " Ameera mengusap perut. "Kasihan cicit Opa kalau saya banyak muntah. Badan jadi lemes sama nggak nafsu makan."
Alasan Ameera rupanya lebih ampuh dibanding Finn tadi, Eddie pun segera menghubungi asisten, membatalkan pesanan untuk liburan itu.
Ameera tersenyum menang, sementara Finn dongkol tak terima. Begitu Opa kembali istirahat ke kamar, pria itu menarik tangan Ameera menyudut, mengungkungnya hingga tak bisa pergi.
"Alasan apa itu tadi?!" murkanya dengan mata berkilat, titik-titik ludah sampai muncrat membuat Ameera membuang pandang ke samping.
"Kamu salah tempat bercanda denganku!"
Orang yang digertak malah tersenyum manis. "Tenang, Mas, yang penting liburannya batal, ya kan?" Ameera menepuk dadanya dua kali, "permisi, ya, bayi kita nggak boleh dibikin tegang lho." Menunduk, Ameera melewati bawah tangannya dengan tenang.
*Damn*!! Ia meninju dinding, geram.
Sekarang ketenangan hati Finn benar-benar terusik.
__ADS_1
**bersambung**....