
"Adikmu, ah, siapa namanya?"
"Sami."
"Ya, Sami. Suruh dia ke sini saja. Jangan kamu yang pulang."
Ameera tak mengangguk juga tak mengiyakan. Finn sepertinya tahu kalau Sami sangat khawatir dan terus menyuruhnya pulang walau sebentar.
"Bisa?"
Alisnya menaik. "Bisa." Dengan suara agak ragu.
Pria itu masih mondar-mandir di sisi ranjang, memegang buku kecil dan bolpoin.
"Kalau sudah lebih kuat, kita ke makam adikmu Na-Na?"
"Naja."
Finn mencatat nama itu.
"Hm, nanti siang Desainer Interior datang. Kamu temui, minta bantu pelayan. Silakan rancang kamar baby suka-sukamu."
Ameera menjepit bibir. Masih fokus memerhatikan wajah serius Finn yang persis pramuniaga toko mengecek barang.
"Sekarang kamu ada keluhan? Atau mungkin butuh sesuatu, Ameera?" Finn bertanya, mata menatapnya serius.
*Ah, ini formal sekali. Apalagi sih yang merasukimu, Mas*?
"Sudah jam 9. Mas masih belum ke kantor?"
Sejak tadi Finn terlalu sibuk, bukan, menyibukkan diri mengurusnya. Mulai dari sarapan bersama, lalu berjemur di taman tapi harus tetap duduk di kursi roda, didorong Finn. Ya, alat itu Finn beli yang lebih mahal walau Ameera bilang ia punya bekas Naja.
Ameera tidak boleh lelah bergerak di rumah, yang dari ujung ke ujung pasti membuat napas ngos-ngosan mencapainya.
Ameera dibuat seperti bumil lemah, harus diperlakukan super hati-hati. Setumben dan separah itu Finn memperlakukannya.
"Urusan kantor bisa dikerjakan orang lain. Kamu tidak." Kata-kata terucap biasa, tapi maknanya cukup membuat haru yang mendengar.
"Ya, makasih perhatian Mas, tapi kayaknya sudah beres semua, Mas... saya tinggal santai di tempat tidur sekarang ini."
"Sebentar. Kita juga harus belanja baju, atau apa buat kamu dan baby?" Finn masih ingin menambah list yang dibuatnya semalam.
"Nanti aja. Nunggu Mas pulang kantor kita bahas lagi."
Sebelah alis tebal itu menaik menatap buku catatan. "Rasanya aku melewatkan sesuatu. Pakaian dalam ibu hamil tidak boleh ketat. Aku akan beli-"
"Astaghfirullah, Mas. Nggak harus sampai Mas juga kan yang belinya?"
Hah, lagian dari mana Finn tahu apa yang boleh dan tidak untuk dipakai wanita hamil?
*Tunggu! Kok, dia tau juga pakaian dalamku sudah ketat*?
Finn maju mendekat. "Ukuran Bra kamu juga harus diperbaharui. Sekarang nomor berapa? Perlu naik berapa angka?"
Astagaaa, ingin sekali Ameera cubit keras otak Finn. Sudah super menyebalkan seperti Squidward saja!
Melihat Ameera manyun lima senti, tak menjawab pertanyaan konyolnya, Finn nyaris terkekeh. Tapi ia tahan menjadi mode senyum sedetik.
"Kenapa, Ameera? Ini perlu."
"Mas, tolong, saya kalau marah suka sesak napas." Mata Ameera mendelik.
"Ya. Aku cuma bercanda." Finn bermaksud membuatnya tersenyum pagi ini, tetapi hasilnya Ameera justru kesal. Ia pun menutup buku, menaruhnya dalam tas.
__ADS_1
"Baik. Aku lanjutkan di kantor saja."
'*Sudah jelas kayaknya ada jiwa lain masuk tubuh Mas Finn*.'
Usai menarik tas kerja Finn mengaca sebentar. Rambut tersisir rapi, kulit wajah licin. '*Masih tampan*,' benaknya, sedikit menaikkan sebelah alis.
"Papa kerja dulu Baby." Ia mengecup dan mengusap perut Ameera.
Setelah beberapa kali melakukan ini tanpa permisi, ia makin terbiasa. Lebih tak sopannya Finn berani nyosor bibir sang istri sekilas usai disalim.
Ah, setelah sekian lama berangkat kerja tanpa disalim akhirnya terjadi lagi. Janji, Finn akan mempertahankan Ameera melakukannya lagi, dan lagi untuknya. Untuk kenyamanan perasaannya.
\*\*\*
Atas saran Finn tadi Ameera akhirnya mengundang Sami datang. Ia yang belum berani aktivitas banyak selain di rumah kangen juga bertemu dengan adik gantengnya.
Awalnya cowok berseragam putih abu ini menolak, ia malas aja harus masuk ke rumah orang kaya, tapi keadaan Ameera seperti apa di sana membuatnya memutuskan datang. Tidak sendiri, ia ajak seorang gadis berambut sepinggang di boncengan motornya.
"Busyett! Ini rumah apa gelanggang olahraga!" Baru terbuka pagar Sami dibuat agak syok.
"Bangunannya mirip Sursock Museum," komentar sang cewek, memanjangkan leher melewati bahu Sami. Maklum, Acha bertubuh agak mungil jika dibandingkan Sami yang jangkung.
Keduanya masih di atas motor, sudah diarahkan penjaga menuju parkiran tapi masih belum bergerak. Sami butuh beberapa detik menguasai diri akan bangunan tempat tinggal kakaknya.
"Museum apa tuh?" tanya Sami sembari kembali melajukan motor.
"Museum seni di Beirut, Sam. Gue pernah sekali diajak bokap ke sana."
Sami tahu, gadis satu sekolahan dengannya ini memang sering ke luar negeri.
"Yakin kakak loe tinggal di sini? Jangan-jangan kita tersesat lagi salah masuk."
Setelah yakin benar, keduanya menuju pintu sisi parkiran, langsung ada pelayan berseragam menyambut dan mengarahkan mereka ke dalam.
Walaupun tergolong anak konglomerat, Acha tak bisa menahan bibir membuka melihat rumah super luas. Dalam bayangannya, rumah ini kalau penuh salju lalu jadi arena main ice skating sangatlah keren. Lalu... bayangannya berubah lagi, menjadi aspal dengan area berkelok dan memutar.
'Buat belajar naik motor kayaknya oke juga, biar gue bisa sejajar sama hidupnya Sami. Cuman... bahaya banget kalo nabrak barang pajangan sana tuh. Woaww, nilainya ngalahin penjualan puluhan organ dalam manusia,' batin Acha sungguh absurd.
"Huss!! Kesambet apa, lo?!" Sami mengusap wajah Acha dari kening sampai dagu, sambil baca audzubillahiminasyaitonirrojim!
"Ihh! Ganggu khayalan gue aja!"
"Udeh ketinggalan, ntar kita tersesat!" Sami menarik tangannya mengikuti arah pelayan tadi.
\*\*\*
Belum setengah jam Sami dan Acha seru ngobrol dengan Ameera, pintu kamar terdorong. Sesosok pria berkemeja putih dengan garis wajah masih sangat tampan meski belum mandi, terpampang nyata.
Acha seperti tersihir. "Cakep banget... sumpah!" tanpa sadar ia mengelus-elus tangan Sami.
"Sadar, Cha! Jangan bikin gue ilfil!" desis Sami kesal.
"Wah, ada adik ipar. What's up, Bro?" Bahasa Finn dibuat agak gaul, tapi aneh untuk ekspresinya. Air muka datar dan bersuara berat, lucunya lagi ia tetap berdiri kaku di tempat.
Tiga orang di situ jadi saling pandang.
"Ganteng-ganteng kok kayak robot?" celetuk Acha langsung mendapat keplakan Sami di kepala. Aslinya sih semacam tepukan sayang, bukan keplakan kasar ya. Hm.
"Mas sudah pulang. Ini Sami datang tadi sama temannya, Acha." Ameera coba menetralkan suasana. Apalagi Sami sudah pasang raut wajah bermusuhan.
"Sami," tegur Ameera halus usai menyalim tangan Finn, dan menaruh tas itu di meja.
__ADS_1
Sami mengerti. Ia mendekati Finn, menyalim tangan juga.
"Baru pulang sekolah?"
*Udeh tau nanyeaa*! "Kelihatannya gimana? Jelas kan gue masih pake seragam."
"Sammii?" tekan Ameera membuat sang adik meringis.
"Ya Mas, baru pulang." Detik berikutnya Sami mendelik dengan bibir masam. Ia makin tak suka pada Finn setelah tau pernikahan kakaknya ini hanya pernikahan sementara.
Acha juga mau salim tapi Finn malah menangkup dua telapak. "Salam kenal. Aku Finn."
Astaga! Demi apa perut Ameera nyaris kram menahan geli. Fix! Finn sore ini kerasukan roh baru. Roh Robot.
\*\*\*
Sudah jam 9 lebih 35, tapi Finn masih serius di depan laptop, di meja kerjanya.
Ameera habis Isya tadi sudah tidur, tapi terbangun teringat sesuatu.
Ia merasa takut Finn tersinggung atas ucapan Sami tadi sore, saat akan pulang dan sudah meninggalkan kamar remaja itu balik lagi demi sampaikan pesannya,
"*Nih, pesan ya buat yang ngerasa! Jangan sampe sedikit pun sakitin kakak gue lagi! Sekali aja gue denger kakak gue sakit hati, jangan harap gue diem. Gue bakal ambil kakak gue pulang! Kak Am berhak bahagia! Kak Am pantas dicintai orang yang tepat! Bukan iblis dan sejenisnya yang berwujud manusia!" Kalimat itu Sami ucap tanpa bisa ia cegah*.
"*Kalo lo ngerasa mau lepas kak Am, lakuin secara gentle. Silakan! Kembalikan Kak Am pulang dalam keadaan sehat walafiat! Sekian terima gaji*!"
Sami seperti orang demo sekaligus ngelawak, sebelum berbalik ngejar Acha yang sudah lebih dulu disuruhnya keluar.
Memang itu tidak mempermalukan Finn di depan orang lain, tapi bisa Ameera lihat rona wajah pria itu setelahnya berubah.
Ameera turun dari tempat tidur. Di meja kerja Finn tampak tidak ada minuman, ia pun ambil air mineral gelas yang selalu tersedia di kamar ini.
"Mas mau minum yang hangat nggak? Biar saya minta buatkan." Finn menoleh, baru menyadari keberadaannya yang menaruh minum di sisi laptop.
"Kamu bangun. Jam berapa ini?" Finn menekan pangkal hidung.
"Lewat setengah sepuluh."
"Pantas mata panas." Finn memejam kuat.
Ameera merasa khawatir, apalagi mengingat kata-kata Finn minta memanfaatkannya selama masih ada nyawa. Jangan-jangan Finn sakit tapi tak memberitahu.
"Saya pijat keningnya ya, Mas?" Ia berpindah ke belakang kursi.
Ameera tak mau ada penyesalan. Kehilangan orang terdekat dalam keadaan ia belum mampu memberi yang terbaik. Sesal yang sangat tak mungkin bisa diubah lagi. Janganlah sampai terulang.
"Tidak perlu. Kamu sini." Finn meraih pinggangnya, membawa duduk miring di pangkuan.
Merasa perempuan itu tegang ia memindahkan tangan Ameera mengalungi tengkuknya.
"Kamu lebih hangat dari pada kopi." Tubuh padat berisi ia peluk sambil memejamkan kata.
Rasa hangat memang menjalar cepat dari hati hingga ke seluruh tubuh. Lelah Finn perlahan menguap menjadi perasaan yang ringan.
Ameera diam saja, membiarkan pria itu mengelus perut dan bicara dengan kalimat yang kadang menggelitik telinga.
"Jangan jauh-jauh, ya." Kali ini Finn berucap seraya mengecup pipi Ameera lama.
"Aku ingin kamu... sangat ingin...," aku Finn dengan suara lemah.
... Kasih jempol dan komentar dulu sebelum ke bab selanjutnya ya teman-teman. ...
__ADS_1
...Bab 26 juga sudah update bareng....
...Terima kasih dukungannya....