Mengandung Anak CEO Arogan

Mengandung Anak CEO Arogan
Bab 30 Demi Uang


__ADS_3

Bulan depan Finn jadwal ke Jogja lagi. Ia tak bisa membiarkan begitu saja pekerjaan di sana tanpa sesekali meninjau langsung. Merasa tak mungkin membawa Ameera yang kehamilannya semakin tua, ia akhir-akhir ini jadi lebih banyak bekerja dari rumah dulu.



Ada di sisi Ameera ternyata tak membuat bosan. Beberapa jam di kantor saja Finn sering merasa hati ditarik pulang karena merindukan rumah, sudah terbayang rindunya nanti saat pergi jauh.



"Kamar ini nyaman untukmu, Sayang?" Finn mematikan layar laptop, lantas menghampiri Ameera yang duduk menghadap taman mini sebelah kamar.



"Sangat nyaman, Mas. Buat saya semua bagian rumah ini menakjubkan. Hawanya sejuk alami, apalagi ada jendela kaca besar gini."



Keduanya sekarang sedang di kamar lain yang melewati lorong lagi dari area kamar Finn. Mereka mengungsi sementara karena agak ribut dengan suara tukang yang masih merenovasi dua kamar.



Finn mendudukkan diri di matras, tepat di balik punggung sang istri yang habis praktikkan senam hamil. Ia mengusap perut buncit penuh rasa.



"Bagaimana kalau kita keluar nanti?"



"Ke mana, Mas?"



"Mm, ke makam adikmu."



Ameera menoleh ke belakang. "Bisa. Kalau Mas mau. Saya kebetulan juga ada rencana ke sana."



\*\*\*



Setelah ziarah ke makam orang tua yang masih satu tempat dengan Naja, Finn mengajak istri mampir ke Perfecto Resto, katanya ia rindu enaknya menu western di sana.



Kehadiran Ameera sontak menarik mata para mantan rekan kerjanya. Walau berperut besar ia malah terlihat lebih cantik. Mengenakan dress modis warna fuschia sepanjang lutut, dipermanis dekorasi bordir kupu-kupu di beberapa bagian. Mata siapa saja yang bertemu jadi sulit berpaling dalam detik ketiga. Terlebih lagi melihat pasangan lelaki di sebelah yang tak lepas menggenggam jemari kecilnya.



Meski sudah dengar gosip buruk yang didengungkan Silvi dan Dian tentang pekerjaan baru Ameera, sebagian mereka justru kagum sekaligus tak percaya melihat Ameera digamit mesra lelaki gagah dan tampan. Sosok yang pernah jadi bahan perbincangan hot para waitress Perfecto.



Siapa di sini tak tahu Ghazi Finn Cullen, lelaki dianugerahi kesempurnaan fisik juga... isi dompet. Di atas standar calon suami ideal yang memabukkan pikiran beberapa waitress. Beberapa mereka berharap dalam mimpi saja bisa jadi kekasih Finn, tapi itu pun belum dikabulkan.



Sekarang, kenapa Ameera yang selama ini tak tertarik bahas Finn malah bisa memilikinya?



"Iyyuhh, beruntungnya Ameera... gimana ya rasanya digandeng sama si mata biru?"



"Bukan cuma digandeng. Dia dihamilin. Catat. DIHAMILIN! Kebayang gak diapain aja?"



"Astagahh... lo bikin gue merinding. Asli, ini jadi enggak percaya sama mata gue sendiri!"



Bisik-bisik seru membahas dua orang itu terdengar di mana-mana. Termasuk decakan sebal Silvi yang kebetulan kena bagian melayani meja Finn dan Ameera.



Ia menyapa mereka dengan lidah sulit digerak, senyum pun susah dibentuk. Bibir Silvi kaku. Seolah sedang melihat hantu yang menjelma jadi bidadari.



Sebelum ini ia mau Ameera dapat pasangan selevel Engkus, tapi kenyataannya malah berubah nasib seperti Cinderella.



Hati Silvi bagai diremas-remas menyaksikan di depan mata Ameera ditatap sayang sang pangeran tampan.



'Apa sih yang dilihatnya dari Ameera? Si sok suci ini tuh mukanya B aja!'



"Mau pesan apa lagi, Sayang?"



Oogh... kalimat Finn membuat tangan Silvi jadi tremor menaruh piring Lasagna yang penuh dengan pasta, saus, daging, dan keju.



Andai pertanyaan itu tertuju untuknya.



"Sudah cukup kok ini, Mas."



"Sebentar." Finn mendekatkan kepala, mengambil satu bulu mata Ameera yang rontok. Sikapnya penuh perhatian.



Dua wajah berjarak sejengkal itu makin membuat kaki Silvi nyaris tak kuat berdiri.



"Kamu masih belum sehat, Sil?" tanya Ameera, melihat tangan perempuan yang baru berganti warna cat rambut itu makin gemetaran menyajikan pesanan terakhir di meja.



Bukannya menjawab, tatapan Silvi kian horor saja. Perempuan itu gegas menyelesaikan tugas. Keringat sebesar bulir jagung dan air mata menetes saat ia meninggalkan meja menuju kamar kecil.



"Aag! Kok bisa sih?! Ini nyata kah? Jangan-jangan... dia cuman mau bikin gue kelihatan bego! Hahaa... Ameera, Ameera." Tangis dan tawa Silvi pecah bersamaan.


__ADS_1


"Benar-benar lucu ya hidup gue!"



\*\*\*



"Tidak apa-apa," tanggap Finn singkat saat Ameera minta maaf mobil pemberian itu dikembalikan adiknya.



Saat ini Sami bilang belum butuh mobil, tapi kalau dimodalkan usaha ia terima.



Setelah lulus nanti Sami tak mau kuliah, ia berniat membuka bisnis sepatu.



"Kemarin pas video call Sami kasih lihat rancangan model produknya nanti, Mas. Bagus sih. Kreatif juga rupanya dia."



"Ya. Kita wajib dukung. Kapan mau mulai?" Finn mengambil tempat duduk sebelah Ameera di tempat tidur.



"Masih dua bulanan lagi. Nunggu lulus."



"Hm, Ingatkan kalau aku lupa."



"Makasih ya, Mas."



Finn mengangkat dagunya dengan jari. "Haruskah berterima kasih pada suami sendiri? Ah, rasanya aku seperti orang lain saja."



"Nggak gitu maksud saya, Mas. Berterima kasih itu kan harus, sama siapa aja. Nanti kita punya anak pun saya akan berterimakasih juga sama dia."



Senyum Finn sedetik tertarik. "Aku jadi ingin tahu, bagaimana orangtuamu dulu mendidik anak. Ayah, ibumu pasti sangat baik."



Rona muka Ameera sedikit berubah jika mendengar kata ayah. Tergambar langsung luka yang ditorehkan lelaki itu.



"Ibu sangat lemah lembut, perhatian, pengalah, juga pengajar yang baik, menurut saya, Mas. Sayangnya, Ibu suka memendam sendiri luka hati. Sampai Ibu sakit pun nggak pernah keluhkan apapun."



Finn menariknya ke dekapan. "Bagaimana ayahmu?"



Bola mata Ameera sesaat menatap kosong. "Saya nggak terlalu dekat sama Ayah."



Sebenarnya lebih kepada ia hanya mengingat sedikit kebaikan dari lelaki yang suka menghilang, lalu pulang sering dalam keadaan mabuk itu.




"Hubungan Mas dengan mereka kelihatannya jauh lebih baik."



"Kamu nilai begitu?"



Ameera mengangguk.



"Menurutku buruk. Di rumah ini kami tidak begitu terikat selain pertalian darah. Tidak ada rasa yang menarikku mau dekat seperti padamu. Kami seakan memiliki tembok yang saling membatasi."



Ameera melingkarkan tangan, memeluk erat dada Finn. Berharap bisa meredam nada kekecewaan dalam suara itu.



"Baru sekarang aku sedekat ini dengan orang lain. Yaitu kamu, Ameera."



Kecupan Ameera di dadanya tanpa kata membuat Finn memejamkan mata, merasai desir hangat itu menjalar.



"Saya juga baru sedekat ini sama laki-laki, Mas. Cuma sama Mas Finn...."



"Oya? Si gondrong pernah menciummu?"



"Nggak!" sahut Ameera cepat.



"Berdusta pun siapa yang tau."



Cepat ia melepas peluk, menatap wajah sang suami. "Nggak pernah cium bibir. Kalau pipi pernah."



Finn menyipitkan mata. "Really? Aku kurang yakin."



"Allah Maha Tau." Ameera menunjuk ke atas. "Mas ngungkit itu buat apa? Harusnya saya lho yang nggak percaya Mas nggak pernah berhubungan dengan cewek lain. Mas kayaknya terlalu berpengalaman urusan intim."



Finn menaikkan sebelah alis. "Aku berpengalaman? Aku hebat maksudmu?"

__ADS_1



"Ya, mungkin. Berapa cewek emang yang pernah tidur sama Mas?" Ameera sesali pertanyaan sensitif itu meluncur begitu saja.



Finn merangkum kedua pipinya. "Cuma kamu," tegasnya sembari menyesap manis bibir lembut yang tak pernah habis.



"Masa?"



"Hm...," suara Finn sudah melemah. Hobi mengeksplorasi kedalaman mulut, memeriksa kelenturan lidah, dan mengabsen apakah gigi sang istri masih utuh ataukah ada yang ompong, tak boleh diganggu. Entah kenapa, tidak ada rasa enek melakukan ini, meski ia selalu mengulangi lagi dan lagi tiap ada kesempatan.



\*\*\*



Rasa manis tak selalu ada dalam sebuah hubungan. Setelah kebersamaan yang makin membuatnya jatuh hingga ke kedalaman hati lelaki itu, sekarang terpaksa harus ikhlas menjalani perpisahan sementara.



Hari belum terlalu siang, Ameera duduk di taman, memandang arah Tamtam di kandang yang tengah menyusui 4 ekor anak. Tamtam baru kemarin beranak, prosesnya sempat Ameera lihat sendiri sebelum ia memilih menjauh karena merasa ikut tegang.



Finn di Jogja sudah tiga hari lalu, janjinya pulang besok, tapi tadi pria itu mengirim pesan membatalkan waktu pulang sampai lusa.



Bukan itu yang membuat Ameera tergemap, hingga keluar kamar mencari udara segar di sini, tapi masuknya sebuah pesan berupa foto tangan lelaki dan perempuan bergenggaman di atas tempat tidur cukup mengganggunya.



Amat jelas ia kenal tangan berbulu halus itu milik siapa.



"Tam... Tamtam...." Ia memetik jari, memanggil induk kucing yang berdiri, dan menjilat penuh sayang anak-anaknya.



"Apa dia nakal lagi di sana...?" tanyanya lemah sambil mengelus punggung Tamtam dengan telunjuk.



"Oh, aku mikirnya mungkin kejauhan ya. Kamu juga berharap nggak gitu kan, Tam? Mas Finn sayang anaknya kayak kamu. Mas Finn juga sayang aku. Mas Finn nggak mungkin juga ingkar janjinya."



Ameera penuh harap semoga Finn tidak kembali berubah.



"Per-permi-si, Non. Non mau minum? Bi-biar saya buatkan." Ameera terkejut mendapati seorang berpakaian putih hitam sudah ada di belakangnya. Suaranya agak gagap.



"Ya ampun Mbak ngagetin aja."



"Ma-maaf, Non."



Itu pelayan berambut pendek, yang selalu tampak gugup dan menghindar saat bertemu mata dengannya beberapa waktu belakangan.



"Mau minum, Non?" tanyanya kaku.



"Nggak. Nggak usah, Mbak. Saya sudah minum." Selama di sini Ameera tak pernah ditawari pelayan lain makanan atau minuman, karena memang ada koki merangkap kepala dapur yang menangani.



"Ba-baik, Non."



"Mbak." Ameera terdorong penasaran menanyakan sesuatu. "Mbak sudah berapa lama kerja di sini?" tanyanya saat pelayan itu tampak ragu pergi.



"Tiga tahun lebih, Non."



*Hm, apalagi kalau sudah lama harusnya dia tau tugasnya*.



"Ka-kalau Non mau apa gitu biar saya antarkan ke sini."



Ameera masih menelisik diam-diam. Pelayan ini bukan yang biasa bertugas di dapur.



"Nama Mbak siapa?"



Makin tergagap ia ditanya begitu, menyebut nama nambil meremas ujung seragamnya.



"Makasih ya Mbak Karlah tawarannya. Saya sudah minum, sudah makan juga. Mbak bisa lanjut kerja lagi," pungkas Ameera sambil tersenyum tenang.



Belakangan ia kerap melihat Karlah bersikap aneh. Sering tercuri memandang arahnya lama, lalu cepat menghindar saat ia balas lihat. Kadang juga bisa tiba-tiba muncul seperti ini, tapi memang baru sekarang mereka bicara.



Karlah cepat ijin masuk. Namun begitu sampai di pintu dapur, ia keluarkan botol kecil dari dalam saku. Di sisi badan ia meneteskan beberapa cairan itu di lantai.



"*Lakukan hati-hati, Kar. Jangan sampai tercuri kamera pengintai atau orang lain. Sekali Lu salah, kita semua bisa mampus*!" Terngiang ancaman sepupunya di balik telepon membuat tangan wanita ini gemetar cepat memasukkan baby oil itu ke saku.



Demi iming-iming uang berjumlah besar ia tega membahayakan nyawa salah satu majikannya.

__ADS_1


Bersambung....


...🙏❤️...


__ADS_2