
Finn menahan tengkuk perempuan beraroma lembut yang mudah memabukkannya. Namun, selang beberapa lama meluapkan keinginan sendiri Finn tersadar orang yang ia ***** bingkainya hanya terpaku tak membalas.
Menghentikan lidah yang tak lelah menari dan menyesap ia menarik wajah, dadanya masih berdebar tak terkira. Jika tak kuat kendalikan mungkin Finn sudah lupa diri dan menuntut lebih.
Ameera tak memejamkan mata seperti yang ia kira, seolah benar-benar tidak menikmati permainan bibirnya barusan. Finn berdeham, agak risi dan kaku ditatap tanpa kedip begitu, seakan Ameera sedang mencari sesuatu dalam kedalaman matanya.
"Ada apa?" tanya Finn sambil mengusap pangkal alis hingga perempuan itu berkedip. Ia mendaratkan kecupan hangat di kening juga kedua kelopak mata Ameera, bergantian dan dengan gerak sangat lembut. Dorongan hati sekilas mengatakan, ia menyayangi sosok yang terlihat merapuh ini.
"Bangun. Minumanmu nanti jadi tidak enak." Ia menjauhkan diri meski dengan rasa tak rela. "Bayi kita butuh asupan," lanjutnya bicara sendiri membuang rasa kaku.
Ah, begitu kah perasaan Laura saat ia tak pernah membalas ciumannya?
Apa hati Ameera juga sama, menyukai tapi tak membuka hati seutuhnya. Pasrah dipagut tapi tak berhasrat membalas. Seperti ia dulu menanggapi Laura.
***
Trik memikat hati wanita.
Begitu yang Finn ketik di kolom pencarian, di sela pekerjaannya hari ini. Hanya tergelitik penasaran ingin menaklukkan seorang perempuan di rumahnya.
"Pria yang tersenyum mempunyai nilai plus berkali-kali lipat." Ia membaca kalimat artikel itu serius.
"Pastikan senyum yang kamu berikan adalah senyuman natural, tidak dibuat-buat agar si dia tahu jika kamu benar-benar ada ketertarikan padanya." Finn menyentuh dagu, mengangguk-angguk dengan menarik dua sudut bibir melebar.
Ia makin serius saat membaca bagian 'wanita cenderung terpikat pada pria yang membuatnya tertawa'.
"Sepertinya perlu latihan," gumamnya sembari mencari bahan melucu di google.
"Lu praktekkan langsung aja, Bro!"
Finn nyaris menjatuhkan ponsel saking kagetnya.
Ia mengumpat melihat Jonas sudah di sebelah kursinya, dan mungkin sempat melihat keanehan barusan.
"Lagi mau gaet siapa? Lu punya kecengan baru habis buang Laura?"
"Punya otak? Ketuk dulu kalau masuk! Tidak sopan!" Finn masih sangat kesal.
"Ampun dah, formal amat hidup lu. Persis kakek tua bau tanah! Opa Eddie aja gak sekaku lu, Finn." Dengan santai Jonas duduk sambil menggoyangkan kursi di depan meja Finn.
"Hidup ini indah, Bro. Nikmati selagi bisa. Jangan terlalu dibuat serius."
Ucapan itu sekaligus mengingatkan ketengilan Jonas, mengajaknya ke club malam saat di Jogja. Finn kira hanya club biasa untuk duduk sekadar minum menunggu kantuk datang, tapi ternyata mereka masuk di tempat perempuan-perempuan nyaris telanj*ang, yang meliuk-liuk dan menempel di sebuah tiang. Finn sontak menegang, bersamaan rasa mual mendera hingga ia keluar sebelum acara pada puncaknya.
Jonas memang suka mengerjainya. Lelaki sok kuat sok berkuasa tetapi sebenarnya bermental lemah, di mata sepupunya ini.
"Gue punya cewek baru. High quality! Lu mau? Bisa gue pesen satu temennya."
"High quality versi kamu beda denganku!" Pangkas Finn sembari beranjak, mengajaknya keluar menemui Aldi bahas pekerjaan.
"Hei, Bro, dia finalis Miss Indo. Jelas beda sama ipar gue itu. Tampilan sempurna, personaliti bagus, smart udah jelas. Lulusan Stanford pula," sombong Jonas merasa bisa menggaet cewek hebat.
"Jangan mimpi. Mana mungkin dia mau sama lu yang brengsek!"
"Ngejek lu bisanya! Lihat aja, gue akan buktiin dapat jauh lebih baik dari i-"
__ADS_1
"Stop it!" Tinju Finn menempel di mulut Jonas. Jika diayun tadi pasti sudah pecah bersimbah darah. "Lu ke sini untuk urusan terakhir hubungan pekerjaan kita. Bukan menghina istriku!"
"Hahaa. Istri? Istri ya? Oke." Jonas tertawa sampai matanya basah. Ia yakin Finn tak akan membuat gempar kantor dan keluarga karena menganiayanya.
Rasain lu! Makan tuh istri pelayan restoran! Ejek hati lelaki berambut berdiri itu sambil mengikuti langkah Finn yang terburu keluar.
***
Usai ngobrol dengan opa tentang lutut yang rencana akan dioperasi di Penang, Ameera kembali ke kamar. Bertepatan saat itu handphone-nya bunyi.
Telepon dari Juna yang menanyakan kabarnya.
"Sementara aku bantu dari sini aja ya, Jun."
"Gak masalah, Ra, ada Neva bisa bantu aku. Kamu sehat-sehat? Ada yang ngurus gak? Kalo gak ada pindah ke rumahku aja."
"Ish! Kayak aku nggak punya rumah. Sami juga tuh telepon terus suruh pulang."
"Kita khawatir karena sayang kamu."
"Makasih perhatiannya, Jun, aku baik kok." Mata Ameera bertemu tatap pria yang baru masuk. Ia melirik jam. Baru saja jam 4 Finn sudah pulang?
Juna di seberang sedang mengingatkannya untuk tak lupa minum susu. Telinga Ameera mendengar tapi wajahnya menegang melihat Finn jalan cepat ke arahnya. Mengambil alih ponsel tanpa permisi.
"Cutilah dulu sampai beneran sehat, ada apa-apa kasih tau aku-"
"Kenapa harus beritahu orang lain? Di sini ada suaminya. S-u-a-m-i-n-y-a, SUAMINYA! paham?"
"Oh, lu ada di situ. Lu suami apaan?! Cuman status doang bangga! Sudah lakuin apa aja lu buat Ameera?!"
"Sebentar. Orang ini harus diberi penjelasan!" Finn menjauh membawa ponsel Ameera ke sudut kamar. Satu tangannya melempar jas sembarangan, lalu berkacak pinggang.
Ameera cuma menarik napas panjang melihat Finn memarahi Juna seolah sedang tertangkap menyelingkuhi istrinya.
Setelah panggilan berakhir napas Finn tampak tersengal.
Ia kembalikan ponsel Ameera tanpa berucap apa-apa, dan Ameera juga enggan menanyakan kenapa dengan sikapnya yang berlebihan.
"Nanti malam kita ke dokter," kata Finn memecah hening sambil melepas dasi. Ia melirik sekilas pantulan Ameera yang duduk di kasur, dari cermin di depannya.
"Saya sudah periksa Minggu lalu, Mas."
"Bersamaku belum." Finn membuka kancing kemeja, tapi jarinya yang bergetar agak kesulitan meloloskan anak kancing dari lubangnya. Ameera kebetulan melihat, dan inisiatif bangun membantu.
Finn sepertinya menahan emosi, napas cepat terasa mengenai kepala Ameera.
"Kamu masih menyukainya?" tanya Finn dengan nada datar.
"Semua teman saya sukai, makanya mereka jadi teman. Kalau saya benci nggak mungkin jadi teman dekat." Kancing kemeja Finn sudah terlepas semua, Ameera rasa pria itu bisa lanjutkan sendiri.
Ia agak terganggu berhadapan dengan bulu halus bertebaran yang mengintip dari balik kaus dalam.
"Kamu membenciku?" Finn menahan lengannya yang akan pergi.
"Nggak. Saya juga nggak akan mengajarkan anak jadi pembenci, Mas." Ameera menyentuh perut.
__ADS_1
Sekesal atau sekecewa apa ia pada Finn tidak terpikir membenci, apapun nanti hubungan akhir mereka berdua ia akan tetap mengajari anak menyayangi dan menghormati papanya.
"Lalu kenapa sekarang kamu menghindar dariku. Kamu memblokir nomorku." Finn menatapnya dengan sorot kecewa. "Padahal aku harap kita bisa mulai saling mengenal," lanjutnya melemah.
Ameera mendongak, membalas tatapannya. "Mending gini aja, nggak usah saling mengenal dalam, Mas. Saya nggak mau itu nantinya merusak rencana hidup Mas Finn."
"Rencana apa?"
"Rencana Mas melepaskan saya setelah beberapa bulan lagi."
Rona wajah Finn kian kaku.
"Kalau kita tetap membatasi diri, perpisahan itu akan lebih mudah." Ameera tersenyum manis setelah sekian lama tak mampir di bibirnya. "Jadi, Mas Finn jangan terlalu capek memikirkan saya. Saya sudah biasa kehilangan, saya takut Mas aja yang nggak kuat kehilangan saya," pungkasnya sembari berbalik.
"What?"
Tubuh Finn membatu di tempatnya. Mencerna makna kata yang ditinggalkan Ameera baru saja.
Siapa bilang ia tak pernah kehilangan, tapi sebelumnya apapun yang hilang dengan cepat tergantikan. Masa iya ia tidak kuat kehilangan Ameera? Ah, terlalu berlebihan.
***
"Cium Baby ya." Finn kemarin malam sudah melihat bayinya tumbuh dalam keadaan sangat sehat di perut Ameera. USG 4 dimensi membuat ia jelas menyaksikan bentuk tubuh bahkan kelamin sang putra.
"Halo, Tampan. Ini papa." Hatinya kebat kebit, makin hari makin tak mau jauh dari perut Ameera. Mengelus dan mengecup berkali-kali perut berlapis baju yang bergerak-gerak.
"Rasa tidak sabar melihatnya keluar."
Ameera meremas bantal, geli dan merinding.
Finn yang seakan memuja perut buncitnya masih bicara dengan jabang bayi, "Besok papa akan buatkan kamar khusus untukmu. Warna biru dan ada lukisan kapal lautnya. Suka?" Jarinya mengikuti arah gerak di dalam.
"Sudah ya, Mas. Saya mau ke kamar mandi."
Finn mengangkat wajah, dan ikut beranjak turun.
"Ayo!"
Ia kembali mengangkat enteng tubuh Ameera. Sudah biasa begini, walau ditolak pria itu tak akan menurunkannya. Lebih baik pasrah dari pada jatuh.
"Saya sudah biasa ke sana kemari saat Mas di kantor. Jangan berlebihan."
"Selama aku ada kamu bisa memanfaatkan tenagaku."
Sudah sampai di depan kloset, Ameera menatapnya.
"Memangnya Mas mau ke mana?"
"Tadi dapat kabar rekan bisnis di Jogja meninggal mendadak."
"Innalillahi wa inna ilaihi rajiun...."
"Aku bisa saja bernasib seperti itu, Ameera. Makanya, kamu manfaatkan aku selama masih ada."
Kalimat Finn menghadirkan rasa ngilu menjalar dalam bawah sadar Ameera. Setiap mendengar kematian telapak tangannya menjadi dingin.
__ADS_1
Bersambung....