Mengandung Anak CEO Arogan

Mengandung Anak CEO Arogan
Bab 26 Kebersamaan Manis


__ADS_3

Hati istri mana tak bergetar mendengar pengakuan itu. Finn terus katakan menginginkannya, melarangnya menjauh.



Ameera memejamkan mata, membiarkan semua bulu-bulu halusnya merinding karena jejak basah yang diberikan bibir pria itu di pipinya. Mungkin sekarang kulitnya seperti kulit ayam yang habis digunduli saking meremang.



"Kamu merinding?" Finn peka saat mengusap kulit lengannya.



"Kamu benar-benar belum biasa disentuh pria, Ameera. Maaf, telah salah menilaimu...."



Bola mata Ameera memanas. Tak tahu alasannya, tiba-tiba saja. Mungkin teringat bagaimana awal mula hubungan ini, dan juga akan berakhir seperti apa nantinya.



"Maaf, aku terlalu terbiasa menilai sesuatu dengan uang." Finn pererat dekapan pada punggung sang istri. Bicara sambil sesekali mengecup rambut dan pelipisnya.



"Punya adik seperti Sami sepertinya lebih berharga, ya? Dia sangat sayang kamu."



Ameera membenarkan dalam hati. Ia jelas sangat bangga dan beruntung, punya adik seperhatian juga sebaik Sami.



"Maafkan atas ucapan Sami tadi, ya, Mas."



"Tak apa. Dia benar. Aku manusia jahat. Sejenis iblis. Aku ancaman buruk untuk hidupmu."



Ingin Ameera sahut 'Mas nggak gitu' tapi ia telan di kerongkongan.



"Hatiku batu. Keras. Sulit jadi manusia baik."



Ah, kenapa Finn jadi melankolis begini?



"Kamu baik-baik, jaga baby saat kita jauh nanti."



Ya Allah..., nyeri makin merambat lagi di dada, makin memanaskan mata Ameera. Ia sampai menengadah mencegah air mata jatuh.



"Kamu berhak dapat lelaki lebih baik. Seperti si gondrong mungkin."



"Mas-"



"Aku akan baik-baik melepas-"



"Mas Finn!" Ameera segera menoleh padanya, air mata kini sudah tak tertahan mengalir deras. Hatinya sakit mendengar semua kalimat Finn yang terdengar tanpa semangat.



"Kenapa banyak hal yang Mas takutkan, padahal itu belum tentu terjadi? Kenapa Mas nggak mau memegang komitmen? Meneguhkannya. Meletakkannya dalam dasar hati. Hidup harus begitu, Mas. Membuat pilihan, lalu perjuangkan. Bukan cuma berjuang mendapatkannya. Kita juga harus berjuang mempertahankan," tukas Ameera cepat, tanpa jeda.



Ia katakan itu antara kesal dan ingin menampar rasa pesimis Finn untuk pergi.



Banyak cerita yang sudah ia dengar dari opa, kalau Finn memang sangat menghindari pernikahan. Entah kenapa, hanya Finn dan Tuhan yang tahu.



Finn mengusap air mata di pipinya. "Lihat. Sami benar. Aku cuma bisa menyakitimu."



"Mas, tolong... hentikan bicara begitu lagi...." Ameera menarik tengkuknya.



Dalam tangis. Dalam kecamuk nyeri, dan rasa yang menyesakkan napas, ia mel\*mat bibir pria itu. Menghentikan kata-kata putus asa yang seperti segera menjauhkan mereka.



\*\*\*



Kecupan hangat bertubi-tubi menghujani tengkuk dan bahu yang polos dari kain, membangunkan Ameera dari kedamaian mimpi.



"Jangan kemana-mana...." Ameera yang baru bergerak malah makin dipeluk pria di balik punggungnya.



Ameera mengumpulkan nyawa sampai benar-benar utuh. Ia terkejut melihat jam, sudah pukul lima lewat 10 menit!



"Mas! Kita lambat subuhan!" Ia melepas tangan Finn cepat dari pinggang.

__ADS_1



Finn berbalik, terlentang dengan malas.



"Ohh!" Istrinya nyaris memekik, melihat sesuatu berdiri tegak, lucunya setengah tak tertutup selimut, sehingga tampak seperti mengintip Ameera malu-malu.



"Astaghfirullah. Mas ini benar-benar, ya." Ia menarik selimut menutupi si anu itu.



"Mandi sama-sama." Dengan cuek Finn bangun, menggendongnya ke kamar mandi.



Mereka berdua jadi seperti dua anak kecil polos, yang belum tahu malu. Hanya pipi Ameera merona parah karena tak biasa digendong begini tanpa memakai apa-apa.



Semalam kamar ini meledakkan panas gelombang asmara. Rasa Finn melambung tinggi begitu istrinya memulai lebih dulu menciumnya penuh emosi. Yah, siapa pria yang tak bahagia dirinya merasa sangat diinginkan.



Jika disandingkan dengan uang 1 milliar pun, tentu Finn akan pilih dicium Ameera seperti tadi malam. Tidak akan pikir dua kali memilih.



\*\*\*



"Sudah segar kelihatannya. Jauh lebih baik kan, Amee?" Setelah sekian lama tak terlihat Jayna kini bergabung lagi di meja makan. Ada Hazel dan opa juga. Sementara Papi Richie masih dalam perjalanan bisnis ke Sumatera.



"Alhamdulillah, Mi. Tapi Mas Finn masih larang saya jalan." Ameera agak risi didorong dengan kursi roda begini oleh sang suami. Ia seperti istri lemah.



"Nggak apa. Mami dukung sikap Finn. Utamakan kesehatan anak kalian."



"Kalah sama kak Vie." Hazel menyebut nama sepupunya yang juga hamil besar. "Nunggu hari lahiran aja masih bisa nge-mall."



"Tiap orang beda, Zel." Finn membela Ameera.



"Masa? Masih jauh waktunya udah kayak orang lum-"



"Hazel!" Eddie dan Finn sama-sama bersuara sedikit keras.




"Sudah kenyang!" Sentaknya berdiri, lalu meninggalkan meja makan. Padahal sandwich sayur baru sekali gigit, dan segelas susu sama sekali belum tersentuh.



"Mbak, ambil!" Jayna memberi perintah pada pelayan untuk membereskan makanan Hazel.



Yang lain melanjutkan makan dengan keadaan biasa saja. Sedangkan hati Ameera merasa tak nyaman. Andai sehat, ia akan mengejar Hazel naik ke atas, sambil membawakan makanannya.



\*\*\*



Finn mampir ke apartemen sebentar ketika pulang kantor. Selain lama tak ke sana juga ada yang mau ia ambil.



Karena merasa ruangan agak kotor ia memanggil cleaning servis apartemen, dan menunggu lebih dari setengah jam sampai semua tempat total bersih. Ia memberi tips lumayan besar untuk dua petugas itu.



Saat akan bersiap keluar ia terkejut mendapati seorang perempuan berpakaian rapi ada di depan pintunya.



"Lau?"



"Finn...." Keduanya sama-sama saling pandang.



Finn terkejut melihat perubahan penampilan Laura yang jauh lebih tertutup, walau jelas tas dan blazernya adalah produk branded.



"Finn... aku boleh ngomong sebentar? Sebentaar aja." Suara Laura juga lebih lembut dan tenang.



Finn melirik pintu yang belum rapat. Tak mungkin ia memasukkan Laura ke dalam.



"Ke lantai satu saja." Ada mini resto di bawah. Tempat yang lebih aman.



"Oke. Makasih Finn." Laura mengikuti langkahnya menuju lift.

__ADS_1



"Lama juga ya kita ga ketemu, Finn. Aku abis selesain syuting FTV di CSTV, sementara ini agak longgarin dulu jadwal. Kalo pemotretan sih masih terima, syuting kejar tayang aja yang stop dulu. Capek fisik mental hidup dioper kayak bola pingpong," celoteh itu berlanjut di dalam lift. Padahal ada dua orang lain di dalam, tapi angkuh Laura akan karirnya sebagai artis dan model terasa jelas.



"Aku butuh healing, Finn. Makanya ngebet banget temuin kamu. Ada rencana hangout ga?"



'*Buat apa tanya aku*?'



Finn sudah lama buang kontak Laura dan asistennya, mungkin itu yang membuat perempuan ini mencari sampai ke apartemen.



"Katakan ada perlu apa? Aku tidak bisa lama-lama."



Kau ya?! Meski geram Laura menerbitkan wajah tersenyum manis.



"Kamu sibuk banget ya sama dia? Udah mulai cinta?" sindirnya.



Finn berdiri tapi tangannya dipegang. "Finn, bentar dong... aku udah tau dia siapa. Kecewa aja kamu bisa-bisanya menggantikan posisiku dengan pelayan restoran itu."



Oh, Laura sudah tahu. Finn sadar selamanya tidak akan bisa menutupi mulut siapapun di luar sana.



"Pantas aja dari awal-"



"Tidak penting!" Finn menghentakkan selembar uang merah di meja, sebagai bayaran minuman yang dipesan Laura barusan.



Ia lantas angkat kaki tanpa kata, dan... tak peduli juga suara Laura yang sedikit histeris memanggil.



Sifat asli Laura yang kadang berlebihan kembali muncul. Biar seberapa pun ia sembunyikan dengan penampilan anggun yang menipu mata.



"Lihat aja kamu, Finn!" Mata Laura menyipit. Rencana jahat segera berputar di otaknya.



\*\*\*



Sampai di rumah perasaan Finn kembali meringan. Disambut senyum dan salim tangan sang istri yang segera ia balas kecupan berkali-kali di bibir perempuannya.



Lanjut pelukan beberapa detik sambil membaui aroma lembut rambut, bagian dari diri Ameera yang paling ia sukai.



"Jangan mesum di sini! Sono ke kamar!" Suara Hazel mengalihkan perhatian mereka. Ini memang di dapur, tadi Finn mencari Ameera ke sini setelah tak ditemukan di kamar.



"Kalau mau, kamu cepat cari pasangan." Finn coba menggoda sang adik yang judesnya selangit.



"Tunggu aja! Tunggu gue sukses gaet anak presiden!"



"Yang mana? Bukankah sudah menikah semua?" Ah, Finn itu, sama adiknya saja kata-katanya formal amat.



"Yang jual pisang, Kak! Kang Pisang! Gue mau dia pokoknya, jadi kedua juga gak apa! Yang penting dapat anak presiden, bukan pelayan restoran!" Kalimat Hazel yang pedas disertai delikan tajam pada Ameera membuat rahang Finn mengejang.



"What a stupid girl!



"Mas." Ameera tahu kata-kata keras, dan kasar bisa saja muntah dari mulut suaminya. Ia harus menengahi. "Ayo, ke kamar. Mas mandi dulu biar segar."



"Hm." Bagai dihipnotis pawang, Finn langsung manut. "Kamu sudah mandi?" tanyanya saat menuju kamar.



"Sudah, Mas, tadi habis ashar."



"O. Padahal aku mau kita mandi bersama lagi."



Senyum Ameera sulit ditahan. Mungkin ia harus terbiasa menikmati kalimat kaku ala Finn. Walau begitu sikap suami sudah sangat baik.



Ya, tak ada salahnya ia nikmati dulu kebersamaan manis ini, tanpa takut memikirkan akan apa akhirnya nanti.


... Sudah update bab 25 dan 26 ya hari ini. Makasih dukungannya teman-teman 🙏...

__ADS_1


__ADS_2