Mengejar Cinta Suami Dingin

Mengejar Cinta Suami Dingin
Biarlah Menjadi Rahasia


__ADS_3

Hubungan yang terus menghangat diantara Alan dan Dilara, rupanya tak luput dari perhatian Hary. Lewat para pelayan kediaman Alan, pria senja itu mendapatkan banyak informasi untuk setiap harinya. Meski disibukkan dengan berbagai rutinitas dalam mengembangkan bisnis keluarga namun Hary tak ingin kehilangan pantauan begitu saja dari kehidupan pernikahan cucunya. Tak ayal membaiknya hubungan Alan dan Dilara, menarik perhatian Hary. Perjuangan Dilara tak sia-sia.


Uang yang ia keluarkan untuk merombak penampilan Dilara pun tak sia-sia. Sebab Alan sudah mau menyentuh, dan sebentar lagi pasti dirinya akan menimang cicit. Hary tersenyum senang, sampai pagi ini dirinya memutuskan untuk mengunjungi kediaman sang cucu untuk melihat kehangatan Alan dan Dilara secara langsung.


Alan mengernyit begitu menuruni anak tangga dan mendapati sang Kakek sudah duduk di sofa ruang keluarga. Sepagi ini Kakeknya sudah berkunjung, memang ada kepetingan apa?.


"Kakek," sapa Alan. Hary yang duduk santai seraya memainkan ponsel, mendongak. Mengulas senyum begitu melihat cucutnya datang.


"Hai, kau baru bangun tidur rupanya." Hary menatap Alan penuh arti. Terlebih setelah mendapati rambut sang cucu yang masih setengah basah. Huh, baru bangun tidur katanya.


Alan hanya menanggapi dengan tersenyum tipis kemudian menjatuhkan bobot tubuh disofa yang letaknya tepat berhadapan dengan Hary.


"Kakek datang sepangi ini kenapa tidak mengabari dulu?."


"Mana istrimu?." Bukanya menjawab tanya, Hary justru mencari keberadaan Dilara.


"Dilara, dia ada di kamar." Alan menjawab namun pandangannya dialihkan, ia tak ingin membalas tatapan sang Kakek yang seperti sedang mengintimidasi.


"Panggilkan dia," titah Hary pada Alan.


Pria muda itu terlihat tak tenang.


"Nanti dia juga akan turun."


"Kakek bilang, panggil istrimu sekarang," titah Hary untuk yang kedua kali.


"Tapi Lara belum selesai mandi, Kakek." Ops. Alan buru-buru memalingkan wajah. Sementara Hary tersenyum penuh kemenangan. Cucunya tau jika istrinya sedang mandi, bukankah itu menandakan jika keduanya tidur sekamar?.


Wah, ini berita besar.

__ADS_1


"Kalian sudah tidur sekamar?." Hary bertanya.


"Tentu saja, memang apa yang salah. Toh kami suami istri." Nada suara Alan terdengar kesal. Mungkin ia enggan jika masalah pribadinya kembali diungkin. Apalagi jika berhubungan dengan hal-hal sensitif tentang pernikahannya.


"Syukurlah jika kau sudah bisa menerima Dilara. Dia gadis baik, dia jodoh yang sudah Tuhan persiapkan untukmu. Sayangi dan cintai dia, juga perlakukan dia seperti ratu."


Alan tak menanggapi. Entahlah, dia pun kesuliatan memberi reaksi. Biarlah semua berjalan seperti apa adanya. Dirinya tak ingin memaksa, hanya berusaha mengikuti kata hati dimana dirinya menemukan kenyamanan.


Tak berapa lama Dilara pun turun dari lantai atas. Sama terkejutnya dengan Alan saat mengetahui Hary datang sepagi ini. Ketiganya pun menikmati sarapan. Di sana, pada akhirnya Hary menyaksikan sendiri bagaimana Alan memperlakukan Dilara lebih baik dari pada saat awal menikah dulu. Tak ada caci, maki atau pun bentakan. Meski nada bicara Alan masih terkesan dingin, setidaknya cucunya kini memperlakukan Dilara layaknya istri pada umumnya.


Dilara juga terlihat telaten dalam mempersiapkan semua kebutuhan Alan. Rupanya perempuan itu mampu menyerap ilmu yang sudah ia pelajari dengan begitu baik. Dalam diam Hary mengulum senyum. Impiannya untuk bisa mendapatkan pewaris tak lama lagi akan terwujud.


đź’—đź’—đź’—đź’—đź’—


Alan sudah bersiap dengan pakaian kerja. Dirinya harus lekas pergi ke rumah sakit mengingat ada beberapa operasi yang sudah terjadwal. Dilara memberikan tas kerja dan mencium punggung tangan sang suami sebagai salam perpisahan.


Pria muda itu melirik pada sang Kakek yang masih tak beranjak dari sofa ruang keluarga setelah menghabiskan sarapan. Apa pria tua itu tak memiliki kesibukan.


”Kurang ajar, kau ingin mengusirku?.” Sang Kakek berkacak pinggang dengan pandangan menatap tajam pada Alan.


Alan menelan ludah. Ia hanya geleng-geleng kepala sebelum pergi. Sesungguhnya ada rasa tak rela saat dirinya harus meninggalkan Dilara bersama dengan sang Kakek hanya berdua. Bukan ingin berpikir macam-macam namun kembali pada kejadian awal, kehadiran Dilara kerumah Karna sang Kakek lah yang membawanya.


Meski berat hati, Alan pun meninggalkan rumah menuju Wirdo Hutomo Hospital.


Sepeninggal Alan, Hary lekas memanggil Dilara.


”Duduklah.”


Dilara patuh, duduk sesuai perintah Hary.

__ADS_1


”Aku perhatikan hubunganmu dengan Alan mulai membaik.” Hary menatap pada seraut wajah cantik yang kini duduk tepat di hadapan. Wajah perempuan itu berubah banyak dari saat mereka pertama bertemu.


”Ya, Kek. Saya juga merasakan hal sama.”


”Apa itu termasuk dari hasil kerja kerasmu dalam menggoda Alan, sampai pada akhirnya cucuku itu bertekuk lutut?.”


Dilara menghela nafas. Hary yang memang terkesan vulgar saat berbicara, tak sungkan untuk membahas sesuatu langsung pada intinya. Sedangkan Dilara, tentu perempuan itu malu juga tak nyaman saat ditanya tentang sesuatu yang masih bersifat pribadi.


”Entah, tapi sikap Alan sekarang memang jauh lebih baik.” Dilara tak ingin menutupi tetapi ia pun enggan berbangga diri. Perlakuan Alan tergantung suasana hati. Jika pria itu sedang emosi, maka ia pun tak luput dimaki, akan tetapi jika dalam kondisi senang, sikap Alan bisa menghangat tiba-tiba. Entahlah, Dilara merasa jika Alan seperti memiliki kepribadian yang saling bertolak belakang.


"Ya, aku apresiasi kerja kerasmu. Pada awalnya aku juga tak yakin kau bisa merubah cucuku secepat ini."


Apa, secepat ini katanya?. Pernikahan Alan dan Dilara bahkan hampir menginjak setengah tahun, dan Dilara sudah kenyang menerima perlakuan Alan yang semena-mena.


"Tapi kemarin Alan mulai bertanya tentang keluargaku. Kek, aku harus menjawab apa. Aku takut jika salah menjawab justru berujung salah faham."


Hary terkesiap. Jika Alan sudah ingin tau tentang keluarga Dilara, berarti hubungan diantara suami istri itu bisa dikatakan lebih dari kata 'Baik. Hary mulai waspada.


”Kau tau, saat menikah denganmu Alan sama sekali tak mengetahui siapa dirimu bahkan asal usulmu karna aku sendiri yang memilih merahasiakannya. Apalagi tentang kesepakatan kita.” Dilara saat itu seperti barang yang ditukar dengan uang. Mungkin sampai saat ini Dilara sendiri tak mencintai Alan. Ia hanya mau dinikahi karna iming-iming uang dan kehidupan nyaman saudara-saudaranya. Sedangkan posisi Alan saat ini sudah mulai menerima Dilara sebagai istri, memperlakukan wanita itu lebih baik, lalu apa jadinya jika kesepakan antara Hary dan Lara sampai diketahui oleh Dokter muda itu?.


Tidak!. Hary cemas.


”Jangan jawab apa pun bila Alan bertanya lagi. Biarlah ini menjadi rahasia diantara kita. Aku tak ingin Alan mendengar dan berimbas pada hubungan kalian yang sudah membaik.”


Hary benar. Menilik dari sifat Alan yang emosional, pasti akan ada prahara besar andai Alan mengetahui jika pernikahannya dengan Lara lebih mirip seperti transaksi jual beli.


”Aku hanya takut jika suatu saat Alan akan mengetahui.” Wajah murka Alan terbayang dipelupuk mata.


”Itu tidak akan terjadi selama kita tutup mulut, kecuali jika Alan mendengarnya dari orang lain.” Hary menarik nafas dalam. Kecemasan ini mulai dirasakan sekarang. Dulu saat hubungan Alan dan Lara dingin, dirinya tak terlalu perduli. Tetapi saat hubungan cucunya mulai menghangat, pria tua itu justru dilanda ketakutan. Hary takut jika pernikahan cucunya tak akan bertahan lama.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2