
Ada kebahagiaan tersendiri dalam hati seorang Diego saat berhasil menyulut api kemarahan rekan sesama Dokter yang selama ini menjadi rivalnya, Alan. Diego tertawa puas dalam hati saat mengetahui Alan mengepalkan tangan namun malah menjauhinya. Pria itu tau, rekannya tersulut emosi namun ditahan.
Hah kenapa tidak diluapkan saja. Kita berkelahi, adu kekuatan sampai aku bebas untuk memukulmu.
Entah faktor apa yang melandasi Diego sampai merasa begitu benci pada Alan. Mereka memang berteman, tapi siapa yang sangka jika kedua pria itu justru menyimpan rasa benci satu sama lain.
Diego, pria itu baru saja memasuki mobil yang masih berada di area parkir Wirdo Hutomo saat mendengar notifikasi pesan pada ponsel pintarnya. Saat memeriksa benda pipih itu secara seksama, sudut bibir Diego tiba-tiba tertarik membentuk senyuman.
Pria muda itu tergelak. Ia senang membaca sebaris pesan dari ponsel yang ia pegang.
"Rupanya tidak rugi membayar mata-mata jika hasilnya sememuaskan ini. Aku yakin, setelah ini pernikahan kalian tidak akan baik-baik saja." Diego tergelak. Kali ini dirinya benar-benar puas.
Segera pria berkulit putih menghidupkan mesun dan membawanya keluar dari Area Wirdo Hutomo Hospital untuk pulang ke rumah. Setelah ini ia ingin bertemu dengan Dahlia. Ya bukan untuk apa-apa, mungkin untuk berbincang dan sedikit membuka kehidupan pernikah Dilara pada Ibunya.
💗💗💗💗💗
Dahlia menatap heran pada beberapa menu makanan yang tersaji di meja makan. Baru semalam ia tinggal bersama Diego, tetapi sudah begitu banyak kenyamanan yang pria muda itu berikan kepadanya.
"Em Ela, apa makanan sebanyak ini hanya aku yang akan memakannya?." Dahlia bertanya pada salah satu pelayan. Dirumah ini hanya ada dirinya, pelayan dan penjaga keamanan, sedangkan pemilik rumah, pelayan bilang jika Tuannya sedang bekerja dan akan kembali sore nanti.
Ela berpikir sejenak kemudian menjawab.
"Em, tidak Nyonya. Tuan sudah mengabarkan jika sebentar lagi beliau akan kembali."
Jawaban Ela membuat Dahlia menganggukkan kepala. Sesungguhnya ada begitu banyak pertanyaan yang tersimpan di benak perihal siapa Diego sebenarnya. Berbeda dengan Dilara, putrinya sendiri yang memilih mengusir, Diego justru sebaliknya. Pria yang tak Dahlia kenal ini justru mau menampungnya. Memberinya makan dan memberinya tempat tinggal yang nyaman. Sungguh surga dunia.
Akan tetapi Dahlia pun khawatir, ia takut jika kebaikan pria muda itu sesungguhnya memiliki makaud yang terselubung. Ah, biarlah. Untuk sekarang, Dahlia sedang menikmati bagaimana rasanya menjadi orang kaya yang tak harus bekerja keras untuk bisa hidup dengan layak.
Beberapa saat hanyut dalam lamunan, derap suara sepatu yang mendekat membuat Dahlia menggeser pandang.
"Selamat siang, Nyonya. Bagaimana tidur anda semalam. Apakah pulas?." Wah, rupanya Diego yang datang. Pria itu menyapa Dahlia dan duduk di kursi seberangnya.
"I-iya, Nak. Saya merasa nyenyak saat tidur semalam."
Jawaban Dahlia membuat Diego tersenyum lebar.
"Wah, sungguh kebahagiaan tersendiri untuk saya jika Nyonya bisa merasa nyaman tinggal di rumah ini."
__ADS_1
Dahlia merasa tersanjung. Ia senang bisa dihargai orang lain dengan cara yang tak pernah ia bayangkan.
Setelah berbasa basi, Diego mengajak dahlia untuk makan siang bersama. Dahlia begitu lahap memakan makanan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Sementara Diego, pria itu hanya melirik tingkah Dahlia sekilas kemudian menyergai.
Setelah makan Diego membawa Dahlia ke ruang keluarga. Mereka ingin berbicara.
"Nyonya, bolehkah aku tau sedikit tentang kehidupan serta keluargamu. Maksudku anak juga suamimu?."
Dahlia nampak gusar, ia menelan salivanya susah payah. Cukup terkejut saat Diego justru menanyakan masalah keluarga padanya.
"Kenapa, apa anda keberatan?. Bukankah itu wajar. Saya membawa anda untuk tinggal di sini tetapi saya juga berhak tau tentang latar belakang keluarga agar tidak ada kesalah pahaman untuk kedepannya."
"Ti-tidak, saya tidak keberatan."
"Baik, anda bisa menjelaskannya sekarang."
Dahlia menghela nafas dalam. Ia juga berpikir, kiranya akan memulai seperti apa dulu agar dirinya tak terlihat buruk dihadapan Diego.
"Su-suami saya sudah meninggal, dan saya mempunyai 6 orang anak."
"Wah, anak anda banyak juga," jawab Diego sekenanya padahal Dia sudah tau tentang keluarga Dahlia dan berapa jumlah anaknya. "Lanjutkan," sambung Diego kemudian.
"Bagaimana jika kukatakan bila aku mengenal salah satu putri anda?."
"Anda mengenal putri saya, yang mana?." Dahlia terkejut. Bagaimana anak-anaknya ada yang mengenal pria kaya seperti Diego, atau jangan-jangan...
"Dilara, aku mengenal Dilara."
Dahlia menghela nafas, entah mengapa saat nama Dilara disebut, pengusiran yang menyakitkan itu ia ingat kembali.
"Anda kenal Dilara?."
"Ya, karna Dilara adalah istri dari salah satu temanku. Dia seorang Dokter dan juga cucu dari pemilik rumah sakit tempatku bekerja."
"Apa, Dilara istri seorang Dokter?." Dahlia ternganga atau lebih tepatnya syok. Berarti kehidupan mewah putrinya kini karna suaminya?.
"Kenapa terkejut, atau jangan-jangan anda tidak tau jika Dilara menikah dengan orang kaya?."
__ADS_1
Dahlia spontan menggelengkan kepala.
"Ya, saya memang tidak tau sebab saya meninggalkan Dilara dan adik-adiknya sekitar empat tahun lalu, dan saya kembali ke kota ini baru satu minggu. Itu pun saya mendapatkan alamat tempat adik-adik Dilara tinggal dari salah satu tetangga."
Tiba-toba Diego menggepalkan tanggan saat mendengar penuturan Dahlia. Rupannya Dilara bersama adik-adiknya ditinggalkan selama bertahun-tahun.
Jadi pada saat itu kondisi Dilara yang memprihatinkan akibat perbuatan dia?.
"Sungguh, sekarang saya menyesal. Akan tetapi saya pun senang, anak-anak saya sudah hidup dengan layak juga Dilara yang sudah bertemu dengan jodohnya." Suara Dahlia terdengar lemah.
"Tapi tunggu dulu, apa anda yakin bisa senang jika ternyata Dilara menikah dengan pria yang tak ia cintai. Dilara terpaksa menerima pinangan karna dijanjikan imbalan, dan apa anda tau apa imbalan itu?."
Tentu saja Dahlia menggeleng seban ia memang tak tau menau.
"Imbalannya adalah rumah yang adik-adik Dilara tempati dan juga uang untuk menjamin agar putra putri anda tak kelaparan."
Dahlia tersentak. Sementara Diego tersenyum tipis. Ia menyadarkan punggungnya pada kepala sofa dan menyilangkan kakinya. Duduk santai serta menikmati perubahan wajah Dahlia setiap detiknya.
"Pu-putriku, be-benarkah..." Dahlia tak yakin. Bukankah Dilara yang ia lihat sudah terlihat sangat cantik serta berpenampilan layaknya istri-istri konglomerat.
"Tentu saja. Suami Dilara juga tak memperlakuka Dilara dengan baik. Aku kerap mendapati putrimu dicaci maki. Jika pun mengantar makanan maka makanan itu akan dibuang ke tong sampah. Suami Dilara itu memang tak berperasaan. Sungguh jauh sekali denganku yang begitu hati-hati memperlakukan wanita seperti memperlakukan sebongkah berlian."
Kini pandangan Dahlia tertuju pada Diego.
"Kenapa anda berkata demikian, atau jangan-jangan .... Anda menyukai putri saya?."
"Ya," jawab Diego lugas. "Saya akui, saya menyukai Dilara bahkan saat pertama berjumpa. Saya tidak rela andai Dilara diperlakukan semena-mena. Saya tau jika selama ini Dilara bertahan dengan suaminya karna tak ingin hidup adik-adiknya kekurangan, sama seperti dulu."
Dahlia benar-benar gelisah. Ia cemas. Walau dulu dirinya kerap menyiksa Dilara, tetapi jika ada orang lain yang menyiksa putrinya, ia pun tak akan rela.
"Bagaimana ini, aku harus melakukan apa?."
"Anda tidak bisa diam saja, anda harus melakukan sesuatu hal agar anak anda terlindungi. Saya mampu untuk mengganti rugi dan bila perlu buat mereka pisah agar Dilara tak tertekan mentalnya jika berlama-lama hidup dengan suaminya."
Dahlia mengangguk pasrah. Ia juga bingung. Tetapi jika Diego mau pasang badan dan bertangung jawab, maka sebagai orang tua ia pun tak keberatan.
Tbc.
__ADS_1
ðŸ˜ðŸ˜ Menangis aku. Retensi anjlok seanjlok-anjloknya. Padahal ini naskah sengaja aku ikutkan lomba. Tapi ternyata.. Lebih dari separuh jumlah pembaca yang ga baca bab sampe tuntas.