Mengejar Cinta Suami Dingin

Mengejar Cinta Suami Dingin
Rencana


__ADS_3

Senyum di bibir Alan serasa tak luntur saat pada akhirnya Hary mengizinkannya untuk bermalam. Selepas berganti baju, Alan, Dilara dan juga Hary terlibat pembicaraan serius.


"Alan," panggil Hary.


"Ya, Kek."


Alan dan Dilara duduk berdampingan sementara Hary duduk di hadapan keduanya. Alan sudah mengganti pakaia milik sang istri dengan piyama milik sang Kakek. Postur tubuh mereka hampir sama hanya Alan lebih tinggi dari Harry.


"Bagaimana hubunganmu dan Dilara selepas ini. Akan berlanjut atau kau memilih untuk berpis---"


"Kami akan tetap bersama, Kek," potong Alan cepat. Ia lekas menyambar tangan Dilara dan memegangnya erat.


"Kau sendiri, Dilara. Setelah diusir dan diperlakukan tidak baik oleh cucuku, apakah kau masih berkeinginan untuk melanjutkan pernikahanmu lagi dengan Alan?." Hary menatap pada sang cucu menantu yang masih diam. Dilara sesekali menatapnya dan Alan secara bergantian. "Nak, katakanlah. Kakek tak akan memaksamu untuk bertahan jika kau yang menjalani saja tak bahagia."


Dilara masih diam, ia seperti sedang berfikir. Perempuan itu menunduk, hendak melepaskan tangannya dari Alan tapi pria itu semakin erat menggengamnya.


"Lara, bicaralah. Jika pun kau berpisah dari cucuku, aku tidak akan mengambil apa pun yang sudah kuberikan padamu. Kau dan adikmu masih bisa hidup dengan baik meski.."


"Stop, Kakek!. Kami tidak akan berpisah. Sampai kapan pun kami akan tetap bersama." Suara Alan terdengar tajam saat menegur sang Kakek. Kini pria itu bahkan sudah berlutut di hadapan sang istri. "Lara, aku mohon, maafkan aku. Aku mengaku salah, sebab selama ini selalu mengabaikanmu. Aku juga kerap memperlakukanmu dengan kasar tapi perlu kau ketahui, Lara. Aku sangat mencintaimu." Alan menatap sepasang mata bening sang istri begitu lekat. Alan seperti sedang berbicara tentang pengakuan diri betapa dibalik sikap keras dan semaunya, pria itu begitu mencintai istrinya.


"Lara, kau mungkin tak percaya tapi sungguh di hatiku hanya ada namamu yang bertahta. Terlebih ada buah cinta kita yang bertumbuh di rahimmu." Alan mengusap perut rata Dilara dengan lembut. Sementara Hary, pria tua itu mencebik melihat adegan romatis kedua cucunya yang tersaji di depan mata.


Sekarang saja berlutut, dulu-dulu bahkan ingin menendangnya.

__ADS_1


"Lara, jawablah. Jasihan cucuku jika terlalu lama berlutut."


"Maaf se---"


"Tidak!."


"Belum toolol," sahut Hery. "Dengar dulu, istrimu belum selesai bicara." Hary geleng-geleng kepala.


"Maaf," lirih Alan masih tetap berlutut di hadapan Lara.


"Sebelumnya, terimakasih atas kebaikan Kakek dan suamiku selama ini. Kami bisa hidup dengan baik berkat uluran tangan kalian." Dilara menjeda ucapan sementara Alan sudah semakin resah menunggu kata-kata Dilara selanjutnya. Pria itu sudah yakin jika sang istri enggan untuk bersama dengannya lagi. "Demi saya dan buah hati, saya menerima Alan kembali. Kami akan melanjutkan pernikahan."


"Yes." Alan berseru senang, begitu pun dengan Hary.


"Lara, selepas ini aku berjanji untuk selalu membuatmu tersenyum. Kau akan selalu kujaga meski nyawaku sendiri yang menjadi taruhan."


"Ah, gombal." Bukan Dilara, tetapi suara milik Hary lah yang menjawab.


"Kek, apa-apaan sih?." Alan menggerutu, menatap sang Kakek dengan pandangan tak suka.


"Kau itu yang apa-apaan, kenapa bermesraan di depan pria duda seperti kakek?."


"Duh, yang iri." Sadar situasi, Alan memilih menjauh. Ia menggendong Dilara menuju lantai atas di mana kamar mereka berada.

__ADS_1


"Ya tuhan, aku ingin muda lagi," keluh Hary. Bibir pria itu merenggut, iri dengan kemesaraan sang cucu yang begitu romantis bak pengantin baru.


"Bukan hanya Alan, sesungguhnya aku juga masih ingin menikah tapi bagaimana dengan mendiang istriku di surga sana. Apa dia akan marah jika aku memutuskan menikah?."


"Tentu saja iya."


Hary terkesiap saat sesorang menjawab kata-katanya.


"Bocah tengik!." Alan menggerutu. Ia berlari menaiki anak tangga selepas tau jika Alan lah yang iseng mengganggunya. Alan terbahak, begitu tau sang Kakek mengejar, pria itu lekas masuk ke kamar dan menutup pintunya rapat.


"Hei, bocah. Buka pintunya," teriak Hary seraya menggedor pintu kamar. "Awas saja kau. Kalau keluar nanti akan kugundul rambutmu."


Alan terbahak, ia sampai memegang perut dan telungkup di atas ranjang. Sementara Dilara yang memandang dari kejauhan, mengulas senyum tipis. Rupanya dibalik sikap dingin dan cueknya sang suami, dia juga punya sifat jail yang hanya diperlihatkan pada orang-orang dianggapnya dekat.


💗💗💗💗💗


"Kau dimana?." Pria berbadan tegap itu sedang menghubingi seseorang lewat panggilan selular. Terdiam, saat mendengar jawaban dari seseorang di seberang.


"Ya, besok lakukan pekerjaanmu dengan baik." Diam, pria itu menyerigai. Membayangkan kejadian seru yang akan terjadi esok hari.


"Ya, buatlah seperti kecelakaan biasa. Jatuhkan mobil itu kejurang tetapi sebelum benar-benar jatuh kau bisa lebih dulu menyelamatkan nyawamu. Bagaimana?."


"Bagus." Panggilan itu diputuskan sepihak. Setelahnya pria itu tergelak, merasa puas dan yakin seratus persen jika rencananya kali berjalan sesuai dengan yang ia inginkan.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2