
Kali ini untuk pertama kalinya seorang Alan memperhatikan rekan sesama Dokter, lebih dari biasanya. Diego, semenjak Dokter muda itu datang, Alan tak mengalihkan perhatian. Lewat dari jendela kaca, Alan bisa memantau apa saja yang dilakukan Diego di ruang prakteknya.
Tak ada yang aneh. Diego bekerja seperti biasa. Ia juga terlihat ramah pada setiap pasien yang datang.
Jika di rumah sakit dirinya terlihat biasa saja, lalu dari mana dia tau tentang prahara pernikahanku dengan Dilara?.
Alan sempat berfikir jika saat bekerja Diego malah memata-matainya. Tetapi setelah beberapa jam Alan memastikan, sikap Diego justru tak terlihat mencurigakan.
Pria muda itu kembali ke ruang kerjanya. Duduk diam dengan pikiran melanglang buana.
"Sesungguhnya dia rindu Dilara. Dia ingin perempuan itu kembali ke rumah dan hidup bersamanya. Akan tetapi kenapa bayang-bayang tentang Diego dan Ibu mertuanya selalu datang dan mengacaukan inginnya?.
Alan hanya ingin tau seperti apa hubungan antara Lara dan Diego. Apa mereka menjalin hubungan di belakangnya atau kah tidak.
Setelah berpikir beberapa saat, Alan memutuskan untuk berbicara empat mata dengan Diego ditempat yang tepat. Ia hanya ingin semuanya jelas sampai menemui titik terang.
💗💗💗💗💗
Dua pria berprofesi Dokter itu duduk saling berhadapan disebuah ruangan. Tak ada siapa pun selain mereka sebab Alan sengaja melakukan agar tak ada orang lain yang bisa mencuri dengar pembicaraan mereka.
"Aku ingin bertanya?." Alan langsung pada pokok permasalahan.
"Tentang," tanya Diego. "Apa masih ada hubungannya dengan Dilara?."
"Tentu saja," jawab Alan dengan suara datar. "Aku hanya ingin tau hubunganmu dengan Dilara sebenarnya. Apa dibelakangku kalian ada main-main atau itu hanya perasaanku saja?."
Diego justru tersenyum tipis.
"Kenapa malah bertanya padaku dan tak bertanya pada istrimu saja?."
__ADS_1
Alan mengepalkan tangan. Diego justru seperti sedang bermain teka teki dengannya.
"Diego, aku serius."
"Aku juga lebih dari serius, Dokter Alan. Tanyakan saja pada istrimu, seperti apa dia menganggapku dan mengartikan hubungan kami. Kau tau, Ibunya saja bahkan tinggal bersamaku." Diego tergelak, ia seperti sedang menabuh genderang perang pada Alan. Sementara Alan, pria itu semakin mengepalkan tangan sampai buku-buku jarinya memutih. Ingin rasanya mengarahkan kepalan tangannya tepat di wajah Diego, namun Alan tersadar jika hal tersebut dilakukan maka semakin memperburuk keadaan. Alan masih punya kesabaran untuk tak melakukan kekerasan.
"Rasanya sia-sia saja aku bertanya padamu."
"Maka dari itu jangan sekali-kali bertanya padaku."
Hening. Keduanya sama-sama diam namun pandangan keduanya saling bertabrakan. Cukup lama keduanya saling tatap dalam keheningan.
"Terlepas apa pun hubungan kalian di belakangku, dengan segala kerendahan hati aku mohon padamu untuk tak lagi mendekati Dilara. Dia istriku, dia juga sedang mengandung anakku, dan sampai kapan pun dia akan tetap menjadi istriku."
Diego justru tergelak. Ia seperti sedang menertawakan Alan yang merendah padanya.
"Suami macam apa yang langsung mengusir istrinya pergi saat sedikit masalah saja datang. Kau tega, katanya dia istrimu tapi kau berusaha untuk melindungi malah mengusirnya. Apa-apaan itu?."
Sayangnya disini bukan Dilara yang lebih terbuka pada kami tetapi akulah yang membayar orang untuk mencari tau. Haaaa
"Ini peringatan kedua sekaligus terakhir dariku. Setelah ini aku akan memperbaiki hubunganku dengan Dilara, dan untuk dirimu aku mohon agar tidak sedikit pun berpikir untuk mendekati istriku." Ah, sudahlah. Lelah jika harus terus berdebat, Alan memilih pergi. Jika peringatan ini tak digubris dan Diego masih nekat mendekati Lara, maka dirinya tak akan tinggal diam.
💗💗💗💗💗
Keputusan Alan untuk memperbaiki hubungannya dengan Dilara membuat Diego terancam. Setelah mencari tau alamat rumah Harry, bersama Dahlia dirinya mendatangi rumah dari Kakeknya Alan tersebut.
Nasib baik, kedatangan dua insan itu disambut oleh Dilara. Diego tentu senang luar biasa. Rasa rindu yang menggunung, mencair sudah setelah melihat wajah Dilara.
"Ibu, kenapa datang kemari?." Dilara terkejut. Kenapa tiba-tiba Ibunya datang bersama Diego kerumah Harry dan dari mana mereka tau jika dirinya tinggal di rumah ini?.
__ADS_1
"Lara, apa kabarmu, Nak. Ibu rindu. Ibu mencari-carimu." Dahlia maju dan menggengam tangan sang putri yang masih kebingungan dengan kedatangannya.
"Lara, kamu tak ingin menyuruh kami masuk?." Dahlia kembali bersuara sedangkan Diego, pria muda sudah terlihat puas hanya dengan melihat wajah Dilara.
Tak bisa menolak, Dilara mempersilahkan Ibunya serta Diego untuk masuk. Dahlia menatap kediaman Hary yang luar biasa megah. Dalam hati dirinya memuji kehidupan mujur sang putri yang pernah ia sia-siakan. Tak melihat adanya pemilik rumah, membuat Dua insan itu bebas untuk membujuk Dilara untuk keluar dari rumah Hary sekaligus bercerai dari Alan.
"Lara kenapa kau tinggal di sini, kau tau 'kan jika Alan sudah mengusirmu. Bukankah itu pertanda jika pria itu tak lagi menginginkamu jadi untuk apa lagi kau tinggal di rumah ini?."
Dilara tampak jengah. Lagi dan lagi Ibunya yang tak tau apa-apa justru memperkeruh suasana.
"Ibu, berhenti berbicara seperti itu. Alan masih suamiku. Kami masih sah suami istri."
"Lara," tegur Dahlia. "Ibu tau dia masih suamimu, tapi suami macam apa yang tega mengusir istrinya sendiri. Alan pria tempramen, berbeda dengan Diego. Lihatlah, Nak Diego sangat menghormati Ibu. Dia juga menghargai wanita. Nak Diego memang pria baik dan sangat cocok jika disandingkan denganmu."
"Wah wah, pembicaraan macam apa ini?." Dari arah tangga, Hary bertepuk tangan. Dahlia dan Diego terkesiap.
"Seru sekali sepertinya pembicaraan kalian sampai tak menyadari keberadaanku." Hary berjalan santai, ia mendekati Dilara kemudian duduk di sampingnya. Wajah Dahlia memucat, sedangkan Diego membuang wajah. Malas menatap wajah kakek tua yang sudah menghancurkan hidup Neneknya.
"Ayo katakan sekali lagi. Aku ingin dengar bagaimana kalian membujuk Dilara untuk bercerai dari cucuku."
"Itu memang kenyataan, Tuan. Bukankah Cucu anda sudah mengusir putriku. Itu sama saja dengan Cucu anda tak menginginkan keberadaan putriku di sisinya." Dahlia tak mau kalah. Sebagai Ibu bukankah perannya lebih besar dari pada orang lain.
"Kata siapa?. Bukankah terusirnya Dilara karna ada sebab musababnya. Jangan kalian pikir aku tak tau dengan strategi licik kalian. Menghasut, memfitnah sampai berujung kesalahpahaman sampai terusirnya Dilara dari rumahnya sendiri."
Deg. Diego menelan ludah. Ia tampak tak tenang.
"Lara dan Alan masih suami istri. Belum ada kata-kata talak dan aku yakin jika Alan akan memperbaiki kesalahan. Berhenti untuk menjodohkan Dilara dengan pria mana pun. Dia cucuku dan selamanya akan tetap jadi cucuku. Pintu utama ada di sebelah sana. Tolong keluar sebelum aku menyeret kalian untuk secepatnya pergi dari rumah ini." Hary mengarahkan tangan kearah pintu keluar. Dilara tersentak begitu pun Diego.
"Cepat Keluar!." Suara bariton Hary membuat kedua tamunya spontan bangkit dan berjalan ke arah pintu.
__ADS_1
Kesabaran Hary mulai habis. Terlebih setelah mengetahui jika Diego lah biang keladi dari kerusakan rumah tangga cucu-cucunya. Hary tak akan membiarkan, meski sampai tetes daarah penghabisan, dirinya akan tetap memperjuangkan kehidupan pernikahan Alan dan Dilara.
Tbc.