Mengejar Cinta Suami Dingin

Mengejar Cinta Suami Dingin
Kedatangan Hary


__ADS_3

"Nyonya, kenapa tidak di makan?."


Dahlia tersentak dari lamunan. Paruh baya itu tersenyum tipis pada Diego yang sedang duduk dan menikmati makan malam di depannya. Dahlia sendiri, dirinya sedang tak berselera makan. Mungkin keributan yang ia ciptakan di rumah Dilara beberapa jam lalu mulai mengganggu pikiran.


Ah, sedang apa putrinya saat ini?.


"Kenapa, anda sedang memikirkan Dilara?."


Dahlia mengangguk lemah.


"Tak usah dipikirkan. Saya rasa tindakan anda sudah tepat. Kasihan putri anda jika hidup berlama-lama dengan pria semengerikan Alan." Diego kembali mengunyah makanan. Hah, makan malam kali ini kenapa terasa nikmat sekali?. Diego berbicara dalam hati. Entah kenapa, suasana hatinya malam ini begitu baik. Ia sampai menambah nasi dan lauk pauk, berbeda dengan Dahlia yang hanya mengaduk-aduk makan dipiring tanpa ingin menikmatinya.


"Tapi, bagaimana jika Alan marah dan sampai mengusir putriku?."


"Bukankah itu bagus?."


"I-iya, tapi seperti apa keadaan putriku kini?. Aku cemas." Cukup sudah dirinya menelantarkan anak-anaknya dulu. Kini, mungkin sudah waktunya untuk berbenah, memperbaiki diri agar bisa diterima kembali oleh anak-anaknya di masa tua.


"Tak perlu khawatir. Jika Dilara diusir, bukankah putrimu masih punya tempat tinggal?." Diego berusaha untuk menenangkan hati Dahlia. Perempuan itu tak boleh khawatir berlebih, sebab dapat mempengaruhi rencana yang sudah ia susun serapi mungkin.


Dahlia tentu tak tau jika Diego memiliki maksud terselubung dengan menampung hidupnya dan memperlakukannya layaknya Nyonya. Diego sedang mengambil hati, mungkin setelah Dilara resmi dibuang Alan, ia pun tak akan sungkan untuk memungutnya.


Dahlia tampak berpikir. Jika putrinya diusir Alan, mungkinkah putrinya itu akan tinggal bersama adik-adiknya?.


"Jika putrinya memang diusir, mungkin dia akan tinggal bersama adik-adiknya. Aku tau rumah itu. Aku sudah pernah beberapa kali datang namun selalu ditolak untuk masuk."


Diego tergelak dalam hati. Wajar saja jika kehadiran Dahlia ditolak, bukankah paruh baya itu dulunya juga meninggalkan anak-anaknya begitu saja?.


Sebagai pengagum rahasia, Alapa yang tak Diego tau tentang Dilara. Semua ia tau bahkan sampai ukuran pakaian dan sepatu Dilara.

__ADS_1


"Jika Nyonya tidak keberatan, kita bisa mendatangi rumah itu besok. Kita datang sebagai tamu untuk mencari Dilara, siapa tau putri anda ada di sana."


Dahlia menggangguk. Ia tak menolak, biarlah ia ikuti saran dari Diego. Mungkin dengan cara ini dirinya bisa menemui Dilara sekaligus meminta maaf.


💗💗💗💗💗


Seorang pria berusia senja baru saja menuruni kuda besi mewah yang membawanya untuk menyambangi sang cucu. Sengaja ia datang pagi-pagi sekali. Berniat untuk mengejutkan sang cucu sekaligus ingin menikmati secangkir kopi buatan cucu menantu. Duh, Kakek itu sudah merindukan kopi buatan Dilara. Rasanya pas dan cocok dilidah.


Hary berdendang pelan. Sesekali pria tua itu bersiul. Pintu utama terbuka lebar, dua orang pelayan sontak munundukan kepala.


"Hei, kenapa masih sepi?. Cucu-cucuku belum bangun?." Tanya Hary seraya menjatuhkan bobot tubuh di atas sofa ruang keluarga. Ia membuka surat kabar yang tergeletak di meja dengan kedua kaki saling bertumpuan.


"Tuan muda sedang berada di kamar, Tuan."


"Astaga, sesiang ini cucu-cucuku masih saja memproduksi bayi." Hary berdecak namun dalam hati tertawa girang. Bukankah itu seperti pertanda jika tak lama lagi dirinya akan menimang cucu?. Duh senangnya.


"Em i-itu, Tuan. Nyo-nyo---"


"Cepat katakan pada Dilara untuk membuatkanku Kopi," titah Hary tanpa mengalihkan pandangan dari lembaran surat kabar.


"Tapi masalahnya----"


"Masalah masalah, memangnya ada masalah apa. Dilara sudah bangun 'kan atau stok kopi kalian habis, hah?."


"Maaf, tapi bukan itu, Tuan."


"Jika bukan itu lalu apa?."


"Nyonya Dilara tidak ada, Tuan. Kemarin Tuan Alan menyuruh Nyonya Dilara untuk pergi."

__ADS_1


"Apa!." Hary bangkit setelah melempar kasar surat kabar kelantai. "Apa-apaan ini. Kenapa Alan sampai bisa menyuruh pergi istrinya sendiri?."


Kedua pelayan itu tertunduk, ketakutan. Hary naik pitam. Tanpa pikir panjang pria itu naik kelantai atas untuk menemui sang cucu yang masih mengurung diri di dalam kamar.


"Alan, Alan, buka pintunya." Hary menggedor pintu. Ia tak perduli jika tangannya terluka.


"Alan, buka pintunya. Kakek yakin kau sudah bangun. Ayo, cepat buka pintu atau aku dobrak?." Hary yang geram tak mampu lagi berpikir jernih. Ia mundur beberapa langkah dan bersiap untuk mendobrak pintu, namun pintu kamar itu lebih dulu terbuka.


"Kakek, ada apa?." Alan muncul dengan wajahnya yang masih kusut. Pria itu belum membersihkan diri apa lagi menyisir rambut.


"Ada apa kau bilang?. Di mana istrimu?."


"Oh, Dilara?. Aku sudah mengusirnya," jawab Alan dengan suara ringan.


"Beedebah, kau. Dia itu istrimu tapi kenapa kau memperlakukannya setega itu?." Hary frustrasi. Kenapa sikap Alan kembali ke masa lampau, saat belum dipertemukan dengan dilara?. Sungguh tak berhati.


"Aku, tega?. Di sini aku atau Kakek yang lebih tega?." Tanya dijawab tanya.


"Apa maksudmu?."


Alan tergelak, seperti sedang menggejek sang Kakek yang kelimpungan.


"Jangan berlaga boodoh, Kakek. Bukankah kalian berdua memiliki sebuah kesepakatan. Ya , mungkin saja saling menguntungkan untuk kalian tapi sayangnya tidak denganku. Di sini aku yang terluka, Kakek. Aku yang dirugikan. Aku sempat berharap banyak pada Dilara dan pernikahanku. Aku berharap, Dilara adalah jodoh yang memang tuhan kirim untukku. Kami bisa mempunyai anak, hidup berbahagia dan memiliki cucu, tapi sayangnya ada konspirasi besar di balik pernikahanku yang tak pernah aku ketahui."


Hary ternganga. Ia terkejut luar biasa. Ya Tuhan, kenapa ia tak pernah berpikir sejauh ini sebelumnya.


"Maaf, mungkin keinginan Kakek untuk mendapatkan seorang pewaris tak akan pernah terwujud." Alan menutup pintu kamar kembali. Ia enggan untuk melihat wajah Hary yang sudah membuatnya sakit hati.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2