
Alan hanya bisa menggerutu saat penjaga menutup pintu pagar setelah dirinya keluar. Bermaksud untuk menginap tapi Hary tak mengizinkan dan terang-terangan mengusir.
"Weh, sejak kapan kau mau menginap di rumah Kakek." Hary berkacak pinggang. "Bukankah selama ini kau selalu bilang bosan, malas lah, tidak serulah, inilah, itulah kalo tinggal bersama Kakek sampai nekat membuat rumah sendiri."
Alan membuang wajah. Apes, sang Kakek lebih dulu menodongnya saat ia katakan ingin menginap.
"Ini sudah malam, Kakek. Aku juga mengantuk. Kalau terjadi sesuatu denganku diperjalanan, bukankah Kakek juga yang akan repot."
Hary terngangga. Bisa-bisanya. Pria tua itu bahkan tak mengenali siapa pria yang kini menjadi lawan bicaranya. Alan yang biasanya cuek dan tak terlalu banyak bicara, kini sedang mengemis padanya untuk siizinkan menginap. Ya tuhan, ia sedang tidak bermimpi 'kan?.
"Kau mengantuk?."
Alan mengangguk.
"Kau juga takut jika terjadi sesuatu padamu saat diperjalanan pulang?."
Lagi-lagi Alan menggangguk.
"Baiklah, supir pribadi Kakek akan mengantar supaya kau tetap aman."
"Kakek!."
"Bisa-bisanya ya?." Alan masih saja menggerutu. Pada akhirnya ia kalah. Pergi dari rumah sang Kakek untuk kembali kekediamannya.
Sepanjang perjalanan pria tampan itu tak henti merutuki sang Kakek yang tak paham akan situasi dan kondisi. Dia rindu Dilara tapi gengsi mengatakannya. Dilara jadi lebih menggoda setelah ia pinta keluar dari rumah.
Alan memarkirkan kuda besinya di garasi begitu saja. Lelah hati juga tubuh. Pria berbadan tegap itu memasuki pintu rumah dengan tak bersemangat.
"Honey"
Alan memejamkan mata. Mengingat saat Dilara berlari menyambut dan menyerukan namanya dengan panggilan sayang saat ia membuka pintu. Tapi sekarang, yang ada hanya keheningan.
Honey, aku rindu.
__ADS_1
"Selamat datang, Tuan." Dua pelayan rumah menyambut. Sementara Alan hanya menggumam sebagai jawaban.
Pelayan senior lekas mengambil alih tas kerja Alan sementara pelayan muda mempersiapkan hidangan.
"Tuan, makan malam sudah siap." Pelayan senior mempersilahkan namun Alan malam ini tak berselera untuk makan.
"Makanan itu untuk kalian saja, aku tidak lapar." Alan menjauh, menaiki anak tangga menuju kamar pribadinya. Jika pelayan muda langsung kegirangan, berbeda dengan pelayan senior yang masih menatap kepergian sang tuan dengan penuh keprihatinan.
Lima tahun terakhir bekerja pada Alan, tentu perempuan itu tau banyak tentang sang Tuan. Suasana hati dan ekspresi wajah, meski tak mengatakan apa pun namun pelayan itu bisa mengartikan.
Selama bekerja Alan memang tak banyak bicara. Ia hanya diberikan lembaran tugas harian untuk dikerjakan. Dari gaji, bonus dan apa pun sudah tertulis dalam kontrak kerja dan perempuan itu menyanggupi.
Termasuk untuk suasana hati sang Tuan selepas kepergian Dilara, pelayan pun bisa melihatnya. Pria muda itu cukup terpukul dan kehilangan namun coba bersikap biasa saja.
Pelayan itu mengakui jika kehadiran Dilara lambat laun bisa merubah sifat keras sang Tuan. Majikannya itu mulai melembut. Baik dari saat berbicara atau pun berprilaku.
Akan tetapi setelah kejadian yang membuat Dilara terusir, Alan seperti kembali pada mode awal. Keras, acuh dan kasar. Ia juga semakin irit bicara dan tak berselera makan.
Perubahan sikap sang Tuan tak ayal membuat perempuan itu resah. Padahal ia pun berharap banyak pada pernikahan sang majikan untuk tetap langgeng. Akan tetapi, apa mau dikata. Semua sudah ada yang mengatur.
Sementara itu, di dalam kamar Alan langsung membuka seluruh pakaian. Ia ingin berendam. Ia tatap sekeliling ruangan, di mana Dilara selalu bergerak aktif untuk terus menggodanya.
"Honey."
Alan mengerjap, bayangan Dilara yang setengah terbaring diranjang dengan pakaian minim terus menggodanya. Sampai malam-malam panas penuh gairah yang mereka lalui bersama seakan berputar diingat.
"Ya tuhan, aku harus cepat-cepat berendam." Alan setengah berlari kekamar mandi kemudian menceburkan diri ke bath tup.
Sesungguhnya Alan tak marah pada Dilara, pria itu hanya kecewa. Andai Dilara atau pun Hary mengatakannya sedari awal, pasti kejadiannya tak akan seperti ini.
"Lara, sebenarnya aku rindu. Tetapi aku masih kecewa, terlebih saat tadi kau sama sekali tak melihatku. Aku jadi berpikir, jangan-jangan selama ini kau memang tak mencintaiku."
Tapi anak kita?.
__ADS_1
Alan masih ingin mengetahui hubungan Dilara dan Diego serta Perempuan yang mengaku sebagai Ibunya Dilara itu. Suatu saat Alan pasti mencari tau dan membuatnya terang sampai tak akan ada kesalahpahaman untuk kedepan.
💗💗💗💗💗
"Siial." Diego membanting Vas bung yang berada di ruang pribadinya sampai hancur berkeping-keping.
Beberapa waktu lalu ia mendatangi rumah tempat adik-adik Dilara dengan niatan untuk menemui Dilara. Akan tetapi pelayan mengatakan jika selepas dirawat di rumah sakit Dilara belum kembali ke rumah.
Saat ditanya kemana, para pelayan kompak menjawab tak tau.
"Beedebah. Aku rasa tua bangka itu sengaja menyembunyikan Dilara di rumahnya." Diego terduduk. Saat tertunduk, ia usap kasar wajahnya yang berpeluh.
"Setelah cucumu apa aku juga harus membuat perhitungan denganmu?." Alan menatap tajam pada dinding di mana foto-foto Dilara terpajang.
"Sesungguhnya aku tak menginginkan hal seperti ini terjadi. Memancing, adu kekuatan sampai daraah berceceran. Tapi mau bagaimana lagi, bukankah kau sendiri yang memulainya, tua bangka?." Diego terkekeh. Ia ambil sebuah album foto di atas nakas, di mana wajah perempuan sedang tersenyum ada di sana.
"Dulu hidup nenekku kau hancurkan dan sekarang gadis yang kucintai malah cucumu nikahi. Apa aku harus diam saja, tidak Hary Wirdo Hutomo Siialan!."
Diego mendekap album foto sang Nenek dalam pelukan. Nenek yang sudah bertahun-tahun lalu meninggal dalam kondisi yang tak wajar. Sang Nenek bunuhh diri sebab tak tahan menghadapi kenyataan jika dirinya hanya menjadi wanita kedua dari seorang pria kaya yang digandurngi banyak kaum hawa.
Diego akui, meski usia Hary tak lagi muda tetapi wibawa serta kharisma pria itu tak luntur dimakan waktu. Dan sekarang segala kelebihan Hary malah diturunkah pada sang cucu, Alan yang membuat Diego semakin geram.
Sampai kapan pun dirinya tak akan membiarkan Hary beserta keturunannya hidup bahagia. Mereka harus membayar setiap tetes daarah yang keluar dari tubuh Sang Nenek yang begitu berharga.
Perselisihan diantara Alan dan Dilara pun, Diego yang mengaturnya. Berkat uang, tak susah untuk membujuk ART Alan untuk dijadikan sebagai kamera pengintai.
Hukum tidak berbicara tetapi uang lah yang berbicara. Diego tergelak. Rencananya untuk memisahkan Alan dan Dilara sudah terlaksana. Hanya perlu sedikit senggolan saja, maka dirinya benar-benar bisa membuat suami istri itu bercerai.
Akan tetapi bagaimana dengan Hary yang selalu pasang badan dan berdiri paling depan di antara cucu-cucunya.
"Aku harap kau tak berumur panjang, hingga aku tak perlu mengotori tangan dengan daarahmu." Diego mengembalikan album foto sang Nenek ke nakas. Malam ini dirinya hanya bisa melampiaskan kemarahannya pada samsak. Andai samsak ini berubah menjadi tubuh Hary maka dirinya akan memukuul dan meninjunya dengan lebih brutal.
Tbc.
__ADS_1