Mengejar Cinta Suami Dingin

Mengejar Cinta Suami Dingin
Dia Tak Perduli


__ADS_3

"Jika sesuatu terjadi pada Dilara maka aku tak akan memaafkanmu, Alan!."


Hary, pria tua itu tak henti merutuk perbuatan sang Cucu disepanjang perjalanan untuk menjemput Dilara. Istrinya sedang sakit tapi Alan malah mengusirnya. Apa-apaan ini?.


Hary mengakui jika dirinya yang salah. Tak berterus terang tentang pada Alan perihal kesepakatan pernikahan yang ia setujui dengan Dilara. Akan tetapi, bukankah akhir-akhir ini mereka sudah terlihat bahagia dan Hary rasa, jika cucunya mengetahui bukankah tak harus semarah ini?. Terlebih dengan kondisi tubuh Dilara yang tak baik.


"Bawa kendaraanmu lebih cepat!. Kau lambat sekali," titah Hary pada sang sopir. Rasa cemas yang membumbung tinggi membuat pria tua itu sensitif. Sang sopir yang berada di kursi kemudi, hanya bisa mengangguk pasrah meski sejatinya kuda besi yang ia kemudikan sudah melaju kencang.


Sepulang dari kediaman Alan beberapa waktu lalu, Hary berpikir. Dirinya duduk dan coba mengingat kembali penjelasan pelayan tentang kronologi kepergian Dilara.


Ibu Dilara yang dulu pergi, kembali muncul. Tetapi kenapa perempuan itu datang bersama Diego yang notabene Dokter di Wirdo Hutomo Hospital dan merupakan teman Alan?.


Berbagai praduga bermunculan. Dua orang itu ia kaitkan dengan kesepakatannya bersama Dilara sedangkan kesepakatan itu tak ada yang mengetahui selain dirinya dan Dilara.


Lalu siapa yang sebenarnya sudah mencuri dengar lalu membocorkannya pada Ibunda Dilara?.


Pria tua itu melirik ke kursi kemudi. Selama ini dirinya hanya pergi ditemani supir, jika ada pembicaraan dengan kesepakatannya bersama Dilara tempo hari, supir pribadinya memang bisa mendengar, tapi mungkinkan pria yang sudah bekerja lama padanya itu tega berkhianat?.


Tak ingin berprasangka, Hary menyempatkan diri untuk mengetik selarik pesan di ponsel pintar. Ia menghubungi seseorang yang kerap ia minta bantuan. Seseorang pria bayaran yang selama ini kerap ia gunakan jasanya untuk menelusuri berbagai peristiwa yang menurutnya janggal.


"Astaga, kenapa dari tadi kita hanya berputar-putar di sini?." Hary kembali mwnggerutu. Sementara sang sopir hanya bisa menghela nafas dalam. Ia bukannya tak cepat, hanya saja kondisi jalanan macet dan berpengaruh pada kecepatan kuda besi yang ia kemudikan.


Setelah lima belas menit, mereka memasuki gerbang utama rumah yang menjadi tujuan. Begitu mesin mobil terhenti, Hary langsung membuka pintu dan berlari keluar. Mengabaikan supir peibadinya yang masih belum sempat membukakan pintu.


"Dimana Dilara?." Hary langsung bertanya pada pelayan yang baru saja membuka pintu.


"Nyonya Lara berada di kamar, Tuan."


Tanpa berlama-lama, selepas mendengar ucapan sang pelayan Alan pun berjalan cepat mencari keberadaan Dilara.


"Disana, Tuan," tunjuk sang pelayan setelah berhasil mengejar Hary yang tampaknya kebingungan.


Terlihat begitu cemas, Hary sampai tersandung-sandung karpet tebal begitu memasuki kamar Dilara. Akan tetapi lebih cemas lagi saat dirinya mendapati tubuh sang cucu menantu terbaring tak berdaya di atas ranjang.


"Dilara, cucuku," seru Hary. Ia pun lekas mendekat dan menggengam tangan cucu menantunya. "Apa yang terjadi, Nak?."

__ADS_1


"Kakek?." Sena yang sedari tadi duduk menunggu Dilara, bersuara. Karna khawatir Hary bahkan tak menyadari keberadaan Sena.


"Oh, kau. Bagaimana kondisi Dilara?."


Sena menggeleng kepala kemudian berucap, "Entah, Kek. Saya hanya mengompres. Berharap jika panas tubuh Kak lara berkurang."


"Ya Tuhan, Dilara. Bangunlah, Nak."


Dilara mulai mengerjap. Perempuan itu hanya tersenyum tipis. Ia kesulitan bicara sebab merasakan begitu pusing di bagian kepalanya.


"Ayo, kita ke rumah sakit saja." Hary berteriak memanggil supir pribadinya untuk membawa Dilara turun.


Alan, kau benar-benar Si Alan!.


💗💗💗💗💗


Kondisi Dilara perlahan mulai membaik selepas mendapatkan perawatan. Begitu Hary sampai Wirdo Hutomo Hospital, dan membawa masuk Dilara, ia sempat berpapasan dengan Alan di koridor. Hary berlalu begitu saja, sementara para perawat membawa tubuh lemah Dilara dengan brankar.


Jarum infus menussuk punggung tangan Dilara. Tubuh perempuan itu sudah sangat lemah mengingat ia hanya beberapa suap makanan yang masuk ke dalam perutnya.


"Saya, Sena, Kek. Adik pertama Kakak Dilara."


"O." Hary menghela nafas. "Temani dan jaga Kakakmu baik-baik. Meski akan ada perawat khusus yang menjaga Kakakmu, tapi pasti Dilara lebih senang jika kau yang menemani."


"Baik, Kakek." Sena sendiri memang tak ingin meninggalkan Dilara. Jika untuk urusan adik-adik, dirinya sudah menitipkan pada suster. Mereka pasti tak akan mencari dan bisa mengerti.


Perawat juga sempat mengambil sempel darah Dilara untuk keperluan tertentu. Entahlah, Sena tak mengerti. Segala prosedur rumah sakit ia turuti demi kesembuhan sang Kakak.


Selepas mendapatkan telepon dari seseorang, Hary pun pamit. Sebelum pulang pria tua itu lebih Dulu mempersiapkan semua kebutuhan Dilara. Ia bahkan meminta pada petugas untuk merawat Dilara dengan sebaik mungkin.


Sena hanya bisa mengangga. Menempati ruangan VVIP membuatnya seperti tidak sedang merawat orang sakit, tetapi seperti sedang menginap di hotel berbintang.


"Sena." Gadis itu tersentak, ia lekas menggeser pandang dan mendapati Dilara yang sudah membuka mata.


"Kakak," jawab Sena. Gadis itu lekas mendekat. Menawarkan apa pun yang sang Kakak butuhkan.

__ADS_1


"Kakak ingin makan, makan nasi atau buah?."


Dilara menggeleng, tanda menolak.


"Tidak, Kakak tidak lapar."


Sena cemberut.


"Padahal Kakek Hary berpesan agar aku menjaga Kakak."


Dilara tersenyum simpul lantas mencubit pipi sang adik.


"Ya sudah, kupaskan buah saja. Kakak ingin makan buah."


Pada akhirnya Sena tersenyum senang. Ia mengambil beberapa buah untuk dikupas sebelum menyuapkannya ke mulut Dilara.


"Ingat, Kakak harus banyak makan agar cepat sehat. Biar pun ruangan ini seperti hotel, tapi tetap saja namanya rumah sakit." Sena terkikik geli. Sembari menyuapi sang Kakak, ia pun juga ikut memakan potongan buah itu.


Buah yang Dilara makan tak terasa segar, justru hambar Di lidah. Entahlah, karna indra perasanya atau karna memang dirinya yang tak berselera.


Dilara termenung. Ada perasaan perih menusuk sanubari mana kala menyadari jika Alan tak lagi perduli padanya. Dilara yakin, saat ini Alan juga berada di rumah sakit ini. Namun semenjak dirinya masuk ruangan dan sudah beberapa jam terbaring di ranjang, Alan sama sekali tak menunjukan batang hidung.


Apakah mulai sekarang dirinya harus bisa mengikhlaskan?.


Dalam hati Dilara tergelak. Dulu, untuk bisa meluluhkan hati Alan saja sangatlah berat. Mungkin sampai detik ini Alan juga tak mencintainya, dan hanya mencumbunya jika butuh penyaluran hasrat.


Lalu bagaimana dengan sekarang. Setelah Alan tau semua, sudah bisa dipastikan jika pria itu semakin membencinya. Sepertinya Dilara harus berbesar hati juga sadar diri. Jika tak ada cinta, percuma jika hanya dirinya yang terus dituntut untuk berjuang.


Di tempat lain.


Alan duduk terdiam di kursi kebesarannya. Selama tiga puluh menit waktu istirahat, hanya pria itu gunakan untuk melamun dan terdiam.


Sesekali sepasang matanya mengerjap. Pertanda jika dirinya masih bernyawa. Leo yang semula hendak bertemu, urung masuk ke ruang kerjanya saat melihat tatapan kosong sang teman.


Entah apa yang sedang Alan pikirkan namun yang pasti di dalam pikiran itu ada Dilara.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2