Mengejar Cinta Suami Dingin

Mengejar Cinta Suami Dingin
Lakukan Apa Yang Pernah Dia Lakukan


__ADS_3

Ancaman Hary pada Alan tak main-main. Pria tua itu menutup akses bagi cucunya untuk bisa menemui Dilara baik di rumah sakit atau pun kediamannya. Terlebih selepas kondisi Dilara membaik, Hary lekas membawa pulang cucu menantunya meski masih mendapatkan perawatan dari petugas rumah sakit yang Hary datangkan langsung kerumah.


"Kakek, kenapa kita tak membawa Kak Lara pulang kerumah kami saja?." Sena terkejut, saat mendengar penuturan Hary. Mereka masih diperjalanan tapi Hary meminta pada sang supir untuk membawa mereka ke alamat lain.


"Kita akan kerumah Kakek. Untuk sementara waktu dan selama proses penyembuhan, biarkan Kakakmu untuk tinggal bersama Kakek. Kau tidak keberatan 'kan?."


Meski ragu, pada akhirnya Sena menggeleng.


"Tidak, Kek. Sena tidak keberatan."


Sementara Dilara, perempuan itu tak ikut menanggapi. Sebelum pulang, Hary sempat berbicara empat mata dengannya. Hary menceritakan semua. Juga tentang Alan yang terus mengatakan tak perduli padanya. Sungguh, sejujurnya Dilara sakit hati. Terlebih selepas mengetahui jika kini dirinya sedang mengandung benih dari Alan, suaminya.


"Untuk saat ini, biarkan kau hidup bersamaku. Jika masih tinggal bersama adik-adikmu, Kakek yakin jika suatu saat Alan bisa saja datang."


Dilara tertunduk. Ia meremat kedua tangan di atas pangkuan yang saling bertautan. Perih tiada terkira. Meski tau jika dirinya hamil, Alan tetap tak luruh dan masih mempertahankan kemarah padanya.


"Jangan bersedih," hibur Hary. Ia usap air mata Dilara yang mengalir tanpa bisa dibendung. "Kakek akan ada bersamamu. Kakek berjanji untuk selalu menjagamu sampai kapan pun."


"Jangan perdulikan apa pun. Hidup dan pendidikan adikmu tetap akan terjamin, meski pun kau tak lagi menjadi istri dari Alan."


Dilara patuh. Ia menuruti semua kemauan Hary termasuk untuk tinggal bersamanya.


Selepas menempuh perjalan sekitar satu jam diantara kemacetan, kuda besi yang membawa mereka memasuki gerbang sebuah kediaman megah. Rumah ini bahkan lebih megah dari rumah yang Dilara tempati bersama Alan.


Beberapa pelayan menyambut. Dilara dibantu untuk masuk dengan bantuan kursi roda sementara Sena mengekor di belakang.


Hary berbicara pada kepala pelayan. Entah apa yang mereka bicarakan namun terlihat jika kepala pelayan beberapa kali menganggukkan kepala.


Kesibukan seketika terlihat. Dilara langsung dibawa kelantai atas menuju sebuah kamar yang pasti sudah dipersiapkan sebelum kedatangan. Sementara para koki juga memasak beberapa menu spesial untuk mengisi perut Nyonya muda mereka dan calon pewaris yang sedang dikandungnya.

__ADS_1


Dilara diperlakukan layaknya ratu. Dirinya begitu diistimewakan ketika tinggal di rumah Hary, sungguh jauh berbeda kala dirinya tinggal bersama Alan. Sena sampai terngangga, ia sangat senang meski ia tau jika hati sang Kakak tak sepenuhnya senang. Hamil, dan berada jauh dari sang suami pasti menjadi beban tersendiri untuknya.


Sekarang, Sena mulai mengerti akan kehidupan pernikahan sang Kakak yang sebenarnya. Mereka menikah tak saling cinta, itu lah yang Sena bisa tangkap dari pembicaraan yang tak sengaja didengar dari Hary dan Dilara. Alan juga ternyata kasar dan kerap melakukan kekerasan pada sang Kakak. Ya tuhan, kenapa Kakak ipar yang dulu pernah datang kerumah seperti memiliki kepribadian ganda atau jangan-jangan kebaikan yang pernah pria itu tunjukan justru hanya dijadikan topeng untuk menutupi kebusukannya?.


___________


Hary abai saat menatap pada ponselnya yang berdering dan mendapati kontak Alan menghubunginya. Ia tak akan menjawab panggilan itu. Hary masih geram pada sang cucu. Bahkan jika Alan nekad mendatangi rumah, Hary tak izinkan para pelayan untuk membukakan pintu.


Pesan bertubi-tubi dari Alan pun malas untuk ia baca. Untuk apa?. Sampai mengemis pun ia tak akan merubah keputusan. Dilara akan tetap tinggal bersamanya sampai batas waktu yang tak bisa ditentukan.


Sejenak Hary berpikir jika dirinya perlu berbicara pada Dilara tentang rencana hidup untuk kedepannya. Setelah ini Dilara tak hanya duduk merenung dan meratapi nasib. Perempuan itu harus bangkit. Dirinya perlu bahagia sesuai inginnya begitu dengan janin yang dikandung. Mereka tak akan kekurangan satu apa pun.


Merasa perlu berbicara, Hary kembali menemui sang cucu menantu di kamar. Sena yang saat itu sedang menemani sang Kakak, diminta untuk keluar sejenak. Hary hanya ingin berbicara empat mata, dari hati kehati.


"Cucuku, bagaimana keadaanmu?. Kau sudah makan dan meminum obat yang Dokter anjurkan?." Tanya Hary. Ia menarik sebuah kursi yang akan digunakan untuk duduk mendekati Dilara yang duduk bersandar di ranjang.


"Sudah, Kek. Aku sudah makan dan juga minum obat."


"Dilara, Kakek ingin berbicara sesuatu hal."


"Apa ini masih ada hubungannya dengan Alan," tebak Dilara dan sontak membuat Hary menarik nafas dalam.


"Ya, seperti itulah."


Dilara diam. Entahlah, untuk kedepannya kemana hubungan pernikahannya dengan Alan akan bermuara. Mereka akan tetap bersama atau bahkan harus bercerai. Dilara tak tau jawabnya.


"Sejujurnya Kakek begitu mengutuk perbuatan Alan yang selalu mengabaikanmu. Ya, meski pun pada awalnya kalian menikah tanpa cinta, tapi mungkin perasaan saling cinta itu sama sekali tak ada sedangkan Alan sudah menidurimu sampai berbadan dua. Tak masuk akal." Hary selalu terbawa emosi ketika mengungkit sikap semena-mena sang cucu.


"Entahlah, Kek. Jika pun ada, mungkin rasa cinta itu sudah hilang setelah Alan mengetahui tentang kesepakatan kita."

__ADS_1


"Hei," sambar Hary. Suaranya mulai meninggi. "Apa salahnya kesepakatan itu mengingat kau melakukannya karna ingin membahagiakan adik-adikmu."


Ah, entahlah. Bukankah isi kepala setiap insan bebeda-beda?.


"Meski dia cucuku, tapi aku tak terima dia memperlakukanmu seperti itu. Aku akan memberinya pelajaran." Hary menyerigai. Ia melirik Dilara yang membalas tatapannya dengan penuh tanya.


"Kau tau, kemungkinan besar setelah tau kau hamil, cucuku akan mencari-carimu."


Ah, mana mungkin.


"Dan kini giliranmu untuk membalas perbuatannya dengan melakukan sesuatu hal yang pernah ia lakukan padamu."


"Hah?." Dilara tak mengerti.


Hary berdecak.


"Jika dulu Alan mengabaikanmu, maka kini giliran dirimu lah yang harus mengabaikannya."


Dilara tampak berpikir. Benarkah, haruskan ia melakukan hal demikian?.


"Dulu ia tak perduli padamu maka kini kau pun tak boleh perduli padanya. Bersikaplah seperti Alan memperlakukanmu dulu. Cuek, ketus, dan semaunya jika kalian bertemu. Apa kau bisa melakukannya?." Huh, terdengar menarik bila semua jadi terbalik. Dulu Dilara mengejar-ngejar cinta Alan tetapi kini Alan lah yang akan mengejar cinta Dilara. Hary sampai tergelak tanpa suara, sedangkan Dilara hanya mengernyit dengan pandangan penuh tanya.


"Bagaimana, Dilara. Apa kau bersedia melakukannya?."


Bagaimana ini?.


"Hei, tak perlu ragu. Ini adalah salah satu cara untuk membalas perlakuan Alan padamu." Hary justru yang lebih bersemangat. Pria tua itu seperti menahan geram saat Cucu menantunya berpikir terlalu lama. "Ya, tuhan. Kenapa berpikir saja selelet ini. Ayo, cepat jawab. Kau mau kan mengikuti saran Kakek?."


Pada akhirnya Dilara mengangguk, meski ragu-ragu. Ah, entahlah. Bukankah sedari awal memang hidupnya dikendalikan oleh Hary?.

__ADS_1


Hary tergelak. Ia mengacungkan dua jempol pada Dilara. Entah apa maksudnya namun yang pasti pria tua itu merasa puas.


Tbc.


__ADS_2