Mengejar Cinta Suami Dingin

Mengejar Cinta Suami Dingin
Hary Mulai Curiga


__ADS_3

Tubuh Hary terasa lunglai seiring wajah sang cucu yang sudah tak terlihat lagi. Alan kembali mengurung diri, meninggalkan sang Kakek yang tampak ling lung seperti baru saja tersadar dari tidur panjang.


"Di-dilara pergi? Dilara pergi?." Hary bermonolog. "Tidak, Dilara tak boleh pergi." Hary panik. Pria itu kembali menuruni tangga untuk menemui para pelayan rumah. Hary ingin mendengar kronologi yang sebenarnya tentang kepergian Dilara.


"Pelayan," panggil Hary. Kedua pelayan itu un bergerak sigap, duduk bersimpuh menghadap sang Tuan besar yang sudah duduk di sofa dengan wajah cemas.


"Aku ingin bertanya pada kalian."


Kedua pelayan itu sama-sama menganggukkan kepala.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada cucu-cucuku. Apa kemarin mereka terlibat perkelahian sampai berbuntut kepergian Dilara?."


Kedua pelayan itu saling berpandangan. Pelayan yang usianya lebih muda, memberi kode pada pelayan tua untuk buka suara.


"Benar, Tuan. Kemarin sempat ada dua orang tamu, laki-laki dan perempuan. Satu tamu pria, saya mengenalnya. Beliau adalah Dokter Diego, sedangkan tamu perempuan, beliau mengaku sebagai Ibu dari Nyonya Dilara."


"Apa, Ibunya Dilara?."


"Benar, Tuan." Pelayan itu membenarkan.


"Lalu untuk apa mereka datang?."


Ibunya Dilara bersama Diego?. Untuk apa mereka datang tapi setelahnya cucu-cucuku malah bertengkar?.


"Maaf, saya kurang tau pasti, Tuan. Saya sempat melihat jika perempuan yang mengaku sebagai Ibu Nyonya Dilara terus berteriak pada Tuan Alan. Saya juga sempat mendengar jika beliau meminta pada Tuan untuk menceraikan Nyonya Dilara."


"Apa?."


Aneh, tidak masuk akal. Pernikahan putrinya saja dia tidak tau tapi kenapa sekarang tiba-tiba meminta putrinya untuk berpisah?.


"Aneh, Ibunya Dilara tidak mungkin meminta putrinya untuk berpisah jika tidak ada masalahnya sedangkan putrinya di rumah ini sudah hidup bahagia. Segalanya terjamin begitu pun dengan adik-adiknya. Kenapa bisa?." Hary terus mengomel. Ia geram sendiri.


Pelayan itu saling tertunduk. Jika pelayan tua tak ingin menutupi, berbeda dengan pelayan muda yang sama sekali tak bersuara.


"Apa mungkin Alan tersinggung dengan ucapan Ibunya Dilara, sampai tanpa sengaja cucuku mengusir istrinya?." Hary meraba segala kemungkinan yang terjadi.


"Entah, Tuan namum yang pasti Tamu perempuan itu juga menyebut jika Nyonya Dilara tidak diperlakukan dengan baik di rumah ini. Juga beliau menyebut Tuan Alan sengaja memakai kekayaannya untuk bisa menikahi Nyonya Dilara."


"Apa?."


"Benar, Tuan. Itu yang saya dengar, dan setelah kepergian mereka Tuan Alan langsung meminta Nyonya Dilara untuk pergi."


"Siialan."

__ADS_1


Rupanya ada yang berhasil mencuri dengan pembicaraanku dengan Dilara lalu membocorkannya pada Alan.


Hary tau sekarang. Tadi ia ternganga saat Alan mengungkit perihal kesepakatan antara dirinya dengan Dilara, dan sekarang ucapan pelayan semakin memperjelas.


Tapi siapa?. Bukankah setiap kali aku dan Dilara berbicara selalu berdua.


Dulu saat membuat kesepakatan itu memang ada supir pribadinya. Tapi mungkinkah supir yang sudah sekian tahun kerja bersamanya malah berkhianat?. Lalu yang jadi pertanyaan besar sekarang, kenapa justru Dokter Diego dan Ibu Dilara yang mengetahui sedangkan kedua manusia itu terbilang tak terlalu mengenalnya tapi kenapa justru mereka yang harus tau?.


Selain dibeberapa tempat, Hary dan Dilara juga pernah membahas masalah itu di ... Rumah ini. Ya, di rumah ini.


Hary menghela nafas dalam. Sepertinya dirinya harus berhati-hati.


Pria itu itu bangkit. Dia tak ingin berlama-lama tinggal. Selepas menatap dalam pada dua pelayan, Hary lekas pergi tanpa pamit.


💗💗💗💗💗


"Kakak sakit?."


Sena, baru saja memasuki kamar sang Kakak, terkejut mendapati Kakak pertamanya itu masih terlelap sedangkan mentari sudah meninggi. Ingin membangunkan namun gadis itu terkejut saat kening sang Kakak, tersentuh tangannya. Suhu tubuh Dilara meninggi, itu yang membuat Sena tampak khawatir.


Dilara menggeliat dan bergumam. Tubuhnya terasa lemah pun dengan pusing yang akhir-akhir ini kerap ia derita.


"Kakak sepertinya demam, tunggu sebentar." Sena setengah berlari keluar kamar. Tujuannya adalah dapur, mencari air hangat yang digunakan untuk mengompres. Mungkin akan membuat demam sang Kakak mereda.


"Kak, bagaimana kalau kita ke dokter. Aku akan memanggil mamang untuk mengantar," ucap Sena. Akan tetapi tangan Dilara yang lemah, menahannya.


"Tidak usah, aku ingin tidur saja," jawab Dilara dengan suara yang terdengar lemah.


"Tapi, wajah Kakak pucat. Aku takut kalau terjadi sesuatu. Aku juga takut kalau Kakak ipar tau lalu memarahiku karna membiarkan Kakak."


Dilara tersenyum. Ia seperti sedang memperlihatkan padaa sang adik jika dirinya baik-baik saja.


"Sena, Kakak tidk apa-apa. Kakak hanya sedikit lelah. Mungkin, dengan tidur akan membuat tubuh Kakak kembali bugar."


Sena seperti tak yakin dengan jawaban Dilara.


"Kakak pasti lapar, aku ambilkan makanan sebentar ya?." Tanpa menunggu persetujuan, Sena berlari keluar kamar. Mungkin akan mengambil makanan.


Dilara yang terbaring hanya bisa menitikkan air mata. Ia tak sanggup untuk memikirkan hidup dirinya beserta adik-adik untuk kedepannya. Setelah terusir dari rumah Alan, tidak menutup kemungkin jika dirinya dan adik-adik pun akan terusir dari rumah ini.


Sebelum Sena kembali ke kamar, Dilara cepat-cepat mengusap sisa-sisa air mata di pipi.


"Kakak, aku suapi ya." Itu bukan seperti tawaran tapi lebih seperti perintah. Sementara Dilara tak mungkin bisa menolak. Meski enggan dan susah untuk ditelan, namun Dilara berusaha untuk makan dari suapan tangan sang adik. Biarlah dirinya yang menderita asal lepas dari pandangan adik-adik.

__ADS_1


💗💗💗💗💗


"Non, ada tamu."


Sena yang baru saja menyuap Dilara didatangi pelayan yang mengabarkan jika ada kedatangan tamu.


"Siapa?." Tanya Sena.


"Seorang Dokter, Non."


"Dokter?."


Pelayan itu mengangguk. Sementara Sena keluar untuk melihat.


Pintu gerbang terbuka. Mamang, tergopoh menghampiri Sena. Wajah pria itu seperti ketakutan.


"Non, maaf. Perempuan itu datang bersama teman Tuan Alan. Saya tidak bisa untuk mengusirnya sebab Tuan Itu melarang."


Sena mengernyit mendengar ucapan si Mamang tentang tamunya.


"Memang tamu kita siapa?."


"Dokter teman Tuan Alan sedangkan satu tamu lain, beliau perempuan yang sering datang dan mengaku sebagai Ibu Nyonya Dilara."


"Hah?."


Ibu?.


Mendadak tubuh Sena gemetar. Ibu?.


Tiba-tiba bayangan kelam beberapa tahun lalu tentang sang Ibu, berputar diingatan. Terlebih setelah kedua tamu itu semakin berjalan mendekat.


Sena kian gemetar. Wajah itu, wajah perempuan itu sudah bisa Sena lihat. Wajah perempuan tak berhati yang dulu sudah meninggalkan dirinya dan 5 saudaranya begitu saja.


"Se-sena?."


Suara itu.


Sena mundur beberapa langkah. Tidak, ia tidak ingin bertemu dengan perempuan itu. Sena terus mundur.


"Sena," panggil Ibunya lagi.


Sena justru berbalik badan dan berlari masuk ke dalam rumah. Dahlia ingin mengejar, tetapi di tahan oleh Diego.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2